
"kita ke toko pakaian dulu deh rin baru cari heels kali ya"
"okeh"
Kami menuju toko alas kaki terlebih dahulu,
"rin lu kan mau interview, jadi penampilan loe mesti bagus, pilih gih yang mana?" dengan mona yang terlihat memilih rok hitam di bawah lutut
"kebiasaan deh mon, nggak ah. Biar aja gue masih punya kok pakaian sama rok yang dulu buat interview nanti"
"duh rin itu pakaian lu udah usang kali, udah dari jaman kapan abis terakhir lu lulus sarjana coba" mona menatap ku tajam
"baru kok mon, itu beli waktu mau magang, terakhir juga cuma gue pake sidang, dan.... ya ada beberapa kali sih gue pake buat interview. Tapi kan jarang mon, nggak lusuh-lusuh banget kok mon, baru beberapa bulan juga" ucapku cemberut
"kata lu kan?, udah deh ikut pengaturan gue. Sekalian beberapa potong buat kerja pertama loe nanti"
"mon gue nggak mau" aku mencegah pergerakan mona "gue masih ada mon pakaiannya, masih layak pakai juga mona sayang" aku membujuknya
"nggak, kalo loe nggak mau pilih biar gue yang pilih, loe duduk di sini" mona mendorong ku untuk duduk di sofa tunggu
"mon" ku tahan tangannya "plisss mon, gini aja loe masih ada kan banyak pakaian formal buat kerja dan interview gue minta ya.. yang lu aja. Boleh??"
Aku mengalihkan mona
"kenapa mesti yang bekas gue, beli aja lagi rin. Ini juga udah sampe di mallnya kali. Lagian gue tuh bukan orang lain rin, masih aja sih nggak enak ma gue"
"maunya minta pakaian loe aja, boleh?" pintaku pada mona
"huh.. manja lu keluar, yaudah kita ke apartemen gue, kita pilih pakaian yang cocok buat loe"
"sippp, thanks sist" ku peluk mona erat
Aku selalu bersyukur bisa mengenal mona, dia selalu ada untuk aku, menjadi tameng jika teman-teman lain akan bermaksud jahat padaku. Aku berharap mona tetap bahagia dan mendapat kebaikan, tetap menjadi temanku, sahabatku, dan saudariku selamanya..
Aku tersenyum kecil menatap mona yang berjalan sedikit di depanku
Saat kami tiba di parkiran tiba-tiba telpon mona berdering
tring...tring..
"ya dok?"
Mona menggangguk
__ADS_1
"baik dok, saya segera ke rumah sakit sekarang" ucap mona sebelum menutup telepon
"rin sorry banget, ada hal genting di rumah sakit. Gue nggak bisa anter loe pulang, loe nggak papa kan gue tinggal... sorry banget yaa rin" ucapnya
"hah.. iyiya nggak papa kok rin, gue mah gampang"
"ya udah gue duluan ya rin, bye... muach" mona melambaikan tangan
Karena mona sudah pergi duluan lebih baik aku pulang naik busway saja, masih belum terlalu malam juga dan hitung-hitung olahraga sekalian irit ongkos hehe. Aku kembali masuk ke dalam mall dan keluar mall dari pintu depan, berjalan di bawah sinar bulan malam menuju halte busway yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mall
Sepertinya buswaynya akan datang sebentar lagi, jadi aku menunggu sambil memperhatikan sepeda motor dan mobil yang berlalu lalang di depanku
Sedangkan, didalam mobil hitam yang berhenti di lampu merah terdapat seorang laki-laki yang sedang duduk dengan tenang sedang menyenderkan tubuhnya. Matanya beralih dari ponselnya dan fokus menatap keluar mobil, terlihat seorang perempuan yang sedang menunggu di halte busway
Laki-laki itu bergumam 'dia....' dan terus memandang si perempuan lalu melirik jam yang ada di tangannya 'huff..' ia menghela nafas dan kembali memperhatikan perempuan itu
