
Adam terbangun saat mendengar suara berisik dari arah dapur. Belum sampai membuka mata dia sudah tahu kalau itu pasti kerjaan Selenia. Dia tersenyum mengingat kejadian semalam. Puncak keromantisan yang membuatnya melambung ke atas awan. Olahraga malam ini membuat bangun paginya terasa lebih rileks. Pengalaman pertamanya memadu kasih dengan Selenia benar-benar di luar dugaannya. Luar biasa!
Adam melihat tempat kosong di sebelahnya dan tersenyum. Tempat tidur Selenia sudah seperti kapal pecah (ups!)
"Auuu!!" terdengar pekikan dari arah dapur yang seketika langsung membuat Adam bangkit. Dia menyabet apa saja dari gantungan baju milik Selenia untuk membalut tubuhnya yang masih telanjang.
"Sel...!" Adam tergesa-gesa menuruni tangga. Dia melihat Selenia sedang berdiri di depan meja makan sambil menggenggam jari telunjuknya. Tampak darah merembes dari sela-sela jari Selenia. "Ya ampun kamu kenapa sayang?"
Selenia nyengir menahan perih. Barusan dia memotong sayur dan tidak sengaja melukai jarinya.
"Coba sini-sini," Adam menarik jari Selenia yang terluka kemudian menyedot dengan bibirnya.
Selain menahan sakit, Selenia juga harus menahan geli begitu menyadari apa yang sedang di kenakan Adam. Dia memakai kimono handuk miliknya yang bermotif hello kitty! Kimono yang juga tidak menutup tubuh Adam secara sempurna, tentu saja karena memang bukan sizenya.
"Auuuhhh.... udah Dam," desis Selenia. Adam melepaskan jari Selenia dari mulutnya yang sudah tidak lagi mengeluarkan darah.
"Jangan ngetawain apa yang aku pakek ya," Adam menyadari istrinya tengah menahan senyum melihat ke arahnya. "Hmmm, tadi aku panik denger kamu teriak."
"Iya tapi kamu pake hello kitty jadi lucuu," Selenia terkikik.
Adam menunduk melihat tubuhnya sendiri. "Ukuran kamu kecil juga ya ternyata," celetuknya sambil memainkan manik mata.
Selenia melotot. Ada dua makna yang terlintas di kepalanya mendengar ungkapan itu.
"Apaan sih," bibir Selenia memberut.
Adam menggeleng. "Ehhehehe... enggak kok," dia langsung mendekap tubuh Selenia erat.
"Iiiih jawab dulu! Maksud kamu yang kecil apa?"
Adam terkikik. "Kimono kamu lah. Memangnya apa?"
Selenia meremas pinggang Adam. "Iya tahu tapi kan nggak harus main mata juga," protesnya. "Otakku jadi travelling tau."
"Oooh... jadi ada yang mulai paham ni?" Adam menggoda.
"Aku kan udah 17 tahun Adam," Selenia tak mau kalah. "Dari SMP juga udah ada pelajaran biologi," gerutunya beralibi.
"Beneran? Dijelasin soal itu juga? Yang kaya kita semalam..."
Belum sampai Adam selesai ngomong, Selenia sudah menyikut perut Adam. "Ihhhh Adaaam!"
Adam tertawa melihat Selenia yang tampak malu-malu. Pak Tono yang tiba-tiba muncul dari arah garasi, kaget melihat kemesraan mereka berdua. Dia justru salting sendiri dan akhirnya memutuskan untuk putar balik keluar. Tentu saja hal itu juga membuat Adam dan Selenia kaget tapi juga geli. Mereka sama-sama tertawa begitu Pak Tono menghilang di balik pintu.
"Dam, jangan gitu ah. Nanti kalau Pak Tono laporan sama Ayah gimana?"
"Logikanya, kenapa Pak Tono harus ngomong sama Ayah? Kita kan memang suami istri. Pak Tono tahu itu."
"Tapi kan Ayah bilang..."
"Ssssttt, udah... jangan rusak suasana dong sayang. Kamu selalu overthinking deh."
Selenia cuma mengerling. Adam melepaskan dekapannya dan membiarkan istrinya itu kembali melanjutkan memasak. Pagi ini Selenia memilih box berisi bahan olahan rica-rica ayam dan omelette sayur.
"Memangnya kamu nggak capek ya sayang?" Adam menarik kursi makan dan menghempaskan bokongnya.
"Aku harus masak buat sarapan kamu Dam, Bibik kan lagi nggak ada," sahut Selenia tanpa menoleh.
"Kalau kamu capak aku juga nggak maksa sayang, kan aku bisa makan di luar."
