
Adam dan Selenia keluar masuk satu toko ke toko lain di dalam mall untuk mencari beberapa kebutuhan calon bayi mereka. Terhitung sudah ada empat buah kantong belanjaan yang tergantung di lengan Adam, tapi Selenia merasa masih ada yang harus dibeli. Dia begitu excited banget dengan acara belanja kali ini. Semua barang yang berhubungan dengan bayi tampak lucu dan menggemaskan di matanya. Tapi dengan sabar, Adam memberinya pengertian kalau tidak semuanya harus dibeli sekarang.
"Masih ada waktu 2 bulan lagi lho sayang. Kapan-kapan kita belanja lagi."
Mereka berhenti di depan toko perlengkapan bayi yang ke tujuh. Selenia memberengut. Dia lalu mengecek satu per satu isi kantong belanjaannya dan kemudian manggut-manggut. Ternyata memang sudah banyak sekali yang dia beli hari ini.
"Ya udah deh, kapan-kapan lagi. Masih harus beli stroller, bouncher, baby bed... aaaaaaa.... aku nggak sabar!" pekiknya lirih dan gemas.
Adam geleng-geleng kepala melihat ekspresi bahagia istrinya. Selega itu melihat Selenia tersenyum bahagia. Dia merangkul pundak Selenia dan mengajaknya meninggalkan toko.
"Kita kemana lagi?" tanya Adam.
"Makan?" Selenia mendongak. "Aku laper dan haus banget," dia mengelus-elus perutnya.
Adam menatap lurus ke depan, ke bagian restoran yang ada di dalam mall. By the way dia juga lapar. Di kantor tadi saat jam makan siang, dia tidak punya waktu untuk istirahat karena pekerjaannya sangat padat. Beruntung ada Lukman, salah satu assitent yang bisa menghandle pekerjaannya sehingga dia bisa pulang lebih cepat sore ini. Kalau tidak, mungkin saja dia bakalan pulang malam lagi, dan tentu akan membuat Selenia kecewa karena janji belanjanya harus tertunda.
"Oke, kita makan di sana yuk," Adam menunjuk restoran yang tak begitu dipadati pengunjung.
Sesampainya di restoran tersebut, Selenia langsung duduk di salah satu bangku yang masih kosong sementara Adam pergi ke konter pemesanan makanan. Sambil nunggu Adam kembali dari konter, Selenia mengecek ponsel. Kalau-kalau ada yang menelfon tapi dia tidak mendengar karena tadi masih sibuk berburu. Dan ternyata benar, selain ada panggilan tak terjawab dari Cia, ada beberapa pesan juga dari Cia dan... Tony?
Kening Selenia mengerut. Sudah dua minggu lebih Tony tidak pernah menghubunginya lagi. Kok tumben. Selenia menekan satu pesan dari Tony.
Tony: [Sore Sel, kamu lagi dimana?]
Selenia: [Hei, sore juga. Aku lagi di luar, ada apa Ton?]
Pesan terkirim tapi tak kunjung ada balasan. Jadi Selenia membuka pesan lain yang berasal dari Cia.
Cia: [Sel, kapan kita double date? Mumpung udah bebas kita sama materi sekolah! Kamu kan udah janji]
Selenia tepok jidat. Iya ya, dulu dia pernah janji sama sahabatnya itu buat double date.
Selenia: [Kapan2 deh. Ini gue aja lagi di luar sama Adam.]
Begitu pesan terkirim, ponsel Selenia langsung berdering nyaring, yang ternyata telfon dari Cia.
"Hmmmm iya halo," sapa Selenia.
"Lo gimana sih Sel? Kok malah ngedate sama Adam doang? Iiiih... katanya dulu mau double date, ini malah ngedate sendiri. Gak asyik bangeeeet!" pekik Cia panjang membuat Selenia reflek menjauhkan si gawai dari telinganya.
