
Malam itu, Selenia memandangi kalender lipat di kamar. Dia tersenyum menatap setiap satu persatu angka yang dia coret untuk menandai bahwa hari ulang tahun Adam semakin dekat. Selenia tidak sabar menunggu hari itu tiba. Dia penasaran ingin melihat bagaimana reaksi Adam saat tahu dirinya hamil.
Selenia berjalan mendekati cermin. Menatap pantulan dirinya di sana dan melihat ke bagian perut. Perlahan dia menyingkap kaus yang menutupi perut itu dan membelai-belai perutnya lembut. Memang belum tampak menonjol sih, tapi setiap melihatnya benar-benar membuat hati Selenia bahagia. Daddy kamu pasti seneeeeeng banget sayang kalau tahu di dalam perut mommy ada kamu.
"Sayang," Adam tiba-tiba masuk dan membuat Selenia gugup lalu buru-buru menurunkan kausnya kembali. "Mama sama Papa VC nih...." dia tidak begitu memperhatikan apa yang sedang dilakukan Selenia di depan cermin dan langsung mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Oh ya?" Selenia berbalik dan seketika matanya membulat melihat ke tempat tidur. Ya Tuhan, foto hasil USGnya berada tepat di sebelah Adam.
Khawatir Adam melihat benda itu, Selenia pun buru-buru menghampiri tempat tidur dan menghempaskan pantatnya di atas foto USG tersebut.
"Aduh sayang, hati-hati dong..." ucap Adam saat Selenia menubruk tubuhnya kala ia duduk. Dan Selenia cuma bisa nyengir.
"Hallo sayang.... apa kabar?" sapa Bu Lisa di layar ponsel. Wajahnya tampak sumringah melihat keakraban Adam dan Selenia.
"Hallo Ma," Selenia melambai. "Aku baik. Mama sendiri gimana di sana? Sehat kan? Papa juga sehat kan?"
Adam melirik penuh antusias mendengar pertanyaan beruntun Selenia. Dia bahagia istrinya begitu mempedulikan keluarganya.
"Mama sama Papa sehat. Maaf ya kalau Mama sama Papa belum bisa pulang cepet," wajah sumringah Bu Lisa tampak meredup. "Padahal sebentar lagi ulang tahun Adam, tapi kami nggak ada di sana, maafin Mama ya Dam..."
"Ya makanya ayo pulang Ma. Kan urusan Mama masih bisa dihandle sama Cleo..." sahut Pak Edwin yang duduk di sebelah Bu Lisa.
"Nggak bisa gitu dong Pa," Bu Lisa melirik penuh intimidasi pada suaminya. "Mama udah tanda tangan kontrak, nggak bisa seenaknya ninggalin pekerjaan dong."
"Tuh, Dam... lihat Mama kamu. Dia nggak peduli Papa udah kangen rumah," Pak Edwin cuma bisa nginyem.
"Ih Papa... memangnya cuma Papa aja yang kangen rumah? Mama juga lho. Tapi kan Papa tahu, kalau Mama nggak bisa lepasin tanggung jawab gitu aja," celoteh Bu Lisa tak mau kalah.
Selenia dan Adam hanya bisa terkikik melihat perdebatan keduanya dari layar ponsel.
"Udah dong nggak usah berantem. Inget umuuur..." sahut Adam. "Kalau memang Mama masih punya tanggung jawab di sana dan nggak bisa pulang di hari ulang tahunku, nggak masalah kok. Lagian juga Adam bukan anak kecil lagi yang setiap ultah harus dirayain," dia merangkul pundak Selenia dan mengecup keningnya lembut. Hal itu membuat mata Bu Lisa berbinar.
"Dan yang terpenting, masih ada Selenia di sini. Jadi aku nggak khawatir kesepian di hari ultah nanti. Iya kan sayang?" dia melirik Selenia.
Selenia mengangguk. "Iya," karena aku punya kejutan yang super spesial juga buat kamu. Lanjut Selenia membatin sembari tangannya meraba ke bawah pantat untuk menyelamatkan foto USG yang dikhawatirkan lecek gara-gara tertimpa tubuhnya.
"Uhhh ya ampun... Mama seneng deh lihat kalian kaya gini. Harus akur terus ya. Lihat deh Pa anak-anak kita....By the way... happy birthday in advance ya sayang..." Bu Lisa tersenyum haru. "Nanti kalau Selenia udah lulus, kalian harus nikah resmi ya. Mama janji, bakalan buatin pesta yang mewah buat kalian berdua. Iya kan Pa?" ujarnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Pak Edwin.
Selenia dan Adam saling tatap dan sama-sama tersenyum. Mereka menyadari untuk sampai di titik ini tidaklah mudah.
"Terimakasih ucapannya Mama. Tapi...pesta pernikahan yang mewah itu bukan prioritas buat kami," jawab Adam. "Yang penting keluargaku bahagia, itu udah lebih dari cukup."
