
Setibanya di kantor, Adam langsung menuju ke ruangan Renata. Di sana, sekretarisnya itu terlihat sedang mempersiapkan beberapa file dari dalam loker. Sepertinya dia juga baru datang.
"Pak Adam?" Renata terkejut dan buru-buru mempersilakan Adam duduk. "Selamat pagi, Pak. Silahkan duduk."
"Kamu baru datang ya?" tanya Adam sembari menghempaskan tubuhnya di kursi.
"Sudah dari tadi Pak. Ini baru mempersiapkan file untuk meeting nanti siang."
"Bagaimana kabar kamu dan Nola?"
Kening Renata mengerut. Untuk apa Pak Adam datang ke ruangannya dan malah bertanya tentang dirinya dan Nola?
"Baik. Nola sehat. Dan kalau saya, seperti yang bapak lihat," Renata menjawab dengan ekspresi bingung sembari mengangkat kedua bahunya. "Ada apa ya Pak?"
Adam tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Maaf kalau pagi-pagi ini saya menelusup masuk ke ruangan kamu tanpa permisi," dia mulai mengawali percakapan di luar topik pekerjaan dengan Renata, setelah beberapa hari kemarin menjaga jarak darinya. "Kedatangan saya ke sini, saya mau mengucapkan banyak terimakasih untuk semua yang kamu lakukan untuk saya dan Selenia. Berkat kamu akhirnya Selenia kembali pulang ke rumah," ujar Adam tegas dan lugas.
"Ooooh, tapi itu bukan apa-apa Pak. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Karena.... Selenia pergi dari rumah kan, gara-gara saya juga."
"Enggak kok Ren. Kamu jangan ngomong begitu," potong Adam. "Semua hanya salah paham dan karena saya juga tidak berterus terang ke dia dari awal."
Renata tersenyum kecil. "Syukurlah, kalau itu membuat bapak jadi merasa lebih baik."
"Tentu Ren. Hidup saya tanpa Selenia benar-benar hampa. Waktu itu saya benar-benar putus asa dan bingung, apa yang harus saya lakukan untuk membuatnya kembali. Maaf kalau... sikap saya akhir-akhir ini ke kamu...."
"Sudah Pak. Bapak tidak perlu meminta maaf sama saya. Bapak juga sudah membantu saya, dan itu juga hal yang begitu berarti untuk saya. Saya tanpa Nola, juga tidak berarti apa-apa, karena dia adalah nyawa saya..." bibir Renata bergetar dan matanya berkaca-kaca. Setiap kali membicarakan tentang Nola, hati Renata selalu merasa haru. "....aduh saya jadi pengen nangis," dia menyeka air matanya.
Adam mencabut selembar tissue di atas meja dan memberikannya pada Renata. Renata menerima tisu tersebut dan menyeka air mata yang menitik di pipi.
"Baiklah kalah begitu. Sekali lagi selamat atas Nola dan jaga dia baik-baik. Saya mau ke ruangan saya dulu," Adam berdiri sembari merapihkan jasnya.
"Pasti saya akan melakukan itu Pak."
"Have a nice day Ren. Semoga kita selalu bisa menjadi partner kerja yang solid."
Renata mengangguk hormat, mengiringi langkah Adam meninggalkan ruangannya.
Di luar ruangan Renata, Adam hampir bertubrukan dengan Maya yang baru akan masuk ke ruangan itu.
"Eh, Pak Adam. Selamat pagi Pak."
"Pagi May, kenapa kamu?"
"Ee... ada perlu sama Renata Pak."
Adam manggut-manggut dan menggeser posisinya untuk memberi Maya jalan. Setelahnya, dia kemudian berlalu meninggalkan Maya yang masih berdiri mematung dan menatapnya sampai dia menghilang di balik pintu ruangannya.
Saat masuk ke ruangan Renata, Maya mendapati rekannya itu sedang duduk merenung sambil menatap file di hadapannya.
"Cieeeeh yang pagi-pagi udah diapelin," goda Maya membuat Renata tersentak dari lamunannya.
"Maya jangan ngaco deh."
"Siapa sih yang ngaco? Mana tahu kan bener?" Maya duduk di kursi dan menyerahkan satu file pada Renata untuk dikoreksi. "Nih, bagian lo. Jam sepuluh nanti gue ambil."
Renata menerima file tersebut dan mengamatinya sekilas. Dia mengangguk-anggukkan kepala, dan melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 8.20 menit. Masih ada waktu, pikirnya.
