NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -53-


__ADS_3

Tony seharusnya ke sekolah pagi itu. Tapi entah kenapa saat melewati pertigaan, dia yang seharusnya belok ke kanan, malah belok ke kiri dan menarik gasnya menambah kecepatan menaiki jalanan yang menanjak.


Bukit cinta.


Satu-satunya alasan kenapa dia nekat bolos sekolah hari ini. Semenjak melihat foto-foto Cia waktu itu, keinginannya untuk datang lagi ke tempat ini begitu kuat. Tempat yang menyimpan banyak kenangan masa kecil, seolah melambai-lambai dalam benaknya untuk minta didatangi.


Setelah memarkir motornya di tepi jalan, Tony kemudian berjalan ke arah pagar pembatas dan berdiri di sana. Matanya lurus memandang ke bawah, ke suasana kota yang tampak sibuk.


Flashback on,


"Wah!! Bagus banget Mah!! Horeeeee... aku suka Ma... besok kita ke sini lagi yaaaa...!" pekik Tony kecil saat pertama kali Mamanya membawa dia kemari.


"Kamu suka?" Mama Tony memeluk Tony kecil dari belakang. "Indah kan?"


"Bagus banget!" Tony kecil masih menikmati ketakjubannya menyaksikan real miniatur di hadapannya.


Dan akhirnya pada saat itu mereka menikmati keindahan kota dari atas bukit sampai waktu sore tiba.


Flashback Off.


Bibir Tony tersungging membentuk senyum tipis. Saat ini dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Dia tidak tahu apakah dia sedang merindukan Ibunya atau tidak. Yang dia tahu hanya.... dia merasa nyaman saat berada di tempat ini.


"Lo bolos sekolah?" sebuah suara mengagetkan Tony dan membuyarkan lamunannya.


Dia menoleh dan mendapati Marvin sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Sebuah kamera DSLR menggantung di leher anak itu.


"Elo? Lo ngapain di sini?" Tony balik bertanya.


Marvin tersenyum simpul dan berjalan mendekat. "Harusnya gue yang nanya, lo harusnya sekolah kan? terus ngapain malah di sini?"


"Lagi males aja," jawabnya ringan.


Marvin mendesis. Sebuah alasan yang menurutnya tidak masuk akal. Bolos sekolah karena lagi males.


"Kebiasaan lama lo nggak ilang juga ya? Heran gue sama lo," ujar Marvin. Dia lantas berdiri di sebelah Tony.


"Lo sendiri ngapain ke sini?" tanya Tony lagi.


"Tadinya gue gak pengen ke sini," jawab Marvin datar. "Terus nggak sengaja liat lo lewat, gue pikir lo ke sekolah. Eh ternyata malah belok ke sini. Gue ikutin deh," imbuhnya.


"Hhhhh... jangan bilang lo ngintilin gue," candanya.


"Wajah lo masem, malah ke tempat ginian lagi," Marvin menepuk punggung Tony. "Gue khawatir aja lo nekat."


"Eh anjrit lo," Tony menonjok bahu Marvin pelan. "Hidup cuma sekali bro, lo pikir mati enak?"


Marvin tertawa. "Bisa aja lo," dia membungkuk dan mengarahkan kamera pada satu objek di depannya.


Tony melirik, memperhatikan gerakan Marvin yang tampak dengan lincah memotret. Temannya itu memang terkenal jago dalam hal fotografi. Waktu SMA dia pernah dipercaya menjadi jurnalis sekolah yang mengurusi berita bulanan untuk dipajang di mading sekolah. Dan tentu saja dia menjadi kangpoto di sana.


"Bibir lo bisa senyum, tapi mata lo nggak bisa bohong," ucap Marvin.


Tony terhenyak. Dia menatap Marvin sekilas. "Apaan sih lo."


"Serius deh. Lo kenapa sih? Lo sadar nggak sih, pas mabar lo juga sering kalah. Padahal lo kan nggak noob noob amat," Marvin memang belum lama ini kembali aktif di dunia game online, dan sering mabar bareng Tony dan lainnya di sana.


Tony terdiam. Dia menerawang jauh ke pemandangan di hadapannya. Sebuah pesawat terbang melintas dan meninggalkan suara bising di telinga. Beberapa hari ini memang banyak sekali hal-hal yang hinggap di otaknya. Mulai dari Selenia yang ternyata 'mungkin' telah menikah, dan bayang-bayang Ibunya yang kembali merasuki pikirannya.


