NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -90-


__ADS_3

Cia dengan sabar menemani Selenia yang keluar masuk dari satu toko ke toko lain di dalam mall. Mereka sedang mencari-cari kado apa yang cocok untuk diberikan kepada anak usia tiga tahun. Ya, siang tadi Adam menelfon Selenia, memberitahu tentang undangan ulang tahun Nola padanya. Maka dari itu, atas inisiatif sendiri, Selenia memutuskan untuk mencari kado sepulang sekolah. Karena kalau harus menunggu Adam pulang kantor, pasti kesorean. Dan kalau nyari kadonya buru-buru, pasti dapatnya pun nggak bakal memuaskan. Selenia memang orang yang selektif untuk perkara barang yang akan diberikan kepada orang lain.


"Eh ini lucu deh Ci..." Selenia menarik salah satu baju anak dengan motif lucu.


"Kalau menurut gue mending jangan baju deh Sel," Cia mengambil baju itu dari tangan Selenia dan mengembalikan ke tempatnya. "Lo kan nggak tahu pasti ukuran anaknya seberapa, takutnya nanti nggak muat atau malah kegedean kan nggak lucu."


"Hmmm, oke deh," kali ini Selenia nurut. "Ya udah kita cari ke toko lain aja yuk," dia menarik tangan Cia mengajaknya keluar dari toko tersebut.


Cia cuma bisa pasrah dan geleng-geleng kepala. Saat memasuki toko bernuansa pink dengan dinding bergambar kartun-kartun khas anak-anak, dia membatin semoga saja ini tempat terakhir Selenia menentukan pilihannya. Dia sudah capek bangeeeeet.


Dan harapan Cia terkabul. Baru saja menelusuri satu rak, Selenia sudah mendapatkan yang dia mau. Sebuah Little Chef Kitchen Set dengan isian lengkap di dalamnya. Setelah yakin tidak ada yang akan dibeli lagi, mereka lalu membayar di kasir.


"Mbak, sekalian di bungkus kertas kado bisa?" tanya Selenia pada petugas kasir.


"Oh bisa mbak. Tapi harus nunggu bentar ya, soalnya teman saya masih di toilet," jawab petugas kasir ramah.


"Baiklah, kalau gitu saya tunggu di sana ya," Selenia menunjuk kursi kosong di dekat pintu masuk toko.


Fyuhhh.... Cia bernafas lega. Mereka berdua menunggu di kursi yang ada di ujung toko sambil mengamati orang yang berlalu lalang. Tak lama kemudian seorang petugas toko yang tadi ke toilet datang dengan diikuti seorang perempuan di belakangnya. Sekilas saja melihat, Selenia sudah begitu familiar dengan perempuan itu. Dia berjalan dengan gaya yang kemayu sembari melihat-lihat sekeliling mall sebelum masuk ke toko. Hingga akhirnya tatapan mata perempuan itu bertemu dengan Selenia yang sebenarnya sudah melengos, menghindari tatapannya.


"Lho lho lho lho....." perempuan itu Dokter Lula, orang yang menangani Selenia di klinik pada saat peristiwa kecelakaan. "Eh... ini anak manis kenapa di sini?" tanyanya sok akrab. Kalau sedang tidak memakai kostum khas dokter seperti sekarang, cocok lah ya dia bersikap seperti ini.


Hoek! Selenia berasa ingin muntah mendengar sikapnya. Tapi dia berusaha tersenyum seramah mungkin. Cia tentu saja heran melihat perempuan ini karena baru pertama kali.


"Eh... Dokter Lula, apa kabar?" tanya Selenia.


"Saya baik. Kamu sendiri bagaimana? Aduuuh kok belum nongol sih perutnya? Berapa hari ya kita nggak ketemu?" tangan Dokter Lula asal nyosor ke perut Selenia dan mengelus-elusnya sebentar.


Hal itu membuat Selenia melotot karena beberapa orang yang lewat di sekitar tak melewatkan tatapannya ke arah mereka demi mendengar celetukan Dokter lula. Bagaimana tidak? Orang-orang itu pasti berpikir negativ kan? Mana dia masih makek seragam sekolah lagi. Masih sekolah kok hamil? Mungkin kurang lebih seperti itu arti dari masing-masing tatapan tersebut.