"Oke deh. Nanti gue anter ke ruangan lo jam sepuluh," Renata menyelipkan file tersebut di tumpukan map di tepi mejanya.
"Oke," Maya mengacungkan jempol. "Jadi gimana yang tadi? Bener apa enggak?" dia masih nekat sambil memainkan pupil matanya.
"Apaan sih May?"
"Ya Pak Adam. Iiiiih jangan pura-pura nggak paham deh."
"Astaga May, please deh. Kalau gue bilang enggak ya enggak. Awas aja lo sampe bikin gosip yang macem-macem," ancam Renata. "Udah gue bilang kan Pak Adam tu udah punya tunangan. Lagian lo kenapa sih? Bukannya lo lebih dulu kenal dia ya? Kenapa lo jadi ngeship gue sama dia? Aneh."
"Bukannya aneh sih Ren. Soalnya gue kan nggak pernah liat tunangannya Pak Adam. Kalau ada acara kantor juga dia seringnya sendiri aja. Cuman waktu itu aja dia sama lo dan anak lo, pas di acara ulang tahun anaknya si Bos."
Terang aja dia sendiri May. Pernikahannya kan masih rahasia. Batin Renata dalam hati. Renata menghela nafas dan mengusir Maya pelan.
"Ah udah udah udah. Ngeladenin ocehan lo bisa-bisa kerjaan gue nggak kelar-kelar. Udah keluar sana lo," Renata mengibas-ngibaskan tangannya meski dengan bibir menarik senyum.
"Iya iya iyaaaaaaa gue keluaaaar," Maya cuma nurut dan keluar ruangan meski masih dengan tingkah jahil menggoda Renata.
Sementara itu di ruangannya, Pak Anton sedang menelfon seseorang dengan wajah cemas. Pasalnya dari semalam Tony tidak pulang dan nomornya tidak bisa dihubungi. Jadi pagi ini dia menelfon Petra dan menanyakan keberadaan Tony. Tapi kata Petra, Tony sudah meninggalkan basecamp sejak pagi.
__ADS_1
Pak Anton jadi tambah bingung dan cemas. Apalagi akhir-akhir ini dia perhatikan anak semata wayangnya itu seperti selalu badmood. Mereka juga jarang ngobrol berdua. Karena selain Pak Anton selalu sibuk, kadang Tony juga lebih memilih langsung masuk kamar dan mabar setelah selesai makan malam.
Setelah menghubungi beberapa teman sekolah dan jawaban mereka semua tidak tahu keberadaan Tony, akhirnya Pak Anton memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia berpapasan dengan Adam di depan ruangannya saat baru keluar.
"Adam?" Pak Anton melirik berkas di tangan Adam. "Ada apa?"
"Ini Pak, saya mau menyerahkan file laporan finishing renovasi aula SMA Bhakti Nusa."
Pak Anton melepaskan kacamata dan menerima berkas itu, membuka-bukanya sebentar. "Aduh, jangan sekarang ya Dam. Tolong kamu bawa saja dulu. Saya masih ada urusan di luar."
"Oh begitu? Baiklah Pak."
Pak Anton kemudian berlalu melewati Adam dengan langkah terburu-buru.
...🌺🌺🌺...
Tony berada di sebuah cafe bersama Marvin. Pagi tadi sepulang dari basecamp, sebenarnya dia pengen langsung ke rumah dan pergi ke sekolah. Tapi entah kenapa mendadak rasanya malas sekali. Dia cuma pengen nongkrong dan kebetulan bertemu Marvin di jalan saat anak itu baru pulang jogging. Dengan masih mengenakan pakaian jogging lengkap, Tony mengajak Marvin mencari sarapan sekaligus nongkrong.
Marvin sudah begitu hafal dengan sikap Tony. Kalau anak itu bolos sekolah, pasti karena lagi ada masalah. Karena sebangor-bangornya dia, Tony itu sebenarnya adalah anak yang disiplin dan bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri.
"Sejak kapan lo ngevapor lagi?" tanya Marvin kaget saat melihat Tony mengeluarkan vapor dari dalam tas dan menghisapnya dalam-dalam setelah menghabiskan sarapannya.
Tony cuma tersenyum dan menghembuskan asap vapornya ke udara.
"Lo kenapa bolos sih?" tanya Marvin lagi. "Bukannya bentar lagi ujian?"
"Gue sebenernya hari ini nggak pengen bolos, cuman......." Tony menggantung kalimatnya.
"Cuman apa?"
