
Paginya, Adam sengaja berdiri di depan kamarnya untuk menunggu Selenia keluar. Dia sudah tidak sabar ingin segera memeluk istrinya itu guna menebus kesalahannya kemarin karena telah seharian mengabaikannya.
Jadi begitu pintu kamar Selenia terbuka, dan penghuni manisnya itu keluar, Adam langsung memeluk Selenia erat. Tentu saja hal itu membuat Selenia kaget. Dia hampir berteriak kalau saja tidak segera menyadari bahwa yang menyergapnya pagi-pagi ini adalah suaminya sendiri.
"Maafin aku. Aku sama sekali nggak bermaksud untuk cuekin kamu kemarin. Aku bener-bener lupa kalau sejak... meeting...." berat rasanya mengucap kalimat meeting karena itu hanya bohong. ".... ternyata aku silent ponsel aku dan lupa balikin ke mode dering," ucapnya beruntun di belakang punggung Selenia.
"Iyaaa," jawab Selenia lembut. Dia tersenyum di balik punggung Adam sembari mengusap punggungnya. "Tapi lain kali jangan di silent lagi yaaa, aku tuh khawatir kalau kamu gak respon pesan atau telfonku."
Adam melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah polos Selenia dengan jutaan rasa bersalah. Baru kali ini dia berbohong pada Selenia dan itu rasanya berat sekali.
"Kok kamu belum rapih?" Selenia melirik jam tangannya. "Udah waktunya kamu siap-siap lhoh, sarapan yuk."
Selenia baru saja melangkah saat Adam menahan tangannya.
"Aku hari ini mungkin berangkat agak siang. Kamu aku yang anter ke sekolah ya."
"Nggak usah sayang, kan ada Pak Tono. Lagian aku ngerti kamu pasti capek kan semalem pulang malem," Selenia meremas lengan Adam lembut.
Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Adam semakin merasa tidak karuan. Andai saja bisa mengatakan yang sejujurnya.
"Memangnya kamu nggak suka aku anter kamu?"
Selenia tersenyum dan melepaskan tangannya dari genggaman Adam. "Bukannya aku nggak suka, kasian kamunya nanti bolak-balik nganter aku, pulang lagi, siap-siap, habis itu berangkat ngantor. Jadi mendingan nggak usah."
"Nggak pa-pa lagi. Ya... ya... ya... please," Adam terus memohon.
Mata selenia memicing dan bibirnya mengerucut gemas. Dia heran melihat tingkah Adam pagi ini dan akhirnya hanya mengangguk mengiyakan. "Ya udah deh, kalau memang kamu yang mau," ucapnya sembari berlalu menuju ruang makan.
Adam menghela nafas berat. Dia memandangi punggung Selenia yang kian menjauh, dengan rasa bersalah yang masih menyelimuti dirinya.
"Ayo buruan sarapan sayang...!" teriak Selenia dari ujung tangga.
...🌺🌺🌺...
Selenia tiba di sekolah, dan seperti biasa Cia sudah menunggu di luar pintu gerbang.
"Hati-hati ya," Adam mencium tangan kanan Selenia yang sejak mereka berangkat selalu dia genggam.
"Makasih ya udah anterin. Tapi jangan sampai kamu potong gaji Pak Tono lhooo, hanya karena pagi ini dia nggak nganter aku," gurau Selenia.
Adam tertawa. "Kamu bisa aja. Ya nggak mungkin lah aku ngelakuin itu. Ya udah buruan berangkat, tuh temen kamu udah nunggu," dia menunjuk ke luar. Kaca mobil mereka belum dibuka dan Selenia melihat Cia yang memasang tampang tidak sabar dari luar.
Begitu Selenia keluar, dan mobil Adam berlalu, Cia langsung menarik tangan Selenia membawanya ke lorong koridor. Tempat yang lumayan sepi dari perkumpulan anak-anak.
"Ih Cia lo apaan sih?" Selenia menghentakkan tangannya.
__ADS_1
"Semalem lo kemana aja sih nggak angkat telfon gue?" tanya Cia serius.
Selenia masih sempat menatap Cia beberapa saat sebelum mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ada 7 panggilan tak terjawab dan semuanya dari Cia.
"Ya ampun sorry banget. Gue udah tidur waktu itu jadi gue nggak denger kalau ada telfon," Selenia tertawa kecil. "Kenapa sih? Serius banget tampang lo?"
"Sel, gue mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Cia hati-hati.