"Nggak... nggak... nggak," Selenia menyendok sedikit masakannya dan mencicipi. "Apa gunanya bibik sediain semuanya di kulkas, aku kan tinggal ngolah doang. Sama aja kaya masak mie instan."
"Tapi kan semalem kita 'mainnya' nggak cuma sekali. Aku takut kamu..."
Selenia berputar dan mengangkat spatula di tangannya. Matanya melotot tapi bibirnya terlihat menahan senyum. Tanpa dia sadari pipinya sudah semerah kepiting rebus. It's okay soal semalam, tapi kalau Adam membahasnya lagi pagi ini, disaat nafsunya sedang tidak membara seperti semalam, rasanya aneh.
Adam mengatupkan bibir. "Hehehe... jangan lempar spatulanya please," kedua tangannya menangkup seperti memohon.
Selenia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan kembali berkutat dengan masakannya. "Udah, kamu buruan mandi sana. Terus nanti sarapan," ujar Selenia. "Lagian emang kamu nyaman pake kimono nggak muat gitu?"
Adam melirik jam dinding. "Bentar lagi deh, baru juga jam segini," baru jam 5.20 menit.
Selenia menarik nafas dalam-dalam. Kenapa Adam yang biasanya disiplin jadi gelendotan gini?
"Mandi sayang, biar seger," ucapnya sepelan mungkin sembari memasukkan bumbu rica-rica sesuai resep yang ditulis Bu Iyah. Jadi di dalam setiap box itu ada tata cara memasaknya juga. Bi Iyah memang benar-benar ART siaga.
Adam bangkit dari kursinya dengan semangat. "Apa??? Coba sekali lagi aku pengen denger," dia bergerak cepat ke arah Selenia dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Aduh," Selenia terkejut dipeluk tiba-tiba seperti itu. "Adaaam jangan gitu dong, aku lagi masak niiih nanti gosong kalau kamu gangguin teruuus."
"Nggak mau mandi," Adam merajuk. "Tadi kamu manggilnya nggak gitu kok."
"Hmmmm, mandi sana."
"Nggak mau. Manggilnya jangan gitu dong."
Selenia meletakkan spatula dan memutar tubuhnya menghadap Adam. Dia menyentuh kimono yang dipakai Adam menggunakan telunjuk dan jempol kirinya sementara tangan kanannya menutup hidung, pura-pura menahan bau.
"Mandi sayang, kamu bau."
Adam melepaskan pelukannya. "Hmmm... tapi suka kaaaan?" godanya.
"Isshhh.... udah buruan sanaaaa," Selenia mendorong tubuh Adam.
"Sayang," Adam menahan lengan Selenia sekaligus mengecilkan api kompor. "Makasih ya," dia tersenyum manis banget.
Selenia paham maksud dari kata terimakasih tersebut. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Love you," Adam memeluk Selenia sebentar, mencium keningnya lalu bergegas ke kamarnya
"Love you too," balas Selenia yang sudah tidak didengar lagi oleh Adam yang sudah menjauh.
Tak lama kemudian, mereka sudah berkumpul lagi--dengan pakaian yang sudah sama-sama rapi--di ruang makan, menikmati sarapan buatan Selenia.
"Dam aku berangkat dulu ya," Selenia yang telah selesai menghabiskan sarapannya bangkit sembari menenggak minumannya sampai habis. "Kamu kalau berangkat hati-hati. Jangan ngebut," pesannya.
Adam tersenyum kecil. "Iya sayang, aku masih mau cek berkas dulu di kamar. Kamu juga hati-hati, sayang."
Selenia menyalami tangan Adam dan mencium kening suaminya itu dengan centil. "Daaaaghh.... aku berangkat ya, Assalamualaikum!" dia melambaikan tangan sembari berlari keluar.
"Wa'alaikumussalam," jawab Adam lirih. Dia hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat ekspresi centil istrinya itu.
...🌺🌺🌺...
Waktu masih menunjukkan pukul 6.20 menit dan Tony sudah berada di sekolah. Dia duduk di bangku di tepi lapangan basket sembari bermain ponsel. Biasa mabar. Semalam dia tidur dari jam tujuh malam dan nggak mabar sama sekali. Dan saat pagi dia membuka mata, ponselnya sudah dipenuhi pesan-pesan bernada ledekan dari teman-teman mabarnya.
Pecundang... ayo maeen!!
Mati suri lo Ton??
Dan beberapa pesan laknat lain tapi tidak dia tanggapi sama sekali. Sebagai gantinya, dia nekat ngegame pagi ini meski pemainnya tidak semua ada.
Seorang penjaga sekolah yang sedang membersihkan pelataran sekolah geleng-geleng kepala melihat tingkah Tony. Pasalnya di situ Tony juga teriak-teriak seperti kalau sedang maen game di rumah. Kadang dia juga menghentakkan kakinya keras-keras ke tanah. Ditambah lagi kupingnya ditutup dengan handsfree.
