NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -105-


__ADS_3

Malam itu, Tony berdiri tegap di depan sebuah rumah mewah yang dijaga oleh seorang satpam dan seekor anjing. Anjing jenis Rottweiler yang terikat di batang pohon dengan kandang dibawahnya itu terus menyalak keras dan menatap keluar. Mungkin dia tahu ada orang asing yang tengah mengintai rumah majikannya.


"Kamu ini kenapa to Gro? Ini udah malam mbok ya jangan berisik. Wong ya sudah dikasih makan kok. Kamu mau apa? Tidur di dalem? Ikut bos kamu? Muanjamu kok kebangetan. Sabar ya... pokoknya selama nyonya besar masih ada di sini, kamu jaga di luar sama saya... hehhehhee...." seorang satpam mengajak bicara anjing yang terus menyalak tersebut. Nama anjing itu Pigro.


"Pigro kenapa Din?!" Devan keluar dan berteriak dari teras. "Tumben nyalak terus dari tadi? Lo kasih makan nggak sih?"


"Sudah kok mas," jawab satpam yang bernama Udin tersebut. "Ini aja makanannya masih ada di wadahnya," anjing siapa, yang sering ngasih makan siapa? Hmmmm.... batin Udin nginyem.


Devan geleng-geleng kepala lalu berjalan mendekati kandang Pigro. Dia melihat wadah makanan dan minuman di dalam kandang Pigro dan ternyata memang masih ada.


"Lo kenapa sih Gro?" Devan jongkok di hadapan Pigro yang mulai berhenti menyalak. "Nggak biasanya lo berisik? Lo ngeliat apaan?" dia celingukan melihat sekeliling. Nggak ada siapa-siapa.


Mendengar pertanyaan Devan ke Pigro membuat Udin ikut celingukan sembari meraba tengkuknya. Masa iya hari gini ada hantu?hihhh.... Dia bergidig.


"Mungkin pengen tidur di dalam rumah mas," komentar Udin.


"Nggak bisa Din. Lo tahu kan nyokap gue benci banget kalau ada anjing di dalam rumah," bantah Devan. "Pokoknya selama nyokap sama kakak gue masih di sini, lo harus awasi dan jagain Pigro di luar."


Udin cuma mengangguk. Bagaimana lagi. Devan itu kan majikan yang super keras kepala. Satu saja perintahnya dibantah, dia ngalamat bakal kehilangan pekerjaan.


Devan kembali berdiri dan memantau sekeliling, memastikan tidak ada hal serius yang membuat anjingnya menyalak tak seperti biasanya. Setelah itu, dia kembali melangkah gontai memasuki rumah.


Namun baru saja langkahnya sampai di ambang pintu, dia mendengar bel yang berasal dari pintu pagar berbunyi. Dengan cepat, dia membalikkan tubuh dan melihat Udin sudah berbicara dengan seseorang dari balik pagar. Dan saat itu juga anjingnya kembali menyalak.


"Siapa Din?!!" panggil Devan. Kalau Pigro menyalak sekeras itu, tandanya memang ada orang asing di sini. Apa itu dia?


Udin menoleh, dan berlari tergopoh-gopoh menghampiri Devan.


"Anu mas, itu di luar ada orang yang mau bertemu sama Mas Devan."


"Siapa?" kening Devan mengerut. Dia merasa tidak ada janji untuk bertemu dengan seseorang malam ini. Teman nongkrongnya kalau mau maen ke rumah juga pasti ngabarin dulu. Lagipula selama menjalani hukuman sebagai tahanan kota, dia juga tidak bisa bepergian dengan leluasa.


Udin menggeleng. "Saya nggak tahu mas. Belum pernah lihat sebelumnya soalnya. Itu orang kayaknya juga baru pertama kali ke sini."


Devan memiringkan kepalanya, mengamati orang yang masih berdiri di luar pintu pagarnya dari teras. Tony dengan tegap berdiri di antara celah pagar dengan kedua tangan yang dilasakkan ke dalam saku celana. Dia sengaja berdiri di sana supaya Devan bisa mengenali dirinya. Dan ternyata benar, saat tatapan mereka bertemu, Devan cukup kaget dan menegakkan kepalanya.


"Tony?" gumam Devan. Ngapain dia malam-malam ke sini?