"Vin," ucap Tony kemudian. Dia menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas menghadap ke arah Marvin. "Salah nggak sih kalau gue marah sama nyokap gue?"


Kening Marvin mengerut. Dia tahu bagaimana hubungan Tony dengan Ibunya. Tony pernah cerita padanya saat itu, di ulang tahunnya yang ke 16, dia pernah sangat berharap Ibunya hadir. Tapi sayang, harapan itu tidak pernah terjadi. Marvin pernah melihat kekecewaan itu. Kekecewaan yang sekarang juga tampak jelas di matanya.


"Lo punya alasan untuk marah," jawab Marvin mengingat bagaimana hubungan Tony dan Ibunya. "Tapi jangan sampai kemarahan lo ngebuat lo nyesel suatu hari nanti. Oh ya, kalau boleh tahu kapan sih terakhir kali lo ketemu nyokap lo?"


Tony menggeleng pelan. Dia tersenyum getir karena dia sendiri sebenarnya sudah lupa kapan terakhir kali bertemu Ibunya.


"Gue lupa. Mungkin sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, pas gue masih SD kalau nggak salah. Nyokap gue temuin bokap gue dan ngasih tahu kalau dia mau nikah lagi."


"Terus, lo dateng ke pernikahan itu?"


Tony menggeleng lagi.


Marvin meremas bahu Tony pelan. "Mungkin waktu kejadian itu lo masih kecil dan lo belum ngerti apa-apa. Tapi sekarang seenggaknya lo udah bisa mikir kan apa yang bisa lo lakuin dan yang terbaik buat semuanya?"


"Itu dia masalahnya Vin," sahut Tony.


"Maksud lo?"


"Gue sendiri juga nggak ngerti apa yang sekarang gue rasain. Gue emang marah sama nyokap gue karena udah ninggalin gue. Tapi di hati gue yang paling dalam, kadang gue juga ngerasa kangen sama dia," Tony menengadahkan wajahnya ke langit.


"She's your Mom, bro," Marvin tersenyum. "Wajar lo ngerasa kaya gitu. Secara lo pernah dikandung dia selama 9 bulan, dirawat sama dia sampai..."


"Sampai dia ketemu dengan laki-laki idamannya, dan sejak saat itulah gue udah nggak ada artinya di mata Nyokap gue," potong Tony cepat. Dia tersenyum getir setelah mengatakan itu.


Marvin terdiam. Dia tidak mau mendebat hal itu. Apalagi dia tidak berada di posisi Tony yang secara logika, dia tahu itu menyakitkan.


"Dia nggak inget ulang tahun gue, dia nggak pernah lagi dateng ke ultah gue sejak nikah lagi, dan sekarang gue juga nggak tahu dia tinggal di mana," Tony memutar tubuh dan membungkuk menopangkan kedua sikunya pada pagar pembatas.


Marvin menghela nafas. "Seandainya lo dipertemukan lagi sama Nyokap lo, apa yang bakal lo lakuin?"


"Gue nggak ngerti," jawab Tony datar.


"Gue nggak nyalahin lo atau Nyokap lo ya Ton," kata Marvin kemudian. "Gue percaya, Nyokap lo sebenarnya sayang banget sama lo. Cuma takdir aja yang bikin kalian terpisah dan kalian belum ditakdirkan ketemu lagi. That's it."


"Alah bulshit. Takdir apa sih Vin? Kalau emang nyokap gue sayang sama gue, inget sama gue, apapun caranya dia pasti dateng temuin gue. Rumah gue juga nggak pernah pindah dari jaman gue kecil," bantah Tony.


"Ya itu yang gue bilang tadi Ton," Marvin menyela. "Itu yang namanya takdir. Kita kan nggak pernah tahu apa yang bakal terjadi sama hidup kita ke depannya."


"Ah udahlah Vin," Tony menepiskan tangan. "Nggak usah bahas itu. Nggak usah bahas nyokap gue."


Marvin mengangguk. Dia merangkul pundak Tony bermaksud menguatkan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.


"By the way, gimana hubungan lo sama Cia?" Tony mengalihkan pembicaraan.


