NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -133-


__ADS_3

"Lhoh, kok kamu belum rapi sih sayang?" Selenia baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat Adam masih memakai piyama dan tengah menggendong Ray di tepi jendela. Suaminya itu sedang mengajak Ray sunbathing. Selenia melirik jam dinding. Ini sudah jam 8 pagi dan seharusnya suaminya itu sudah berada di kantor. Apalagi selama beberapa hari ini dia sudah sering absen.


Adam memutar tubuh dan memasang senyum manis. Wajahnya masih terlihat muka bantal banget, tapi tetap terlihat keren di mata Selenia. Lebih natural. Selenia pernah mengatakan pada Adam, bahwa pemandangan paling indah saat dia membuka mata di pagi hari adalah, saat melihat wajah suaminya itu masih terlelap di hadapannya.


"Hari ini aku absen aja. Aku pengen temenin kamu sama Ray di rumah." ucap Adam enteng. Padahal sebenarnya dia memiliki satu rencana.


Selenia menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi kan kamu udah sering absen sayang, memangnya nggak masalah kalau kamu jarang masuk kantor? Kamu punya tanggung jawab besar lho di sana." dia mulai mengoceh sembari menata tempat tidur. Melipat selimut, menata bantal dan guling, mengaturnya sampai terlihat rapi. "Jangan sampai kamu bikin Papa kecewa."


"Kamu tenang aja sayang." Adam berjalan mendekati Selenia yang terduduk di atas tempat tidur. "Selama aku absen, aku tetep pantau semuanya dari rumah kok. Memangnya kamu pernah lihat suamimu ini main-main sama urusan pekerjaan?" dia lalu menyerahkan Ray pada Selenia. "Nih, kayaknya Ray haus. Aku mau mandi dulu."


Selenia menerima Ray dalam gendongannya. "Selesai kamu mandi, siapin air buat Ray ya sayang. Ini juga udah waktunya dia mandi." pesan Selenia sebelum suaminya itu menghilang di balik pintu kamar mandi.


Untuk beberapa menit, sembari menunggu Adam mandi, Selenia asyik bermain dengan Ray yang sedang mimi *****. Bayi mungil itu semakin pintar karena sedikit-sedikit sudah bisa merespon dengan senyumnya yang lucu setiap kali Selenia bersenandung lirih atau mengajaknya berbicara.


...🌺🌺🌺...


Bi Iyah mulai sibuk menyiapkan sarapan untuk Adam dan Selenia ketika sepasang suami-istri itu terlihat menuruni tangga bersamaan. Ya, semenjak ada Ray, jadwal sarapan mereka harus sedikit molor dari sebelumnya. Karena, kalau malam kan mereka berdua masih harus gantian begadang jagain Ray dan tentunya akan membuat jam tidur mereka berkurang. Jadi saat pagi menjelang dan seharusnya sudah bangun, mereka justru masih terlelap.


Siklus tidur Ray masih belum teratur. Seringnya bayi itu akan tidur saat sore menjelang setelah selesai dimandikan, dan akan terbangun saat semua orang dewasa seharusnya waktunya tidur. Dan itu biasanya sampai lewat dini hari, sekitar jam 2 atau 3 pagi, baru bayi mungil itu kembali tidur. Beberapa kali Adam mengusulkan pada Selenia untuk mencari baby sitter supaya istrinya itu ada yang bantuin jaga Ray dan bisa istirahat cukup, tapi Selenia menolak. Apapun alasannya, dia ingin merawat bayinya sendiri. Kecuali nanti kalau dia sudah mulai masuk kuliah, mungkin pikirannya akan berubah. Tapi untuk saat ini, Selenia menolak mentah-mentah usulan Adam. Jadi, ya sudah, Adam tidak mau memaksa.


"Den Ray sudah tidur Non?" tanya Bi Iyah seraya menghidangkan sepiring lauk ke atas meja.


"Iya Bi. Tadi habis dimandiin, ***** terus bobok lagi."


Bi Iyah manggut-manggut. Setelah semuanya siap, dia kembali ke ruang belakang, sementara Adam dan Selenia mulai sarapan.


"Seperti yang aku janjikan dulu, setelah anak kita lahir, aku punya kejutan buat kamu." celetuk Adam setelah menghabiskan sarapannya.


Selenia yang masih belum selesai, menghentikan gerakannya pada sendok dan garpu di tangannya lalu menatap ke arah Adam.


"Apa itu sayang?"


"Hari ini kita keluar ya, karena kejutannya nggak di sini."