"Gimana mas? Dibukain apa nggak itu pagarnya?" tanya Udin.


"Ya udah buka aja. Suruh dia masuk," perintah Devan kemudian.


"Memangnya.... dia siapa sih mas?" tanya Udin kepo.


"Kalau saya suruh buka ya buka aja Din!" gertak Devan.


"Ee... b-baik mas....."


Dengan cepat Udin pun segera berlari menghampiri pagar dan membukanya.


"Salahkan masuk mas."


"Makasih ya Pak."


Devan masih merasa aneh melihat Tony yang tiba-tiba mendatangi rumahnya. Dari mana dia bisa tahu alamat rumah gue?


Tony melangkah dengan gontai menghampiri Devan yang masih berdiri mematung di teras dengan tatapan penuh selidik ke arahnya. Pigro juga terus menyalak sepanjang Tony berjalan dari pagar sampai teras. Udin pun terpaksa memukul anjing itu pelan menggunakan fake bone ke tubuhnya supaya berhenti menyalak.


"Sssssttt.... diem napa sih Gro? Itu temen bos lo!" gerutunya pada si anjing.


"Hei, selamat malam," sapa Tony pada Devan penuh formalitas.


Devan tersenyum sinis. "Mau apa lo ke sini? Tahu dari mana alamat rumah gue?"


Tony membalas senyuman Devan jauh lebih sinis. "Nemuin alamat rumah lo bukan perkara sulit buat gue."


Mendengar jawaban yang terdengar angkuh itu membuat Devan emosi. Tapi dia coba tahan, karena tidak ingin membuat keributan. Dia ingat ada mamanya di rumah ini.


Udin yang penasaran dengan apa yang terjadi, sesekali melongokkan kepalanya dari ruang satpam tempatnya berjaga. Siapa ya tu orang? batinnya. Tak lama, dia melihat majikannya itu masuk ke dalam rumah diikuti oleh tamunya dari belakang.


"Dia siapa yang?" tanya seorang perempuan yang tadinya sedang asyik membuka-buka majalah di ruang tengah begitu Tony dan Devan muncul.


Apa ini yang namanya Erin? batin Tony saat melihat perempuan itu. Di gelang itu kan ada namanya Devan dan Erin.

__ADS_1


Perempuan itu berdiri dan menyambut Tony dengan mengulurkan tangannya. "Hei, kamu temannya mas Devan ya? Aku Erin, istrinya mas Devan..." tanyanya sekaligus memperkenalkan diri. "Tapi.... kayaknya aku baru lihat temennya mas Devan yang ini.... atau memang aku yang nggak memperhatikan ya? Hihihi...."


Ternyata Erin adalah sosok yang ramah. Kasihan sekali dia memiliki suami sebejat Devan. Batin Tony.


Tony tersenyum dan menyambut uluran tangan Erin. "Tony," matanya melihat ke tangan Erin yang menggunakan gelang yang sama persis dengan gelang yang dia temukan di rumah sakit saat kejadian itu. Bedanya, gelang yang dipake Erin masih utuh--tidak putus.


Devan melihat sesi perkenalan itu dengan tatapan muak.


"Silahkan duduk dulu," sila Erin pada Tony. "Biar saya buatkan minum."


Erin pergi ke belakang, meninggalkan Devan dan Tony dalam suasana hening.


Devan duduk, begitu juga dengan Tony.


"Ada perlu apa lo malem-malem datang ke rumah gue?" tak ada sedikit pun keramahan dari sikap Devan.


Tony menghela nafas. "Lo lebih baik ngaku dan menyerahkan diri sebelum Polisi menyeret lo dengan cara tidak hormat dari istana lo ini," matanya menatap sekeliling ruangan rumah Devan singkat.


"Maksud lo apa?!" tubuh Devan menegak.


Tony melengos sekejap. "Lo nggak usah pura-pura nggak tahu, apa tujuan gue datang ke sini Van. Gue udah muak sama semua perbuatan lo."


"Lo pikir gue nggak muak? Kalau gitu kenapa lo datang ke sini? Gue nggak ngundang lo kan? Kita juga nggak punya urusan. Urusan kita sudah berakhir semenjak kita sama-sama keluar dari kantor polisi. Ngerti lo?"


"Lo salah. Urusan kita justru kembali di mulai sekarang," Tony menegaskan. "Tapi lo nggak usah khawatir, setelah urusan yang ini selesai, gue nggak bakalan berurusan sama lo lagi."