Begitu juga dengan Cia. Dia yang belum tahu apa-apa tentang Dokter Lula cuma bisa cengar-cengir.


"Ups!" Dokter Lula menutup mulutnya dengan gaya kemayu. "Aduh maaf, saya kadang suka keceplosan begini," dia lalu merendahkan nada bicaranya. "Jadi gimana? Kamu sudah bicara sama pacar kamu?"


Selenia mengangguk cepat. "Sudah Dok. Saya sudah bicara kok," bodo amat deh harus berbohong ke dia. Lagian kenapa sih ni Dokter kok kepo banget.


"Terus kapan dong mau periksa? Orang hamil itu seharusnya rutin periksa lho, biar tahu gimana kondisi dan perkembangan janinnya," ucap Dokter Lula dengan tangan yang kembali nyosor ke perut Selenia. "Kaki kamu juga sudah baik-baik saja kan??"


Selenia mundur sedikit. "Eee iya Dok... nanti pasti saya periksa kok. Tenang aja," jawabnya. "Kaki saya juga baik, buktinya saya sudah bisa jalan-jalan kesini."


Dokter Lula terkikik. Begitu juga dengan Cia, lebih kepada karena lucu sekaligus ilfil melihat tingkah perempuan setengah baya itu.


"Oh ya, kamu ngerasain gimana nih di awal-awal kehamilan? Mual? Susah tidur? Suka tiba-tiba pengen sesuatu?" cerocos Dokter Lula tanpa mempedulikan ekspresi Selenia yang sudah pengen segera pergi dari hadapannya.


"Biasa, Dok. Mual aja sih.... nggak rewel kok."


"Hmmm..." Dokter Lula menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. "Saya ini benar-benar salut lho sama kamu." dia mendekatkan kepalanya ke telinga Selenia dan berbisik.


"Udah tahu hamil, masih juga nekat sekolah," imbuhnya kemudian disusul tawa yang menggelikan.


Ini Dokter kenapa sih? Heboh sendiri deh perasaan. Selenia bergidig mendengar bisikannya dan hanya tersenyum setengah dipaksa.


"Barang punya Mbak sudah siap," seorang petugas toko memberitahu pada Selenia.


Thanks God! Pekik Selenia dalam hati.


"Dok, saya duluan ya!" Selenia masuk ke toko untuk mengambil barangnya, kemudian keluar lagi dan segera membawa Cia pergi dari hadapan Dokter Lula.


"Heii... hati-hati sayang..." Dokter Lula memutar tubuh, mengamati Selenia dan temannya yang kian menjauh. "Hmmm dasar anak-anak milenial," dia menggeleng-gelengkan kepala.


Sesampainya di dalam mobil, Selenia segera menghempaskan tubuhnya dan bernafas lega. Cia sendiri masih belum berhenti penasaran, sampai akhirnya Selenia menceritakan awal kisah bagaimana dia bisa mengenal Dokter Lula--tetap dengan menyembunyikan tentang kehamilannya karena ada Pak Tono yang sedang nyetir di depan. Baru setelah mendengar cerita itu tawa Cia meledak di dalam mobil. Tapi tetap saja Selenia tidak tertawa karena masih merasa dongkol dengan sikap Dokter Lula. Bisa-bisanya dia membicarakan soal kehamilan sembari memegangi perutnya di tempat umum. Mana pas lagi banyak orang.


Mereka tiba di depan rumah Cia tepat saat jarum jam tangan Selenia menunjuk angka 03.00. Cia menggeliat meregangkan otot-ototnya sebelum melepas sabuk pengaman. Saat matanya melihat ke teras rumah dan mendapati sosok istimewanya sedang ngobrol dengan Aldo, senyumnya melebar.

__ADS_1


"Kalian mau kemana lagi?" Selenia mengerling sebelum Cia keluar.


"Nggak kemana-mana. Marvin memang sering main ke rumah kok. Rumah kita kan deket Sel," Cia menunjuk deretan rumah Marvin di depan.


Selenia mencibir. "Bohong..." dia tidak yakin kalau mereka hari ini akan di rumah saja. Marvin aja kelihatannya sudah rapih.