"Sama Ray juga?"


"Enggak sayang. Kasian kalau Ray harus ikut. Belum waktunya."


Bibir Selenia mengerucut. Semenjak punya bayi, dia merasa berat kalau harus pergi tanpa Ray. Dan memang semenjak Ray lahir, dia belum pernah pergi ke manapun.


"Tapi kemana? Kita nggak lama kan?"


Adam terkekeh mendengar kecemasan Selenia. Dia tahu istrinya itu merasa keberatan kalau harus pergi tanpa Ray.


"Enggak kok sayang, kita nggak lama. Selesai kamu lihat surprisenya, aku janji kita langsung pulang."


"Terus, Ray..."


"Ray sama Bibi di rumah. Kamu nggak usah khawatir. Bibi bisa kok jagain Ray. Iya kan Bik?" Adam meminta pendapat ke Bi Iyah yang baru muncul dari ruang belakang.


Bi Iyah mengacungkan kedua jempolnya. Dia sudah tahu rencana Adam yang pagi ini akan mengajak Selenia pergi untuk memberinya kejutan.


Selenia menatap Adam dan Bi Iyah bergantian.


"Nggak sampai dua jam kan?" tanyanya. Dia melirik jam tangannya dengan tatapan gusar. Keluar rumah jam segini pasti akan berbaur dengan kemacetan. Apalagi kalau arah mereka ke pusat kota. Memangnya Adam mau ngajak kemana sih?


"Non Selenia siapin ASI aja dulu, dipompa." sahut Bi Iyah. "Karena, kadang bayi kalau haus banget, nggak harus nunggu sampai dua jam."


"Berarti kita lama nih keluarnya?" tanya Selenia lagi.


"Sayang, cuma buat jaga-jaga aja. Kalau planning aku sih, kita mungkin nggak akan sampai dua jam. Tapi nggak ada salahnya kan, kalau kamu pompa ASI buat persediaan Ray?"


Selenia menghela nafas.


"Ya udah deh, kalau gitu aku ke atas dulu ya, mau pompa ASI sama ganti baju." Selenia menghabiskan makanannya. "Aku perlu dandan nggak?"

__ADS_1


"Hmmmpfhhh..." Adam menahan tawa. "Kamu nggak dandan juga udah cantik kok."


Selenia mencibir. "Hmmmhh... gombal."


"Ya udah yuk, aku juga mau ganti baju." Adam bangkit dari duduknya.


...🌺🌺🌺...


Adam telah selesai mengganti pakaian di kamarnya sendiri. Dia lalu menunggu Selenia yang sedang memompa ASI di dalam kamarnya. Tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. Lalu dengan satu sentuhan jarinya yang menekan dial number, dia mulai menelfon.


"Iya ini bentar lagi aku sama Selenia mau meluncur ke sana." ucapnya pada seseorang.


Sepuluh menit berlalu, Selenia muncul dengan penampilan yang membuat Adam terpesona.


"Kamu mau kemana sayang? Kok dandan cantik banget?" Adam menggoda.


Selenia mengenakan turtle neck berwarna coklat yang dipadukan dengan outer berbentuk menyerupai jas berwarna abu-abu. Sementara bawahnya, dia mengenakan skinny jeans.


"Katanya kita mau keluar, kamu gimana sih?" Selenia memprotes.


"Iya tapi dandannya cantik banget, buat siapa?"


Selenia mencubit pinggang Adam sebal. "Jadi apa enggak sih? Kalau enggak ya udah, aku mending maen sama Ray di rumah." bibirnya cemberut. Aslinya dia memang berat banget buat ninggalin Ray.


"Mau maen sama Ray gimana orang Ray-nya lagi bobok." Adam terkekeh. Dia merangkul pundak Selenia dan mengecup kening istrinya itu lembut. "Udah, ayo kita pergi sekarang. Janji nggak lama kok. Kamu nggak usah khawatir, Bibi pasti jagain Ray."


Sebelum meninggalkan kamar, Selenia sempat beberapa kali menjulurkan leher untuk melihat ke dalam kamar.


"Bik, jagain Ray ya. Nanti pokoknya kalau Ray nangis langsung telfon aku." pesan Selenia pada Bi Iyah sebelum meninggalkan rumah.


"Iya Non, siap." Bi Iyah mengacungkan jempol.


Mereka berdua tidak banyak bicara selama perjalanan. Dan apa yang dikhawatirkan Selenia menjadi kenyataan. Jalanan macet total. Hampir selama 15 menitan mereka terjebak macet dan mobil sama sekali tidak bisa bergerak.


