NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -28-


__ADS_3

Cia apes banget malam ini. Seandainya dia bisa sedikit saja mengendalikan diri, seharusnya dia sudah rebahan nyenyak di kamarnya. Dia yang memang doyan makan, malam itu tetiba pengen martabak yang ada di ujung komplek. Adeknya yang lagi asyik maen PS nggak mau dia mintai tolong untuk membelikan. So, jadilah dia pergi sendiri, jalan kaki ke ujung komplek untuk mencapai keinginannya.


Dia juga nggak nyangka kalau malam ini tiba-tiba bakalan hujan sederas ini. Soalnya waktu berangkat beli martabak, cuacanya masih cerah. Tidak ada tanda-tanda mau turun hujan. Mana ada petir lagi. Karena nggak bawa payung, terpaksa deh dia nunggu sampai hujan reda. Cia duduk di bangku paling ujung kedai di dekat pintu karena kebetulan warung martabak lagi full pembeli.


"Duh, lama banget sih ni hujan." gerutunya sambil mendekap tubuhnya sendiri.


"Neng Cia nggak bawa payung?" tanya Mang Engkus, pedagang martabak yang sudah kenal baik sama Cia karena Cia sudah sering berlangganan martabaknya.


"Enggak Mang. Aku pikir nggak bakalan hujan, orang tadi cuacanya cerah pas aku ke sini."


"Cuaca ekstrem memang kaya begini neng. Suka tiba-tiba cerah, tiba-tiba hujan."


"Huhh, mana nggak bawa payung lagi."


"Yaaah... payung Mang juga cuma satu mau nawarin."


"Nggak usah lah Mang, biar aku nunggu reda aja." ujar Cia. Meski sebenarnya dalam hati ngedumel parah.


"Kenapa kok tumben nggak minta tolong Adeknya saja tadi?" Mang Engkus juga mengenal Adik Cia.


"Dia kalau udah maen PS. Nggak bisa diganggu gugat deh pokoknya."


Mang Engkus terkikik. Dia sedang membuatkan pesanan orang dalam jumlah lebih banyak.


"Pesanan siapa Mang? Banyak bener?" tanya Cia saat Mang Engkus menjajarkan 6 box martabak di atas meja di dekatnya.


"Katanya penghuni baru di komplek ini. Mamang juga belum kenal."


Kening Cia mengernyit. Dia mengenal hampir seluruh penghuni komplek karena memang sudah tinggal di sini sejak kecil. Tapi dia belum mendengar kabar kalau ada orang baru yang pindah ke sini.


"Oh ya? Udah lama pindah ke sininya?"

__ADS_1


"Baru kemaren katanya. Itu lho Neng, rumah kosong yang deket rumahnya Pak Farhan." Mang Engkus mengangkat martabak yang baru saja matang dan memasukkan di box ke tujuh.


Cia tahu rumah yang dimaksud Mang Engkus. Rumah itu hanya berselisih empat rumah dari rumahnya. Tapi posisinya berseberangan dengan deretan rumah Cia.


"Oh..." Cia hanya mengangguk. "Nanti Mamang nganter ke sana?"


"Enggak Neng. Katanya mau diambil sendiri kalau udah siap." Dengan cekatan Mang Engkus menyiapkan box ke delapan. "Ini tinggal yang terakhir."


Sedang asyik bercengkerama, terlihat seorang laki-laki membawa payung jumbo berlari kecil menghampiri kedai martabak Mang Engkus. Tanpa mempedulikan posisi Cia yang sedang berdiri di ambang pintu, laki-laki itu langsung menerobos masuk ke dalam kedai.


"Udah belum Mang?" tanya laki-laki itu.


"Eh, Mas... iya ini tinggal satu box lagi. Duduk dulu mas." sambut Mang Engkus ramah.


Laki-laki itu tersenyum sekilas ke arah Cia kemudian duduk di sebelahnya. Cia melirik laki-laki itu dengan ekor matanya. Jadi dia orang baru di komplek ini? Kayaknya dia seumuran sama gue deh, batin Cia.


Hujan terdengar mulai mereda dan Cia pun beranjak.


"Iya mang, mumpung udah agak reda." Cia mengulurkan tangannya keluar. "Cuma gerimis doang."


"Bareng mas ini aja lho Neng, kan searah..." Mang Engkus mengusulkan.


Reflek, Cia dan Laki-laki itu saling pandang. Mang Engkus apaan sih? Batin Cia aneh. Tapi Laki-laki itu justru tersenyum ke arahnya.


"Memang rumah kita searah?" tanya laki-laki itu.


"Rumah mas kalo dari sini ngelewatin rumahnya mbak ini.." jawab Mang Engkus tanpa ekspresi. Sepertinya Mang Engkus memang tidak ada maksud tertentu. Dia cuma kasian melihat Cia yang tampak gelisah karena menunggu hujan yang tak kunjung reda.


Tapi lain untuk Cia. Dia merasa canggung dan malu.


"Oh gitu? Ya ayo kalo gitu. Kebetulan payung yang aku bawa juga gede." kata laki-laki itu menawarkan.

__ADS_1


Mang Engkus tersenyum. Cia cuma melongo tak bisa jawab apa-apa. Setelah laki-laki itu membayar martabaknya, mereka lalu pulang bareng.


...🌺🌺🌺...


"Makasih ya buat tumpangan payungnya." kata Cia sesampainya di depan rumahnya.


Laki-laki itu hanya tersenyum dan mengangguk. Cia kemudian melangkah meninggalkan laki-laki tersebut. Saat Cia hendak membuka pintu pagar, laki-laki itu malah memanggilnya 'Hei'.


"Ya?" Cia menoleh.


"Oh ya, nama kamu siapa? Kita kan tetanggaan, masa nggak saling kenal." ucap laki-laki itu. Dia masih berdiri di tempatnya.


Cia kembali mendekati laki-laki itu dan mengulurkan tangannya. "Aku Cia."


"Marvin." Laki-laki itu membalas uluran tangannya. "Ya sudah kalau gitu aku duluan ya. See you..."



...Marvino Andrean (Marvin)...


...[Kuliah di salah satu Universitas di Jakarta. Usianya 20 tahun. Orangnya sedikit pendiam tapi ramah dan juga supel]...


Sepeninggal Marvin, Cia justru bengong di depan pintu pagar dengan mata yang terus memandang Marvin yang kian menjauh.


Asli, tu cowok cakep banget sih! Suara dalam hati Cia meledak-ledak. Dia bernafas lega karena akhirnya mampu berjalan di samping Marvin sampai rumah dalam keadaan terkontrol. Sepanjang perjalanan dari kedai martabak Mang Engkus sampai depan rumahnya, perasaannya benar-benar nggak karuan. Malu, senang, salah tingkah semua menyatu dalam tubuhnya.


"Marvin." gumam Cia seraya tersenyum. Saat Marvin tidak lagi tampak dari jangkauan matanya, dengan langkah ringan dia berjalan memasuki rumah.


Ternyata nggak apes-apes banget malam ini dia nekat pergi beli martabak sendiri.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2