Selenia melihat ke arah Adam yang masih berdiri di depan meja konter, menunggu makanannya siap. Suaminya itu melempar senyum dan melambai padanya, mengisyaratkan supaya sabar 'bentar lagi' dan Selenia mengangguk.
"Heh oneng!!" balas Selenia membentak begitu Cia berhenti ngoceh. "Yang ngedate tu siapa? Gue ke mall belanja barang-barang kebutuhan baby..."
"Haaa?? kenapa nggak ngajak gueeee....??" rengek Cia. "Asyik banget tu belanja begituan... gue juga pengeeen.... "
"Hmmm... gak bisa dong Cia, gue kan belanja kebutuhan anak gue, ya pasti gue ngajak suami lah. Lo kalau pengen belanja beginian, ya nikah dulu... hamil dulu..."
Terdengar dengusan yang menimbulkan suara gemuruh di ujung ponsel.
"Lo gitu ya sekarang sama gue," suara Cia memelan. Terdengar nada sedih di dalamnya. "Lo nggak butuh gue lagi? Kita udah bukan sahabat lagi..??"
Tapi ekspresi itu justru membuat Selenia terkikik geli. Saat itu pula matanya melihat Adam berjalan ke arahnya dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk mereka berdua.
"Ya ampun dramatis bangeeeet. Jangan baper dong, ya lo tetep sahabat gue lah," balas Selenia. "Eh Ci, udah dulu ya, ini ada Adam. Nanti gue hubungi lo lagi, kita atur waktu buat double date. Bye!" ucapnya kemudian dan langsung menekan tanda merah di ponselnya.
__ADS_1
"Sumringah banget?" komentar Adam melihat Selenia yang senyum-senyum setelah menerima telfon. Dia menghidangkan seporsi makanan dan satu gelas minuman untuk Selenia, kemudian duduk di kursi di hadapan Selenia. "Siapa sayang?"
"Biasa lah, Cia..." Selenia melirik ponselnya lagi, manatahu ada pesan balasan dari Tony, tapi tidak ada.
"Ooh, kenapa dia?"
"Nagih janji buat double date. Dulu kita punya rencana buat double date setelah ujian."
Adam menggantungkan garpu di bibirnya mendengar ucapan Selenia. Double date?
"Kamu mau kan Dam, kalau kita double date sama Cia dan Marvin juga?" tanya Selenia.
Adam menelan makanannya dengan susah payah, hingga membuatnya terbatuk-batuk. Bukan apa-apa sih. Tiba-tiba saja terlintas pikiran di benaknya seandainya mereka double date. Apa iya, dia nggak bakal terlihat seperti sedang mengasuh tiga remaja?
Melihat hal itu, Selenia langsung menyodorkan minuman ke Adam yang langsung diteguk olehnya.
"Ehhh... kamu kenapa?? pelan-pelan dong makannya..."
"Sayang," ucap Adam setelah berhasil menelan makanannya dengan mulus. "Bukannya aku nggak mau ya kita double date. Tapi... apa nggak lucu? Kesannya aku kaya lagi ngasuh kalian bertiga lho nanti."
"Hmmmmmppffhhh..." Selenia menahan tawa dan menutup mulutnya untuk mencegah makanannya menyembur keluar. "Kamu kok ngomongnya gitu sih? Ya enggak lah... ada-ada aja deh...." tawanya kembali meledak. "Ya mau yaaaa.....please....!" Selenia menggoyang-goyangkan lengan Adam.
Mau tidak mau, Adam pun mengangguk. Memang selama ini dia tidak pernah bisa menolak permintaan Selenia, apapun itu.
"Selenia?" sebuah suara memanggil dari belakangnya.
Selenia menoleh dan Adam mendongak.
"Renata?" ucap Adam dan Selenia hampir bersamaan.
"Baik, kamu sendiri gimana?" balas Selenia.