"Sebenarnya kita mau kemana sih Dam?" tanya Selenia begitu mobil kembali melaju.


"Kalau aku ngomong sekarang, namanya bukan kejutan dong."


Selenia menghela nafas. Oke deh, ada baiknya menunggu saja sampai di tujuan.


Setelah menempuh hampir 10 km perjalanan, akhirnya mereka sampai di tujuan. Adam membelokkan mobilnya, memasuki pelataran sebuah bangunan kantor yang megah. Yang tentu saja Selenia tahu ini bangunan apa.


"Lhoh, katanya kamu hari ini nggak pengen ngantor?" tanya Selenia heran. Kenapa Adam membawanya ke kantor Ayahnya yang sekarang dia urus? Kejutan apa yang akan dia tunjukkan padanya di sini?


Lagi-lagi Adam hanya tersenyum dan membelai rambut Selenia. Saat memasuki lapangan parkir khusus, dia mempercepat laju mobil supaya segera tiba di tempat tujuan. Halaman kantor ini memang luas banget. Di depan pintu masuk parkir khusus itu, seorang satpam menyambut kedatangan mereka dan langsung membukakan palang pintu. Saat mobil Adam melewati palang pintu tersebut, satpam itu menunduk hormat padanya, yang dibalas Adam dengan membunyikan klakson.


"Kita sudah sampai sayang." Adam memberhentikan mobilnya di halaman parkir yang luas, jauh dari mobil-mobil karyawan.


Sekenia celingukan. Suasananya sepi banget dan...


"Ayo turun." Adam mengulurkan tangannya, membuat Selenia tersentak.


Tidak mau banyak tanya, Selenia langsung membuka sabuk pengaman. Saat Adam membukakan pintu, dia pun segera keluar. Adam lalu menggandeng tangan Selenia dan membawanya ke sebuah lift khusus yang tidak diperuntukkan untuk umum. Lift itu sebenernya juga baru dibuat belum lama ini atas permintaan Adam. Setelah keduanya masuk ke dalan lift, dan pintu tertutup, jari Adam langsung menekan tombol angka 20, yang artinya lift itu akan membawa mereka ke lantai paling atas di gedung ini.


"20?" Selenia menggumam.


Tidak sampai lima menit, mereka sampai di lantai paling atas. Begitu keluar dari lift, Adam langsung mengajak Selenia menyusuri lorong dan menuju ke satu pintu.


"Kamu siap?" tanya Adam sebelum tangannya membuka pintu tersebut.


Selenia mengangguk.


"Oke." satu! dua! tiga! Adam membuka pintu itu selebar mungkin.


TREEEEETTTT!!! Bunyian keras yang berasal dari terompet yang ditiup Cia menggema menyambut kedatangan mereka, dan disusul dengan tembakan kertas warna-warni ke udara.

__ADS_1


"SELAMAT DATAAAANG!!" sambut semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Ada Bu Lisa, Pak Edwin, Pak Fendi dan juga Cia.


Selenia terpaku di tempat saking kagetnya. Antara bahagia, kaget dan juga haru menyelimuti perasaannya kali ini. Matanya berkaca-kaca.


"Aduuuh jangan nangis.... oke...." Cia buru-buru menghampiri Selenia dan merangkul sahabatnya itu. "Ini hari bahagia loh... masa dapet surprise dari suami malah mewek, hihihi..." godanya.


"Ini apa Dam?" ucap Selenia lirih seraya melirik suaminya. "Dan Cia.... kok lo udah ada di sini aja?"


Cia melepas rangkulannya dan menyeka air mata Selenia. "Ya dong, gue kan istimewa." ujarnya penuh percaya diri dan membuat semua yang ada di ruangan itu terbahak.


Adam meraih kedua tangan Selenia dan menggenggamnya erat.


"Ini rumah kedua kita sayang. Ini spesial buat kamu. Ini mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan perjuangan kamu melahirkan Ray. Tapi..."


"Ya ampun Adam, kamu jangan berbicara seperti itu." potong Selenia. Dia terisak karena tidak tahu lagi harus berkata apa. Adam telah memperlakukan dirinya dengan begitu istimewa.


"Pertama kali aku datang ke tempat ini, dan aku iseng survay ke lantai yang paling atas, ternyata tempat ini nggak digunakan sama sekali. Aku berinisiatif untuk menyulapnya menjadi rumah kedua kita. Sekarang, semisal kamu bosan berada di rumah dan pengen cari suasana baru, kita bisa datang ke sini, kita bisa tinggal di sini sampai kapanpun."


