
"Apa Dok? S-saya hamil?" Selenia meraba perutnya sendiri, sementara dokter terus memberikan penjelasan.
"Sebenarnya saya sudah mengetahui tentang kehamilan kamu sejak pertama kali kamu datang ke sini kemarin," kata Dokter tersebut. "Hanya saja saya belum berani mengatakan. Karena, pertama, saya kira kamu sudah tahu sendiri tentang kehamilan itu. Dan kedua, saya cukup kaget karena kamu masih di bawah umur. Usia kamu baru 17 tahun kan?"
Selenia mengangguk. "Jalan 18 Dok."
"Ternyata kamu terlalu polos untuk menyadari perubahan yang terjadi pada tubuh kamu sendiri. Beruntung pada saat kecelakaan itu terjadi, janin di dalam kandungan kamu masih selamat, mengingat usianya yang masih sangat muda."
Selenia tidak begitu mendengarkan penjelasan Dokter tersebut karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia bahagia mendengar kabar itu sekaligus juga bingung harus bersikap seperti apa. Baru kemarin malam dia dan Adam bercanda soal anak, yang telah mereka rencanakan untuk memilikinya nanti setelah dia lulus kuliah, tapi ternyata Tuhan memberikannya kepada mereka secepat itu. Dia dan Adam hanya 'melakukannya' satu kali, Selenia ingat betul kejadian itu.
"Selenia Effendi," Dokter itu menggenggam tangan kiri Selenia dan tersenyum. "Kamu tidak perlu takut menghadapi situasi seperti ini. Dan saran saya, seharusnya secepatnya kamu membicarakan tentang kehamilan kamu ini dengan.... pacar kamu," imbuhnya hati-hati saat menyebutkan kata pacar.
Pacar? Selenia tersenyum getir dan seketika ingat kalau kemarin, Adam memang mengaku kalau dia pacarnya di depan dokter ini. Karena tidak mungkin untuk mengatakan status mereka yang sebenarnya. Apalagi saat itu Selenia masih memakai seragam sekolah lengkap.
"Ini bukan kali pertama saya menerima pasien dengan kasus yang sama seperti kamu," Dokter itu terus berbicara. "Jadi saya tidak kaget," dia tersenyum dan mengangkat kedua bahunya. "...karena.... memang.... maaf pergaulan anak muda jaman sekarang semakin tidak terkontrol."
Hah?! Mata Selenia membelalak.
Jadi dokter ini berpikir kalau gue hamil di luar nikah, begitu? Enak saja. Perasaan Selenia sedikit geram mendengar sangkaan dokter tersebut, tapi sebisa mungkin mencoba untuk ditahan. It's okay. Yang penting kenyataannya tidak seperti itu. Mungkin bisa jadi, dokter ini yang akan kaget kalau Selenia mengatakan yang sebenarnya. Tapi menurut Selenia, dia lebih baik diam.
"Tapi Dok, memang kalau hanya melakukannya sekali, bisa langsung jadi gitu?" tanya Selenia ingin tahu, karena dia sendiri juga merasa heran. Masa iya sih secepat itu?
Dokter itu terkekeh. "Bisa saja kalau saat itu kamu sedang dalam masa subur."
"M-maksudnya... masa subur?" Selenia sama sekali tidak mengerti soal begituan. Maksudnya bukan berarti dia tidak paham soal hubungan intim suami-istri dan akibatnya. Tapi belum begitu paham tentang subur dan tidaknya seorang perempuan.
Dokter itu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lalu mengambil sebuah buku dari dalam laci, membukanya pada lembar tertentu dan mulai menjelaskan pada Selenia tentang masa subur yang di alami wanita normal pada umumnya. Selenia hanya mengangguk-angguk meski tidak sepenuhnya paham. Dokter itu juga menjelaskan tentang kondisi wanita yang sikapnya mendadak bisa berubah saat dirinya hamil, dan dia bilang itu wajar karena pengaruh hormon. Seperti tiba-tiba membenci makanan yang biasanya dia suka atau malah sebaliknya--menyukai makanan yang biasanya sangat dia benci, membenci aroma parfum tertentu, sering pusing, mual di pagi hari yang biasa disebut morning sickness dan beberapa hal aneh lain yang dinamakan ngidam.
