My Charming Boss

My Charming Boss
Suasana penuh haru


__ADS_3

"ckk.. lagi-lagi triadma" gumamnya mengepalkan tangan


"harusnya kau tahu itu bukan?"


"bagaimana bisa? tentu aku tidak tahu" jawab arkana menolak


Faidhan menaikkan alis matanya sebelah


"saya menemukan pengalihan aset secara resmi dari pemegang sebelumnya tuan triadma.. yang kini telah berpindah pada HSM Group" ucap pengacara irawan


Arkana terlihat berpikir


'apa ada yang menyembunyikan hal ini?' pikir arkana


"akan ku pastikan kembali.. tapi aku bisa menjamin bahwa aku tidak mengetahui itu sebelumnya"


"untuk masalah kepemilikan, akan ku atur menjadi hak mu.. jika memang perusahaanku melakukannya" lanjut arkana pada faidhan


Faidhan mengangguk paham


"ah.. baiklah anak-anak ibu, ini sudah beranjak siang.. kalian bicaralah dengan nyaman. Ibu koki dan putri kecilku ini akan menyiapkan makan siang untuk kita bersama" ucapnya menengahi


"ayo putri kecilnya ibu" ajak ibu memeluk pundak arin


Arin kemudian beranjak berdiri tanpa berkata sedikit pun, dan mengikuti ibu


'sayang..'


'arrgk.. aku salah paham padanya' pikir arkana merutuki kesalahannya


"bicarakan padanya nanti.. karena kelakuanmu adikku terus menundukkan kepalanya"


"maaf.. aku tidak bermaksud" jawab arkana yang masih menatap kearah dapur


"biasakan untuk mendengarkan pasanganmu lebih dari, bagaimana jika orang dengan sengaja ingin berbuat jahat pada kalian" timpal pengacara irawan


"ya.. aku cepat terbawa suasana, hingga tidak sempat berpikir lebih jauh"


Mereka kembali berbicara dan bercerita juga mendiskusikan terkait perusahaan, bagaimana faidhan selama ini dan banyak hal lainnya


Hingga tiba waktunya mereka untuk makan siang


"um.. itu makan siangnya sudah disiapkan di atas" ucap arin yang hendak membalikkan tubuhnya kembali, namun dicegat oleh tangan arkana


Pengacara irawan yang melihat hal itu hanya diam dan mengangguk pada faidhan agar membiarkan mereka sejenak


"cepatlah menyusul" ucap faidhan menaiki lantai atas yang diikuti oleh pengacara irawan


"sayang.." ucap arkana lembut seraya menggenggam tangan arin


Arin diam tidak bereaksi


"maaf" lanjutnya


Mata arin kini telah berkaca-kaca


"shutt.. sayang maafkan aku ya" arkana berdiri memeluk arin


"hiks.. hiks.."


"mas membenciku" ucap arin terlampau pelan


"tidak.. tidak.. itu tidak benar"


"maaf karena tidak mendengar penjelasanmu dulu.. kamu tahu? aku begitu takut kehilanganmu. Aku takut gadis kesayanganku ini pergi meninggalkan diriku sendiri"


"aku takut kamu meminta ku untuk menjauh dan kamu memilih bersama dia" lanjutnya menghapus air mata arin


"tapi itu kan kakaknya arin" jawabnya melepas pelukan arkana dan mendongak dengan wajah sedihnya


"iya maka dari itu aku minta maaf.. aku nggak dengerin kamu dulu"


Ia menelan ludahnya seraya berhenti untuk terus menangis "maaf.. aku juga lambat bilang ke kamu mas"


"nggak rin, ini salah paham.. harusnya aku dengerin penjelasan kamu"


"lain kali aku akan lebih kontrol emosiku.. kita lupakan kesalah pahaman ini ya?"


"hm.." arin mengangguk kecil


"aku bersyukur faidhan kk kamu, entah apa yang terjadi jika dia.."


Arkana menyisir rambutnya sembarangan

__ADS_1


"ah bahkan aku saja tak sanggup memikirkan hal buruk" lanjutnya


'rasanya tadi aku ingin membunuh faidhan sebelum tahu kebenarannya'


"baiklah jangan bersedih lagi okay??"


"lihat mas membawa banyak kuntum bunga mawar merah segar untuk cintaku ini.. lihat" ucapnya antusias seraya mengambil bunga yang ia letakkan di atas meja tadi


"kamu tahu siapa yang menjual bunga ini?"


