NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -72-


__ADS_3

Sore ini, Adam keluar dari kantor lebih awal karena pekerjaannya sudah beres. Hanya tinggal menyerahkan dokumen finishing renovasi aula SMA Bhakti Nusa saja ke Pak Anton dan itu pun masih bisa ditunda sampai besok. Jadi sebelum pulang, dia kepikiran ingin mampir sebentar ke mall untuk membelikan makanan kesukaan Selenia. Dia ingat, pertama kali jalan bareng istrinya malam itu, Selenia sangat menikmati donat mini yang dia beli di food court. Semoga saja masih ada, batinnya.


Nasib baik berpihak pada Adam. Ternyata food court penjual donat mini itu masih ada. Letaknya di lantai 3 mall. Setelah membeli 2 kotak, Adam pun langsung bergegas pulang. Di jalan dia sudah membayangkan bagaimana ekspresi bahagia Selenia menerima oleh-oleh makanan kesukaannya itu. Namun saat sedang fokus nyetir sambil tersenyum membayangkan hal itu, tiba-tiba dia dikagetkan oleh seorang pengendara motor yang membleyer-bleyer gasnya tepat di samping mobilnya. Adam pun langsung memperlambat laju mobil dan mengamati siapa orang tersebut. Tapi sayang, dia tidak bisa mengenali wajah orang tersebut karena tertutup helm full face dengan kaca helm yang hitam. Selama beberapa menit orang itu melakukan aksinya dan kemudian langsung melesat pergi.


Ducati merah? Apa itu Tony? Pikir Adam saat sempat melihat motor tersebut dari belakang. Pemilik motor seperti itu mungkin bukan hanya Tony, tapi orang yang akhir-akhir ini sangat tidak singkron dengannya kan hanya anak itu.


Ngapain tu anak? Hmmmmhh... dasar bocah labil, batinnya sembari mempercepat laju mobil.


Sesampainya di rumah, Adam langsung berlari menuju kamar Selenia dan ternyata istrinya itu juga baru saja mau keluar kamar.


"Taraaaa...!" Adam menggantungkan oleh-oleh tersebut di depan wajah Selenia.


"Apa ini Dam?" tangan Selenia menerima oleh-oleh itu dan membukanya.


"Kesukaan kamu kan? Tadi kebetulan kerjaan aku udah beres dan aku ingat kamu suka banget sama makanan itu. Jadi aku mampir deh ke mall dan beli...."


"Hoeeeeekk!!!" belum selesai Adam berbicara, Selenia sudah keburu mual begitu melihat isi kotak oleh-oleh tersebut. Dia mengembalikan donat mini itu ke Adam.


"Lho, sayang? Kamu kenapa?" Adam heran melihat ekspresi Selenia yang tengah menutup mulut dan hidungnya rapat-rapat. Tangannya meraba kening Selenia. "Kamu sakit?"


"Itu apa sih Dam? Bikin eneg aja deh."


Adam menatap kotak donat di tangannya dan Selenia bergantian.


"Sayang, ini kan donat mini kesukaan kamu. Kamu inget kan pas pertama kali kita jalan dulu, malem-malem terus kamu makan donat ini lahap banget di mall?"


Selenia menggeleng cepat-cepat. "Itu dulu tapi sekarang enggak. Udah deh mending itu kamu kasih aja ke Bi Iyah sama Pak Tono. Aku nggak mau. Baunya aja udah bikin eneg. Kamu pasti belinya bukan di tempat aku beli dulu kan?"


"Aku belinya di tempat yang sama sayang. Beneran deh. Lagian cuma ada satu penjual donat mini doang di mall itu kan?"


"Ck, udah ah. Kalau aku bilang nggak mau ya nggak mau. Kasih aja ke Bi Iyah sama Pak Tono, Dam."


Adam memang sedikit kecewa dengan penolakan itu. Tapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak mau memaksa kalau Selenia memang tidak mau.


"Beneran kamu nggak mau?" tanya Adam lagi.