Cia nyengir kuda. "Ya udah gue turun dulu ya," dia membuka pintu dan keluar. Sebelum pergi, dia mengetuk-ngetuk kaca mobil yang kemudian diturunkan Selenia dari dalam. "Have fun ya entar malem. Byeee..." tangannya melambai.


"Thanks juga ya Ci, udah nemenin cari kado."


Cia mengangguk dan kemudian berjingkat-jingkat dengan centil memasuki pekarangan rumahnya.


"Hei sayaaang? Udah lama nunggunya?" terdengar sapaan centil dan riang Cia ke Marvin sebelum Selenia berlalu.


"Dasar bocah," gumam Selenia.


...🌺🌺🌺...


Selenia berdiri di depan cermin, mematut diri menggunakan setelan jeans dan T-shirt couple pemberian Renata. Malam ini dia dan Adam sepakat akan mengenakan kaus itu. Setelah selesai memoles make up tipis-tipis di wajahnya, dia lantas menyingkapkan kausnya sampai di atas pusar dan memandangi perutnya dari pantulan cermin. Dia tidak bisa berhenti tersenyum setiap kali melihat perut itu. Hamil? Kadang dia masih belum percaya kalau di dalam sana ada buah cintanya dengan Adam.


"Kamu udah siap sayang?" Adam tiba-tiba masuk ke kamar saat Selenia masih terlena dengan perutnya. Hal itu membuat Adam terkikik. "Kamu ngapain sayang?" dia berjalan mendekati Selenia dan mengecup keningnya lembut.


Selenia buru-buru menurunkan kausnya. Kaget banget. Dia lalu berpura-pura menyisir rambutnya menggunakan jari karena salah tingkah. Di saat seperti itu, Adam justru memeluknya dari belakang dan turut menatap ke arah cermin. Dia tersenyum menatap dua bayangan di sana, membuat Selenia semakin salah tingkah. Mereka berdua tampak begitu serasi, didukung dengan T-shirt couple yang mereka kenakan.


"Love you sayang," bisik Adam di telinga Selenia.


Selenia memejamkan mata, menahan geli akibat hembusan nafas Adam di telinganya. "Love you too, Adam..." balasnya juga dengan berbisik.


Adam merenggangkan pelukannya dan memutar tubuh Selenia. Ditatapnya wajah manis itu lekat-lekat, dengan kedua tangan menangkup di kedua pipi Selenia. Dia sangat-sangat mencintai gadis ABG ini dan tidak ingin kehilangannya. Lalu dengan lembut, Adam menekankan bibirnya pada bibir Selenia. Mereka berciuman dalam suasana tenang dan lama....


"Dam...." Selenia mendesis setelah ciuman mereka berakhir.


"Iya sayang?"


Adam tersenyum dan membelai rambut Selenia lembut. "Yuk."


Mereka keluar kamar dengan tangan saling menggenggam satu sama lain.


...🌺🌺🌺...


Meski tidak mengadakan pesta dengan mengundang banyak orang, rumah Renata tetap terlihat paling terang dari rumah lain di sekitarnya. Saat Adam dan Selenia tiba di sana, ada satu mobil yang sudah terparkir di halaman. Kening Adam mengerut. Dia tahu itu mobil siapa. Jadi Renata mengundang Devan juga?


Tak lama setelah mesin mobil Adam mati, Renata keluar dengan menggendong Nola dan melambai ke arah Selenia dan Adam yang baru keluar dari mobil.


"Nah itu Oomnya datang," Renata melambaikan tangan Nola dan anak itu berteriak kegirangan. "Gimana sayang ucapnya? Syeyamat mayam Oom...." sapanya menirukan gaya Nola saat berbicara.


Selenia terkikik mendengar sebutan Oom yang ditujukan untuk suaminya.


"Ternyata suami kamu itu Oom-oom ya," bisik Adam sembari merangkul bahu Selenia.


Selenia menyikut pinggang Adam. Mereka lalu berjalan beriringan menghampiri Renata dan Nola yang tertawa-tawa menyambut kedatangan mereka. Lalu saat sudah dekat, Nola mengangkat kedua tangannya karena minta digendong Adam.


Renata tersenyum getir dan mengalihkan pandangannya pada Selenia, bermaksud meminta izin, apakah tidak keberatan jika Nola meminta gendong Adam. Diluar dugaannya Selenia ternyata mengangguk.



...With Nola 😊...