Tony menghela nafas panjang. "Lo tahu nggak, after a long time... and it's almost ten years, semalem gue akhirnya ketemu sama nyokap."
Marvin kaget. Semalam? Dia semalam juga bertemu Bu Riska di jalan dan perempuan itu terlihat sedang menangis.
"Serius? Semalem?" Marvin mencoba mencocokkan waktu pertemuannya dengan Bu Riska dan pertemuan Tony dengan Mamanya.
"Dia datang ke basecamp pas gue tiba di sana dan...." Tony lagi-lagi menggantung kalimatnya. "Semalem gue marah banget Vin. Gue kaya nggak bisa nerima kedatangan dia yang tiba-tiba."
Marvin paham. Berarti semalam Bu Riska ketemu Tony dulu sebelum ketemu dia di jalan. Apa yang telah Tony lakukan pada Ibunya? Semalam raut wajah Bu Riska tampak sayu dan sendu sekali.
"Terus lo ngomong apa aja sama nyokap lo?" tanya Marvin. Dia tidak mau mengataka kalau semalam dia juga bertemu dengan Bu Riska di jalan.
"Hah?!" Marvin membelalak. "Serius lo??!" pantes aja semalam dia melihat Bu Riska menangis di jalan.
"Menurut lo gue harus gimana Vin? Gue kaget, bingung dan pas ngeliat nyokap gue. Yang ada gue cuma emosi karena inget gimana dulu dia ninggalin gue sama bokap gue demi laki-laki lain. Lo bisa bayangin deh seandainya lo ada di posisi gue. Mungkin waktu itu gue masih kecil, belum ngerti apa-apa, tapi sekarang? Kemana aja dia selama 10 tahun ini coba? Dia 10 tahun pergi dan udah kaya nganggep gue sama bokap gue nggak ada. Dan sekarang tiba-tiba dateng," sahut Tony panjang dan kemudian melengos.
Marvin terdiam dan tidak mau banyak membantah lagi. Dia tahu ini tidak mudah bagi Tony. Jadi setelah Tony menghentikan obrolan tentang pertemuannya dengan Bu Riska, mereka tidak membahas hal itu lagi. Mungkin saja lain hari ada waktu yang lebih tepat untuk membicarakan soal ini. Karena bagaimanapun, Bu Riska adalah Ibu kandung Tony.
Marvin berharap suatu hari nanti temannya itu memiliki kebesaran hati untuk bisa menerima kehadiran Ibunya kembali. Tidak tega rasanya melihat Bu Riska yang semalam menangis di jalanan. Dan sepertinya kehidupan yang dia jalani saat ini sedang sulit--dilihat dari penampilan dan sorot matanya.
...🌺🌺🌺...
Selenia dan Cia duduk di ruang BK (Bimbingan Konseling) bersama dua orang guru BK untuk mencari tahu siapa pengirim paket misterius berisi burung mati tersebut, melalui kamera cctv pos satpam. Pagi ini mereka berdua terpaksa melewatkan mapel jam pertama karena Selenia benar-benar syok dengan kejadian yang baru saja dia alami.
Dan ternyata setelah di cek melalui kamera cctv, kotak itu memang diberikan oleh seorang kurir pada waktu pukul 06:25:23 ke Pak Sauhari, satpam sekolah tersebut. Tapi yang membuat semua yang ada di ruang BK itu heran, kenapa ada jasa ekspedisi sudah beroperasi di jam sepagi itu?
Pak Nandar, salah satu guru BK itu mempause potongan video cctv dan mengzoom tampilan si kurir yang memakai baju serba hitam. Kurir itu menggunakan motor dengan dua krombong di jok belakang, khas kurir pada umumnya. Tidak nampak begitu jelas bagaimana wajah si kurir karena tertutup helm dan juga memakai masker.
Hitam! Selenia tetiba ingat seseorang yang menabraknya di depan gerbang sekolah kemarin. Dia juga berpakaian serba hitam seperti kurir di video itu. Ada apa ini? Perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak.
Untuk memperjelas, Pak Nandar akhirnya memanggil Pak Sauhari ke ruang BK guna menjelaskan kronologinya.
"Bapak yakin paket itu untuk saya?" tanya Selenia setelah Pak Sauhari menceritakan kronologi dia menerima kotak tersebut.
"Iya mbak. Tadinya kan saya nanya kok nggak ada tulisan alamat tujuan sama pengirimnya, trus dia bilang katanya untuk kejutan gitu. Dan kurirnya juga sempat cek HP untuk mastiin nama Mbak Selenia Effendi. Makanya saya kasih ke mbak Selenia," ujar Pak Sauhari.