Dari sini Selenia baru sadar bahwa dia telah mengalami sebagian dari tanda-tanda itu. Mungkin gejala pusing yang tiba-tiba sering dia alami saat di sekolah akhir-akhir ini disebabkan karena itu. Dia juga ingat saat Adam pulang dari kantor dan membawakan donat mini kesukaannya, yang malah membuatnya eneg dan berasa mau muntah. Lalu pagi tadi, saat dia terbangun waktu subuh dan muntah-muntah. Selenia tersenyum dan mengusap-usap perutnya sendiri. Ternyata itu semua terjadi karena ada Adam junior di dalam perutnya.
"Jadi apa kamu juga tidak sadar kalau mungkin bulan ini kamu sudah terlambat datang bulan? Karena itulah seharusnya yang bisa menjadi pertanda awal untuk kamu, bahwa mungkin kamu sedang hamil."
Selenia menggeleng. Selama ini dia tidak pernah mengecek jadwal haidnya. Menurutnya kalau memang sudah waktunya datang, ya datang aja gitu. Dan kalaupun telat atau datang lebih cepat, itu mungkin karena efek kelelahan dan sebagainya. Apalagi belum lama ini kan dia baru saja bermasalah sama Adam. Jadi dia pikir saat haidnya telat, mungkin karena efek pikiran yang lagi kacau.
Dokter itu tersenyum kecil. "Saya tahu kamu pasti bisa melaluinya," dia menutup bukunya dan mengembalikan ke dalam laci. "Ini mungkin masalah yang berat untuk seorang perempuan yang belum menikah."
Selenia merasa geli dengan penjelasan Dokter itu.
Jelas saja saya bisa melaluinya Buk, dan ini bukan masalah untuk saya, melainkan anugrah. Batin Selenia menjawab semua ucapan-ucapan si Dokter. Dia tidak peduli seandainya Dokter itu berpikir macam-macam, karena hatinya sedang sangat bahagia.
Setelah menjelaskan beberapa hal seputar awal kehamilan, Dokter itu kemudian beranjak dari kursinya dan mengajak Selenia ke satu ruangan. Selenia cuma nurut dan mengikuti saat Dokter tersebut membawanya masuk ke ruangan bernuansa pink dan ungu dengan papan nama Dr. Indari, S.POG di atas mejanya.
"Pagi Dokter Indari," sapa dokter itu pada rekan sejawatnya yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya.
"Eh, Dokter Lula."
Oh, namanya Dokter Lula? Batin Selenia, melirik ke arah Dokter yang membawanya ke ruangan ini. Kesan yang dirasakan Selenia dari Dokter Lula adalah, dia peduli dan ramah. Tapi menurut Selenia terlalu over sih. Dan sotoy. Bagaimana tidak? Dia sudah berpikir dan menyamakan Selenia dengan pasien hamil di luar nikah lain, yang pernah dia tangani selama ini.
Dokter Lula meminta Selenia duduk dan kemudian dia menarik Dokter Indari, membawanya ke sudut ruangan. Mereka tampak ngobrol beberapa saat sebelum Dokter centil itu pamit keluar. Hahaha, mulai hari ini, Selenia menyebutnya begitu. Habis, liat saja deh sikapnya.
"Kamu sama Dokter Indari dulu ya. Nanti setelah ini kamu temui saya lagi di ruangan saya," ucap Dokter Lula dan kemudian keluar dari ruangan Dokter Indari.
Sepeninggal Dokter Lula, Dokter Indari segera mengarahkan Selenia untuk berbaring di atas tempat tidur periksa. Dokter Indari sama ramahnya dengan Dokter Lula, cuma dia lebih kalem. Dia mengatakan pada Selenia kalau hari ini akan meng USG kandungannya untuk melihat berapa usia kehamilan Selenia. Selenia memilih untuk tidak berbicara apapun, dan menurut supaya cepat selesai. Dia pengen cepat-cepat pulang dan memberitahukan ini pada Cia.
Setelah melakukan pemeriksaan selama kurang lebih 15 menit, Dokter Indari mengatakan, kalau usia kandungan Selenia telah memasuki minggu ke lima. Selenia tidak bisa menahan senyum dan terus mengelus perutnya saat Dokter Indari memberikan hasil foto USG 2 dimensi janinnya sekaligus surat pernyataan dokter kalau dia positif hamil.