...(anggap aja rambutnya si dedek nggak pirang ya 😌)...


Selenia memang sudah membuang jauh-jauh pikiran buruknya tentang Renata. Tidak ada secuilpun perasaan tidak nyaman saat melihat keakraban Adam dengan Nola. Berbeda dengan dulu, kini dia justru bahagia melihat Adam yang begitu Daddyable banget saat menggendong Nola. Lalu membayangkan betapa indahnya keluarga kecil mereka nanti setelah Adam junior lahir. Pssst.... tahan Sel.... tahaaan.


Selenia memang selalu gagal menahan senyum setiap ingat akan hal itu. Untung saja baik Renata dan Adam tidak begitu memperhatikan gelagatnya.

__ADS_1


"Ini untuk Nola ya... selamat ulang tahun anak manis...!" Selenia memberikan kadonya dan mencubit pipi Nola gemas.


Kado itu terlalu besar untuk Nola, jadi Selenia menyerahkannya pada Renata.


"Selamat datang di rumah kami..." ucap Renata setibanya di ruang pesta. "Ada mantan suami saya juga di dalam," bisiknya kemudian, lebih menjaga agar Devan tidak mendengar kalimatnya.


Nafas Selenia tertahan saat melihat seseorang yang telah duduk di salah satu kursi di ruangan bertema Little Pony tersebut. Orang itu melemparkan senyum memaksa kepadanya dan Adam. Dia mantan suaminya Renata? Berarti orang ini yang dulu pernah neror aku dan membuatku celaka?


Selenia memalingkan muka dari tatapan Devan yang menurutnya menyeramkan. Dia menggamit lengan Adam lebih erat. Jantungnya berdebar-debar. Peristiwa teror hingga kecelakaan itu berkelebatan di kepalanya. Adam yang peka dengan apa yang di rasakan Selenia kali ini, memberikan Nola pada Renata kemudian mengusap-usap bahu Selenia pelan, mencoba menenangkan.


Begitu juga dengan Renata. Dia yang melihat sorot ketakutan dari mata Selenia saat melihat Devan ada di sini, seketika merasa bersalah.


"Mbak Amiii...." Renata memanggil Baby sitter Nola yang tergopoh-gopoh menghampiri.


"Titip Nola bentar ya mbak," ucap Renata pada Mbak Ami. "Yuk ikut aku ke belakang sebentar," ajaknya pada Selenia.


Selenia melepaskan gamitannya dari lengan Adam, dan berjalan mengikuti Renata.


"Sel, aku minta maaf kalau keberadaan mantan suamiku tidak membuat kamu nyaman," ucap Renata lembut. "Aku tahu, apa yang dia lakukan ke kamu dulu pasti membuat kamu trauma. Tapi... untuk malam ini aku juga tidak bisa kalau tidak menghadirkan dia di sini. Karena.... ini adalah hari ulang tahun anaknya."


Selenia menelan ludah. Kerongkorangan terasa kering dan dadannya sedikit terasa sesak. Dia takut terkena serangan pannic attack. Tapi kemudian mencoba menarik nafas dalam-dalam dan menghemburkan perlahan.


"Kamu nggak usah takut dan khawatir ya," imbuh Renata. "Devan itu orang yang hobby traveling. Jadi menjadi tahanan kota adalah hukuman yang tepat untuk membuatnya jera saat ini. Semoga."


Selenia hanya mengangguk. Apalagi yang akan dia katakan? Toh dia datang ke sini juga karena menghadiri acara ulang tahun anaknya kan?


Untuk beberapa saat Renata memandangi Selenia dari atas sampai ujung kaki sebelum mengajaknya kembali ke ruang pesta. Dia seperti melihat perubahan yang berbeda dari tubuh Selenia. Selenia terlihat lebih...... berisi... lebih gemuk. Atau mungkin karena mereka lama tidak pernah bertemu?


"Kenapa kamu ngeliatin aku kaya gitu?" celetuk Selenia.


"Ohhh nggak kok. Kamu... cantik pakai T-shirt itu," jawab Renata. Karena tidak mungkin dia akan mengatakan, kamu terlihat lebih gemuk ya. Kalimat itu merupakan momok bagi setiap perempuan yang selalu ingin menjaga penampilan. "Apalagi couplean sama Pak Adam, jadi terlihat lebih serasi."


