
Hampir semalaman Adam tidak bisa tidur. Beberapa kali dia mengecek keluar kamar, kalau saja Selenia muncul dan mereka punya waktu untuk berbicara. Tapi sampai pagi ini, ketika Adam sudah rapih dengan pakaian untuk pergi ke kantor, kamar Selenia masih tertutup rapat--dan dikunci.
"Selenia sama sekali nggak keluar kamar ya Bik?" tanya Adam pada Bi Iyah waktu sarapan. Dia duduk seorang diri di kursi makan, menatap menu di depannya dengan malas. Dia tidak memiliki nafsu makan.
Bi Iyah menggeleng pelan sembari menghidangkan teh hangat.
"Maaf Pak, sebenernya Bapak sama Non Selenia ini ada masalah apa to?" tanya Bi Iyah hati-hati. Diam-diam dia memperhatikan perang dingin yang terjadi pada keduanya beberapa hari ini.
Adam tersenyum kecut, lalu menyeruput tehnya. "Ini semua cuma salah paham kok Bik. Saya cuma belum diberi waktu saja sama Selenia untuk menjelaskan yang sebenarnya."
Bi Iyah menatap Adam yang tampak tidak begitu bergairah. Sebagai orang yang begitu dekat dengan keluarga ini, dia turut merasakan keheningan yang begitu dalam ketika pasangan suami-istri ini tengah berseteru. Padahal hari-hari sebelum perang dingin ini terjadi, Bi Iyah adalah orang yang paling bahagia karena melihat keakraban dan kebersamaan mereka.
"Lalu, untuk rencana Bapak ke luar kota minggu ini, bagaimana?"
"Untungnya masih ditunda Bik," Adam menyahut. "Kalau saja minggu ini tetap berangkat, saya pasti nggak bisa bekerja dengan maksimal kalau keadaan kaya gini."
Bi Iyah manggut-manggut. "Bapak yang sabar ya. Biar bagaimanapun, Non Selenia itu kan masih... ABG.... emosinya pasti masih.... labil..." ucapnya hati-hati.
"Bibik benar. Tapi saya cinta sama dia Bik. Saya juga takut kehilangan dia," Adam mengaduk-aduk sarapan di piringnya dengan malas. Matanya menatap kursi yang biasa ditempati Selenia kalau mereka makan bareng. "Ya udah Bik, maaf jadi curhat. Bibik lanjutin pekerjaan aja ya."
"Baik Pak," kata Bi Iyah kemudian berlalu ke ruang belakang.
Setelah menghabiskan setengah sarapannya, Adam beranjak dan kembali ke lantai dua, untuk memastikan apakah Selenia sudah siap berangkat sekolah. Dia ingin mengantarnya hari ini.
Tok tok tok!
Adam mengetuk pintu kamar Selenia.
"Sel, kamu nggak keluar?" tanya Adam dari luar. "Kamu masih marah ya sama aku? Aku minta maaf Sel."
Tapi tetap tidak ada respon dari Selenia. Sampai Adam kembali mengetuk pintu beberapa kali dan akhirnya memutuskan untuk segera bergegas setelah Selenia benar-benar tidak mau keluar. Dia berjalan dan berhenti di ujung tangga, lalu menoleh ke kamar Selenia lagi. Harapannya begitu besar untuk segera bisa melihat istrinya itu mau berbicara lagi padanya.
Adam: [Aku berangkat sayang. It's okay kalau kamu belum mau berbicara sama aku sekarang. Aku harap, kamu bisa segera meluluhkan hati kamu dan memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku berani bersumpah, video yang kemarin tidak berarti apa-apa. Aku sayang kamu. Take a care my wife. Love you ❤️]
Dengan satu kali tarikan nafas berat, Adam menekan ikon send dan pesan itu langsung terkirim ke nomor Selenia. Dia berjalan menuruni tangga dengan malas. Kalau saja pekerjaannya hari ini bisa dihandle Maya atau Renata, dia memilih untuk tetap di rumah, menyelesaikan prahara rumah tangganya.
...🌺🌺🌺...
Selenia berdiri di balik pintu kamarnya, membaca pesan dari Adam yang baru saja masuk. Dia tersenyum dan merasakan ketulusan dari pesan tersebut. Sebenarnya tadi dia baru saja mau keluar kamar saat telinganya mendengar langkah kaki mendekati kamarnya. Karena yakin itu Adam, jadi Dia memilih untuk berhenti di balik pintu dan mendengarkan Adam berbicara. Emosi Selenia pagi ini memang sudah berangsur mereda. Namun dia belum siap untuk bertatap muka dengan suaminya.
