
Cia menepati janjinya untuk menjenguk Selenia setelah pulang sekolah. Dia bersama Tony mengendarai motor Ducati milik Tony menuju kediaman Selenia. Tony masih hafal jalan menuju ke rumah itu. Sepanjang jalan Cia hanya berharap dan berharap saat mereka ada di sana, Adam belum pulang. Tidak lupa dia mengirimkan pesan terlebih dahulu pada Selenia supaya anak itu tidak terlalu terkejut dengan kedatangannya yang bersama Tony. Cia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Adam tahu Tony datang ke rumah mereka.
Sementara itu di kamarnya, Selenia sedang duduk di atas tempat tidur, menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang saat menerima pesan dari Cia. Dia baru saja selesai makan siang yang dibawakan Bi Iyah ke kamar.
"Ha??!!" mata Selenia membelalak. "Aduuuh...." Dia gelisah mendapatkan kabar kedatangan Cia ke rumahnya karena anak itu datang bersama Tony.
Selenia: [Please, gue mohon lo pulang aja. Tony nggak boleh ke sini Ci... bentar lagi Adam pulang...]
Selenia membalas pesan Cia tapi hanya menunjukkan dua garis abu-abu yang artinya pesan itu belum dibaca. Selenia beranjak dari ranjangnya dengan gusar. Dia menatap jam dinding kamar sembari menggigit jarinya. Sekarang sudah jam dua siang. Dia masih ingat apa yang pernah Adam katakan, kalau semenjak keluar dari RS, dia tidak akan pulang malam lagi. Dan biasanya dia akan tiba di rumah sekitar jam tiga sore.
Selenia semakin gelisah saat mendapati pesannya ke Cia tak kunjung dibaca. Ya Tuhan.... Selenia mondar-mandir di kamarnya dengan gusar.
Tak lama kemudian terdengar bunyi deru motor yang tak asing di telinga Selenia. Dia meloncat menghampiri jendela kamar dan melihat keluar. Cia baru saja turun dari boncengan motor Ducati milik Tony. Sontak Selenia langsung berlari keluar kamar supaya bukan Bi Iyah yang membuka pintu. Tapi telat, saat Selenia turun Bi Iyah sudah berada di belakang pintu dan membuka pintu selebar-lebarnya.
"Eh... Mbak Cia," sambut Bi Iyah ramah.
"Siang Bik," balas Cia. Dia juga melempar senyum ke Selenia yang berdiri di anak tangga paling bawah.
"Masuk mbak... oh... sama temennya to? Mari masuk mas," Bi Iyah mempersilahkan mereka berdua masuk.
Begitu mereka masuk, Bi Iyah langsung pergi ke belakang untuk membuatkan minuman. Selenia melangkah dengan gontai menghampiri Tony dan Cia yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Dia berusaha bersikap sebiasa mungkin meskipun perasaannya was-was.
"Udah baikan Sel?" tanya Tony.
__ADS_1
Selenia menyunggingkan senyum. "Lumayan lah daripada semalam."
Cia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan hanya bisa tersenyum kecut ke arah Selenia karena baru sempat membaca balasan pesannya. Telat Sel.... batinnya.
Tony mengamati sekeliling ruangan. Dalam hati dia mengagumi tata ruang di rumah Selenia. Sangat aestethic. Kalau memang Adam itu adalah Kakak Selenia dan dia tinggal di rumah ini, maka tidak salah kalau Ayahnya begitu menganak emaskan pegawainya yang satu itu. Tapi, sejak masuk rumah ini dia sama sekali tidak melihat orang itu ada di sini? Atau mungkin dia belum pulang?
Cia dan Selenia sibuk ngobrol. Bi Iyah muncul dengan membawa nampan berisi tiga gelas minuman dan cemilan dalam toples.
"Aduh Bibik ni repot-repot aja," kata Cia basa-basi.
"Enggak Mbak, wong cuma minuman aja. Monggo di minum.... Mas... diminum dulu," Bi Iyah menghidangkan segelas minuman di depan Tony.
"Oh iya Bik, terimakasih," ucap Tony.
Foto seorang laki-laki dengan pakaian yang begitu rapih. Tidak salah lagi, itu Adam. Laki-laki yang pernah dia lihat datang ke sekolah sekaligus orang yang katanya adalah kakak Selenia. Entah kenapa semenjak dia tahu dari Ayahnya kalau Adam itu anak tunggal, Tony jadi tambah penasaran apa yang sebenarnya disembunyikan Selenia darinya, dan kenapa dia melakukan itu?
"Kakak kamu kok nggak kelihatan Sel?" celetuk Tony. "Masih kerja ya?" tanyanya sengaja ingin memancing reaksi Selenia dari pertanyaan tersebut.
Selenia dan Cia pun saling tatap saat pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Tony.
"E... i-iya... dia belum pulang," jawab Selenia.
__ADS_1
"Ouuhh..." Tony manggut-manggut memilih untuk mempercayai jawaban Selenia meski dia yakin Selenia sedang berbohong. Baiklah, mungkin belum waktunya sekarang. Batin Tony.
...🌺🌺🌺...
Sementara itu di rumah sakit, tepat di sebuah kamar VIP khusus untuk anak, Renata tengah duduk di tepi ranjang sembari tangannya mengelus-elus kepala Nola yang sedang terlelap. Anak itu tampak tertidur pulas setelah mendapatkan penanganan dari dokter. Demamnya juga sudah turun.
Sembari menunggui anaknya, pikiran Renata berkelana pada kejadian saat dia bertemu Adam pagi tadi di Rumah Sakit. Seketika Renata juga ingat bahwa dia pernah melihat gadis yang bersama Adam itu beberapa waktu lalu.
Di toilet mall. Ya, Renata masih ingat betul dengan detil wajah gadis itu. Meskipun malam itu Renata tidak begitu memperhatikan wajah gadis tersebut, tapi dia yakin gadis yang dilihatnya pagi ini ialah gadis yang sama.
"Iya halo Dam?... Iya.... iya sebentar lagi aku keluar.."
Kalimat itu terngiang di telinga Renata. Tadinya dia mengira kalau gadis itu adiknya Adam, namun begitu dia ingat cara gadis itu memanggil Adam yang hanya dengan nama saja--tanpa embel-embel kakak--dia jadi sangsi kalau hubungan mereka kakak-beradik.
Apa mungkin....... Renata menggeleng. Pacar? Nggak. Nggak mungkin. Gadis itu terlalu muda untuk menjadi pacar seorang Adam. Kelihatannya dia masih ABG. Jadi sepertinya nggak mungkin kalau Adam memacari anak yang usianya jauh di bawah dia. Untuk apa? Bersenang-senang seperti sugar daddy? Ah, Adam bukan tipikal cowok yang seperti itu. Tepis Renata kemudian.
"Maaahh..." rintihan Nola menyentakkan Renata dari lamunannya.
"Oh iya sayang. Nola," Renata berdiri. Dia lalu terdiam menatap anaknya yang masih terlelap. Ternyata putri kecilnya itu hanya mengigau.
Renata kembali duduk dan menemani anaknya dengan telaten.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...