"Terimakasih, Dok. Saya permisi," ucap Selenia setelah selesai pemeriksaan dan keluar.
Seperti yang telah dipesan Dokter Lula, Selenia kembali ke ruangannya lagi setelah dari ruangan Dokter Indari. Di sana Dokter Lula menyambutnya dengan hangat, dan terus memberikan wejangan, seolah-olah Selenia ini seseorang yang mentalnya harus terus dikuatkan karena mengalami kehamilan di luar nikah. Hhhh... Selenia sudah malas banget rasanya berada di ruangan itu. Jadi dia harus pura-pura sakit perut dan ingin ke toilet supaya bisa secepatnya keluar dari sana.
"Oh, oke oke baiklah. Ini resep yang harus kamu tebus di apotek. Dan jangan lupa untuk selalu mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi," pesan Dokter Lula sebelum Selenia meninggalkan ruangannya. "Jangan lupa minum susu..... nak..."
Jeglek! Saat itu Selenia sudah keluar dengan perasaan lega. Haduh, mimpi apa ketemu dokter selenjeh Dokter Lula. Selenia bergidig. Amit-amit, dia mengelus-elus perutnya sendiri.
...🌺🌺🌺...
Pak Tono heran saat melihat Selenia yang terus tersenyum di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang dari klinik.
"Obatnya banyak banget ya Mbak?" tanya Pak Tono melihat sekantong obat di sebelah Selenia melakui spion tengah.
"Iya ni Pak. Katanya biar cepet kering dan jahitannya bisa segera dibuka," jawab Selenia bohong. Hari ini dia terpaksa menunda untuk membeli susu ibu hamil, karena takut membuat Pak Tono curiga.
Pak Tono cuma manggut-manggut dan kembali fokus mengemudi.
Sesampainya di rumah, Selenia langsung ke kamarnya lagi--tentunya dengan dibantu Bi Iyah. Bi Iyah pun sama herannya melihat obat yang dibawa Selenia begitu banyak. Dan lagi-lagi Selenia harus berbohong seperti yang dia katakan pada Pak Tono.
"Ya sudah kalau gitu Bibik mau ke bawah dulu. Nanti kalau ada apa-apa, Non panggil Bibik ya. Jangan naik turun," kata Bi Iyah.
"Iya Bik, beres."
Sepeninggal Bibik, Selenia langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Perasaannya benar-benar bahagia hari ini. Dia menatap secarik kertas foto hasil USG dan menciuminya berkali-kali.
Selenia tidak sabar untuk segera memberitahu Adam. Tapi kemudian dia berpikir untuk tidak ingin memberitahukannya sekarang. Dia membayangkan bagaimana ekspresi Adam saat mengetahui kabar ini. Pasti bakalan seneng banget. Selenia yakin itu.
Selenia melirik kalender lipat di atas nakas dan tersenyum menatap satu angka di sana. Hari ulang tahun Adam sekitar dua minggu lagi. Ini bakalan jadi surprise buat dia.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Sore harinya, Cia mendatangi rumah Selenia sesuai permintaan anak itu.
Selenia: [Lo dateng ke rumah gue nanti sore ya. Sendiri aja. Gausah sama Marvin. Gue ada hal penting yang mau gue omongin sama lo]
Begitu isi pesan Selenia yang masuk ke ponsel Cia.
Mungkin dia lagi kesepian karena suaminya lagi nggak di rumah. Pikir Cia.
Sebenarnya tanpa Selenia minta pun, hari ini Cia sudah mempunyai rencana untuk datang ke sana. Dia sudah kangen pengen curcol sama Selenia.
"Eh, Mbak Cia?" sambut Bi Iyah saat membukakan pintu.
"Sore Bik," sapa Cia dengan gaya khas centilnya. "Ini buat Bibik," dia menyodorkan kantong kresek putih berisi martabak manis yang dia beli di ujung jalan.
"Waduh," mata Bi Iyah berbinar menerimanya. "Buat Bibik?"
Cia mengangguk. "Selenia di atas kan?"
"Iya. Non Selenia memang nggak boleh naik turun sama Pak Adam, jadi...."
"Oke, aku ke atas dulu. Daaagh Bibik," Cia langsung berlari menuju kamar Selenia tanpa menunggu Bibik selesai ngomong.