Hari ini Selenia memilih untuk bolos. Dia sudah meminta Cia untuk membuatkan surat izin dengan alasan ada kepentingan keluarga. Karena kalau izin sakit, itu tidak mungkin. Sekolahan Selenia memberlakukan kewajiban memakai keterangan dari dokter untuk izin tidak masuk sekolah karena sakit.
Cia: [Lo kenapa sih? Lo baik2 aja kan Sel?]
Pesan dari Cia karena anak itu tidak percaya dengan alasan Selenia tidak masuk sekolah.
Selenia: [Ceritanya panjang. Gw gabisa ngomongin ini sekarang]
Cia: [Jangan2 lo lagi ikut family gathering kantor suami lo... haahahaha]
Cia masih sempat meledek dan mau tidak mau membuat Selenia tersenyum dan membalas pesan itu dengan emotikon yang saling tidak berkesinambungan. Seperti kue, kentang, popcorn, bunga, pup, dan zebra.
Selenia berjalan mendekati jendela kamarnya saat mendengar deru mesin mobil Adam dinyalakan. Dia sempat melihat Adam mendongak ke kamarnya sebelum akhirnya masuk mobil dan berlalu.
...🌺🌺🌺...
Adam tiba di kantor dan langsung di sambut oleh Renata di depan ruangannya. Renata ingin memberikan lembaran yang kemarin salah ditandatangani oleh Adam dan sekarang telah diperbaharui.
"Makasih ya Ren. Nanti biar saya bawa ke ruangan kamu," kata Adam menerima lembaran itu.
"Baik Pak."
Adam segera masuk ke ruangannya, meninggalkan Renata yang masih diam di tempat. Tapi tak lama kemudian dia nongol lagi.
"Oh ya Ren," celetuknya membuat Renata tersentak karena dia sempat ngelamun. "Bagaimana sidang kamu? Jadi di ajukan?"
Mata Renata berbinar. Pertanyaan itu dianggap sebagai bentuk perhatian oleh Renata. "Iya Pak. Mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi."
Adam manggut-manggut. "Apapun hasilnya semoga itu yang terbaik ya," bibirnya membentuk seulas senyum walau sedikit.
"Terimakasih Pak," ucap Renata yang tentunya sudah tidak didengar oleh Adam karena dia sudah masuk ke ruangannya.
Cuma itu doang? Renata membatin. Kok sikap Pak Adam aneh ya dari kemarin?
...🌺🌺🌺...
"Kepentingan keluarga?" kening Tony mengerut saat Cia memberitahukan padanya kalau Selenia nggak masuk sekolah hari ini.
Mereka bertemu saat Cia baru kembali dari toilet dan Tony baru datang. Tony heran karena melihat Cia sendirian jadi dia bertanya kemana Selenia.
"Memangnya ada acara apa di keluarganya Ci?" tanya Tony masih penasaran.
Cia cuma mengangkat bahu. "Aku juga nggak ngerti. Rumahku kan jauh dari rumah dia."
"Ohh gitu ya."
Mereka berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. Pikiran Tony sendiri masih terganggu dengan kejadian kemarin sore. Jangan-jangan Selenia memang disekap sama Adam dan dilarang pergi ke sekolah.
"Oh iya Ci, ada yang pengen aku tanyain sama kamu."
"Apaan?" Cia menoleh sebentar. Mereka terus berjalan menyusuri koridor.
"Kakaknya Selenia tuh.... galak ya?" tanya Tony yang seketika membuat langkah Cia terhenti. Tony tahu, Cia pasti kaget dengan pertanyaannya. Dia kan belum tahu kalau Tony sudah mengetahui rahasia itu.
"Mmmmm... enggak sih..." jawab Cia ragu-ragu. "Kenapa kamu nanyain kakaknya Selenia segala?" mata Cia memicing.
"Nggak pa-pa kok," Tony menggeleng. "Cuma pengen tahu aja."
Cia masih menatap Tony heran beberapa saat sebelum akhirnya kembali berjalan. Tony terus mengikuti dan menjajari langkah Cia.
"Jadi dia nggak galak ya? Nggak pernah kasar kan sama Selenia?"
