
Bu Lisa baru mengatakan rencananya ke New York pada Selenia setelah makan malam. Dia mengajak Selenia untuk membantunya packing pakaian dan beberapa kebutuhan yang akan dia bawa ke sana. Kebetulan barang-barang tersebut sudah diangkut ke rumah Adam. Besok Bu Lisa dan Pak Edwin akan berangkat menggunakan penerbangan pertama di pagi hari.
Sementara itu Adam diminta Bu Lisa untuk mem-booking-kan tiket melalui layanan online ticketing. Meskipun Selenia sudah mendengar hal ini dari Ayahnya dan Adam, tapi tetap saja saat Bu Lisa mengatakan itu, dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Rumah pasti bakalan kembali sepi. Apalagi mulai lusa Adam sudah kembali masuk kerja seperti biasanya.
"Kamu harus terbiasa dengan hal-hal baru dong nak...life must go on kan? Masa iya mau jalan di tempat terus?" Bu Lisa membelai rambut Selenia penuh kasih.
"Aku cuma ingin suasana rumah yang nyaman, hangat, bersahabat. Seperti pas ada Papa sama Mama di sini," ucap Selenia lirih. "Suasana itu mengingatkan masa kecilku saat Mama masih ada Ma."
Bu Lisa menghela nafas. Dia sebenarnya juga berat. Apalagi mata Selenia terlihat berkaca-kaca. Jadi dengan sigap Bu Lisa langsung memeluk Selenia erat. Hal itu justru membuat Selenia semakin tidak bisa membendung air matanya. Belum juga Bu Lisa meninggalkan rumah, suasana sepi sudah terlebih dahulu menyelimuti hati Selenia.
"Kamu pasti bisa menciptakan suasana itu dengan Adam nak," Bu Lisa tersenyum. "Mama yakin. Kalian berdua bisa membuat suasana rumah ini jauh lebih nyaman daripada saat ini."
Selenia menatap wajah mertuanya. Mana mungkin? Jelas-jelas Adam jarang banget ada di rumah kalau sudah sibuk.
"Mama lama nggak sih di New York?" tanya Selenia kemudian.
Bu Lisa mengangkat bahu. "Mama belum tahu nak. Yaaah... semoga aja nggak butuh waktu lama ya," Dia mengusap-usap lengan Selenia. "Udah dong jangan sedih. Mama sama Papa tetep pulang kok. Lagi pula sebentar lagi Ayah kamu datang kan?"
"Iya sih, cuma belum pasti juga kapan Ayah pulang. Tapi kalaupun Ayah pulang, dia nggak mungkin mau tinggal di sini, " rengek Selenia.
"Ya nanti kamu minta deh sama Ayah kamu buat tinggal di sini beberapa hari. Kan bisa?"
"Ya kalau Ayah mau," Bibir Selenia mengerucut "Besok aku nggak bisa anterin Mama sama Papa juga dong. Kenapa sih mendadak gini? Kenapa nggak berangkat lusa aja?"
Bu Lisa terkikik mendengar rengekan manja Selenia. Dia memeluk Selenia lebih erat lagi. Bisa dibilang, Selenia adalah menantu paling beruntung di dunia karena mempunyai mertua seperti Bu Lisa. Mertua yang bisa menganggapnya seperti anak sendiri.
"Ya memang harus berangkat besok nak. Supaya Papa sama Mama bisa istirahat dulu sebelum menghadiri undangannya... jangan nangis dong... Mama ikut sedih lho," Bu Lisa menyeka air mata Selenia. "Kamu nggak perlu anter Papa sama Mama kok. Kan ada Adam. Besok kamu juga harus sekolah, iya kan?"
Adam yang saat itu ingin masuk ke kamar untuk memberitahu Mamanya kalau urusan tiket sudah clear terpaksa mengurungkan niatnya saat melihat Mama dan Istrinya sedang berpelukan.
__ADS_1
Kenapa Selenia menangis? Ada apa ya? Batin Adam bertanya-tanya.
...🌺🌺🌺...
Adam tersenyum mendengar cerita Mamanya yang mengatakan kalau Selenia bakal merasa kesepian kalau Pak Edwin dan Bu Lisa pergi ke New York. Malam itu saat semua orang di rumah sudah terlelap, mereka berdua ngobrol di ruang makan sambil menikmati cemilan.
"Mama ingetin sama kamu ya Dam. Kamu tu jangan terlalu fokus sama pekerjaan kamu aja. Bener tuh kalau Selenia mengeluh kesepian di rumah. Orang kamu kalau berangkat pagi banget pas Selenia belum keluar kamar. Sedangkan pulangnya pas Selenia udah tidur," oceh Bu Lisa menasehati anak semata wayangnya.
Adam menghela nafas panjang. Mamanya benar. Tapi bukan tanpa alasan dia melakukan semua itu. Selama ini Adam selalu seperti itu karena dia merasa Selenia tidak nyaman jika terlalu sering bertemu dengan dirinya. Makanya dia selalu berangkat pagi-pagi sekali dan sengaja mengambil jam lembur supaya saat dia pulang, Selenia sudah tidur. Jadi setidaknya mereka tidak perlu sering-sering berinteraksi.
"Iya deh Ma. Mulai besok aku bakal atur ulang jadwal aku," kata Adam.
