
"what??" gumam vivi dengan mata yang terus melihat ke bawah tangga
"oh my god, seriously? itu sangat mengerikan"
"bibi cheng.." vivi menoleh dan mengarahkan telunjuknya ke depan bibir
"i'm sorry nona" jawabnya berbisik
"ckk.. kakak memanfaatkan keadaan" gumamnya melihat gama menciumi kepala mona berkali-kali sedangkan bibi cheng tersenyum setuju mendengar ucapan vivi
'nona benar, mereka terlihat serasi.. nona mona begitu cocok dengan tuan muda'
"aku hampir membunuhnya hiks.. hiks.."
"tapi aku tidak menyesal, dia berlaku kurang ajar padaku" lanjut mona dalam pelukan gama
"kau tidak menyesal?" tanya gama
Mona menggeleng perlahan
"lalu mengapa menangis?"
"apa kk takut padaku? hiks.. perlakuanku seperti seorang pembunuh, apa aku telah salah kk? apa aku begitu kejam atau mengerikan seperti seorang monster? bagaimana pandangan kk padaku?" tanya mona pelan tanpa mendongakkan wajahnya
Gama tersenyum seraya mengelus lembut kepala mona "kau sangat mementingkan pandanganku?"
Mona diam dan mendorong pelan dada gama yang tepat di depan wajahnya
"jangan cepat percaya diri.. maksudku kalian disini akan memandangku berbahaya mungkin?" ucapnya sedikit menjauh
"dan bagaimana jika vivi tahu?" tanyanya dengan alis mata berkerut
"memangnya mengapa jika vivi tahu?" ucap vivi dengan menutup mulutnya cepat
Gama menghela nafasnya, ia lupa jika ada adiknya itu di mansion ini. Sudah dipastikan jika adiknya itu telah menguping sejak tadi
"turunlah.. tidak perlu bersembunyi lagi" ucap gama menyandarkan punggungnya
Vivi menunjukkan kepalanya seraya tersenyum menyunggingkan bibirnya dengan barisan gigi putihnya yang terlihat
"hai kk ipar" sapanya yang kemudian turun dan mendekat pada mona dan gama
"tenang saja aku mendukung kk 100%.. kakak malah tentu berani membela diri sendiri"
"wonder women" jawabnya duduk diantara mona dan gama, hingga membuat gama sedikit bergeser
"that's agree, perempuan harus berani bertindak dan melindungi diri sendiri" timpal bibi cheng yang kemudian berlalu pergi
"kalian mendukungku? terima kasih banyak.. aku merasa begitu beruntung bisa mengenal kalian semua" senyumnya mengembang
Gama, vivi, bahkan bibi cheng yang belum jauh berlalu menjadi terdiam melihat mona mampu tersenyum seolah tanpa beban. Mungkin pikiran mereka sama.. bagaimana bisa mona yang tadinya terlihat rapuh sekarang terlihat tidak terjadi apa pun?
Dan benar apa yang dikatakan arin, mona sungguh unik.. perempuan itu sungguh berpikir dengan logika dan tidak akan mudah terpuruk dengan hal yang tidak perlu. Bukankah benar yang dikatakan mona?
Apalagi yang ia perlukan? jika orang terdekatnya saja mendukungnya dengan penuh
"aku tidak perlu menangisi hal yang tidak diperlukan bukan?"
"jika semua orang terdekatku mendukungku apalagi yang harus aku khawatirkan" lanjutnya
"setuju" pekik vivi dengan semangat
Vivi memeluk lengan mona dengan tiba-tiba "kk ayo kita cari makanan, untuk merayakan bagaimana semangat dan jiwa hero kk.. bagaimana jika kita pesen junk food?"
"hentikan itu, tidak ada junk food" ucap gama
Vivi mencibikkan bibirnya "kk pelit"
"sudah berapa kali kau makan makanan itu beberapa minggu ini? makanan itu tidak baik"
"ya sudah.. ubah saja rencananya"
__ADS_1
"lalu?" tanya mona
"bagaimana jika kita pergi makan malam? di restoran khas indonesia, ya ya?" tanyanya menoleh pada gama dan mona bergantian
"hm.. baiklah nanti malam kita pergi makan di restoran sesuai dengan keinginanmu"
"ah thank you kk muach" cium vivi di pipi kanan gama
"kk ipar mau cium kk juga?" godanya
Mona mengerjap "tidak.. kamu saja, kk naik duluan" ucapnya beranjak
"oh sudah sadar? aku pikir tetap ingin pergi?" ucap gama sebelum mona beranjak
"tidak jadi" jawab mona berjalan cepat menaiki tangga
Kedua kakak beradik itu tertawa terbahak karena berhasil menggoda mona dengan puas
________________
"assalamualaikum" sapa arkana pada perempuan setengah baya di halaman depan rumah faidhan
"waalaikumsalam aden ganteng, cari siapa?" tanya si bibi
"ini benar rumah faidhan?"