Tanpa sengaja mata cokelat perempuan itu melirik ke arah mobilnya yang berada di antara kendaraan lain, sehingga membuatnya menjadi semakin memperhatikan perempuan itu dari kejauhan, seolah saat ini mereka saling bertatapan
Hingga lampu merah berubah menjadi lampu hijau, dan memaksa mobilnya untuk melaju kembali
"akhirnya bus tayo dateng juga" ucap arin
________________
"bu...? assalamualaikum"
"eh waalaikumsalam, dari mana rin?" tanya ibu
"tadi bareng mona bu ke mall, ibu masak apa" aku menghampiri ibu ke arah dapur
"oh.. kamu belum makan? ibu bikin tumis touge sama ikan goreng balado. Bentar lagi siap ini"
"kebetulan arin belum makan bu, laper banget hufff" aku mengeluh pada ibu, karena memang aku belum makan malam
"ya udah bersih-bersih dulu, shalat abis itu turun ya kita makan bareng" jawab ibu sambil menyiapkan makanan
"ya udah arin naik dulu bu"
Sekarang aku dan ibu sudah duduk bersantai di depan tv, kami sedang menonton serial tv yang saat ini sedang naik daun dan sesekali bercerita, ibu juga menanyakan bagaimana pekerjaan yang akan aku kerjakan nanti
"jadi bagaimana dengan pekerjaan yang ditawarkan mona?, kamu berminat?" tanya ibu sambil merebahkan diri di atas ambal
"arin juga bingung, sebenarnya senang sekali, tapi apa arin pantas bu kerja di sana? itu kan perusahaan besar bu, arin takut nggak layak, masuk kerja hanya karena di bantu mona dan rio temannya mona" ucapku mengadu pada ibu
__ADS_1
"sayang.. kenapa putri kecilnya ibu ini tidak PD hm?"
tanya ibu padaku
"ibu tau HSM Group?" ibu mengangguk
"rio temannya mona bekerja di sana bu, dan dia yang akan membantu arin, tapi rio tidak bisa membantu arin sepenuhnya bu, dia hanya bisa bantu arin dengan persyaratan administrasinya. Dan selebihnya itu usaha dan keberuntungan arin sendiri bu rio bilang"
"itu lebih bagus sayang, kamu masuk kerja dengan kualitas kamu sendiri" ibu sekarang duduk dan menatapku "rio membantu kamu dengan baik tapi kamu tidak bisa terus mengandalkan rio, artinya ada kemampuan kamu yang akan dipertimbangkan oleh perusahaan sayang"
Aku masih menatap ibu
"dengarkan ibu, lulus dan tidaknya nanti kamu bekerja di sana, itu semua usaha dan perjuangan kamu juga adanya kebaikan yang diberikan mona dan rio"
"apakah aku layak bu bekerja di sana?" tanyaku menatap dalam pada ibu
"kenapa tidak layak?, putri kecil ibu ini anak yang cerdas sekolah saja berprestasi, walau arin tidak selalu juara kelas tapi kamu selalu bisa membanggakan ibu sayang. Kamu sekolah dan lanjut ke perguruan tinggi dengan atas beasiswa prestasi kamu sendiri. Lalu kenapa tidak layak hm?"
Aku tersenyum pada ibu
"sayang, bagaimana orang lain tau akan diri dan kemampuan kamu kalau kamu sudah tidak percaya diri duluan?" aku masih menatap ibu "tunjukkan dirimu layak, putri kecil ibu ini tidak sembarang, betul kan?" ibu tersenyum lebar dan tertawa kecil
Aku ikut tertawa kecil "sangat layak"
"sangat layak"
Dan kami tertawa bersama
'kenapa jadi penakut begini ya saat mendengar HSM group, benar kata ibu, harus yakin dan percaya diri, okay semangat arin' ucapku. Saat aku merebahkan tubuh di atas ranjang, tiba-tiba ponselku berdering
Tring...Tring
"ya mon?" jawabku
"rin nanti baju-bajunya gue kirim ke ruko aja ya, takutnya nggak sempat kalau gue ke ruko besok. Mana lu mau interview besok lusa kan?"
"hm iya mon, makasih yaa bajunya buat gue"
"iyee, udah ya cuma mau bilang itu aja, gdnight yaa bye"
"iy.. " jawabku terputus, karena mona sudah memutuskan sambungannya lebih dulu
Next episode,,
__ADS_1