Marvin melepaskan rangkulannya mendengar pertanyaan itu. "Maksud lo?"


"Hmmm," Tony melirik Marvin dengan ekor matanya. "Nggak usah pura-pura bloon deh. Lo pernah ke sini kan sama dia?"


"Y-ya iya... emang g-gue pernah kesini... sama dia..." Marvin tampak mulai gugup. "Kok lo bisa tahu? Lo ngikutin kita?"


"Bukan kerjaan gue suka ngikutin orang kali," ujar Tony sedikit mencibirkan bibirnya.


"Ah gila lo malah nyindir gue," Marvin menonjok bahu Tony pelan.


Tony terkekeh. "Lo beneran suka sama dia?"


Marvin mengangkat kedua bahunya.


"Lhaah?? Lo gimana sih? sama perasaan sendiri nggak peka." Tony meledek. "Tembak aja udah, biar tahun baru lo nggak kesepian."


"Kaya lo punya gebetan aja buat tahun baruan," Marvin mencibir.


"Gue mah ada acara. Mabar sama anak-anak," Tony menjulurkan lidah.


Marvin menyandarkan kedua tangannya ke pagar pembatas. "Nggak tahu lah Ton. Gue cuma nggak mau terlalu percaya diri aja. Entar ujung-ujungnya sakit."


"Jadi kesimpulannya lo suka sama dia."


"Gue nyaman sih sama dia," ujar Marvin sembari memulai mengarahkan kameranya lagi pada objek tertentu. "Cia tu anaknya santai, asyik diajak ngobrol, diajak jalan juga enjoy. Dan yang bikin gue seneng, dia tu pandai menempatkan diri."


Tony menepuk pundak Marvin. "Woey... jangan berputar-putar kenapa?" potongnya. "Seneng ya seneng aja kali. Fix lo tu suka sama Cia."


"Eh gila lo kamera gue hampir jatoh o'on!" Marvin dengan gesit mendekap kameranya.


"Dan gue rasa Cia juga suka sama lo. Kenapa kalian nggak jadian aja sih?" celetuk Tony.


"Hah?!" Marvin menatap Tony yang tampak memainkan manik matanya. "Ah udah lo jangan bikin gue GR. Kaya paranormal aja lo nebak-nebak."


"Siapa sih yang mau bikin lo GR hah?"


"Udah lah, nggak usah bahas itu dulu. Gue belom siap," Marvin menandaskan. "Gue mau cari yang indah-indah dulu." katanya dan kembali memotret ke beberapa objek pemandangan di sekeliling bukit.

__ADS_1


"Hmmm," Tony mencibir. "Kalau begitu lo boleh fotoin gue juga," dia mengacungkan kedua jari peacenya sembari menjulurkan lidah.


"Dihhh!" desis Marvin dan menjepretkan satu splash ke arah Tony dengan asal.


...🌺🌺🌺...


Pak Anton tiba di kantor saat Adam dan Renata baru saja keluar dari ruang meeting.


"Dam, ikut saya ke ruangan ya," ajaknya sambil terus berjalan.


Adam dan Renata saling tatap heran. Pak Anton sepertinya serius banget?


"Kamu duduk dulu. Saya mau nanya sesuatu sama kamu," pinta Pak Anton saat Adam memasuki ruangannya sembari mengeluarkan beberapa map dari dalam tas.


Adam menuruti perintah. Dia duduk dengan tampang bingung.


"Ini lho, saya mau nanya sama kamu soal...." Pak Anton membuka map bersampul coklat dengan teliti dan seketika matanya membulat. Kok bisa sih? Dia menggaruk-garuk kepalanya.


"Soal.... apa ya Pak?" tanya Adam karena Pak Anton tak kunjung berbicara.


Pak Anton menatap ke arah Adam dan tersenyum kecut. Tadinya dia mau menanyakan ke Adam soal CV yang sempat hilang dari mapnya semalam, tapi entah kenapa pagi ini CV itu dia lihat ada di dalam map. Apa semalam aku kurang teliti ya? Pikirnya.


"Oh, nggak jadi Dam. Maaf sudah ganggu waktu kamu. Kamu bisa kembali ke ruangan kamu sekarang," ujar Pak Anton kemudian.


(Padahal sebenarnya yang terjadi adalah, CV itu awalnya memang diambil oleh Tony, lalu dikembalikan diam-diam tanpa sepengetahuan Pak Anton.)