"Baik juga," Renata melihat tas belanjaan milik Selenia, dan seketika matanya berbinar menatap tas itu lalu mengalihkan pandangannya ke perut Selenia.
"Belanja kebutuhan baby? Ya ampun.... berarti udah lama banget kita nggak ketemu. Udah berapa bulan sekarang?" dia mengelus perut Selenia lembut.
"Jalan tujuh bulan," jawab Selenia, sembari melirik Adam.
"Wah, semoga lancar sampai lahiran ya."
"Amiiiin!" jawab Adam tegas. Sengaja untuk mengambil perhatian dari kehebohan dua perempuan yang saling melepas kangen di hadapannya.
Menyadari telah bersikap heboh, Renata buru-buru menunduk saat mendengar sahutan Adam dan melihat laki-laki yang sedari tadi hanya senyum-senyum memperhatikan dia dan Selenia.
"Aduh, maaf Pak Adam. E.. ini, kalau lihat orang hamil, bawaannya suka gemes saya."
"Hmmmppffhhh... kamu ada-ada aja. Ngomong-ngomong sama siapa ke sini? Nola mana? Kok nggak ikut?" tanya Adam akhirnya.
"Saya sama... e..." Renata celingukan. Dia menggigit bibir saat seorang pria berjalan ke arahnya. Dan seketika wajahnya tampak memerah saat pria itu berhenti tepat di sampingnya. Tangan pria itu menjinjing kantong plastik berisi empat box makanan.
"Lho, Adam? kamu di sini juga? apa kabar?" pria itu menepuk-nepuk bahu Adam.
Adam dan Selenia saling tatap menyambut kehadiran pria itu. Dia Irham, mantan rekan kerja Adam jaman di kantor Pak Anton dulu. Dari pertemuan tak terduga ini membuat Adam menyimpulkan satu dugaan. Dia menunjuk Irham dan Renata bergantian, lalu terbahak.
"Kalian berdua....." Adam tidak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Hehehe... iya, aku sama Renata...." Irham merangkul bahu Renata yang masih malu-malu. "Kami sudah tunangan."
Selenia bertepuk tangan kecil. "Wah, selamat ya Ren," dia turut bahagia mendengar berita itu.
"Woy bro!" Adam berdiri dan meninju bahu Irham pelan. "Good news banget sore ini. Lama nggak ketemu, sekalinya ketemu ada kabar bahagia. Selamat!" dia menyalami tangan Irham erat.
"Thanks Dam." jawab Irham.
Pertemuan tidak sengaja itu akhirnya mengantarkan mereka pada double date dadakan. Adam meminta Irham dan Renata bergabung dengannya dan Selenia di meja yang sama. Mereka berempat menikmati makanan sambil berbincang seru sekali. Namun Selenia justru geli sendiri, mengingat janji double datenya bareng Cia dan Marvin yang harus tertunda dan sekarang malah bareng pasangan baru ini.
Satu bulan setelah Adam resign dari perusahaan Pak Anton, Irham diangkat menjadi GM menggantikan dirinya. Sedangkan Renata, setelah secara terang-terangan Irham melamarnya di hari ulang tahunnya yang ke 29, dia langsung memutuskan untuk resign seminggu setelah pertunangan mereka. Tidak enak hati rasanya kalau ada hubungan dengan sesama rekan kerja dalam satu kantor, meski sebenarnya Pak Anton tidak begitu mempermasalahkannya. Kini Renata memiliki kesibukan sendiri mengurusi usaha distro yang baru dia rintis selama dua bulan terakhir.
"Kapan-kapan maen dong ke distroku," Renata menawarkan. "Masih kecil sih... namanya juga baru merintis."
"Gampang deh, di mana sih lokasinya?" tanya Selenia antusias.
"Nggak jauh kok dari rumahku. Memang sengaja milih tempat yang dekat, biar bisa ngajak Nola juga kadang-kadang."
"Oh ya, Nola apa kabar?" tanya Selenia.