"Jadikan peristiwa kamu masuk rumah sakit kemarin sebagai teguran. Itu mungkin karena selama ini kamu terlalu hardworker," Bu Lisa mulai ngoceh. "Healthy is expensive. Inget itu. Seberapapun banyaknya uang yang kamu miliki, bakalan sia-sia kalau kamu sakit-sakitan."
"Aku bekerja juga buat masa depan aku sama Selenia Ma," potong Adam pelan.
"Iya Mama tahu. Tapi kan kesehatan juga penting. Lagipula kamu juga punya istri yang harus diperhatikan. Kamu nggak kasian sama Selenia? Dia kamu ajak tinggal di sini... tapi...." Bu Lisa tidak melanjutkan kata-katanya dan hanya mencibir sambil tersenyum.
"Tapi Dam," Bu Lisa melipat kedua tangannya. "Mama mau nanya sama kamu."
"Apa Ma?" Adam mengernyitkan kening melihat Mamanya yang mulai tampak serius.
"Sebenernya... bagaimana sih perasaan kamu ke Selenia?"
Adam terdiam sejenak, kemudian menggeleng pelan.
"Jawab Mama Dam."
"Kenapa Mama nanya gitu?"
__ADS_1
Bu Lisa menunduk. Dia terdiam lama sekali. Banyak yang ingin dia sampaikan, tapi dia bingung mau memulai dari mana. Sejujurnya dia merasa bersalah pada Adam karena pernikahan ini. Tapi dia juga tidak bisa menolak permintaan terakhir Kalila. Terkadang suka timbul rasa menyesal dalam diri Bu Lisa karena dulu sudah membercandai tentang perjodohan anak-anak mereka.
"Dam," Bu Lisa menggenggam tangan Adam. "Kalau memang kamu tidak bahagia, maksud Mama kalian... kalau kalian tidak bahagia dengan pernikahan ini... kalian boleh kok berce....."
"Ma!" potong Adam cepat. Dia menarik tangannya dari genggaman Bu Lisa. "Mama ngomong apa barusan? Maksudnya, Mama meminta aku buat cerain Selenia?" tanya Adam lirih. Dia celingukan, takut kalau-kalau Selenia tiba-tiba muncul dan mendengar percakapan mereka. Bisa salah paham dan kacau nantinya.
"Mama cuma nggak mau ngeliat kalian berdua nggak bahagia, itu aja. Lagipula buat apa mempertahankan suatu hubungan kalau pada kenyataannya kalian berdua tidak bisa menikmati hal itu?"
"Kenapa Mama ngomong seperti itu sih?" Adam mendengus lirih.
"Ya.... karena sebenarnya pernikahan ini bukan keinginan kalian kan? Jadi untuk apa dipertahankan kalau kenyataannya kalian seperti orang asing di rumah kalian sendiri? Tinggal bersama, tapi seperti tidak saling mengenal." Bu Lisa mengecilkan volume bicaranya. "Mama nggak nyalahin kamu ataupun Selenia, tapi kalau memang kalian berdua sama-sama terpaksa, nggak bahagia.... buat apa? Orang menikah itu punya tujuan Dam. Keluarga yang bahagia, harmonis, punya anak...." Bu Lisa menggigit bibirnya. Tidak sanggup rasanya untuk berbicara lebih jauh lagi.
"Aku ngerti kok Ma. Dan apapun alasannya, buatku pernikahan itu bukan buat mainan," sahut Adam. "Di awal, aku memang kaget pas Mama kasih tahu aku tentang permintaan terakhir Tante Kalila. Tapi mau bagaimana lagi? Ini mungkin memang sudah takdir aku... cara Tuhan mempertemukan aku dengan jodohku. Jadi tolong Mama jangan pernah bicara seperti itu lagi. Apapun itu, aku akan selalu menerima apa yang terjadi dalam hidupku, Ma. Aku akan terus berusaha mencintai Selenia... dan aku juga akan terus berusaha membuat dia bisa menerima aku.... aku cuma butuh support Mama." pungkas Adam kemudian.
Mata Bu Lisa berkaca-kaca. Dia terharu mendengar kata-kata anaknya yang begitu bijaksana. Tanpa berkata lagi, dia langsung memeluk Adam erat dan menciumi kening anaknya itu berkali-kali.
Sementara itu, seseorang ternyata mencuri dengar obrolan mereka dari balik tembok. Dia Selenia. Tadinya dia mau ke dapur untuk mengambil minum. Tapi langkahnya terhenti saat dia mendengar obrolan dari arah dapur, di saat Adam mengatakan 'Aku bekerja juga buat masa depan aku dan Selenia Ma'.
Dada Selenia terasa begitu sesak mendengar kata-kata Adam. Dia tidak pernah menyangka bahwa Adam sebegitu berharganya menganggap hubungan ini. Dia selalu berusaha memberikan yang terbaik dan terus belajar mencintai dirinya. Tapi apa yang selama ini Selenia lakukan? Dia justru bersikap tak acuh pada Adam dan tidak pernah memperhatikan dia.
Pernikahan itu memang bukan keinginan mereka berdua, tapi Adam tetap menerima semua itu dengan pikiran dan harapan yang positif. Dia bahkan tidak pernah memiliki keinginan untuk menceraikan dirinya.
Selenia mendekap erat tubuhya sendiri. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia menyesal telah mengacuhkan Adam selama ini.
Ya Tuhan...
Selena tak kuasa menahan tangis. Dia mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum dan memilih kembali ke kamar. Dia tidak mampu untuk bertatap muka dengan Adam setelah mendengar semua yang dia ucapkan malam ini.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...