__ADS_1
"Kasar? Enggak lah," Cia menggeleng "Dia malah sayang dan perhatian banget sama Selenia."
Tony lega mendengar jawaban Cia. Setidaknya itu bisa sedikit meredam kekhawatirannya pada Selenia. Dari semalam pikirannya tidak tenang. Dia terus membayangkan bagaimana seandainya Selenia dikasarin, disekap, ditampar dan semua perlakuan buruk lain.
"Mereka cuma dua bersaudara?" tanya Tony lagi.
Cia sempat berhenti, menoleh sebentar dan kembali berjalan. Dia merasa seperti sedang diintrogasi.
"I-iya," jawabnya ragu.
Tony berusaha menahan geli melihat ekspresi cemas di wajah Cia. Kecemasan karena sedang beebohong. Ya ampun Cia, kamu memang sahabat sejati untuk Selenia. Batinnya, mengagumi kesetiakawanan Cia.
Tony kenapa sih? Cia juga membatin. Perasaannya mulai gusar karena takut keceplosan.
"Kamu kenapa sih Ton nanyain mereka?" tanya Cia balik. "Pakek acara nanyain kakak Selenia galak apa enggak segala."
Tony terkekeh. "Nggak pa-pa kaleee, pengen tahu aja. Buat jaga-jaga kalau pengen ngajak Selenia jalan, kan harus mikir seribu kali kalau kakaknya galak, hehehe..." guraunya. "Bukannya kita punya rencana mau double date ke bukit bintang?"
"Hah?!" Cia membelalak.
"Hmmm..." Tony mencibir. "Jadian kok nggak kabar-kabar," ledeknya. "Udah berapa lama coba?"
Cia merapatkan bibir dan belum ingin menanggapi ucapan Tony. Dia hanya tersenyum kecil.
Ajak aja Selenia buat double date Ton, biar ada perang dunia ke tiga sekalian. Batin Cia geli. Dia sudah bisa memastikan kalau itu tidak akan pernah terjadi. Ya kali Adam bakal ngizinin istrinya jalan sama cowok lain.
"Kenapa kamu senyum? Ada yang lucu?" celetuk Tony.
"Enggaaaak.... emang nggak boleh apa senyum doang?"
"Soalnya kamu senyumnya kaya lagi ngeledek aku."
"Hah?" Cia membelalak sebentar. Dia lalu mengerucutkan bibir, berusaha menahan untuk tidak tersenyum lagi. "Ngeledek apaan sih? Enggak kok."
"Iya lhooo iyaaaa.... yang lagi bahagia senyuuum aja terus. Asal jangan senyum-senyum sendiri Ci, bahaya."
"Dih amit-amit...!" Cia mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri dan bergidig.
Mereka kemudian berpisah saat Cia sudah sampai di kelasnya. Tony sempat mengerling jahil ke Cia sebelum akhirnya berjalan menuju ke kelasnya sendiri.
...🌺🌺🌺...
Selenia baru saja selesai mandi dan masih memakai kimono handuknya saat ponselnya berdering. Ternyata Adam yang menelfon. Selenia meraih ponselnya, menimbang-nimbang antara mengangkat atau tidak dan akhirnya memilih untuk mengabaikan panggilan suaminya tersebut. Dia melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan berganti pakaian.
Selama berada di depan cermin, sambil merias diri, sempat terlintas di pikirannya kalau mungkin saja Adam benar-benar serius meminta maaf dan video itu memang tidak berarti apa-apa. Tapi mana mungkin? Kalau memang video itu tidak berarti apapun, kenapa dia sampai berbohong? Malah diam-diam makan bareng dan ngakunya lagi meeting. Kan aneh.
Kadang Selenia juga bingung untuk menafsirkan semua yang telah terjadi. Tapi kalau melihat sorot mata Adam semalam--saat dia memohon-mohon agar diberi waktu untuk bisa menjelaskan semuanya--sepertinya dia serius dan menyesali perbuatannya. Tapi entah kenapa rasanya suliiiiit sekali memaafkan kebohongan Adam. Apalagi kalau ingat video itu.
Arrrgghhh!! Selenia melempar sisirnya ke meja. Benar kata Cia, buat apa sih nyimpen video itu. Cuma bikin sakit hati.
Selenia beranjak dari meja riasnya dengan sewot dan kembali mengambil ponselnya. Dia ingin menghapus video itu sekarang juga. Namun baru saja dia akan membuka aplikasi galeri, ada dua buah pesan masuk bersamaan. Satu dari Adam dan satu lagi dari Ayah.