Arin menggelengkan kepalanya


"ia seorang gadis kecil yang sungguh bersemangat menjual bunga ini padaku, ia mengetuk kaca mobil saat di lampu merah tadi.. dia bilang 'tuan belilah bunga cantik ini untuk istrimu' tanpa berpikir ulang aku membelinya.. untuk istriku.. yang sebentar lagi akan kumiliki ini" ucap arkana mencubit gemas hidung arin


"dia juga mendoakan agar cinta kita terus bersama dan bahagia selamanya, doanya pasti dikabulkan"


Arkana memasang senyum manisnya pada arin


"mau menerima bunganya sayang?"


Arin mengangguk dan meraih bunga mawar tersebut dari pelukan arkana


'ah.. gadisku ini.. kesayanganku.. hatinya begitu lembut, sikapnya yang manis ini membuatku terus jatuh cinta'


"um.. ibu mungkin sudah menunggu" ucap arin mengerat kan pelukan pada bunganya seraya membalikkan badannya


Cup


Arin menghentikan jalannya karena arkana tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mengecup pipinya dari samping, kini tidak bisa ia tutupi lagi.. pipi chubbynya terlihat merona berseri


"maaf ya sayang" bisik arkana dari belakangnya


"ehkm.."


Arkana mendongakkan wajahnya ke arah tangga dan mendapati sang kakak iparnya memasang wajah datar


Terlihat arkana biasa saja, namun arin terlihat sangat malu pada faidhan dan melepaskan pelukan arkana dengan gugup


"kakak?"


"cepatlah.. makanannya akan dingin nanti" ucap faidhan yang berjalan dan memeluk pundak arin dan berjalan mendahului dengan melirik pada arkana


'ck.. tunggu saja, jika sudah sah.. maka arinku tidak boleh dipeluk siapa pun'


"jangan menggerutu arkana" ucap faidhan tanpa menoleh


'ergg.. sungguh menyebalkan memiliki kakak ipar'


Gerutu arkana kembali yang menghelakan nafasnya.. dengan sabar ia berjalan di belakang arin dan faidhan


"eh sayang.. bunganya ditaruh dulu gih" ucap ibu


Arin mengangguk dan meletakkan bunga mawar merah itu di dalam vas bunga kaca yang telah ia beri air


"nak arka tidak apa ya kita makannya kali ini lesehan" ucap ibu


Arkana tersenyum "tak apa bu"


Saat arin akan duduk arkana memberikan kode agar arin makan di sampingnya, arin pun berjalan hendak duduk disamping arkana namun


"arin.. duduk di sebelah kk dhan sini" ucapnya


Arin menoleh pada arkana yang terlihat menekuk wajahnya, ibu yang tersenyum melihat itu pun berdiri dan pindah duduk di samping kiri arkana


"ibu yang mengalah, sekarang jangan banyak bicara lagi.. ayo berdoa dulu" ucap ibu


Tanpa berdebat lagi mereka berdoa masing-masing didalam hati


"aamiin"


"silahkan pak pengacara.. kalian juga yang banyak makannya ibu dan arin sudah memasak banyak ini" ucap ibu mendahului agar mereka tidak merasa canggung


Hingga malam hari mereka masih tetap setia menetap di ruko, hanya pak pengacara irawan saja yang memutuskan pulang setelah makan siang tadi selesai. Bahkan ibu lebih cepat menutup toko kue, mengingat bahwa ada tamu yang hadir dan tidak sempat membuat adonan untuk macam kue yang lainnya


Kini mereka asik bercengkerama, lebih tepatnya faidhan dan arin. Faidhan yang begitu terlihat antusias bercerita tentang keluarga mereka dan arin yang dengan wajah berseri juga banyaknya pertanyaan keluar dari mulutnya. Sedangkan ibu yang sembari menonton tv sesekali ikut menimpali dan jangan lupakan arkana yang tetap setia mendengarkan cerita kakak beradik itu


"memangnya kk dhan beda berapa tahun dengan arin?"


Faidhan terlihat berpikir "dulu saat kecelakaan itu kk berusia sepuluh tahun, kalau tidak salah umurmu saat itu dua tahun. Sekarang berapa umurmu?"