Selenia dan Cia saling tatap. Cia merangkul pundak Selenia untuk menenangkan sahabatnya yang masih terlihat ketakutan.
"Bapak tahu ciri-ciri orangnya seperti apa?" tanya Pak Bima, guru BK satunya lagi.
Pak Sauhari mencoba mengingat-ingat dan kemudian menggeleng. "Saya tidak begitu memperhatikan orangnya Pak, soalnya saat itu anak-anak yang datang mulai ramai."
Memang benar. Menurut rekaman yang ada di cctv, saat kurir pengantar paket itu datang, anak-anak mulai berdatangan ke sekolah. Pak Sauhari juga kaget saat diberitahu isi dari kotak tersebut.
Jadi saat menerima laporan dari Selenia dan Cia, baik Pak Nandar dan Pak Bima sama-sama belum percaya sampai akhirnya Selenia dan Cia menunjukkan kotak yang telah mereka buang di tong sampah belakang gedung sekolah.
Dan karena masalah ini, Pak Nandar selaku senior BK memperingatkan pada Pak Sauhari seandainya ada paket polosan alias nggak tertulis jelas untuk siapa, dilarang untuk diterima. Takutnya akan terjadi hal semacam ini dan tentu saja mengganggu proses belajar mengajar.
__ADS_1
"Sekalipun dia menyebutkan dengan jelas nama penerimanya, kalau memang paketnya itu polosan, jangan diterima Pak. Itu namanya terror. Dan itu meresahkan."
Pak Sauhari mengangguk. "Baik Pak."
Setelah itu, Pak Sauhari diminta kembali ke pos satpam, sementara Selenia ditanya oleh guru BK apakah dia mau pulang sekarang atau melanjutkan sekolah sampai jam pelajaran usai. Mereka takut, peristiwa ini dapat mengganggu mental Selenia.
"Saya... di sekolah saja Pak sampai mapel usai," jawab Selenia kemudian.
Cia menoleh. Dia tidak yakin dengan jawaban Selenia karena wajahnya jelas sekali menunjukkan kegelisahan.
"Lo yakin Sel?" bisik Cia.
"Gue nggak mau pulang sekarang Ci."
"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja di UKS dulu Sel. Dan kamu Cia, tolong jangan tinggalkan Selenia sendiri," pesan Pak Nandar menengahi.
Mereka berdua menurut dan pergi ke UKS.
"Lo nggak nelfon Adam aja Sel?" tanya Cia setibanya di UKS.
"Nggak Ci. Gue kasian sama dia nanti malah jadi kepikiran," Selenia menghempaskan tubuhnya di atas matras. "Apalagi sebentar lagi dia mau ke luar kota buat urusan pekerjaan. Gue nggak mau dia nanti jadi nggak fokus."
"Tapi kan ini nggak bisa dibiarin Ci. Lo nggak denger apa yang dibilang Pak Nandar tadi? Ini namanya teror."
"Iya gue ngerti Ci. Cuman kan.... aduh...." Selenia memegangi kepalanya.
"Ya udah oke oke oke. Lo istirahat aja sekarang. Udah ini dibahas nanti aja ya," Cia menahan tubuh Selenia yang hampir terhuyung dan merebahkannya di atas matras.
Siapa sih orang yang sudah buang-buang waktu melakukan ini? Dan apa motifnya?
Cia terus berpikir. Hal ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Cepat atau lambat pelakunya harus segera ditemukan.
Mungkin ada baiknya juga minta bantuan Tony untuk mencari tahu dalang dari balik semua ini? Tapi kemana anak itu? Sepagian ini Cia sama sekali belum melihat batang hidungnya.
...🌺🌺🌺...
Pak Anton sudah duduk di ruang tamu rumahnya selama hampir satu jam dan Tony tidak kunjung pulang. Saat dia baru datang tadi, dia memang sudah feeling kalau Tony pasti belum ada di rumah karena motornya nggak ada. Dan memang benar, Bibik pun juga mengatakan kalau tidak ada yang datang sepagian ini.
"Kemana anak itu?" gumamnya sambil beberapa kali mencoba nomor ponsel Tony tapi masih tetap tidak aktif. Pak Anton makin gelisah saat jam besar di ruangan itu berdentang sebanyak sembilan kali. Dia memutuskan tidak akan kembali ke kantor sebelum anaknya itu pulang.