Ayah: [Kok nggak ada kabar? Lupa sama Ayah ya sayang?]
Selenia auto tepuk jidat setelah membaca pesan Ayahnya. Ya ampun! Setelah Ayahnya kemarin memberikan bingkisan kalung, dia sama sekali belum berterimakasih. Semua gara-gara Adam kok. Gara-gara masalah yang dia timbulkan, Selenia jadi lupa segalanya. Huh!
"Halo Ayah. Ya ampun maafin Selenia. Selenia sama sekali nggak bermaksud begituuu....." rengek Selenia di telfon.
"Hahaha, kamu kenapa sih sayang? Lagi banyak tugas ya?"
Lagi banyak masalah yang bener Yah. Andai saja Selenia bisa menjawab begitu. Andai saja dia bisa menceritakan semua yang terjadi. Tapi tidak, jangan. Selenia tidak mau membuat Ayahnya kepikiran. Ayahnya cukup tahu kalau rumah tangganya baik-baik saja.
"I-iya ni Yah. Wajar sih, kan aku udah kelas tiga. Ujian tinggal beberapa bulan lagi."
"Oh iya, trus nanti kamu rencana mau kuliah di mana?"
"Mmm... aku belum kepikiran Yah."
"Kamu harus mulai mikir soal itu dari sekarang sayang. Bicara sama Adam deh, supaya kamu punya rekomendasi kampus yang bagus nanti."
Bibir Selenia memberengut mendengar nama Adam disebut.
"Iya deh Yah, nanti. Kalau Adam udah nggak sibuk.
"Memangnya dia kalau pulang jam berapa?"
"Nggak tentu Yah," jawab Selenia malas.
"Kamu kalau di rumah nggak ada temen, maen-maen dong ke sini. Masa iya kamu nggak kangen sama rumah sendiri?"
Selenia tersenyum kecut. Sudah berapa abad dia tidak mengunjungi rumahnya sendiri? Rumah yang menyimpan banyak kenangan masa kecil bersama Mamanya.
"Nanti ya Yah. Aku pasti bakal dateng kok," ucap Selenia lirih. "Yah, kalungnya bagus. Makasih ya."
"Kamu suka? Syukurlah kalau kamu suka."
"Suka banget Yah. Aku jadi ngerasa selalu ditemenin Mama sekarang," ucap Selenia sendu.
Selanjutnya mereka ngobrol sampai hampir satu jam. Pak Fendi juga menanyakan kenapa Selenia tidak masuk hari ini, dan Selenia hanya menjawab kalau dia sedikit pusing. Saat beliau menawarkan untuk datang, Selenia melarang dengan halus karena khawatir Ayahnya jadi tahu tentang permasalahan keluarganya. Dia dan Adam bakalan diintrogasi. Selenia cuma nggak ingin ribet jawab a i u e o. Selain itu dia merasa ini bukan masalah berat dan harus melibatkan orang tua untuk menyelesaikannya.
Lagipula, semakin kesini Selenia merasa emosinya semakin mereda dan dia sadar kalau amarahnya ke Adam tidak akan menyelesaikan apapun.
Selenia kembali membaca pesan dari Adam setelah obrolan dengan Ayahnya selesai. Dia tidak membalas pesan itu. Tapi terpikir olehnya kalau mungkin tidak ada salahnya memberikan Adam kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Lebih baik menunggu sampai Adam tiba di rumah. Tak lupa, dia juga langsung menghapus video sialan itu dari ponselnya.
...🌺🌺🌺...
Adam menyurukkan ponselnya ke dalam laci dengan asal. Merasa putus asa karena Selenia tak kunjung membalas pesannya, dia lantas berdiri, merapihkan jas dan bergegas keluar ruangan. Tujuannya kali ini untuk pergi ke SMA Bhakti Nusa, meninjau renovasi aula yang katanya hampir selesai dan mungkin kalau ada waktu dia ingin berbicara dengan Tony. Dia menduga, video itu pasti asalnya dari Tony. Dia ingin tahu apa alasan Tony memberikan video itu pada Selenia, padahal dia sendiri tidak tahu kejelasannya.
