NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -16-


__ADS_3

Seperti biasa, Cia selalu menunggu kedatangan Selenia dengan standby di depan gerbang sekolah. Tapi pagi ini dia tidak sendiri. Ada Tony yang berdiri di sebelahnya, dan mereka tampak ngobrol begitu akrab. Bahkan saat Selenia baru turun dan membuka bagasi untuk mengeluarkan barang-barangnya, baik Cia maupun Tony langsung dengan cekatan menghampiri dan membantu mengeluarkan barang-barang tersebut tanpa Selenia minta. Kalau Cia sih, udah biasa ya bagi Selenia. Tapi Tony?


Anak itu membantu mengangkati kardus milik Selenia, seolah-olah mereka sudah lama saling akrab.


"Banyak juga yang mau di preloved," celetuk Tony saat mereka berjalan beriringan menuju stand bazaar.


"Iya, mumpung ada kesempatan daripada numpuk gak kepakek di lemari," jawab Selenia. "Punya lo mana Ci?" Dia menoleh ke arah Cia yang sedang terlihat kerepotan membawakan kardusnya. "Berat ya? Sini biar gue bawa sendiri."


"Tangan gue ini kenapa sih? Dari semalem kayaknya kesemutaaaan mulu," Cia menyerahkan kardus tersebut pada Selenia.


"Sering-sering minum air putih Cia," sahut Tony memberi saran.


"Tuh dengerin. Elo itu udah keseringan konsumsi yang manis-manis," Selenia menimpali. "Hati-hati."


"Jaman sekarang penyakit itu nggak pandang umur Ci. Harus pinter-pinternya kita jaga kesehatan terutama pola hidup," imbuh Tony panjang. "Jangan terlalu sering konsumsi junk food."


"Jangan ngemall terus," komentar Selenia. "Masalahnya lo kalo udah ngemall, mampir food court, jadi kalap deh. Apa-apa dibeli, dimakan."


"Aduuuh jangan pada ceramahin gue kenapa?" Cia memberengut sembari mengibas-ngibaskan tangannya.


Mereka bertiga sudah sampai di deretan stand bazaar yang memanjang di halaman sekolah. Suara berisik sound system di atas panggung terdengar membahana ke seantero sekolah. Selenia dan Tony terkekeh melihat ekspresi Cia.


"Bukan ceramah Ciaaaa...." Selenia meletakkan kardusnya di atas meja yang masih kosong. Meja yang sudah mereka booking sejak kemarin. "Ini semua karena kita sayang sama temen, makanya ngingetin."


Cia hanya mencibir. Dengan cekatan, Tony mengeluarkan barang-barang milik Selenia dari dalam kardus dan menata di atas meja. Kemudian disusul Cia yang juga mengeluarkan kardus berisi barang-barang preloved miliknya yang sudah dia simpan di bawah meja dari tadi pagi.


"Ton, kamu nggak ikutan preloved? Lumayan loh," celetuk Selenia di sela-sela aktifitas mereka menata barang.


"Pengennya sih gitu. Tapi nggak ada waktu buat bongkar isi lemari," jawab Tony.


"Tapi kamu ikut ngisi acara kan?" sahut Cia.


"Dance doang. Tapi masih besok kok jadwalnya."


Selenia menyodok lengan Cia. "Tuh kalo lo mau ikut dance."


Cia tersenyum kecut. Kecewa rasanya kalau ingat ajakannya pada Tari, Fenita, Melia dan Saras untuk ikut nge-dance di atas panggung ditolak karena mereka sudah ikut kompetisi lain yaitu teater.


"Kamu bisa dance?" sambung Tony. Dia telah menyelesaikan aktifitasnya menata barang.


"Enggak juga kok. Cuma dikit-dikit," jawab Cia lesu.


"Dikit tapi sering," sahut Selenia. "Dia tuh suka maen itu lho apa namanya.... TikTok."


"Sama dong," Tony tersenyum lebar. Secara reflek tangannya memperagakan satu gerakan dance sembari meloncat kecil. "Emang dance itu bisa bikin suasana hati yang lagi galau jadi.....uuggghhh banget..."


Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba...