"Hhhh..... kamu bisa aja. By the way makasih ya T-shirtnya."


"Ya udah ke depan yuk," Renata menggandeng tangan Selenia. "Nanti keburu Nola ngantuk pas tiup lilin."


Saat mereka kembali ke ruangan, Devan dan Adam sedang duduk berjauhan tanpa berbicara satu sama lain. Terlihat sekali sorot ketidaknyamanan dari keduanya.


...🌺🌺🌺...


"Nyokap lo udah menyesali semua yang telah dia lakukan. Apa lo juga akan tetap seperti ini Ton? Keras kepala dan nggak mau buka hati? Dia Nyokap lo, Ton. Orang yang ngelahirin lo. Dan sampai kapanpun nggak akan ada yang namanya bekas anak atau bekas Ibu. Gue bukan belain siapa-siapa. Tapi lo masih inget kan apa yang pernah gue bilang dulu sama lo, tentang gunanya seorang teman. Gue tahu, gue memang bukan teman dekat lo sekarang, tapi setidaknya gue pernah menjadi bagian dari masa lalu lo. Kita pernah satu sekolah, satu team, teman sepermainan. Gue pernah tahu bagaimana kecewanya lo saat Nyokap lo nggak datang ke acara ulang tahun lo yang ke 16. Dan gue juga pernah lihat lo diam-diam menangis di toilet karena itu kan? Jadi sekarang lo mau nunggu apalagi Ton? Lo rindu sama dia tapi juga benci karena lo anggap dia tega meninggalkan keluarga demi egonya. Kesempatan tidak selalu datang dua kali, Ton. Sekarang tolong redam sedikit saja ego lo. Kalau Nyokap lo saja bisa menyadari semua kesalahannya dan ingin meminta maaf sama lo, kenapa lo nggak bisa buka hati? Jangan sampai lo menyesal disaat semuanya sudah terlambat. Karena itu hanya akan jadi sakit hati yang tidak pernah berujung."


Tony merenung di dalam kamarnya, mendekap bantal. Dia mengingat setiap kata demi kata yang diucap Marvin saat membicarakan tentang Mamanya siang tadi. Bukit bintang. Mamanya datang ke tempat itu? Apakah selama ini dia selalu ke sana? Apakah benar dia tidak pernah melupakanku? Tapi kenapa selama hampir 10 tahun ini dia tidak pernah datang menemuiku?


"Suami barunya ternyata tidak sebaik seperti saat mereka belum menikah. Dia mempunyai rencana tersembunyi dibalik sikap manisnya. Bokap lo pasti pernah cerita kan sama lo alasan Nyokap lo meminta cerai darinya?"


Mama kurang mendapat perhatian dari Papa karena Papa terlalu sibuk bekerja. Mamamu bertemu dengan seseorang yang bisa memberikan apa yang tidak bisa Papa beri. Waktu. Kalimat yang pernah diucapkan Pak Anton terngiang di telinga Tony.


"Dia melarang keras nyokap lo untuk bertemu mantan suaminya lagi, terutama untuk ketemu lo. Dia juga seenaknya menggunakan hampir seluruh harta yang nyokap lo miliki untuk kesenangannya sendiri. Lo tahu kan artinya apa?...... Lo bisa tanya sama Cia gimana nelangsanya nyokap lo saat menceritakan semuanya.... sekarang terserah lo mau bertindak seperti apa. Kalau lo masih bisa buka hati, lo bisa hubungin gue. Gue tahu di mana nyokap lo tinggal."


Tak terasa air mata Tony menitik. Sejahat itukah dia? Tony menghapus air matanya. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering. Ternyata dari Petra yang mengabarkan kalau timnya hanya mendapat runner up dalam turnamen game online musim ini.


"Nggak pa-pa, lain kali mesti latihan lagi," ucapnya datar tanpa ekspresi.


Kali ini, berita tentang kekalahan timnya tidak lagi menjadi sesuatu yang menyedihkan bagi Tony.


Setelah obrolannya dengan Petra selesai, dia kemudian mengirim pesan ke Marvin.


Tony: [Dimana gue bisa ketemu nyokap gue?]


Marvin: [Besok pulang sekolah gue tunggu di depan]


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2