Sesampainya di SMA Bhakti Nusa, Adam hanya melakukan tugasnya sebentar, ngobrol dengan mandornya sebentar dan kemudian duduk menyendiri di taman yang lumayan jauh dari gedung-gedung kelas. Tak lama kemudian terdengar bunyi bel dan saat dia melirik jam tangannya, dia tahu kalau itu bel tanda istirahat. Terlihat beberapa anak mulai berhamburan keluar kelas.
"Hei tunggu!" Adam berdiri dan memanggil seorang murid laki-laki yang melintas di kejauhan.
__ADS_1
Anak itu menoleh dan menunjuk dirinya sendiri. Maksudnya dia bertanya apakah Adam memanggil dirinya?
"Iya kamu!" Adam memperjelas.
Setelah tengok kiri kanan dan tidak menemukan orang lain selain dirinya, anak itu berbalik dan menghampiri Adam.
"Ada apa kak?" tanya anak itu.
"Kamu kenal sama murid yang namanya Tony?"
"Tony yang mana kak? Di sini yang namanya Tony nggak cuma satu."
Iya ya. Sekolah ini kan muridnya banyak, pikir Adam.
"Mmmm...." dia mencoba mengingat nama lengkap Tony. "Kalau yang nama lengkapnya... Erland...." Adam lupa.
"Erland Antonio Adigunawa maksudnya?" sahut Anak itu cepat.
"Oh iyaaa bener. Kamu kenal?"
"Kenal kak. Memangnya ada apa ya?"
"Kamu bisa panggilkan dia untuk saya?"
Anak itu tidak langsung menjawab. Dia heran kenapa ada orang nyariin Tony tapi nggak langsung telfon atau wa aja.
"Gimana?" tanya Adam lagi.
"Oh iya kak. Aku cari dia dulu ya," anak itu kemudian berlalu untuk mencari Tony di tempat biasa dia menghabiskan waktu istirahat.
Sekitar beberapa menit sepeninggal anak itu, Tony muncul. Dari kejauhan dia sudah mulai memasang tampang sinis ke arah Adam dan berjalan gontai menghampirinya--dengan gaya khasnya memasukkan kedua tangan ke saku celana.
"Lo nyari gue?" tanya Tony angkuh sembari mengangkat dagunya tinggi.
Adam melihat Tony dari atas sampai bawah dan menggelengkan kepala.
"Apa maksud kamu mengirimkan video itu ke Selenia?"
Kening Tony mengernyit. Dia tidak mengerti apa yang dipertanyakan oleh Adam. Video?
"Maksud lo apa ya? Gue nggak ngerti," ucap Tony ketus.
"Kamu nggak usah pura-pura nggak ngerti. Darimana lagi dia dapat video itu kalau bukan dari kamu?" Adam menyilangkan tangannya di dada. "Dan saya juga yakin, sekarang kamu pasti sudah tahu rahasia Selenia."
Tony tersenyum sinis. "Gue emang udah tahu rahasia Selenia. Rahasia kalian berdua lebih tepatnya. Tapi gue nggak ngerti video..."
"Video saya dan seorang perempuan di Greenosh, itu nggak pernah ada artinya. Jadi saya mohon sama kamu, jangan pernah coba-coba membuat keadaan semakin buruk. Kamu tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Ohhh..." Tony terperangah mendengar kata-kata Adam. Video itu? Selenia sudah tahu? Dia bahkan belum pernah sekalipun menunjukkan video itu, tapi Selenia sudah tahu. Hatinya bersorak. Dia tersenyum lebar, merasa menang. "Ternyata Tuhan tidak tidur. Bagus deh kalau Selenia sudah tahu tentang itu."
"Maksud kamu apa?!" gertak Adam. "Kalau kamu pikir dengan video murahan itu bisa membuat hubungan saya dan istri saya hancur, kamu salah!" ucap Adam dengan menyebut kata istri saya penuh penekanan.
Kata-kata Istri Saya seakan menyulut telinga Tony. Dia cemburu dan merasa geram. Dengan separuh emosi yang hampir meledak yang dicoba dia tahan, Tony mengepalkan tangannya.
"Sikap lo kasar! Lo sadar nggak?!" teriak Tony. "Yang bakal hancurin hubungan lo sama Selenia bukan gue, tapi sikap lo sendiri! Kemana dia hari ini nggak sekolah?! Hah?! Lo kurung dia di kamar?! Lo sekap dia?!" dia mendorong bahu Adam dengan kasar. Tapi karena tubuh Adam lebih kekar dari tubuhnya, dorongan itu bahkan tidak membuat Adam bergeser dari tempatnya.