"Enggak. Udah kasih ke Bi Iyah sana," Selenia mendorong tubuh Adam pelan, tapi kemudian menahannya. "Eh sini biar aku aja yang kasih, sekalian aku mau bikin minum di dapur. Kamu capek pasti, sana ganti baju. Mau sekalian aku buatin minum?"


"B-boleh deh. Ya udah nih," Adam menyerahkan kembali bungkusan itu ke Selenia.


"Mau minum apa? Kopi espresso atau kopi hitam?"


Setelah heran dengan sikap Selenia yang tiba-tiba tidak menyukai makanan yang pernah sangat dia sukai, kini Adam juga tambah heran dengan sikap Selenia yang menurutnya begitu perhatian. Jarang-jarang lho Selenia menawarkan diri untuk membuatkannya minuman.


"Ih Adam kok malah bengong sih? Ditanyain juga," Selenia mengibaskan tangannya di depan wajah Adam.


"Eee i-iya... kopi hitam aja. Makasih ya sayang," jawabnya sedikit gugup diiringi senyuman nyengir.


"Oke," Selenia kemudian berlalu menuju dapur sambil membawa donat mini yang akan diberikan ke Bi Iyah.


Selenia kenapa ya? Kok aneh sih?


Bi Iyah sedang menyetrika baju di kamarnya, jadi Selenia langsung membawa donat itu ke sana. Tampak dua tumpuk bajunya dan baju milik Adam yang sudah rapi siap masuk lemari.


"Bibik," sapa Selenia centil. "Nih buat Bibik sama Pak Tono.l," dia menyerahkan donatnya pada Bi Iyah.


"Apa ini Non?"


"Oleh-oleh dari Pak Adam. Dimakan ya," katanya kemudian dan langsung meninggalkan kamar Bi Iyah.


"Makasih ya Nooon...!" teriak Bi Iyah karena Selenia sudah jauh. Matanya berbinar saat membuka isi kotak dan melihat butiran-butiran donat mini dengan taburan cream dan toping yang menggoda.


Membuatkan kopi hitam untuk Adam, membuat Selenia teringat dengan sosok yang menubruknya di gerbang sekolah kemarin dan tentang paket misterius yang dia terima pagi tadi. Hitam.


Sebenarnya dia siapa? Dan kenapa dia melakukan itu padaku?


Kalau ingat hal itu, Selenia sangat takut dan tidak bisa abai begitu saja. Tapi di depan Adam--sementara hal itu tidak terlalu membahayakan dirinya--dia memilih untuk diam. Dia tidak mau membebani pikiran Adam, apalagi kan sebentar lagi dia mau ke luar kota. Takutnya kalau Selenia ngomong sekarang nanti malah Adam nggak fokus.


Ah, membayangkan akan ditinggal Adam ke luar kota membuat Selenia tiba-tiba merasakan rindu. Padahal berpisah saja belum. Entahlah, semenjak meninggalkan rumah beberapa hari kemarin, rasanya sekarang malah jadi pengen di dekat dia terus. Selenia tidak bisa berhenti tersenyum setiap kali memflashback perjalanan hidup yang dia lalui bersama Adam. Dia tidak pernah berpikir akan sejatuh cinta ini pada orang yang dulu selalu dia acuhkan.


"Kopinya aku taruh sini ya," Selenia meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja. Suaminya itu nampak fokus memandang layar laptop yang menampilkan banyak tulisan yang sama sekali tidak dia pahami.

__ADS_1


Adam juga terlihat lebih segar karena baru saja selesai mandi. Dia tampak keren banget di mata Selenia padahal cuma mengenakan celana cargo selutut dan kaos putih polos.


"Makasih ya sayang," Adam tersenyum dan beringsut dari kursinya. "Duduk sini," dia menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.


Selenia kemudian duduk dan meneguk minuman miliknya--susu putih hangat. Saat dia kembali mengamati tulisan-tulisan di layar laptop Adam dan masih nggak ngerti sama sekali, akhirnya dia memilih mengalihkan perhatiannya pada tempat lain.