...🌺🌺🌺...
Adam masih berada di kamarnya, menyusun beberapa berkas dan dokumen yang akan dibawa ke kantor. Perasaan bimbang kembali menyergap saat matanya menatap dokumen tawaran study ke Frankfurt yang pernah ditawarkan Pak Anton beberapa bulan lalu. Berkas itu masih tergeletak pasrah di atas nakasnya. Apa lagi ini? Kenapa di saat aku dan Selenia sudah mulai menikmati kebersamaan, rasanya ada saja yang menghalangi?
Adam menyambar dokumen itu dan melemparnya dalam-dalam ke laci. Kayaknya aku nggak perlu ke Frankfurt, batinnya. Kemudian dia mulai memasukkan bebeberapa berkas ke dalam tas dan bergegas keluar.
Ponselnya bergetar saat dia baru saja akan masuk mobil. Renata?
"Iya halo Ren. Ada apa?"
"Eee... ma'af Pak sebelumnya, ini saya mau berangkat ke kantor, trus mobil saya tiba-tiba mogok, apa Bapak masih di perjalanan? Kalau boleh saya mau numpang. Soalnya ini jauh dari bengkel... nggak ada taxy lewat juga..."
"Saya masih di rumah kok Ren, ini baru mau berangkat. Memangnya sekarang kamu di mana?"
"Saya di depan SushiTam, Pak."
"Oke, saya kesitu sekarang."
...🌺🌺🌺...
Letak SushiTam sekitar satu setengah kilometer dari komplek rumah Adam--dan dia memang selalu melewati tempat itu setiap berangkat ke kantor. Dari kejauhan dia sudah bisa melihat Renata berdiri di tepi jalan sambil mendekap map warna-warni di dadanya.
Adam menurunkan kaca mobil yang langsung disambut senyuman oleh Renata.
"Mobil kamu mana?" Adam celingukan.
"Tadi kebetulan temennya sopir saya lewat Pak, ngebantuin. Mobil saya ditarik dibawa ke bengkel."
Adam manggut-manggut. "Oh, ya udah kalau gitu buruan masuk," perintahnya.
Renata membungkuk sopan dan berjalan ke arah pintu samping kiri mobil.
__ADS_1
"Itu yang kamu bawa dokumen apa saja kok banyak banget?" tanya Adam sembari mengemudi. Dia hanya melirik sekilas ke tumpukan dokumen di pangkuan Renata.
"Ini sebagian dokumen pembangunan rukan di luar kota, proposal kerjasama dengan CV. Perkasa Andromeda, sama finishing renovasi aula SMA Bhakti Nusa, Pak."
Mendengar nama sekolahan Selenia disebut, membuat Adam tepuk jidat. Sudah lama dia tidak mengunjungi tempat itu dan hanya berkomunikasi melalui telefon dengan mandor yang dipercaya mengawasi pembangunannya. Beberapa hari yang lalu mandor itu bilang kalau renovasinya sudah mencapai 80%.
"Kenapa Pak?" tanya Renata heran.
Adam menggeleng. "Sudah lama saya tidak ngecek ke sana. Aduuh... akhir-akhir ini sepertinya semakin nggak punya waktu untuk datang ke tempat itu," dia menghentikan mobilnya di lampu merah.
"Tapi saya dengar pembangunannya sudah hampir selesai ya Pak?"
"Mandornya bilang sih begitu pas saya hubungi via telfon. Katanya sudah 80%."
Ponsel Adam berdenting satu kali, menandakan ada sebuah pesan masuk, bersamaan dengan traffic light yang berubah hijau. Senyum Adam tersungging mendapati siapa yang mengirim pesan.
Selenia: [Aku udah sampe di sekolah. Kamu jaga diri baik2 ya sayang. Jangan telat lunch. ♥️ you 😚]
Terimakasih Tuhan untuk bahagia yang sesederhana ini. Hati Adam berbunga-bunga membaca pesan dari Selenia. Belum juga sampai di kantor, hatinya sudah meronta-ronta mengajak pulang. Tapi dia harus tetap bisa mengendalikan diri. Sabaaaar.
Adam: [Don't worry. ♥️ you too. So much!]
Renata memperhatikan sikap bosnya itu sambil bertanya-tanya dalam hati. Dia menebak, bosnya itu pasti sedang kasmaran. Sebagai sesama manusia, Renata seolah bisa mengartikan senyuman itu. Dia pernah merasakan hal yang sama, dulu saat awal-awal mengenal Devan, mantan suaminya. Atau jangan-jangan yang barusan kirim pesan ke ponsel Pak Adam adalah pacarnya? Bisa jadi kan? Tapi pacar Pak Adam siapa ya? Cewek itu, yang pernah dia lihat di mall, rumah sakit, dan pemakaman.... dia atau bukan?