"Ya udah ngomong aja Ci. Lo kaya sama siapa aja. Biasanya lo ngomong tinggal ngomong. Nggak perlu minta izin begini. Heran deh, lo kenapa jadi santun banget sama gue? Hihihi," Selenia terkikik. Pagi ini dia merasa bahagia dan berbunga-bunga atas perlakuan Adam.
Cia mengatur nafas sebelum memulai bicara.
"Kemaren.... gue.... liat Adam sama Renata di Greenosh," ucap Cia hati-hati.
Wajah Selenia seketika berubah datar. "M-maksud lo?" perasaan bahagaia di hatinya juga mendadak menciut.
"Iya, gue lihat mereka di sana. Lagi makan berdua. Only Adam and Renata," jawab Cia penuh penekanan.
Selenia terdiam. Dia tahu Cia tidak mungkin mengarang cerita. Tapi bukankah Adam bilang kalau seharian kemarin dia ssibuk meeting dan ketemu temen? Jadi temen itu maksudnya si Renata itu? Kalau memang itu benar, kenapa dia nggak jujur?
Jantung Selenia berdebar mendapati kenyataan bahwa Adam telah berbohong padanya. Pantas saja sikapnya pagi ini manis banget. Apa itu semua sengaja dia lakukan untuk membuatnya supaya tidak curiga? Benarkah?
Kalau nggak salah Selenia juga pernah membaca sebuah artikel. Disitu tertulis katanya kalau pasangan kita tiba-tiba bersikap sangat manis, artinya kita harus hati-hati. Karena bisa jadi ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan. Jadi apa benar Adam sedang berbohong? Dia sedang menyembunyikan sesuatu darinya? Dia kemarin seharian tidak meeting tapi kencan sama Renata!
"Jadi kan kemarin gue mampir Greenosh sepulang dari nganterin Aldo les," Cia memulai ceritanya. "Pas gue mau pulang, gue liat Adam masuk dong ke Greenosh. Tadinya gue kira dia sendiri, nggak tahunya sama Renata. Dan entah kenapa gue kepikiran aja buat keep on eye on them," sepanjang Cia bercerita, Selenia hanya diam dan mendengarkan. "Gue duduk lagi, gue cuekin tuh si Aldo yang berisik nanya kenapa nggak jadi pulang, karena gue kepikiran elo Sel!"
"I'm sorry to have to say but I think you should know this...." lanjut Cia lirih. Dia mulai tidak tega melihat Selenia yang tampak seperti ingin menangis. Mata sahabatnya itu berkaca-kaca.
"Menurut apa yang gue lihat, mereka akrab banget. Gue bukannya sok tahu atau apa ya Sel, tapi dari cara mereka ngobrol, gue menilai kalau dari bahasa tubuh mereka.... sorry kalau gue ngomongnya ketinggaan... they don't look like a Boss and secretary," Cia mengangkat kedua bahunya.
Air mata Selenia menetes tapi dia masih mencoba tidak terisak. Dia menghela nafas perlahan dan menyeka air mata itu dengan punggung tangannya.
Cia membantu Selenia menyeka air mata itu. "Tadinya gue nggak pengen cerita ini ke elo Sel, karena gue tahu lo pasti bakal kaya gini," dia mengusap-usap bahu Selenia.
"Tapi sorry...... banget. Gue nggak mungkin bisa diem aja kan? Gue yakin lo pasti nggak tahu kan Adam ngelakuin itu di belakang lo? Gue nggak mau ada orang yang nyakitin lo Sel, sekalipun itu suami lo sendiri."
"Tapi apa lo yakin ini nggak salah paham?" meski sakit, Selenia masih tidak ingin mempercayai bahwa itu terjadi. "Bisa aja kan mereka mungkin lagi ngobrolin pekerjaan dan...."
"Oh ya sama satu lagi," Cia memotong ucapan Selenia yang berusaha membantah pernyataannya sembari mengangkat telunjuk. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Gue tahu sulit buat lo percaya sama cerita gue, tapi sekarang gue mau nanya," Cia sibuk mengoperasikan ponselnya, mencari seuatu dari sana untuk ditunjukkan pada Selenia.
"Apa gue pernah bohong sama lo?" tanya Cia sebelum memperlihatkan layar ponselnya pada Selenia, dan Selenia menggeleng pasrah. "Gue juga ada ini," dia mengarahkan layar ponsel yang sedang memutar sebuah video di depan wajah Selenia.