Adam mengamati wajah istrinya yang sedang melihat ke sekeliling kamarnya dan tersenyum. Cantik banget sih, batinnya. Selenia juga terlihat lucu dengan pakaian kaos oblong putih dan celana kolor pink tie dye di atas lutut. Terlihat ABG banget. Ya memang istrinya itu masih ABG kan?


"Ngeliatin apa sih? Serius bener?" Adam merengkuh pinggang Selenia dari samping dan membawa tubuh mungil istrinya itu ke dalam pelukannya. "Kamu udah mandi belum?" tanya Adam.


Selenia menggeleng. "Nanti aja sekalian pas mau makan malam."


"Lhoh, jangan mandi terlalu sore sayang. Nggak baik. Biasanya kamu tu udah rapi lho kalau aku pulang dari kantor."


"Tapi hari ini aku masih males banget."


"Hmmmm..." Adam mengecup kepala Selenia lembut. "Gimana sekolah kamu hari ini?"


Deg! Mendengar pertanyaan itu pikiran Selenia kembali melayang pada sosok itu dan paket misterius.


"Baik kok," jawab Selenia singkat.


"Oya sayang. Sebentar lagi kan kamu lulus nih, kamu udah punya planning belum mau kuliah di mana?"


Selenia menarik diri dari pelukan Adam dan menggeleng pelan. Dia memang sama sekali belum punya pandangan tentang itu. Karena entah kenapa di pikirannya justru ada hal lain yang ingin dia lakukan setelah lulus SMA nanti. Yaitu menikah secara hukum negara dengan Adam. Tapi kok rasanya konyol sekali kalau dia yang harus ngomong duluan. Apalagi selama ini Adam tidak pernah menyinggung hal itu di depannya. Entah belum atau memang dia sama sekali tidak berpikir untuk menikahinya secara resmi? Terkadang hal itu juga cukup mengganggu pikirannya.


"Dam, aku mau nanya sama kamu."


"Apa?"


"Setelah aku lulus nanti, apa kita bakal seperti ini terus?"


Kening Adam mengerut. "Seperti ini? Maksudnya? Sama-sama terus?" dia lalu tersenyum dan menangkup wajah Selenia. "Pasti sayang. Kenapa kamu harus nanya begitu?"


"Bukan itu maksudku Dam..."


"Terus?"


Pertanyaan itu seketika membuat hati Adam terhenyak. Dia sama sekali tidak menduga Selenia akan mempertanyakan soal ini.


Adam menggeleng. "Aku.... sebenarnya aku... punya keinginan untuk menikahi kamu secara negara, tapi...."


"Tapi apa Dam?" sahut Selenia.


"Aku nggak yakin kamu bisa menerimanya Sel," Adam melepaskan tangkupan tangannya dari wajah Selenia dan menunduk.


Deg! Jantung Selenia berdebar. Kenapa Adam justru berpikir begitu?


"Kenapa kamu mikirnya gitu?" tanya Selenia sedikit ketus.


Adam mendongak dan menatap wajah Selenia lurus. Setiap kali melihat wajah imut Selenia, rasa percaya dirinya hilang. Di matanya, Selenia itu masih sangat muda, dan masa depannya masih panjang. Sementara saat ini, kebebasan masa remajanya seolah sudah terampas karena pernikahan mereka. Adam sadar, ini semua memang juga bukan keinginannya dulu. Tapi semakin ke sini, perasaan cinta itu seolah tumbuh begitu saja. Dia memang takut kehilangan Selenia dan ingin memiliki seutuhnya. Namun setiap mengingat perbedaan usia diantara mereka, keinginan untuk menikahi Selenia secara negara seolah pupus begitu saja. Selenia seharusnya mendapatkan yang lebih baik darinya.


"Kok kamu diem sih Dam? Kenapa kamu mikirnya gitu? Jawab!" Selenia merasa kecewa dengan alasan Adam.


"Kalau kamu nanya sama aku, apakah selamanya kita akan jadi pasangan suami istri siri, tentu jawabanku tidak Sel. Aku nggak mau status kita seperti ini terus."


"Terus pertanyaanku yang kedua, kenapa kamu mikir gitu? Apa jawabnya?"


"Karena perbedaan usia kita terlalu jauh...."