Devan menggertakkan gerahamnya dengan geram. Tangannya mengepal menahan emosi yang sudah meluap-luap di dadanya. Saat itu Erin muncul dari ruang belakang dan menghidangkan dua cangkir kopi masing-masing untuk Tony dan suaminya.


"Di minum mas," sila Erin. Dia duduk di samping Devan dan kembali meraih majalahnya.


Tony tersenyum pada Erin. Bagus deh kalau dia duduk di sana. Biar sekalian dia tahu bagaimana kebusukan suaminya.


"Lo kan yang saat itu datang ke rumah sakit International dan menggunting selang oksigen Adam di ruang ICU?"


Devan tersentak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Tony. Erin yang duduk di sampingnya pun turut kaget dan bingung. Dia menutup majalahnya, lalu menatap Tony dan suaminya bergantian. Ada apa ini?


Devan terkekeh. "Jadi lo datang ke sini cuma buat nuduh gue? Lo apa-apaan sih? Aneh banget jadi orang!"


Tony bisa melihat kegugupan dari nada bicaranya. Devan mulai terlihat tidak nyaman.


Jantung Devan berdebar kencang. Apakah yang dikatakan anak ini benar? Bukti seperti apa yang dia bawa? Dia melirik cemas ke arah Erin yang masih kebingungan.


"Ton..." Devan menghela nafas. "Lo sebaiknya nggak usah ngarang. Lo tahu itu bisa jadi lo bumerang buat lo--pencemaran nama baik. Adam itu bisnisman, saingannya pasti banyak, bisa aja kan pelakunya itu adalah saingan bisnis dia atau saingan bisnis bokap lo?"


"Elo yang ngarang," bantah Tony masih mencoba untuk tidak berteriak. Dia mulai muak dengan sangkalan Devan. "Elo juga kan yang nyuruh orang buat nusuk Adam waktu di Carlos? Lo hebat banget, karena lo bisa bayar orang yang bener-bener setia, sampai-sampai dia tidak mau buka mulut dan mengatakan kalau elo lah dalang dari semua peristiwa ini...."


"Mas... ini ada apa sih sebenarnya?" sahut Erin cemas.


"Tapi sekarang, lo nggak bakal bisa menghindar," lanjut Tony tanpa mempedulikan Erin. "Gue ada bukti kalau lo lah pelaku pengguntingan selang oksigen di ruang ICU Adam!" dia mengeluarkan gelang yang dia temukan di tempat kejadian saat itu pada Devan.


Mata Devan dan Erin membelalak. Erin melihat gelangnya sendiri dan gelang di tangan Tony bergantian.


"Gelang ini sama kaya punya istri lo. Bedanya punya istri lo masih bagus, tapi ini udah putus. Karena apa? Karena saat itu lo gugup denger teriakan gue, dan ini kesangkut kan di gagang pintu ruang ICU itu?"


"Mas... jelasin sama aku, ini ada apa?" Erin menggoyang-goyangkan lengan Devan. "Kamu bilang gelang kamu ketinggalan di rumah temen kamu, tapi itu apa??"


"Sayang, yang punya gelang kaya gitu banyak. Itu bukan punya aku. Punyaku beneran ketinggalan di rumah Bimo," jawab Devan ngeles ke Erin.


Tony tersenyum sinis. "Lo udah ketangkap basah masih juga ngeles lo ya, emang dasar anjing!!" teriaknya karena sudah tidak sabar lagi. "DI GELANG INI ADA NAMA LO DAN NAMA ISTRI LO!! DEVAN ♡ ERIN INI APA?!! HAH?!!" Tony memperlihatkan nama yang terukir di balik gelang itu ke Erin dan Devan.


Erin kaget. "Bener mas.... itu punya kita kan...?" ucapnya gemetar.


Teriakan Tony itu otomatis mengundang Mama dan Kakak Devan muncul dari kamar mereka masing-masing di lantai dua. Dengan langkah buru-buru, keduanya berjalan menuruni tangga dan menghampiri sumber suara ribut-tibut itu.