Dan benar saja, selang beberapa menit sejak jam besar itu berdentang, Pak Anton mendengar suara deru motor yang sangat dia kenali memasuki pelataran rumah besarnya. Tak lama setelah mesin motor tersebut mati, suara langkah setengah berlari kian mendekat dan masuk rumah.
Tony kaget melihat Pak Anton yang sudah berdiri tegak di depan sofa ruang tamu, menyambutnya dengan tatapan tajam. So, dia langsung menghentikan langkahnya.
"P-Papa? Papa kok... nggak ke kantor?" tanya Tony setengah takut.
Pak Anton berjalan mendekati Tony dengan hidung kembang kempis seperti mencium sesuatu.
"Sudah berapa lama kamu ngevapor lagi?" tanya Pak Anton tegas. "Dan kemana aja kamu dari semalam baru pulang?!"
"Eee... anu Pa..."
"Kamu juga bolos sekolah lagi. Mau sampai kapan lagi kamu seperti ini ha?!" nada bicara Pak Anton meninggi. Dan secepat kilat dia langsung menyambar tas Tony, mengaduk-aduk isinya. Begitu menemukan sebotol liquid dan alat penghisapnya, Pak Anton langsung mengambil dan melemparkannya ke luar.
"Paaa?!!!" teriak Tony. Pandangan matanya mengikuti botol liquid dan vapornya yang melayang yang kemudian menghantam lantai teras. Cairan liquid tersebut merembes ke lantai karena botolnya pecah, dan vapornya hancur menjadi beberapa bagian.
"Selama ini Papa selalu kasih toleransi sama kamu, tapi kamu selalu mengecewakan Papa. Mau kamu itu apa Ton? Hah??!! Apa?!! Apa yang selama ini tidak pernah Papa berikan untuk kamu???!!!"
Tony tidak bergeming karena menyadari kesalahannya. Papanya adalah single parent terhebat yang pernah dia kenal dan dia menyesal karena akhir-akhir ini sudah banyak mengecewakannya. Ditambah lagi setelah pertemuannya dengan Mamanya semalam, hatinya serasa terkoyak. Dia menyesalkan kenapa perempuan itu harus datang lagi di kehidupannya dan membuat semuanya kacau. Terkadang dia memang suka rindu dengan sosok Mamanya, tapi tetap saja orang yang selama ini selalu ada untuknya adalah Pak Anton, Papanya. Dan kenyataan bahwa Mamanya rela meninggalkan keluarga hanya demi laki-laki lain, tidak pernah hilang dari benaknya.
"Maafin Tony Pa..." Tony bersimpuh dan menangis di hadapan Pak Anton. "Ini salah Tony... maaf Pa..."
Emosi Pak Anton yang tadinya berada di level tertinggi, seketika menurun melihat sikap Tony. Dia heran kenapa anaknya tidak membantah atau memberontak. Biasanya Tony paling tidak bisa dikasar. Apalagi di bentak. Tapi hari ini Pak Anton melakukan itu bukan tanpa alasan. Dia benar-benar marah karena anaknya itu tidak pulang ke rumah semalam, dan bolos sekolah.
"Berdiri Ton..." Pak Anton merengkuh bahu Tony dan mengajaknya berdiri. "Oke Papa maafin kamu. Tapi tolong kamu jangan seperti ini. Kamu tahu kan nak... cuma kamu satu-satunya harapan Papa..." kini giliran Pak Anton yang mulai sendu.
"Tony tahu Pa. Tony cuma..... tony cuma butuh sedikit ketenangan aja Pa semalam. Maaf kalau hari ini Tony sudah membuat Papa cemas dan kecewa."
Pak Anton memandangi wajah anaknya, menepuk-nepuk kedua bahunya dan tersenyum kecil. "Jelas Papa cemas. Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya..."
"Makasih Pa udah maafin Tony...."
"Oke. Sekarang lebih baik kamu ke kamar dan istirahat. Dan Papa harap, ini terakhir kali kamu bolos sekolah tanpa alasan. Lain kali Papa nggak mau denger lagi kamu bolos."
Tony mengangguk. Setelah Pak Anton melepaskan rengkuhan tangannya pada bahu Tony, anak itu kemudian berlalu menuju kamarnya dengan langkah menunduk.
Pak Anton tertegun. Seketika dia merasa menyesal telah melempar liquid dan vapor Tony, dan anaknya itu sama sekali tidak melakukan perlawanan. Tapi dia juga kecewa karena tanpa sepengetahuan dirinya, ternyata Tony kembali berhubungan dengan benda itu. Apa dia lupa dia pernah hampir terkena radang paru-paru?
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...