Sebuah video berdurasi 2 menit yang menunjukkan kebersamaan Adam dan Renata di Greenosh. Disitu memang tidak terdengar jelas apa yang sedang mereka perbincangkan, tapi gerak-geriknya cukup jelas karena Cia meng-Zoom video itu. Cia memang bukan ahlinya pakar bahasa tubuh, tapi apa yang dia bilang tadi, sekarang baru bisa dipahami oleh Selenia setelah dia melihatnya sendiri. Di video itu Selenia melihat Renata menyeka bibir Adam menggunakan tisu dan kedua tangan mereka tampak saling berpegangan. Selenia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia hanya menangis dan membekap mulutnya sendiri. Jantungnya berdebar. Hatinya seperti dihujani dengan ribuan jarum yang sangat tajam.
__ADS_1
Cia menarik ponselnya kembali dan memeluk Selenia yang tampak rapuh. Ada setitik rasa sesal karena telah memberitahukan itu semua pada Selenia. Tapi harus bagaimana lagi? Dia tidak rela melihat Selenia dikhianati.
Cia melepaskan pelukannya dan kembali berbicara. "Oh ya ada lagi, kemaren pas gue pulang gue juga sempet liat Tony di emperan Greenosh. Tapi dia kayaknya nggak lihat gue karena gue keluar lewat pintu belakang. Gue liat dia dari parkiran, dia kayak ngawasin Adam. Gue nggak tahu ya alasan dia apa, tapi gue ngerasa kalau kayanya dia mencurigai Adam," untuk bagian ini Cia sendiri tidak begitu yakin dengan dugaannya dan cuma mengangkat bahu.
Selenia menghapus air matanya. Ingatannya melayang pada kejadian sore kemarin saat Tony tiba-tiba menghubungi dia dan menanyakan soal Adam. Apa ada hubungannya? Apa Tony tahu sesuatu?
Selenia tersenyum getir dan menyandarkan tubuhnya di tembok. "Thanks ya Ci," matanya menerawang menatap langit-langit lorong.
"Ternyata selama ini gue polos banget ya? gue juga bodoh," Selenia terkekeh di sela tangisnya, menertawai dirinya sendiri. "Gue pikir selama ini Adam beneran sayang sama gue, cinta sama gue, ternyata gue aja yang terlalu percaya diri. Ya kali dia jatuh cinta sama anak kecil kaya gue. Istri yang bahkan nggak bisa ngasih dia apapun. Gue sadar, dibandingkan sama Renata, gue memang nggak ada apa-apanya."
"Sssstttt.... Sel... jangan ngomong gitu dong," Cia menyahut. "Yaaah... pesen gue, lo kalau mau ngomongin masalah ini sama Adam, jangan pake emosi ya. Dan please... jangan bawa-bawa gue juga."
"Lo kirim aja video itu ke ponsel gue."
"Buat apa Sel? Lo nyimpen gituan cuma bikin hati lo sakit."
"Udah Ci, gue bilang kirim ya kirim aja...!" Selenia sedikit membentak.
Cia tertegun dan memandangi wajah Selenia beberapa saat sebelum akhirnya menuruti permintaannya.
Bel masuk kelas berbunyi setelah video itu berhasil terkirim ke ponsel Selenia. Mereka berdua berjalan menuju kelas dalam diam.
...🌺🌺🌺...
Tony berdiri mematung di ujung lorong, dengan kedua tangan yang disembunyikan di saku celana. Dia tersenyum kecut mendengar kenyataan yang membuat kepalanya berdenyut-denyut.
Pertama, ternyata benar Selenia memang sudah menikah. Kedua, dia turut merasa sakit melihat Selenia menangis saat mendengar cerita Cia tentang Adam yang bermain api di belakangnya.
Pagi itu Tony baru saja datang saat melihat Cia menarik tangan Selenia dan membawanya ke lorong koridor. Melihat tampang serius Cia, terbersit keinginannya untuk mengikuti mereka berdua dan mencari tahu apa yang terjadi.
Jadi apa sebenarnya maunya laki-laki itu? Kenapa dia nekat menikahi Selenia yang jelas-jelas masih sekolah kalau ternyata harus berselingkuh di belakang Selenia?
"Tony? Kenapa kamu berdiri di sini? Ngeliatin apaan sih?" suara cempreng tiba-tiba mengagetkan Tony dari belakang.
Tony memutar tubuh dan mendapati Lala sudah berdiri di dekatnya.
"Nggak pa-pa kok. Kamu baru berangkat?"
Lala mengangguk riang. "Udah bel kan? Yuk ke kelas bareng," ajaknya penuh percaya diri.
Tony mendesis lirih. Dia lalu mengangguk dan berbalik kemudian berjalan mendahului Lala menuju kelasnya.
"Eh, Tony tunggu. Jangan ditinggal dong!" rengek Lala sok imut sembari bergegas mengikuti Tony.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...