"LO LUPA APA GIMANA KALAU RUMAH SAKIT PUNYA CCTV?! HAH?!" Tony mengeluarkan ponsel dari saku satunya dan menunjukkan beberapa foto yang dia ambil dari ruang keamanan rumah sakit beberapa hari yang lalu. "DAN LO JUGA UDAH KEREKAM DI SANA!! Kalau sampai saat ini Polisi belum menangkap lo, itu karena mereka masih terus menyelidiki dan mencari tahu siapa orang yang ada di cctv ini! Tapi gue..... gue yakin 100% ini adalah LO!!"


Devan terdiam. Dia serasa mati kutu. Wajahnya semakin cemas saat melihat Mama dan Kakaknya yang kini mulai mendatangi ruang tengah. Bagaimana bisa Tony yang menemukan gelang itu. Dan orang di foto itu..... memang dirinya. Ya Tuhan.....


"Ada apa ini nak.?" tanya Mama Devan cemas dan bingung. Dia lalu menatap Tony, mengamatinya dari atas sampai bawah. "Kamu..... kamu ngapain ke rumah anak saya?" dia masih mengingat sosok Tony sejak pertemuan di ruang mediasi kala itu.


"Tanya sama anak Ibu. Jangan sama saya!" tandas Tony.


Saat itu Erin sudah menangis di pelukan Kakaknya Devan.

__ADS_1


Devan menggeleng ketakutan. "Nggak.... nggak bisa.... gue nggak mau di penjara.... iya.... gue emang pelakunya.... gue yang potong selang oksigen itu karena gue benci sama dia! Dia udah ngerusak semua rencana gue, dia udah bantu mantan istri gue sampai gue nggak bisa dapet hak asuh anak gue sendiri!" ucapnya gugup, sambil tolah-toleh kebingungan. "Tapi gue nggak mau dipenjara.... gue nggak mau..."


"That's why, anak lo nggak pantas di asuh sama Bapak bajingan kaya lo! Lo harusnya sadar itu!" teriak Tony.


"Cukup!" teriak Mama Devan. "Kamu jangan kurang ajar sama anak saya!" dia memegangi tangan Devan yang tampak ketakutan.


Devan bergerak mundur bersiap menjauh dan kabur. Dia sudah merasa sangat ketakutan. Dia tidak punya cara dan alasan lagi untuk menyangkal semua perbuatannya. Bahkan tanpa terkontrol dia sudah mengakui semua.


"Lo mau kemana? Lo harus nyerahin diri ke kantor polisi sekarang juga.... lo udah salah... lo hampir bunuh orang yang nggak salah!" Tony melangkah mencoba menghalangi Devan.


"Nggak...! gue nggak mau di penjara!"


"ANGKAT TANGAN!!"


Dua orang polisi muncul dari ruang depan sembari mengarahkan pistol ke arah Devan. Tak lama kemudian dua orang lagi dengan pakaian khas intel muncul dan menyergap Devan yang sudah bersiap untuk lari.


"LEPASKAN!!! Saya nggak bersalah!! Lepaskan saya!!" teriak Devan saat tangannya mulai diborgol. Dia terus meronta.


"Gue udah bilang kan sama lo? Lo lebih baik menyerahkan diri sebelum Polisi menyeret lo dengan cara tidak hormat seperti sekarang," Tony tersenyum. Dia merasa puas dan menang telak dengan apa yang dilihatnya.


Mama Devan yang syok, terduduk lemas di kursi sambil memegangi dada kanannya. Erin dan Kakak Devan pun langsung menghampirinya.


"Terimakasih atas kerjasama dan bantuannya nak," ucap salah seorang Polisi sembari menepuk-nepuk pundak Tony. "Karena kamu, kasus ini bisa diungkap lebih cepat."


"Sama-sama Pak."


Setelah Devan dibawa keluar dari rumahnya, Tony pun turut keluar, meninggalkan Erin dan Kakak Devan yang sibuk mengurusi Mama Devan yang terkena serangan jantung.


Di luar, sudah banyak sekali orang yang berkerumun di depan rumah Devan untuk menyaksikan Devan yang dibawa masuk ke mobil polisi dengan tangan terborgol. Mereka adalah para tetangga yang penasaran kenapa tiba-tiba ada polisi di komplek perumahan mereka.


Saat bertatapan dengan Udin, Tony hanya tersenyum sekilas kemudian berlalu.


...🌺🌺🌺...


