
Waktu menunjukkan pukul 12.45 malam dan Selenia masih terjaga. Dia cemas karena Adam tak kunjung pulang. Beberapa kali dia mengecek keluar melalui jendela kamarnya namun tak ada apapun di sana. Tak ada tanda-tanda kemunculan mobil Adam. Tentu hal itu membuatnya gelisah dan pikirannya kemana-mana. Belum pernah dia merasa secemas ini saat Adam tidak di rumah. Padahal jelas-jelas suaminya itu sudah bilang tujuannya kemana. Tapi...
Kenapa bosnya harus nelfon dia kalau anaknya sakit?
Atau itu hanya alasan Adam saja?
Jangan-jangan dia datang ke rumah sakit malam-malam begini karena perempuan itu yang menelfon...
Penyakit anaknya semakin parah dan dia meminta Adam untuk menemaninya di sana. Mana dia nggak pamit aku lagi.
Tapi kenapa harus Adam? Apa dia tidak punya suami?
Aarrggghhh! Selenia geram. Dia meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Adam.
Selenia: [Kenapa belum pulang?]
Selenia duduk di atas ranjangnya dengan gelisah. Matanya terus memandangi layar ponsel.
Dan tring! Ada pesan balasan masuk dari Adam. Selenia buru-bur membukanya.
Adam: [Kenapa ga tidur? Aku mungkin lama/ pulang pagi. Bosku minta aku temenin dia di sini Sel. Keluarganya baru besok bisa datang]
Selenia: [Jadi kamu bakalan nginep di rumah sakit?]
Adam: [Aku minta ma'af. Iya, aku terpaksa bermalam di sini.]
Selenia: [😓😓😓]
Adam: [Ada apa sayang?]
Jantung Selenia berdebar membaca pesan tersebut. Sayang? Kenapa terdengar manis sekali? Dan kenapa aku jadi kangen banget sama Adam? Suara dalam hatinya bergemuruh.
...❤️...
Selenia tertegun memandangi layar ponselnya. Tak terasa air matanya menetes. Entah kenapa tiba-tiba dia merasakan sakit di hatinya, mengingat bagaimana perlakuannya terhadap Adam dulu. Dia pernah terlalu membenci Adam hanya karena merasa hidup tidak adil--dipaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak pernah dia cintai di usia yang masih sangat muda. Tapi diluar itu semua ternyata dia justru mendapatkan laki-laki yang begitu peduli dan menyayanginya. Padahal siapa yang tahu kalau dulu Adam juga sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini?
__ADS_1
"Aku akan terus berusaha mencintai Selenia... dan aku juga akan terus berusaha membuat dia bisa menerima aku."
Obrolan Adam dengan Bu Lisa malam itu kembali terngiang di telinga Selenia. Dia terisak. Dia rindu. Ternyata rumah tanpa Adam terasa sangat lain. Sepi, hening dan senyap.
Adam: [Sel?]
Adam masih online, menunggu balasan pesan Selenia. Selenia menyeka air mata kemudian mengetik pesan.
Selenia: [Tapi malam ini kan dingin. Memangnya kamu bawa selimut?]
Balas Selenia ngaco. Dia bingung.
Adam: [🤭 Kamu gak usah khawatirin aku soal itu sayang.]
Kata sayang itu kembali membuat jantungnya berdebar. Kenapa Adam justru begini saat tidak sedang berada di dekatnya? Padahal rasanya kata itu begitu manis kalau bisa didengar langsung oleh telinga Selenia.
Selenia: [Rumah sepi...]
Adam: [🤭🤭🤭. Ini udah malem sayang, wajar kalau sepi.]
Selenia: [Ya udah kalau begitu aku tidur ya...]
Selenia tersenyum. Kalimat cinta itu membuatnya berbunga-bunga.
Selenia: [ILYT 😊]
Balas Selenia menggunakan singkatan. Setelah menyimpan ponselnya ke laci, Selenia kembali bergelung diatas tempat tidur, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan memeluk gulingnya erat. Rasanya dia tidak sabar menunggu pagi dan melihat kembali wajah suaminya.
...🌺🌺🌺...
Perlahan Tony membuka mata dan menyadari dia sedang berada di tempat asing. Ya, Rumah Sakit. Dia bisa mencium aroma obat-obatan yang menguar di ruangan. Sebuah selang infus terhubung ke tubuhnya. Tony juga meraba hidungnya untuk memastikan sesuatu yang mengganjal itu adalah selang oksigen. Dan memang benar. Ya Tuhan, separah apa kondisiku sampai ditangani sedemikian rupa, batinnya.
Pintu kamar rawatnya terbuka. Dua orang laki-laki masuk. Satu Ayahnya, dan satu orang lagi....?
Baik Adam maupun Tony sama-sama kaget melihat satu sama lain.
Ternyata cowok yang pernah nganter pulang Selenia malam itu, anaknya Pak Anton? batin Adam.
__ADS_1
Ini cowok yang pernah bersama Selenia malam itu kan? Kenapa dia ada di sini? batin Tony.
"Gimana kondisi kamu Ton?" Pak Anton mendekati ranjang Tony.
"Makasih Pa udah bawa aku ke sini," kata Tony lirih.
"Kamu kenapa nggak ngomong sama Papa kalau kamu sakit?"
"Tadinya aku pengen hubungin Papa. Tapi..."
"Ya udah sekarang kamu istirahat aja," sahut Pak Anton. "Oh ya kenalin, ini yang namanya Adam. Pegawai Papa yang pernah kamu tanyain waktu itu."
Baik Adam dan Tony sama-sama terkejut mendengar pernyataan Pak Anton.
Papa apa-apaan sih? batin Tony.
Adam hanya menyunggingkan senyum meski dalam hatinya juga heran dengan kata-kata Pak Anton barusan. Ada apa anaknya menanyakan tentang aku?
"Hai," sapa Adam dan Tony hanya tersenyum sembari mengangguk pelan.
"Dia sengaja Papa telfon supaya bisa nemenin Papa di sini," sahut Pak Anton. "Soalnya tadi Papa panik dan bingung mau hubungin siapa. Tapi besok, Tante kamu akan datang ke sini."
Tony mendengus pelan. Tante? Orang rempong sejagat dan suka heboh itu? Hufhhh!
...🌺🌺🌺...
Adam keluar, duduk di luar kamar dan berpikir. Ternyata anak Pak Anton satu sekolah dengan istrinya. Dan mereka begitu akrab. Adam tersenyum getir mengingat Selenia yang malam itu pernah diantar pulang oleh Tony karena dia telat menjemput.
Selenia terlihat serasi dengan laki-laki seumuran Tony, pikirnya. Ya jelas lah, mereka sama-sama masih ABG.
Adam melirik jam tangannya. Sudah hampir jam dua pagi dan dia mulai merasa mengantuk.
"Hoaaammhh..." Adam menguap lalu merapatkan jaketnya.
Setelah menoleh kiri kanan dan tak mendapati siapapun, dia membaringkan tubuhnya di kursi. Mau tak mau dia harus bisa tidur di sini. Sebenarnya Pak Anton sudah menawarkan padanya supaya tidur di dalam kamar karena memang telah disediakan tempat tidur khusus penunggu pasien. Tapi Adam menolak dan memilih untuk tidur di luar. Nggak pa-pa lah.
Sebentar lagi pagi.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...