Bi Iyah yang sudah hafal dengan sikap dan sifat Cia cuma bisa geleng-geleng kepala dan segera kembali ke belakang.
Cia masuk ke kamar Selenia yang langsung disambut dengan senyuman lebar. Dia lalu duduk di tepi tempat tidur dan meraba kaki Selenia yang tertutup selimut, membuat Selenia terjingkat.
"Auh! Pelan-pelan Cia," Selenia menampik tangan Cia. Anak itu justru terkikik.
"Ada apa nyuruh gue ke sini? Dari gaya bahasa lo kayaknya pueeentiiiing banget. Lo kesepian ya ditinggal misua ke luar kota?" goda Cia sembari memainkan bola matanya.
Selenia tersenyum. Entahlah, setelah mengetahui tentang kehamilannya hari ini, rasanya dia tidak bisa berhenti tersenyum.
"Dih apaan sih? Ditanyain juga," Cia keheranan.
"Gue mau kasih liat sesuatu sama lo. Tapi lo jangan lebay ya."
"Iyaaaaa apa?"
Selenia mengambil secarik kertas hasil foto USGnya dari bawah bantal dan menyodorkan pada Cia.
"Apa nih?" Cia menerima kertas itu ragu-ragu dan mengamati gambar bernuansa hitam putih tersebut. "Sel... ini hasil.... USGnya siapa?" tanyanya hati-hati.
"Gue," jawab Selenia enteng sembari menunjuk dirinya sendiri.
"L-lo.... lo serius???" Cia menggeser duduknya dan meraba perut Selenia pelan.
"Buat apa gue bohong Ci? Ya serius lah," Selenia juga menyodorkan surat pernyataan dokter tentang kehamilannya pada Cia. Dan lagi-lagi anak itu membelalak.
Selenia hamil! Sahabat gue hamil!
Selenia akhirnya menceritakan awal mula bagaimana dia bisa tahu kalau dirinya sedang hamil pada Cia, dan anak itu cuma mendengarkan dan sesekali manggut-manggut. Obrolan mereka sempat terjeda saat Bibik masuk kamar dan membawakan minuman serta makanan ringan untuk Cia. Cia buru-buru menyembunyikan foto USG di tangannya supaya tidak terlihat Bibik dan mereka mengalihkan obrolan dengan topik lain. Bibik jelas tidak diberitahu oleh Selenia tentang hal ini. Dia takut kalau malah bikin heboh keluarga besar. Pokoknya dia belum siap.
"Pantes aja gue akhir-akhir ini sering pusing dan tadi pagi pas gue bangun tidur tiba-tiba gue mual banget. Dan itu ternyata yang namanya morning sickness," Selenia menceritakan dengan antusias. "Terus gue juga inget beberapa hari yang lalu Adam kan pernah tuh pulang dari kantor dia bawain gue donat mini yang biasa gue beli kalau kita lagi ngemall, waktu itu gue liat bentuk sama baunya aja udah eneg banget."
"Terus? Lo makan?"
"Enggak lah. Gue kasih ke Bibik."
"Terus dia ngerasa aneh nggak sama sikap lo itu?"
Selenia menggeleng.
Kini setelah mendengar semua cerita Selenia, Cia perlahan mampu mengendurkan kekagetannya. Dia mengembalikan foto USG ke Selenia dan duduk merapatkan diri pada Selenia.
"Ya ampun.... gue bakalan jadi tante," Cia terkikik sembari mengelus-elus perut Selenia.
Selenia turut terkikik mendengar celetukan Cia. Lucu juga kalau nanti bakal manggil sahabatnya itu dengan sebutan Tante Cia. Hahaha...!
"Oh ya Sel, that's mean... lo udah sering dong ngelakuin itu sama Adam?" tanya Cia geli. "Iiiihhh aduuuh kok gue jadi geli sih..." dia menutup mukanya lucu. "Gila lo sahabat gue ini udah pinter wikwik... aduhh... gue geliii..." imbuhnya seraya bergidig bak cacing kepanasan.
"Ihhh Ciaaaa... lo kenapa sih oneeeeng!" Selena menoyor kepala Cia pelan.
Mereka sama-sama terbahak karena merasa sama-sama lucu.