Tony menyusuri lorong rumah sakit sambil mendengarkan rekaman hasil percakapan dan perdebatan sengitnya dengan Devan tadi. Dia sengaja merekam semua itu karena ingin menunjukkannya pada Selenia. Juga Cia, supaya dia tidak terus-terusan mencurigai karyawan Papanya itu. Renata itu orang baik.


Sekarang Tony bisa bernafas lega karena akhirnya Devan berhasil ditangkap. Dia yakin, Devan pasti akan mendapatkan hukuman yang lebih berat dari perbuatannya.


Bagaimana Tony bisa tahu alamat Devan dan mendatangi rumahnya?


Jadi siang itu sekembalinya dari menemani Selenia dari kantor polisi, Tony tidak langsung pulang. Tanpa sepengetahuan Selenia dan Cia, dia melipir mendatangi kantor polisi tempat dia biasa membuat laporan--karena tindakannya memukuli Devan--untuk mencari tahu alamat Devan. Setelah mendapatkan alamatnya, dia kembali lagi ke kantor polisi yang menangkap pelaku penusukan terhadap Adam. Di sana, dia menceritakan apa yang dia lihat dan menunjukkan beberapa bukti yang bisa digunakan untuk membekuk Devan. Jadi karena saat itu pihak kepolisian juga sedang menyelidiki kasus pemotongan selang oksigen dan ternyata ada hubungannya dengan laporan Devan, mereka pun sepakat untuk bekerja sama dan mengatur strategi.


Saat datang ke rumah Devan, Tony sebenarnya tidak sendirian. Jauh di belakangnya, empat orang polisi mengikuti dan turut mengintai apa yang terjadi di rumah itu saat Tony dan Devan mulai berbicara. Saat itu Tony membawa 3 ponsel. Satu ponsel untuk merekam percakapannya dengan Devan, lalu ponselnya sendiri yang digunakan untuk menyimpan foto-foto Devan yang dia dapat dari cctv, dan satunya lagi ponsel kecil, yang terhubung dengan sambungan telfon dengan Polisi, supaya Polisi itu tetap bisa mendengarkan percakapan mereka meski berada jauh di luar.


...🌺🌺🌺...


Langkah Tony terhenti di ujung lorong ruang ICU saat melihat Selenia, mertuanya, dan Pak Fendi saling berpelukan. Mereka semua menangis tapi juga tersenyum. Sebuah tangisan bahagia.


"Terimakasih dokter.... terimakasih untuk semua yang terbaik yang telah rumah sakit ini berikan untuk anak saya," ucap Bu Lisa sambil menyalami tangan Dokter erat.


"Sama-sama Ibuk, Bapak. Semua ini juga tidak terlepas dan dari doa dan support kalian. Bagaimanapun, keluarga adalah yang paling utama," tutur si Dokter.


"Lalu, kapan anak saya bisa dibawa pulang Dok?" tanya Pak Edwin antusias.


Dokter itu tersenyum. "Sabar pak. Sebaiknya tunggu sampai kesadarannya benar-benar pulih. Nanti, kami akan segera memindahkan pasien ke ruang perawatan, karena pasien sudah berhasil melewati masa-masa kritisnya."


Semuanya mengangguk. Bu Lisa menciumi Selenia berkali-kali saking bahagianya. Akhirnya, anak semata wayangnya itu berhasil melewati masa kritis dan sadar dari koma.


"Ma... aku temenin Adam dulu ya," ucap Selenia haru.


"Iya sayang."


Dengan langkah ringan, Selenia masuk ke ruang ICU, menemui Adam yang sudah membuka matanya setelah selama beberapa hari terpejam.


Tony melihat pemandangan itu dari jauh dengan senyum getir. Dia tidak tahu apakah dia harus bersedih atau bahagia mendengar kabar ini.


Selenia,


Peranku sebagai payung mungkin sudah cukup sampai di sini. Hujanmu mulai reda. Badaimu pun telah usai dan pelangimu telah kembali datang. Semoga kamu dan Adam selalu bahagia, tanpa ada siapapun yang mengganggu dan merusaknya.


Dengan lesu, Tony berbalik dan menyeret langkahnya menjauh dari sana.


Kabar Devan telah tertangkap adalah sesuatu yang harus diketahui Selenia dan keluarganya. Tapi untuk saat ini, biarlah mereka menikmati kabar bahagia itu terlebih dahulu.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2