"Oh jelas dong... itu harus sayang. Pokoknya kalian harus selalu menjaga keutuhan keluarga kecil kalian," sahut Bu Lisa antusias. "Tapi ini sudah janji Mama, so let me to do it honey."
Oke, baiklah.... Selenia dan Adam sama-sama mengangguk. Mereka berdua tahu kalau Bu Lisa sudah punya keinginan, tidak ada satupun orang yang bisa menahan dan melarangnya.
"Selenia sayang.... apa Mama nggak salah lihat?" celetuk Bu Lisa kemudian.
Kening Selenia mengerut. "Apa Ma?"
"Ehhh maaf ya, Mama cuma mau nanya, tapi kamu jangan tersinggung."
"Memangnya Mama mau nanya apa sih?"
"Mama perhatikan... kok.... kamu kelihatan agak berisi ya... ehehe... maaf lho sayang, ini cuma menurut penglihatan Mama aja."
__ADS_1
Selenia reflek memegang pipinya. Begitu juga dengan Adam yang langsung memperhatikannya dari atas sampai bawah. Memang benar apa yang Mamanya bilang, Selenia kelihatan lebih gemuk dari biasanya. Pipinya juga tampak chubby. Tapi selamaa ini Adam tidak menyadari perubahan itu. Mungkin karena sering ketemu kali ya?
"Masa sih Ma?" Selenia meraba pipi dan lengannya. "Menurutku biasa aja kok... aku nggak ngerasa gemukan," dia ngeles, karena sebenarnya dia pun merasakan perubahan itu akhir-akhir ini. Porsi makannya sedikit demi sedikit mulai bertambah, dan dia juga tidak lagi merasa mual setiap kali minum susu bumil. Adam junior sudah mulai tahu kalau susu itu enak kali ya.
Tapi tetep sih, Selenia masih harus minum susu bumilnya diam-diam di kamar.
"Ohhh .. mungkin ini cuma perasaan Mama aja kali ya. Maaf lho sayang ..."
"Nggak pa-pa kok Ma."
Tak lama kemudian obrolan mereka berakhir. Selenia bernafas lega saat berhasil memindahkan foto USG dari bawah pantatnya ke bawah bantal tanpa sepengetahuan Adam.
"Kok kamu ngeliatin aku kaya gitu sih Dam?" Selenia menaikkan alisnya menatap Adam yang berdiri, menatapnya penuh selidik.
"Bener kata Mama," Adam menjawil pipi Selenia. "Kamu memang sedikit gemuk."
"Iiihhh apaan sih Dam??!!" Selenia menangkup pipinya sendiri. "Pipi aku memang kaya gini dari dulu."
Adam tertawa. "Lho kan tadi Mama juga bilang gitu...."
"Aaaaah nggak nggak nggak..." Selenia menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimanapun mendapat komentar kalau tubuh tambah gemuk merupakan momok untuk setiap perempuan kan?
Aku nggak gemuk kok. Tapi memang bener kalau kelihatan berisi. Iya.... karena emang aku lagi isi! Lagi-lagi Selenia tidak bisa menahan senyum setiap kali melihat bayangannya di cermin.
...🌺🌺🌺...
Selenia dan Cia memperdebatkan bagaimana caranya membeli tespack. Karena mereka yakin, pasti bakalan jadi perhatian orang apotek kalau melihat anak seumuran mereka membeli benda itu. Mereka ngobrol di kantin dengan intonasi rendah supaya tidak terdengar anak-anak lain. Cia jelas ngotot menolak untuk membantu Selenia bagian ini. Kalau soal susu hamil, it's ok lah ya... cari alasannya gampang.
"Lo nggak lihat wajah gue yang imut-imut gini? Apa yang bakalan mereka pikirin coba kalau tiba-tiba gue datang ke apotek terus ngomong ke mbak-mbak di apoteknya... mbak, beli tespack. Oooh... no no no... gue nggak siap menerima tatapan intimidasi dari mereka," Cia bergidik.
"Aduuuh lo jangan mancing gue dengan cara kaya gini deh... kali ini nggak bakal mempan... okheeeeyyy...." Cia menarik lengannya. "Gue sih nggak masalah kalau diminta buat bantuin mempersiapkan yang lain, tapi untuk part ini... I'm so sorry Selenia... I can't do it."
Selenia memberengut. Dia menyedot minumannya dengan kasar. Lalu sekejap kemudian, matanya berbinar dan bibir cemberutnya menarik senyum. Ide brilliant tiba-tiba muncul di otaknya. Dia menoleh ke Cia yang juga menoleh ke arahnya dengan ekspresi sama.
"Online!!" pekik mereka bersamaan, membuat beberapa anak yang duduk tak jauh dari bangku mereka menoleh kaget ke arah mereka.
Ooopppsss!! ternyata pemikiran mereka sedang satu server.
"Apa nih yang mau di online?" Tony muncul dan langsung duduk di sebelah Selenia.
"Eeehh... itu loh... Selenia mau beli sepatu yang lagi limited edition," jawab Cia asal.