"PANGGILAN DI TUJUKAN KEPADA ANANDA ERLAND ANTONIO ADIGUNAWA, DITUNGGU TEMAN-TEMANNYA DI RUANG MUSIK!"


Suara itu berasal dari speaker sekolah yang ada di sudut teras kelas tak jauh dari tempat mereka berkumpul. Selenia dan Cia saling pandang. Suara panggilan itu terdengar dibuat-buat layaknya pembaca susunan acara dalam upacara.


"Kamu dicariin tuh," Selenia mengangkat dagunya ke arah Tony.

__ADS_1


"Apaan sih pake acara manggil orang lewat speaker segala. Ini pasti ulah Febri!" gerutu Tony sambil menatap ke speaker. "Yaudah aku cabut duluan ya. Good luck!" Lalu berlari meninggalkan Selenia dan Cia.


Selenia dan Cia duduk menjaga barang-barang mereka sambil menunggu acara pembukaan dimulai. Di sekitar mereka sudah banyak anak-anak lain yang turut meramaikan bazaar. Ada yang menjual makanan ringan home made, kaos sablon, bunga dan masih banyak lagi.


"Eh Ci, tadi kok Tony bisa sama lo sih?" tanya Selenia.


Cia mengangkat bahu. "Mana gue tahu. Orang tadinya gue sendirian, eh tiba-tiba dia nongol. Kayaknya dia naksir sama elo tuh Sel," bisiknya sambil menyikut pinggang Selenia pelan.


"Ck! Apaan sih lo, orang nanya apa jawabnya malah kemana-mana," omel Selenia lirih.


"Ih masa lo nggak peka sih? Dari gelagatnya aja keliatan tau... gue bisa nebak. Taruhan deh...."


"Ciaaaa...." Selenia mengerang pelan sambil melirik sahabatnya itu dengan ekor matanya.


"Iya deh iya, mentang-mentang udah punya pangeran."


"Ciiiaaaa...." Selenia melotot tajam.


Cia terkikik melihat ekspresi Selenia. Dia pun memilih untuk shut up meskipun feelingnya merasa kalau apa yang barusan dikatakan itu pasti benar. Entahlah, feeling saja.


...🌺🌺🌺...


"Dadaaaah Mama.... jangan puyang mayem-mayem ya Mamaaah..." celoteh seorang anak perempuan kecil dari dalam mobil. Dia Nola, anak Renata yang pagi ini ikut mengantar dirinya ke kantor. Usianya sekitar dua tahun.


Renata tersenyum dan menciumi kening, pipi dan bibir anaknya secara bergantian dari luar. "Iya sayang, Mama janji Mama pulang cepet hari ini," Dia membelai rambut Nola dengan penuh kasih. "Tapi Nola juga harus janji, di rumah sama Mbak nggak boleh rewel ya."


Anak kecil itu mengangguk lucu.


"Mamah atiiii," ucapnya menirukan ucapan si mbak. "Puyang beyi eciiimm," imbuhnya.


Renata terkekeh dan mencium kening Nola dengan gemas. "Siappp princessnya Mama," Dia lalu berpesan pada Mbak pengasuh. "Mbak jangan lupa sebelum pulang beli susunya Nola dulu ya. Soalnya semalem saya liat kayaknya stoknya tinggal dikit."


"Iya Buk. Ya udah kalau gitu saya sama adek pulang dulu ya. Permisi Buk," Pengasuh itu menutup kaca mobil perlahan.


"Ya hati-hati... daaaghhh!" Renata melambaikan tangannya.


Perlahan mobil Mitsubishi Expander putih itu bergerak meninggalkan halaman kantor. Renata berdiri di tempatnya sampai mobil yang membawa Nola dan pengasuhnya menghilang di tikungan. Saat dia berbalik hendak berjalan ke gedung kantor, dia terkejut melihat Adam yang sudah berdiri tidak jauh di belakangnya. Laki-laki itu terlihat sedang memperhatikan dirinya.


"Eh, Pak Adam, selamat pagi Pak..." Renata menunduk hormat.


Adam tersenyum simpul. Dia memang sudah mengamati Renata sejak masih di dalam mobil tadi karena penasaran dengan anak kecil yang ikut mengantar Renata ke kantor. Pemandang itu membuatnya berandai-andai akan beberapa hal.