"Enggak juga sih Ci sebenernya," kata Selenia kemudian setelah berhasil merendam tawanya sembari menyingkirkan tangan Cia pelan dari perutnya. "Gue.... malah.... baru ngelakuin itu sekali doang," imbuhnya malu-malu.
"WHAT?!!!" ekspresi Cia kali ini lebih heboh daripada saat mengetahui kehamilan Selenia. "DAEBAAAAAAAK!!" dia bertepuk tangan.
"Sssssttt...!! Jangan tereak-tereak dodol!!" Selenia melotot.
Cia langsung buru-buru menutup mulutnya dan terkikik lagi. Dia sendiri juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan itu. Dan secara langsung pikirannya justru terkoneksi dengan kenyataan waktu bahwa, dia yakin Selenia masih bisa tetap bersekolah dan ikut ujian akhir. Karena saat itu perut Selenia pasti belum nampak besar kan? Ujian akhir kan tinggal 3 bulan lagi. Berarti kehamilannya bukan suatu masalah untuk Selenia. Semoga.
"Ih tapi sumpah! Adam tokcer banget," Cia mengacungkan kedua jempolnya. "Elo juga tuh, ih gue nggak nyangka iiih..." dia mencubit pipi Selenia gemas.
__ADS_1
"Tapi Ci," kata Selenia kemudian dengan nada berbeda. "Gue kok ada rasa takut juga ya?"
"Kenapa?"
"Kalau bokap gue tahu gue hamil.... dia bakalan marah nggak ya. Secara... di awal gue sama Adam tinggal serumah, dia kan udah wanti-wanti kita buat jangan sampai....." Selenia tidak melanjutkan kalimatnya dan hanya mengangkat bahu.
Tapi Cia sudah tahu apa kelanjutkan kalimat itu. Dulu Selenia pernah menceritakan tentang 'larangan' tersebut sebelum mereka benar-benar resmi menikah secara negara, alias setelah Selenia lulus kuliah.
"Ya berarti pola pikir bokap lo yang harus diubah dong Sel. Dia nggak bisa dong nuntut lo dan Adam untuk tidak 'ngelakuin' itu, tapi mengizinkan kalian berdua tinggal satu atap," kata-kata Cia kali ini terdengar lebih sehat daripada banyolan kesehariannya. "Dan lagipula kalau sampai hal ini terjadi dan kenyataannya lo sekarang udah hamil, ini bukan salah kalian dong. Kalian kan udah nikah. Kalian tinggal bareng, setiap hari ketemu, dan bagaimanapun latar belakang pernikahan kalian, itu nggak bisa jadi patokan. Perasaan itu kan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Jadi lo jangan berpikir begitu."
Selenia terkekeh dan mengacungkan jempolnya pada Cia. Semua ucapan sahabatnya itu benar. Dia dan Adam tidak salah. Lega rasanya mendengar rangkaian kalimat Cia yang berisi support. Memang lebih masuk akal dan bisa diterima akal sehat.
"Kecuali...." Cia menambahkan dengan memberikan tatapan penuh selidik pada Selenia.
"Kecuali apa?" kening Selenia mengerut.
Sebelum melanjutkan omongannya Cia sudah tertawa duluan. "Hmmmpppfffhhh...!!"
"Apa sih Cia???"
Cia menghentikan tawanya dan menghela nafas.
"Lo ngelakuinnya atas dasar suka sama suka kan?" bisik Cia. "Bukan karena lo diperkosa sama..."
"Ih Cia apaan sih?!" Reflek Selenia langsung memukul bahu Cia. Nggak terima mendengar kalimat terakhir tersebut. "Ya enggak lah! Emangnya Adam sebejat itu apa? Ihhh!!"
"Auuu ampun... hahahahaha...!" Cia terbahak melihat ekspresi Selenia yang tidak terima mendengar suaminya disebut seperti itu. "Ya sorry... kan gue nanya."
...🌺🌺🌺...
Tony baru saja masuk rumah saat tiba-tiba langkahnya terhenti di ambang pintu. Dua orang yang tengah bercengkerama di ruang tamu rumahnya pun seketika menghentikan obrolan dan menoleh ke arahnya.
"Tony?" Pak Anton berdiri dengan gugup. Begitu juga seorang perempuan yang menjadi teman bicaranya.
"Tony? Nak...." perempuan itu Bu Riska. Bibirnya gemetar dengan tangan menengadah meminta supaya Tony mendekat padanya.