...🌺🌺🌺...
Tony menghentikan permainannya saat melihat Selenia dan Cia muncul dari ujung koridor utama. Dua anak itu berjalan beriringan sambil ngobrol. Sesekali tampak Selenia tertawa atau Cia yang dengan jahil menyodok-nyodok siku Selenia yang sedang fokus dengan ponselnya.
Tony langsung out dari permainan. Dia menelusuri kontak Selenia dan menelfonnya. Saat panggilannya terhubung dia masih memantau Selenia dan Cia dari tempatnya sembari tersenyum.
"Tony nelfon gue Ci," Selenia memperlihatkan ponselnya ke Cia.
Cia cuma mengangkat bahu sementara kepalanya celingukan. Hal itu membuat Tony seakan sedang menjadi detektif. Dia yakin Cia sedang mencari keberadaannya.
"Angkat nggak?" Selenia meminta saran.
"Angkat deh. Kali aja penting," jawab Cia. "Tadi kayaknya gue nggak lihat ada motor Tony di parkiran."
Selenia menggesek tombol hijau di layar. "Halo," sapanya.
Namun tidak ada sahutan. Sayup-sayup hanya terdengar suara bising orang-orang lewat. Selenia menatap Cia dan menggeleng. Sementara Cia memasang tampang bingung dan kembali celingukan. Dia lalu merebut ponsel dari tangan Selenia.
"Tony? Halo," sahut Cia.
Terdengar suara cekikikan dari ujung telfon yang membuat Selenia dan Cia saling tatap. Tak lama setelah itu terlihat seseorang berlari tergopoh-gopoh melintasi lapangan basket dan menghampiri mereka.
"Iya, ini Tony," kata Tony sembari menggoyangkan ponselnya. Dia telah berada di depan Selenia dan Cia.
Selenia menengadahkan wajah ke atas demi medengar suara itu, menggeleng-gelengkan kepala dan langsung menekan tombol merah di ponsel. "Ya ampun Ton, kirain ada apa."
"Kirain nelfon suruh buatin surat izin. Biar nggak alesan bolos terus," sahut Cia. "Kemarin kamu bolos kan?"
Tony mencibir. "Kok tahu kalau aku bolos? Pasti cowok kamu yang ngasih tahu kan?" godanya kemudian.
Kepala Cia menegak. "Cowok? Maksud kamu?" dia memang tahu Tony kemarin bolos karena Marvin yang cerita. Tapi kenapa Tony malah jadi sebut-sebut kalau Marvin itu cowok gue?
"Iya, cowok kamu si Marvin kan?" tanya Tony yang menurut Cia semakin ngelantur.
Meski dia berharap juga sih sebenarnya.
"Jangan bilang lo jadian sama Marvin terus gak kasih tahu gue," Selenia menyodok lengan Cia dan memberinya tatapan penuh intimidasi. Masa iya Cia jadian sama Marvin nggak cerita sama gue? Sepertinya sekarang Tony lebih tahu Cia dibanding dirinya.
"Iiihh kalian apaan sih?" Cia menghentakkan kakinya di lantai. "Jangan pada ngadi-ngadi deh! Siapa yang jadian? Gue nggak jadian sama Marvin."
"Belum aja. Paling bentar lagi," sahut Tony lagi.
Cia melirik tajam ke Tony dan mendengus. "Apaan sih Ton? Gak jelas banget?!"
"Iya bentar lagi juga jelas kok. Tenang aja," Tony masih menggoda dengan santai.
Sementara Selenia masih memberikan tatapan penuh tuntutan, Cia justru semakin memberut dan reflek menonjok bahu Tony. Dia sedang merasakan perasaan antara kaget, bingung, senang, dan berharap dari semua yang dikatakan Tony menjadi kenyataan. Apa iya Marvin..... suka sama gue? Apa Marvin ngomongin rencananya buat nembak gue ke Tony, makanya dia nanya gitu. Batin Cia.
"Ah apaan sih nggak jelas banget!" ujar Cia dan langsung berlalu menuju kelas. Dia sudah tidak bisa menahan senyum karena tiba-tiba hatinya bahagia. Marvin kan lumayan dekat sama Tony. Siapa tahu dia pernah curhat apa gitu sama Tony?
Jangan GR dulu deh Cia... sebuah suara menghentikan senyumnya. Ah nggak mungkin Marvin suka sama gue, batin Cia sembari terus melangkah.
"Eeeh... Cia tungguin weh!" Selenia menyusul dan berlalu begitu saja meninggalkan Tony.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...