Seandainya dia memiliki anak, seandainya dia dan Selenia menikah di saat usia Selenia telah cukup. Pasti hidupnya akan terasa lebih bahagia. Bukan berarti sekarang tidak bahagia, tapi pasti akan terasa lebih lengkap. Namun rasanya mustahil hal itu terjadi sekarang. Istrinya bahkan masih sekolah. Dan juga.....ah entahlah.... sepertinya satu hal ini terlalu sulit walau hanya untuk sekedar dibayangkan.


Hanya harapan-harapan terbaik yang selalu Adam aminkan di setiap sujudnya selama ini.


"Pagi Ren..." Adam membalas sapaan Renata. "Itu tadi... anak kamu?"


"Iya Pak. Dia anak saya," jawab Renata sedikit canggung.


"Lucu ya. Berapa usianya?"


"Baru dua tahun Pak."

__ADS_1


Mereka kemudian berjalan beriringan sambil ngobrol.


"Kamu..." Adam tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tidak yakin untuk menanyakan hal ini pada Renata. Tapi sayangnya perempuan itu sudah terlanjur menunggu ucapan yang menggantung tersebut "...cuma tinggal sama anak kamu? Siapa namanya?"


Renata menyunggingkan senyum. "Namanya Nola. Iya, saya tinggal bersama sopir, pengasuhnya Nola, dan Nola. Memangnya ada apa Pak?"


"Nggak pa-pa," Adam menghela nafas. "Salut aja sama kamu. Single parent yang pantang menyerah."


Renata tersipu mendengar pujian tersebut.


"Pak Adam bisa aja. Tapi, makasih Pak."


"Untuk?" Adam mengangkat alisnya.


"Pujian Bapak. Itu... merupakan support untuk saya."


"Oh ya Ngomong-ngomong.... ma'af ya sebelumnya... kenapa.... kamu bisa ber... cerai?"


Renata terdiam. Untuk beberapa detik mereka sama-sama berdiri di lobi kantor.


"Maaf Ren, saya tidak bermaksud apa-apa. Kalau kamu tidak berkenan untuk menjawab, nggak pa-pa kok. Ma'afkan saya sudah lancang menanyakan hal ini," ujar Adam kemudian dengan perasaan bersalah. Dia melihat raut wajah Renata yang terlihat berubah sedikit masam saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


"Saya tidak bisa bertahan dengan orang yang sudah mengkhianati pernikahan kami Pak. Jadi menurut saya berpisah adalah jalan yang terbaik untuk keduanya," jawab Renata datar.


"Ooh..." Adam manggut-manggut. "Sekali lagi saya minta ma'af. Saya percaya kamu orangnya kuat."


Renata menunduk dan tersenyum.


"Ya udah kita masuk yuk," ajak Adam kemudian.


"Bagaimana dengan Pak Adam? Bapak sudah menikah?" tanya Renata kemudian saat mereka mulai memasuki kantor.


Glek! Adam menelan ludah. Dia tidak tahu harus jawab apa. Jawab YA, tidak mungkin. Orang-orang di sini tidak ada yang tahu kalau dia sudah menikah. Apa jadinya kalau Renata tahu. Otomatis, secara perlahan semua orang kantor akan tahu. Dan bagaimana kalau mereka semua tahu kalau ternyata istrinya itu masih anak sekolah?


Tapi kalau dia jawab TIDAK, jahat sekali rasanya. Secara tidak langsung berarti dia mengkhianati Selenia bukan?


Adam menggeleng. Dia bingung.


"Oh, belum?" sahut Renata melihat gelengan itu.


Adam tersentak. Ternyata Renata mengartikan gelengan bingungnya seolah menjadi jawaban 'Ya, Saya belum menikah'.


"Oo.. e... mmm..." Adam gugup.


Renata tersenyum melihat ekspresi lucu Adam. Dalam hatinya terselip perasaan lega begitu tahu status Adam.


"Ya udah Pak, saya ke ruangan saya dulu. Permisi," ucap Renata kemudian berlalu meninggalkan Adam yang masih mematung di tempatnya.


Adam menggigit bibirnya. Apa yang baru saja dia lakukan.


...🌺🌺🌺...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2