Tony mendengus kasar. Dia menatap Pak Anton dan Bu Riska bergantian dengan tatapan tajam.
"Apa-apaan ini?" desisnya, tanpa sedikitpun beranjak dari posisinya.
"Eee... Ton..." Pak Anton berjalan mendekati Tony namun Tony justru mundur perlahan. "Kita ngobrol ya, mungkin sekarang sudah saatnya kamu tahu tentang..."
"Apa-apaan ini Pa?!!" teriak Tony. Dia sama sekali tidak tahu apa maksud Papanya membawa perempuan yang telah dia anggap tega meninggalkan keluarga demi laki-laki lain itu ke rumah ini. Nafas Tony memburu menahan amarah. Tony pikir setelah dia mengusirnya saat di basecamp malam itu, Mamanya tidak akan pernah datang lagi. Tapi ternyata dia malah dengan berani datang ke sini?
What the heck?
"Iya makanya ayo kita duduk dulu nak. Jadi kita..."
"Cukup Pa!" Tony menatap sinis ke Bu Riska yang sudah menangis tersedu-sedu di belakang Pak Anton. Dia geleng-geleng kepala dan kemudian segera berlari menuju kamarnya di lantai dua.
"Tony!!" panggil Pak Anton dan Bu Riska bersamaan namun tidak digubris.
Tony terus berlari penuh emosi dan tak lama setelah itu terdengar pintu kamar dibanting dengan keras.
Pak Anton dan Bu Riska saling tatap. Bu Riska tidak bisa berhenti menangis sembari memegang dadanya yang terasa sesak. Tidak tega rasanya hati Pak Anton melihat perempuan yang masih dia cintai itu tampak terluka karena penolakan yang dilakukan darah dagingnya sendiri. Tapi Pak Anton juga tidak bisa menyalahkan sikap Tony. Kesalah pahaman ini juga terjadi karena sikap diamnya yang selama ini tidak pernah mencoba menjelaskan pada Tony alasan Mamanya meninggalkan keluarga dan menikah lagi. Sehingga terbentuk stigma tersendiri dalam otak Tony yang menganggap Mamanya adalah orang-yang-tega-meninggalkan-keluarga-demi-pria-lain. Padahal penyebab retaknya rumah tangga itu karena kesalahan mereka berdua. Bukan hanya dari Bu Riska.
"Mas, aku kangen sama Tony.... aku pengen meluk dia," isak Bu Riska.
"Aku tahu Ris. Tony mungkin cuma butuh waktu. Biar nanti aku bicara sama dia ya. Aku minta kamu untuk sabar."
Bu Riska terdiam dan menatap lantai dua dengan tatapan nanar.
...🌺🌺🌺...
"Hah? Kenapa begitu?" tanya Cia heran saat mendengar rencana Selenia yang belum ingin memberitahukan tentang kehamilannya pada Adam. "Lo gila ya, hamil bukannya ngasih tahu suami dulu, malah ngasih tahu gue."
"Bukan gitu maksudnya Ciaaaaaa. Berita kaya gini nggak sopan kalau ngomongnya lewat telfon."
"Berarti nunggu Adam pulang?"
Selenia menggeleng lagi. Cia semakin nggak ngerti.
"Terus kapan dong?"
Selenia meraih kalender lipat dari atas nakas dan menunjukkan satu angka di sana pada Cia.
"Gue mau kasih surprise di hari ulang tahunnya. Jujur gue emang nggak sabar pengen kasih tahu ini. Tapi gue sabar-sabarin deh nunggu sampai hari itu," Selenia kembali meletakkan kalendernya di atas nakas.
Cia cuma bisa melongo. "Are you serious, Sel? Itu masih dua mingguan lebih lho. Lo yakin lo bakalan baik-baik aja? Lo yakin bisa ngontrol diri lo?"
Selenia sendiri masih ragu. Jadi dia mengangkat bahu. "Yakin sih. Tapi nggak tahu ding. Ya moga aja bisa deh," dia memainkan matanya.
Cia cuma menggeleng-geleng pasrah. Kayaknya sahabatnya ini sudah mulai menunjukkan sikap-sikap aneh bumil deh. Dia bergidig dan berharap dalam hati, semoga Selenia nanti kalau ngidam nggak aneh-aneh.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...