"23 tahun" jawabnya


"berarti benar.. beda kk denganmu itu delapan tahun, umur kk sekarang 31 tahun"

__ADS_1


"benarkah?"


Faidhan mengangguk "iyaa"


Arin menoleh pada arkana "mas arka?"


"ya?"


"sekarang umur mas arka berapa?"


Arkana diam melihat faidhan 'kenapa harus sama? bahkan aku memanggilnya kk ipar.. ckk'


"mas arka?" tanya arin sekali lagi


"iya"


"apanya yang iya?"


"sama seperti kk ipar" jawab arkana datar


"benarkah? tidak tampak terlihat tua" jawab arin tersenyum lebar


"tua?" tanya faidhan dan arkana bersamaan


Arin mengangguk polos "saat jasmine bertanya umurku dan arin tanya umurnya, jasmine bilang tidak setua mas arka"


"ternyata arin benar.. mas arka tidak tua hanya dewasa, sama seperti kk dhan" jelasnya tersenyum lebar


Kedua laki-laki itu nampak diam mendengarkan celotehan arin, entahlah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing


"kk dhan arin mau dengar cerita tentang ayah dan ibu, um.. arin dulu panggil mereka apa?"


"saat itu kamu masih kecil, kamu sering memanggil papa dengan terus menangis meminta di gendong. Kamu selalu menangis jika papa pulang terlambat"


'papa pasti sangat tampan seperti kk dhan, papa.. arin mencintai papa walau arin tidak mengingatnya. Papa tetap cinta pertama arin, cinta pertama seorang anak perempuan' arin meneteskan air matanya


"Kamu tau bahkan kamu sering meminta kk dhan menggendongmu.. kamu juga yang memberi panggilan kk dhan untuk pertama kalinya, bagaimana dulu adik kecilku ini memanggilku yah? ah.. ya begini"


"ta..an" ucapnya bicara cadel seperti anak kecil


Faidhan tersenyum sendiri


"dia sangat manja saat itu arka, kukira hingga saat ini" ucapnya pada arkana


Arkana tertawa kecil seraya mengangguk "dia memang kesayanganku"


"anak ini memang manja tapi anak ibu ini tidak pernah menyusahkan ibu" timpal ibu


Arin hanya tersenyum malu


"um.. bagaimana dengan mama kk?"


"mama begitu sangat memanjakanmu dulu, mungkin secara tidak sadar membuatmu ingin selalu dimanjakan hingga kini. Saat mama masih hamil dirimu hingga kau lahir ia membeli banyak barang yang sama denganmu mulai dari pakaian, sepatu, boneka beruang besar, bahkan bandana.. tidak jarang mama selalu mengenakan outfit kembaran denganmu" ucap faidhan sedikit terisak


Terlihat arin berkali-kali menyeka air matanya yang deras mengalir "mama hiks.. hiks.."


'mama.. arin kangen.. arin pengen dipeluk mama.. mama hiks..'


Faidhan tersenyum seraya meneteskan air matanya pula


"kk ingat mama begitu menyukai vanila, apa pun itu baik parfumnya, hingga ice cream" faidhan tertawa kecil


"kk bahkan menangis saat mama meminta ice cream milik kk karena punya mama sudah ia habiskan"


Arin tertawa seraya menangis menatap faidhan "kakak"


Faidhan bergerak duduk di hadapan arin dan memeluknya erat, dengan lembut faidhan mengelus kepala arin


"mama sangat mencintaimu rin.. sangat, begitu pula dengan papa"


"arin rindu mama hiks.. rindu papa"


Ibu dan arkana bahkan bisa merasakan bagaimana sesaknya penderitaan kakak beradik itu, kehilangan orang tua yang begitu mencintai dan dicinta mereka


"kk tahu makam mama dan papa?"


Faidhan mengangguk "besok kita pergi ke makam mama dan papa"


Kakak beradik itu menangis bersama menumpahkan rasa cinta dan rindu dalam pelukan hangat yang lama hilang selama bertahun-tahun


'ma.. pa.. faidhan dan arin sudah bertemu, faidhan janji akan menjaga arin selalu.. mewakili mama dan papa untuk terus tetap disampingnya, walau nanti arin atau dhan telah menikah dan punya keluarga kecil masing-masing.. namun kami akan terus menjaga satu sama lain'


Next episode,,

__ADS_1


__ADS_2