Cakeeep! Selenia memainkan matanya ke Cia demi mendengar jawaban itu.
Tony hanya manggut-manggut dan kemudian mulai menikmati makanannya. Semenjak Mamanya dirawat karena leukemia, dia memang tidak lagi banyak bicara seperti biasanya.
...🌺🌺🌺...
Selenia mondar-mandir di dalam kamar dengan wajah gusar. Barusan ada notifikasi di ponselnya kalau pesanannya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Iya, pesanan tespack online yang dia check out tadi siang di sekolah. Dia khawatir kurir yang mengantar paketnya akan datang bersamaan dengan kepulangan Adam dari kantor. Bisa ribet kalau sampai Adam yang menerima paketnya. Pasti bakalan di tanya macam-macam. Ini apa? Kamu beli apa? Pengen lihat dong.
"PAKEEET...!"
Selenia berjingkat mendekati jendela kamar dan melihat seorang kurir berdiri di depan pintu pagar. Yes! kurirnya datang duluan. Dia segera berlari keluar menemui si kurir bersamaan dengan Pak Tono yang juga tergopoh-gopoh dari halaman belakang.
"Pak Tono, biar aku aja yang terima. Itu paketku!" ujar Selenia.
__ADS_1
Mendengar peringatan itu, Pak Tono pun langsung putar balik dan kembali melanjutkan aktivitasnya memotong rumput di halaman belakang.
Namun sayang beribu sayang, saat langkah Selenia sampai di tepi pagar, saat itu juga dia melihat mobil Adam dari kejauhan.
"Benar ini dengan Mbak Selenia Effendi?" tanya si kurir mencocokkan data dari alamat penerima yang tertera di bungkus paket. Selenia mengangguk.
Aduuhhh..... Selenia menatap gelisah ke mobil Adam yang semakin mendekat.
Mobil itu kemudian berhenti tepat di sebelah motor pak kurir. Dia menatap Selenia dan si kurir bergantian, kemudian kembali melajukan mobilnya sampai di garasi.
Setelah menerima paket dan kurir itu pergi, Selenia kembali ke rumah, dimana Adam sudah menunggunya di ruang tamu.
"Kamu beli apa sayang?"
Tuh kan bener, pasti Adam bakalan kepo banget.
"Ee ini.... lipstick Dam..."
"Aduh ganjen sekali beli lipstick online?" Adam menggoda.
Udah cuma gitu doang? Dia nggak pengen lihat isinya apa? Syukur deh.
"Iih apaan sih?" Selenia memberengut.
Adam merangkul bahu Selenia dan mengajaknya ke lantai atas. Selenia menahan senyum karena masih mencium aroma parfum bayi dari tubuh Adam. Ternyata suaminya ini penurut juga. Batinnya geli.
"Udah mandi?" tanya Adam saat mereka sampai di lantai atas.
Selenia menggeleng. "Oh iya Dam..." dia menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menghadap ke Adam. "Besok kan ulang tahun kamu, dan aku sudah janji kalau aku ada surprise untuk kamu. Jadi.... besok usahakan kamu jangan pulang telat ya dari kantor," ucap Selenia bernada merajuk sambil mengusap-usap dada Adam.
Ya ampun. Adam terhenyak. Kalau saja Selenia tidak mengingatkan tentang hari itu, dia benar-benar sudah lupa kalau besok adalah hari spesial untuknya. Hmmm... ini gara-gara dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor.
"Oh ya? Ya ampun sayang... memangnya kamu mau kita kemana? Iya aku janji, besok aku bakalan pulang lebih cepet."
"Aku udah booking tempat di Carlos DS kafe dan kita akan dinner di sana," Selenia tersenyum manja. "Kita udah lama nggak ngedate juga kan Dam... coba kamu inget-inget, kapan terakhir kali kita dinner di luar?"
Seketika Adam merasa bersalah mendengar pertanyaan bernada protes itu. Seingatnya, terakhir kali mereka makan di luar adalah pada saat dia ingin minta izin untuk pergi ke luar kota.
"Ya ampun sayang aku minta maaf ya kalau selama ini jarang banget ngajak kamu dinner date di luar."
"Udaaah... nggak pa-pa kok. Yang penting kan selama ini kamu selalu ada buat aku."
Adam membelai pipi Selenia lembut. "Makasih ya buat pengertiannya. Oh ya, tadi kamu bilang apa sayang? Kamu booking tempat di Carlos?"
Selenia mengangguk. "Aku booking VIP khusus buat kita."
Adam menjatuhkan tasnya ke lantai dan langsung mendekap tubuh Selenia erat. Dia merasa terharu dan bahagia dengan rencana Selenia untuk menyambut hari lahirnya tahun ini.
"Makasiiiiiiiiih sayang.... I promise, I'll going home early tomorrow."
Selenia pun turut bahagia. Dia tenggelam di dalam tubuh Adam yang menguarkan aroma parfum yang saat ini sangat dia suka.
Sayang, sebentar lagi Daddy bakalan tahu tentang kamu....
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...