Adam mengerutkan kening, menatap bosnya yang tampak linglung membuka isi map berulang-ulang. Ada apa sih? gumamnya sembari berlalu meninggalkan ruangan Pak Anton.


...🌺🌺🌺...


"Apa?!! hahahaha... kenapa bisa gitu sih Dam? hahahaha..." Selenia tidak bisa berhenti tertawa mendengar cerita Adam tentang Pak Anton. "Bos kamu mulai pikun deh kayaknya."


"Eh nggak boleh ngatain orang tua," Adam menepuk bibir Selenia lembut. "Iya makanya itu aku juga bingung. Jadi tiba-tiba aku diminta datang ke ruangannya kan, trus Pak Anton buka-buka map, habis itu udah aku disuruh keluar lagi....."


"Aduuuuh... aneh banget," Selenia memegangi perutnya. "Ada-ada aja."


Malam itu, setelah makan malam mereka bercengkerama di teras samping, di tepi kolam sambil merendam kaki mereka ke dalam kolam. Adam merangkul pinggang Selenia dengan mesra dan bercerita tentang perjalanan hidup mereka dari awal menikah sampai hari ini. Selenia hanya mendengar dan sesekali terkikik saat Adam mulai membicarakan sikap-sikapnya dulu.


"Beneran Sel. Aku tuh sampai bingung gimana caranya biar kita bisa ngobrol, trus gimana caranya biar kita bisa deket sebagai pasangan, tapi kaya sia-sia aja usahaku. Kamu tuh cuuuueeek banget," tutur Adam.


"Aku tuh bukannya cuek, Dam. Tapi waktu itu aku malu. Aku juga bingung aja sama status aku yang tiba-tiba berubah dalam sekejap." Selenia menyandarkan kepalanya ke bahu Adam. "Menjadi seorang istri dari laki-laki yang sebelumnya sama sekali nggak pernah aku kenal kepribadiannya. Jadi kan aku bingung harus bersikap gimana."


"Bukan cuma kamu yang kaget Sel. Aku juga. Apalagi posisiku waktu itu baru aja putus sama pacar..."


Selenia mendongakkan kepala mendengar ungkapan itu. "Ehmm... ada yang lagi nostalgia nih," cibirnya.


Adam menunduk, memperhatikan wajah Selenia yang tampak lucu. "Ehmmmm... ada yang lagi cemburu juga nih," balasnya.


Selenia sontak menarik kepalanya dari sandaran di bahu kekar tersebut. "Diiih... apaan sih?!" dia mencubit lengan Adam.


"Aduh!" Adam kembali menarik kepala Selenia dan mendekap di dadanya. "Stop jangan ngajak debat. Kita kan lagi sama-sama cerita masa lalu."


"Oke lanjut," Selenia memeluk tubuh Adam.


Adam kembali bercerita. Malam itu mereka terlihat begitu dekat satu sama lain.


"Oke, sekarang aku mau nanya, tapi jawab jujur ya?" Selenia duduk menghadap ke Adam, dan menyilangkan kakinya.


Adam mengangguk dan tersenyum manis. "Apa?"


"Dulu pas kita nikah, kamu cinta nggak sih sama aku?" tanya Selenia.


"Ya jelas enggak lah," jawab Adam cepat dan seketika membuat Selenia memberengut. "Kita kan nggak begitu saling kenal awalnya sayang," lanjutnya sembari mentowel hidung Selenia.


Selenia manggut-manggut. "Oke... oke... I know that. Terus sekarang gimana?"


"Maksudnya?"


"Cinta enggak?"


"Hmmmppfffhhhh....!" Adam merapatkan bibir menahan tawa. Jadi Selenia butuh pengakuan?


Adam masih merapatkan bibirnya dan menatap Selenia sembari memainkan manik matanya. "Kenapa sih kok nanyanya gitu?" tanya Adam lembut.


"Aku nanya, jawab aja ya atau enggak?"


"Kalau aku jawab enggak?"


Selenia kembali memberengut dan menyilangkan kedua tangannya. Namun entah kenapa sikap Selenia itu justru membuat Adam berbunga-bunga. Itu artinya Selenia nggak suka dengan jawabannya kan?