"Jaga omongan kamu ya," Adam berkata pelan tapi tegas. Matanya sambil mengamati sekeliling. Dia tidak mau emosinya meledak dan terlibat pertengkaran dengan Tony di sekolah ini. "Saya tidak pernah bersikap kasar ke istri saya. Kamu bisa tanya sama dia kalau kamu mau tau kenyataannya," mata Adam menatap tajam ke arah Tony yang tampak mulai dibakar amarah.
"Lo nggak usah munafik! Kemarin yang lo lakuin apa? Itu yang lo maksud nggak pernah kasar?!"
"Wajar kalau saya marah karena melihat pasangan saya bersama laki-laki lain. Kamu juga pasti tidak akan tinggal diam kalau melihat pasangan kamu jalan dengan laki-laki lain kan?"
Tony tersenyum sinis. "Gue nggak ngerti,kenapa lo nikahin anak di bawah umur? Dasar predator!" mata Tony melotot saat mengucapkan kalimat Predator. "Harusnya lo sadar diri. Lo nikah sama bocah yang usianya jauh di bawah lo. Apa sih yang lo cari?"
"Jaga bicara kamu Ton!" Adam menunjuk wajah Tony. "Saya tegaskan sama kamu, kalau kamu nggak ngerti yang sebenarnya, lebih baik kamu diam."
"Jadi maksud lo apa dateng ke sini? Cuma mau kaya gini doang?! Asal lo tau ya, gue seneng kalau akhirnya Selenia tahu kebusukan lo di belakang dia. Tapi asal lo tau juga..." Tony mencondongkan tubuhnya ke Adam. "...gue sama sekali nggak pernah tunjukin video apapun ke Selenia. Jadi lo jangan asal nuduh. Terima aja kalau lo emang udah kegap khianatin istri lo sendiri. Dasar brengsek lo!"
Emosi Adam sudah naik ke ubun-ubun mendengar semua kalimat yang dilontarkan Tony. Dia mengepalkan kedua tangannya geram dan bersiap ingin menghantam anak itu. Tapi lalu dia sadar dan mencoba untuk meredam amarahnya. Bakalan tambah masalah kalau dia menghajar Tony di sekolah ini. Dan lagi dia merasa itu hanya buang-buang waktu kalau terus meladeni semua ucapan Tony.
"Saya tidak pernah mengkhianati Selenia. Kalau kamu masih nekat mendekati istri saya, sebutan brengsek itu lebih baik kamu telan sendiri!" Adam menandaskan sebelum kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, Lala yang entah muncul dari mana merasa heran melihat pemandangan Tony sedang adu mulut dengan Adam.
"Tony sama siapa tuh?" gumamnya. "Tony!" teriaknya kemudian sembari melangkah gontai menghampiri Tony.
Tony yang sedang dalam keadaan marah, semakin merasa muak melihat kehadiran Lala. Apalagi ini?
"Kamu ngapain di sini? Itu tadi siapa?" tanya Lala penuh selidik.
Tony tersenyum sinis. "Kepo kamu La!" cetusnya dan langsung pergi.
"What?" Lala bengong.
...🌺🌺🌺...
"Apa Ci??!! Serius lo?!!" mata Selenia melebar mendengar informasi dari Cia.
"Ngapain gue bohong Sel. Gue juga tadi kaget liat mereka di taman. Mukanya sama-sama tegang. Sebenarnya ada masalah apa sih sama kalian bertiga??? Lo juga tiba-tiba nggak masuk, ada apa sih Sel?"
Ocehan Cia justru membuat kepala Selenia tambah pusing. Dia kaget banget mendengar informasi dari Cia kalau Adam dan Tony sedang bertengkar di taman sekolah mereka. Ya ampun, Adam kenapa senekat itu sih?
"Ceritanya panjang Ci. Gue nggak bisa ngomongin di sini. Ya udah Ci, thanks infonya. Kapan-kapan kita ngobrol. bye...!" pungkas Selenia.
Setelah mengakhiri obrolannya dengan Cia, Selenia langsung mencari nomor Adam dan menghubunginya. Tapi tidak ada jawaban. Selenia mencoba lagi dan lagi dan tetap tidak ada respon.
"Duuuh apa lagi sih iniii!" gerutu Selenia gusar. Dia mondar-mandir di kamarnya. Pikirannya tidak tenang.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1