"Dia sehat, dan... alhamdulillah tambah ngerti sama mamanya."
"Jadi kapan nih, kalian akan meresmikannya?" Adam menyela.
Renata dan Irham saling tatap, lalu tersenyum bersamaan.
"Nanti pasti kita kabarin kok," jawab Irham yakin.
"Bener ya," Adam menegaskan.
"Iya. Ya kali kita nikah nggak undang kalian," balas Irham.
...🌺🌺🌺...
Tak jauh dari tempat mereka berempat ngobrol, sepasang mata tampak sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Tangannya menggenggam ponsel yang tengah menampilkan layar sebuah pesan. Dia lalu menunduk menatap layar ponsel itu, dan jempolnya perlahan menekan ikon delete. Sekejap, pesan yang baru saja akan dia kirim itu lenyap.
"Gue kira lo kemana, malah berdiri di sini," sebuah suara dan tepukan di punggung menyentakkan dirinya. "Lo ngapain sih di sini Ton?" Yoga, teman Tony melongok-longok ke dalam area restoran.
"Nggak pa-pa kok," Tony buru-buru melasakkan ponselnya ke dalam kantong hoodie yang dia kenakan. "Ya udah yok jalan lagi," dia berbalik dan menarik tangan Yoga menjauh dari tempat itu.
Di depan sana, Petra dan beberapa teman mabarnya sudah berdiri menunggu. Sore ini, mereka pergi ke mall karena ada film yang baru rilis yang akan mereka tonton bareng di bioskop di dalam mall ini. Saat melintas di depan restoran tadi, tidak sengaja Tony menoleh ke dalam dan melihat bangku yang diduduki Selenia, Adam dan dua orang lain. Saat itu dia baru saja akan membalas pesan dari Selenia yang baru sempat dia cek saat dia keluar dari lift. Namun begitu melihat pemandangan itu, niatan untuk membalas pun dia urungkan. Selenia sedang berbahagia dan dia tidak mau menganggu.
Namun tetap saja pemandangan itu tidak bisa dia abaikan begitu saja. Entah kenapa semakin ke sini, rasanya semakin sulit untuk melupakan seorang Selenia. Padahal selama ini dia sudah mencoba menahan diri untuk tidak menghubungi Selenia. Dia bahkan sudah memblokir WhatsApp Selenia beberapa kali, tapi tetap saja pada akhirnya dia unblock lagi. Dan itu sangat menyiksa batinnya sendiri. Sebelumnya dia tidak pernah merasa bahwa move on akan sesulit ini. Dulu saat masih di SMA yang lama, tidak hanya sekali dua kali dia menjalin hubungan dengan perempuan, tapi saat huhungan itu berakhir, ya sudah. Tidak ada beban apapun yang mengganjal di hatinya. Tapi kenapa sekarang lain? Kenapa Selenia begitu sulit dilupakan?
Apa mungkin karena perasaan ini tidak pernah terungkap? Apa iya aku harus mengungkapkannya supaya merasa sedikit lega? Tapi bagaimana jika itu hanya akan membuat hubungan pertemanan yang selama ini baik-baik saja menjadi merenggang?
Dia sudah punya suami, dan dia juga sedang hamil. Laki-laki macam apa kalau aku nekat mengungkapkan isi hatiku pada orang yang sudah dimiliki orang lain? Tapi kenapa semakin lama semakin sakit untuk memendamnya?
Tony berdiri di antara para antrian lain untuk membeli tiket nonton dengan pikiran kalut. Moodnya untuk nobar film seketika hilang. Tapi dia tidak enak hati dengan teman-temannya kalau tiba-tiba harus pergi dan tidak jadi nonton.
"Mas, buruan maju," seseorang di belakangnya menepuk pundak Tony dan menunjuk barisan depan yang sudah jauh di hadapannya.
"Ee... i-iya maaf," jawab Tony gugup seraya melangkah.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...