Adam tersenyum lebar melihat sikap Selenia. Dia lalu memutar tubuh Selenia kembali menghadap kolam dan mendekapnya erat.


"Kamu nggak perlu nanya seperti itu sayang. Udah jelas jawabannya pasti iya. So much!"


"Kenapa?" tanya Selenia lirih.


"Kenapa kamu masih terus nanya? Kamu nggak percaya sama aku?"


"Bukannya nggak percaya. Aku cuma takut kalau nanti bakalan bikin kamu kecewa."


"Kalau aku kecewa, aku nggak akan bertahan sampai sekarang Sel. Kamu tahu nggak sih apa sebenarnya aku rasain sekarang?"


Selenia mendongak, menatap dagu Adam yang tepat berada di atasnya. "Apa?"


Adam menunduk dan tatapan mereka bertemu. "Aku takut kehilangan kamu. Takuuut banget."


Jantung Selenia berdebar mendengar ungkapan itu. Dia merasakan ketulusan dari nada bicara Adam.


Adam sendiri mungkin tidak pernah tahu, kalau Selenia juga merasakan hal yang sama--takut kehilangan--karena selama ini dia merasa belum bisa menjadi istri yang baik. Selenia melingkarkan tangannya ke pinggang Adam dan mengunci dengan kaitan jemarinya.


"Aku mau nanya satu lagi boleh?"


"Boleh dong. Apa sih?"


"Kamu kenapa mutualan sama Renata di IG?"


"Memangnya kenapa?"


"Kamu sadar nggak sih? username dia tuh ada singkatan nama kamu juga," Selenia menarik diri dari tubuh Adam.


"Emang username dia apa?"


"renanola_adm."


"Adm? Emang itu singkatan namaku?"


"Ya coba kamu pikir sendiri deh," Selenia kembali memberengut. "Diiiihh! Aku nggak suka."


"Ya ampun sayang, itu kan cuma username IG. Biarin aja kenapa sih? Mau dia pakek nama apa juga hak dia."


"Jadi kamu belain dia?"


Kening Adam mengerut. Nah Lho? Apa lagi ini?


"Belain apa sih? Hmmmm, aku jadi bingung deh kalau kamu mulai ngebahas yang nggak penting gini."


"Ini penting Adam. Aku tahu dia suka sama kamu."


"Tahu dari mana?"


"Kelihatan dari cara dia bersikap di depan kamu."


Adam menghela nafas panjang. "Ya ampun Selenia... sayangku.... istrikuuuu.... jangan mikir yang aneh-aneh kenapa sih?"


"Tapi kan tiap hari kamu ketemu dia, kamu kerja sama dia, kan aku takut kalau kalian lama-lama..."


"Lama-lama apa?" sahut Adam. "Udah deh nggak usah mikir yang aneh-aneh. Aku nggak mau berantem sama kamu cuma gara-gara hal-hal yang nggak penting dan nggak jelas kaya gini lho."


"Kalau penting dan jelas?"


Ya Tuhan, inikah yang dinamakan makhluk dunia paling unik?

__ADS_1


"Sel udah dong. Jangan rusak suasana deh..."


"Aku bukan ngerusak suasana, Dam. Aku butuh kejelasan, kenapa kamu mutualan sama dia segala?"


"Sayang, astaga. Itu cuma sosmed. Dunia maya. Sosmed sayaaaang. Dunia nyataku itu kamuuu..." jawab Adam gemas sembari meremas tangan Selenia lembut.


"Ya tapi kan biasanya yang dari dunia maya bisa..."


Sebelum Selenia melanjutkan kalimatnya, Adam sudah terlebih dahulu menarik Selenia membawa ke pelukannya.


"Udah stop. Ini nggak penting untuk dibicarakan, titik!"


Selenia terkikik. Dia geli melihat Adam yang tampak putus asa dengan pertanyaan yang sengaja dia lontarkan untuk memancing reaksinya.


"Emang bener ya, ternyata..." lanjut Adam lagi.


"Apa?" potong Selenia.


"Kalau perempuan itu adalah-makhluk-yang-tidak-mau-kalah," ujar Adam menegaskan setiap suku katanya.


Selenia menarik diri lagi dari dekapan Adam. "Jadi maksud kamu aku kaya gitu juga?" bibirnya mengerucut.


"Barusan apa coba? Ngebahas yang nggak penting kan?"