"faidhan?"
"Faidhan Shahzad Widad?"
"oh iya benar aden, sebentar bibi panggilkan dulu"
Saat bibi hendak masuk ke dalam rumah ia hampir saja menabrak arin yang akan keluar melihat arkana yang sepertinya sudah datang
"neng? aduh bikin bibinya jadi spot jantung" ucapnya mengelus dada
"hehe maaf bi, arin tadi buru-buru"
"iya bi itu mas arka, bibi bisa tolongin buatkan teh hangat untuk mas arka?"
"tamunya eneng?"
Arin tersenyum mengangguk
"boleh neng bisa atuh, mau yang tawar atau manis?"
"boleh diganti dengan dua sendok teh madu saja bi?"
"oke.. siap neng" jawabnya berlalu ke dapur
Arin berjalan ke luar rumah, dan melihat arkana sedang berdiri melihat bunga-bunga yang diletakkan di sisi bagian halaman
"mas arka?"
Arkana menoleh "hai sayang.." ucapnya tersenyum menghampiri arin
"ayo masuk" ajak arin "silahkan duduk"
"dimana faidhan dan ibu?"
"ibu sedang memasak di dapur, kk dhan sedang jogging pagi mengelilingi perumahan"
"lalu kamu?"
"baru saja menyiram tanaman yang kamu lihat tadi"
"kebiasaan pagimu" senyumnya
"kamu juga membawanya kemari?" tanya arkana
"tentu saja, mereka sudah ibu dan arin rawat dari lama.. tidak mungkin ditinggalkan begitu saja"
__ADS_1
"kamu nyaman.. seneng tinggal disini?"
"pasti mas, seneng banget.. mas arka juga tidak perlu salah paham lagi jadi arin sekarang seneng karena kalian yang arin cinta ada di samping arin" senyumnya mengembang
"assalamualaikum" ucap faidhan memasuki rumah
"waalaikumsalam" jawab arin dan arkana bersamaan
"kau tidak bekerja?" tanya faidhan pada arkana dan memilih duduk di samping arin
"aku akan masuk siang harinya"
Faidhan mengangguk
"permisi aden ganteng, ini tehnya.. pesanan neng arin diganti dengan madu" ucap bibi
Arkana tersenyum melihat pada arin
"terima kasih bi" ucap arin
"iya neng.. bibi permisi" ucapnya berlalu
"ehmm.. kalian lanjutkan saja, kk harus mandi lebih dulu" ucapnya beranjak pergi
Kini mereka sedang menikmati sarapan mereka bersama, ibu menyiapkan nasi goreng dengan telur dadar beserta kerupuk udang. Suasana kekeluargaan begitu terasa pagi ini
Setelah semuanya beres dan kenyang mengisi perut, kini mereka beralih duduk di gazebo halaman belakang rumah.. kebetulan ada yang ingin faidhan dan arkana sampaikan
"rin, kamu masih bekerja?"
"iya kk masih"
"apa tidak sebaiknya kamu berhenti?" tanya faidhan
"um.. iya arin juga maunya begitu, waktu itu juga sudah arin dan mas arka bahas"
"lalu?"
"arin pikir akan berhenti saat arin menikah"
"sayang.. memangnya siapa orang yang sedang menikah itu bekerja?" ucap ibu
Semuanya tertawa mendengar ibu menggoda arin
"ibuu..." rengeknya
"um arin juga bingung, tapi kontrak arin di perusahaan mas arka masih tujuh bulan lagi" ucapnya
"rin.. sebenarnya mas dan kk dhan sudah membicarakan ini sebelumnya" ucap arkana
"ya?"
"kita sepakat mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja lagi hm?"
"tapi mas.. bagaimana dengan pekerjaanku? tanggung jawab tim, dan.."
"mas sudah siapkan sebelum mas lamar kamu malam itu, jadi perusahaan sudah rekrut karyawan lain untuk mengisi posisi kamu di divisi itu. Jadi seusai perhitungan mas pekerjaan kamu tidak akan terbengkalai atau merepotkan karyawan lain"
"nak arka percaya diri sekali bahwa gadis ibu ini akan menerima lamaranmu?"
Arkana tersenyum pada ibu "aku bisa lihat ada cinta dimatanya untukku"
"mas kamu?"
"iya.. semuanya sudah aku rencanakan sayang, agar kamu juga tidak terbebani. Pas pula faidhan membahas hal ini dengan mas, jadi kita putuskan memberitahu kamu" jawab arkana
"lagian pernikahan kalian tinggal beberapa minggu lagi, jadi kk tidak ingin membuang waktu kamu percuma dengan sibuk berkerja, kk juga ingin menghabiskan waktu bersama kamu sebelum kamu menikah" ucap faidhan
"kak dhan terima kasih" ucapnya memeluk faidhan
"kamu itu adik kesayangan kk dhan yang cantik" balasnya memeluk arin
__ADS_1
Next episode,,