Selenia tersenyum di tengah isakannya. "Makasih ya Dam untuk semua yang sudah kamu berikan buat kebahagiaan aku selama ini, kamu tu bener-bener jodoh yang dikirim Tuhan buat aku." dia memeluk tubuh Adam erat.


Semua orang yang ada di ruangan itu turut hanyut dalam suasana haru. Jadi sepagian ini, mereka semua sudah berada di sini untuk mempersiapkan semuanya. Sebenarnya hal ini telah direncanakan sebelum acara aqiqah Ray, dan tanpa sepengetahuan Selenia. Cia sendiri baru dikabari oleh Adam semalam. Dia menelfon Cia saat Selenia tertidur pulas sebelum jam begadang Ray dimulai.


...🌺🌺🌺...


Adam mengajak Selenia berkeliling untuk melihat-lihat bentuk rumah kedua mereka yang berada di lantai paling atas bangunan kantor tersebut. Bu Lisa dan yang lainnya juga ikut berkeliling. Tatanan rumah ini hampir menyerupai apartemen. Adam benar-benar jago banget untuk urusan bangunan dan tata ruang.


Ada beberapa ruangan di tempat ini. Diantaranya, dua kamar tidur, dapur yang lumayan luas, ruang tamu, ruang tengah, ruang makan dan satu lagi ruangan yang sangat menarik perhatian Selenia. Yaitu ruang bermain untuk Ray. Di sana bahkan sudah dilengkapi berbagai macam mainan anak-anak yang entah sejak kapan telah disiapkan oleh Adam. Padahal yang dia tahu selama ini suaminya itu selalu ada di dekatnya.


"Ya ampun, Dam... kamu nyiapin ini semua sejak kapan? Ini perfect banget. Mana ada tempat bermain buat Ray juga."


Mereka berhenti di ruang bermain Ray.


"Ya seperti yang aku bilang tadi, sejak pertama kali aku masuk ke kantor ini. Dan kalau mainan Ray, aku belum lama ini aja nyuruh orang kantor buat beliin semuanya."


"Makasih ya Dam, kamu udah bikin aku bahagia banget."


"Sama-sama sayang, aku juga bahagia banget punya kamu. Semua ini berharga, tapi tidak ada yang lebih berharga daripada kamu dan Ray. Kalian itu nyawaku, kebahagiaanku, segalanya buat aku." Adam menangkup kedua pipi Selenia. "Aku janji, aku akan selalu buat kalian bahagia, kita akan selalu sama-sama. Dan satu lagi..."


"Apa?"


"Will you marry me?" bisik Adam. "Kita segera resmikan pernikahan kita secara negara, supaya kita punya buku nikah, demi masa depan Ray."


Kalimat sederhana itu mampu membuat Selenia merasa seperti melambung ke atas awan. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benak Selenia, karena menurutnya pernikahan siri itu saja sudah membuat hidupnya lengkap dan bahagia.


Selenia mengangguk. Tersentuh sekali hatinya hari ini dengan semua yang dilakukan dan diucapkan oleh suaminya. Dengan sigap, kedua tangan Selenia langsung merangkul leher Adam, sehingga membuat laki-laki itu menundukkan kepalanya. Lalu tanpa berpikir lagi, mereka langsung berciuman lamaaaaa sekali.


"Seeel!!" sebuah suara mengagetkan aksi keduanya dari ambang pintu. "Ehh sorry gue ganggu." ternyata Cia yang baru nongol dan langsung berbalik begitu melihat adegan tadi.


Adam dan Selenia melepaskan ciuman mereka, lalu terkikik. Mampus lo Ci, siapa suruh asal nyelonong aja. Batin Selenia geli.


"Ada apa Ci?" tanya Selenia.


"Ee... i-itu kalian berdua ditunggu yang lain di... r-ruang makan." jawab Cia tanpa sedikitpun melihat ke arah mereka berdua. "Gak pakek lama ya." imbuhnya dan segera berlalu.


Adam dan Selenia saling tatap melihat tingkah Cia lalu terbahak bersamaan.


"Ya udah, yuk gabung sama yang lain." ajak Adam seraya menggandeng tangan Selenia.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


...-------------------------------...


...Cek dan baca juga karyaku yang 👇🏻 ya... ☺️🙏🏻...

__ADS_1



__ADS_2