"Bukan berarti aku orangnya nggak mau ngalah juga."


"Nggak mau ngalah 45%, seneng ajak debat kusir 55%."


"Ihhh nggak nggak nggak!" Selenia makin merajuk dan memberut.


Adam terkekeh dan mendekap Selenia lagi. Selenia berusaha melepaskan diri tapi Adam justru mendekapnya lebih erat sampai dia tidak bisa memberontak.


"Ya udah kalau gitu 45%, nggak mau ngalah."


"Ihh lagian mana ada cewek mau ngalah sama cowok. Tapi aku nggak sebanyak itu juga kali."


Adam mencibir. "Hmmm... ya udah 35%?"


"Dihh enggak! Nggak ada sebanyak itu."


"Ya udah iyaaa..... kalau gitu 25% deh," Adam terus menawar.


"Iihhh..." Selenia berusaha menarik dirinya lagi tapi gagal. "Apaan sih Adaaam??"


"20%."


"Nggak."


"10%."


"Nggak."


"Oke 5%, itu udah paling sedikit lho, nggak mungkin juga kan kalau kamu...."


"Ih nyebelin!"


Selenia mencubit paha Adam kecil dan keras sehingga membuat Adam terkejut dan berjingkat. Ditambah posisi mereka yang sedang duduk dipinggir kolam, membuat keduanya otomatis langsung tercebur ke dalamnya.


"Haaaaaahh.... yhaaaaa Adaaaaaam.... aku kan udah mandi tadi soreeeee!!!" teriak Selenia.


"Ampuuun ma'af maaaaf," Adam terbahak. "Makanya jangan dikit-dikit nyubit dong. Kaget kan?"


"Kamu yang mulai tuh," Selenia mencubit paha adam lagi di dalam air.


"Auuhh...! Tuh kan, dibilang nggak mau kalah nggak mau," Adam mengusap-usap pahanya. "Nyubit lagi... nyubit lagi."


"Heeeeeeee..... ih kamu niii....!" Selenia memukul-mukul dada Adam pelan yang langsung dengan sigap ditahan oleh Adam.


"Udah stop!" Adam mengunci lengan Selenia dengan tangannya.


Mereka sama-sama terdiam. Bibir Selenia bergetar menahan dingin. Dia ingin segera bergerak menepi tapi terus ditahan oleh Adam.


"Dingin Daam," Selenia mendesis. "Aku mau ganti baju."


Adam tidak merespon keluhan Selenia. Dia justru menatap mata istrinya itu lekat-lekat dan mengangkat dagunya.


Selenia tidak bergeming. Dia menatap wajah suaminya sembari menahan dingin yang perlahan memudar ketika tatapan mereka bertemu.


Adam kenapa keren banget kalau rambutnya basah gini? Batin Selenia.


Adam semakin merapatkan tubuh Selenia ke tubuhnya hingga tanpa jarak. Dan auuh... Selenia merasakan sesuatu yang keras menyentuh perutnya. Selenia menggigit bibir. Nggak... nggak... nggak...! Otaknya mulai travelling.


"Kenapa?" bisik Adam.


Selenia cuma bisa menggeleng. Dia sebenarnya tahu harus jawab apa, tapi aneh aja rasanya kalau ngomong langsung di depan Adam.


"Hmmmmpfffhhhh....." tawa Adam pecah di tengah suasana yang seharusnya romantis. "Maaf, bukan mau aku tapi... cowok normal memang begitu kan?"


Selenia mengatupkan bibir, menahan senyum karena mendadak merasa malu dan tidak percaya diri. Belum pernah dia ngomongin 'soal itu' sama Adam.


"Makanya cepet lulus dong sayang. Biar kita..."


"Ihhhh apaan sih??!" Selenia meremas lengan Adam. "Ah udah ah aku mau ganti baju. Bisa mati kedinginan aku lama-lama di sini," dia mulai beringsut dan menepi.


Tapi Adam tidak membiarkan Selenia pergi begitu saja. Saat Selenia berhasil naik ke tepian kolam, dia buru-buru menyusul lalu dengan sigap langsung membopong Selenia.


"Eehhh Adam! Lepasiin, ihhhh!!"


Adam tidak mempedulikan teriakan itu, dia terus menggendong Selenia membawanya ke lantai atas dan menurunkannya di depan kamar. Dia lalu merapatkan tubuh Selenia ke tembok. Nafsunya tidak terbendung lagi.


"I'm yours, please jangan pernah tinggalin aku Sel," bisik Adam lirih namun penuh kepastian. Keningnya menempel ke kening Selenia.


Hati Selenia tersentuh mendengarnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali membalas tatapan mata suaminya yang hanya berjarak sekitar 1 cm dari matanya. Perasaannya turut bergemuruh.


"Aku juga nggak mau kehilangan kamu Dam. Kita bakalan sama-sama terus kan?" bibir Selenia bergetar. Ini bukan karena menahan dingin lagi, tapi karena rasa haru.


"Pasti," jawab Adam mantap. "Pasti sayang," dia menangkup wajah Selenia dengan kedua tangannya.


Segera setelah itu, Adam langsung mencium bibir Selenia. Menikmati moment romantis dalam keadaan sama-sama basah. Selenia membalas ciuman itu. Dia melingkarkan kedua tangannya ke leher Adam dan sesekali menjambak rambutnya.


Tentu saja hal itu membuat adrenalin Adam semakin terpacu. Tangannya meraba gagang pintu kamar Selenia dan membukanya. Mereka masih berciuman sampai tanpa sadar sudah berada di dalam kamar dan ciuman mereka terhenti.


Selenia celingukan di dalam kamarnya sendiri. Dia melihat Adam mulai melucuti pakainnya sendiri dan hanya menyisakan underwear di tubuhnya. Jantung Selenia memburu melihat tubuh gempal di hadapannya. Tubuh yang pasti begitu diidam-idamkan banyak wanita. Tak terkecuali Renata. Oh shit! Kenapa juga perempuan itu harus muncul di otaknya dalam situasi seperti ini?! Adam itu milikku!


Adam merapatkan tubuhnya ke Selenia yang masih diam di tempat. Tangannya meraba setiap senti wajah Selenia dan kembali mencium bibir mungil itu dengan mesra. Selenia pun kembali merespon ciuman Adam. Tangan Adam bergerak ke bawah, meraba setiap jengkal tubuh Selenia dan perlahan mulai menyingkap baju basahnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Adam melakukan itu. Begitu pakaian Selenia berhasil dilepas, dia merebahkan tubuh Selenia di atas tempat tidur, menindih dengan tubuhnya. Mereka sama-sama dibakar nafsu. Ciuman yang mereka lakukan hampir tanpa jeda.


"Sayang, apa kita bisa melakukannya sekarang?" bisik Adam lirih saat ciuman mereka berhenti.


Nafas Selenia masih memburu. Dia menatap wajah menawan di atasnya dan hanya bisa menggangguk pasrah.


Kening Adam mengernyit mendapat jawaban itu. Dia masih belum percaya. Meski dirinya juga sedang dibakar nafsu, tapi dia masih ingat apa yang pernah dipesan orang tua mereka, terutama Ayah Selenia.


"Kamu serius?" tanya Adam memastikan. "Kamu nggak akan nyesel kan?"


"Memangnya kamu berniat buat bikin aku nyesel?" Selenia balik bertanya.


"Nggak mungkin," bisiknya. "Kamu istriku kan?"


"Kalau begitu kenapa kamu harus nanya seperti itu?"


Adam tersenyum dan melonggarkan himpitannya. Dia tidur dengan posisi miring dan menopang kepalanya menggunakan tangan. Dia membelai rambut Selenia lembut dan mencium kening, pipi, hidung serta bibirnya. Adam merasakan dirinya seperti melambung di atas awan. Dia bahagia. Dia tidak pernah menyangka akan secepat ini. Tanpa paksaan dan melakukannya pure karena mereka sudah sama-sama saling cinta. Tidak ada yang salah kan hanya karena Selenia masih SMA? Toh ikatan mereka sudah suci.


Dengan gemas dia mulai menciumi setiap jengkal tubuh istrinya, menciptakan kenikmatan surga dunia yang hanya bisa diterima Selenia dengan pasrah. Pasrah bukan karena tidak bisa memberontak. Namun karena dia sudah rela memberikan miliknya yang berharga untuk suaminya.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


...Maaf yaaa part ini panjang 🙈. Aku gemeshh!!...

__ADS_1


__ADS_2