Hah? Mulut Selenia terbuka mendengar alasan yang keluar dari mulut Adam yang menurutnya tidak masuk akal. Terus memangnya kenapa kalau usia mereka terpaut jauh? Adam kenapa sih?


"Kamu ni ngomong apa sih Dam???" Selenia merengek dan memukul bahu Adam beberapa kali. "Jadi selama ini kamu sama sekali nggak punya pikiran buat nikahin aku secara resmi cuma karena itu?? Memangnya kenapa sih kalau perbedaan usia kita terlalu jauh? Kamu malu punya istri anak kecil labil kaya aku??"


"Bukan aku yang malu Sel, aku yang takut kamu nggak nyaman sama aku."


"Kalau aku nggak nyaman sama kamu, kenapa aku masih di sini sampai sekarang? Kenapa aku kembali lagi setelah berhari-hari ninggalin rumah? Kenapa Dam? Kenapa kamu harus mikir gitu?" mata Selenia mulai berkaca-kaca. Hatinya sakit mendengar alasan Adam yang sangat tidak masuk akal. Dia pikir itu hanya alasannya saja untuk menutupi ketidakseriusannya.


"Ssssttt... iya sayang, aku minta maaf kalau alasan aku bikin kamu sakit. Maaf," Adam mendekap Selenia erat ke dalam pelukannya. "Maaf kalau pemikiran aku salah...."


"Aku sayang sama kamu Dam. Aku nggak mau kehilangan kamu," Selenia terisak dan membalas pelukan suaminya lebih erat.

__ADS_1


"Iya aku ngerti. Aku juga sama, aku nggak mau kehilangan kamu. Kamu mungkin bosen ya denger aku ngomong cinta dan sayang yang sering aku ulang-ulang."


Selenia menggeleng. "Kamu tahu nggak sih, planning apa yang ada di otak aku setelah lulus nanti? Aku cuma pengen kita nikah sah secara negara. Itu dulu. Aku belum mikir mau kuliah dimana, karena cuma itu yang ada di otakku,""


"Makasih sayang. Makasiiiih banget kamu udah bisa nerima aku apa adanya. Dan itu pasti. Tanpa kamu minta, aku pasti akan lakuin itu. Aku hanya merasa belum punya waktu yang tepat aja buat ngomong, makanya aku nggak pernah menyinggung soal itu. Bukan berarti aku nggak peduli sayang."


Selenia masih menangis dan semakin tenggelam di dalam pelukan Adam. Adam sedih mendengar ungkapan Selenia sore ini. Kenapa istrinya itu seolah berpikir bahwa dia tidak menganggap hubungan ini berarti? Padahal baginya, Selenia adalah separuh nyawanya. Sumber kebahagiaan dan senyumnya. Sekarang semua semakin terlihat jelas. Sikap Selenia itu sudah menjadi lampu hijau untuk Adam mempersiapkan semuanya.


...🌺🌺🌺...


Petra: [Lo ke basecamp nggak?]


Tony: [Sorry, malam ini gue nggak bisa ikut gabung]


Petra: [Terus gimana turnamennya? Lo jadi ikut nggak?]


Tony: [Gue pikir-pikir dulu ya Pet. Nanti gue kabarin lagi]


Petra: [Kalau ngasih keputusan yang pasti, waktunya tinggal beberapa hari lagi]


Tony: [Iya lo tenang aja]


Tony melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Turnamen game online yang biasanya menjadi hal yang paling dia nanti-nanti, kali ini justru tidak begitu dia minati. Ingatannya melayang pada sosok Ibunya yang semalam tiba-tiba mendatangi basecamp tempatnya nongkrong.


Untuk apa dia datang? Sebagai seorang anak, tindakan mengusir Ibunya semalam mungkin memang keterlaluan. Tapi Tony melakukan itu bukan tanpa alasan. Marah. Ya, dia marah karena perempuan itu dulu telah tega meninggalkan dirinya. Hanya itu saja alasan kemarahan yang selalu terpatri dalam benak Tony. Tapi sebenarnya, di dasar hatinya yang paling dalam, dia terkadang masih merindukan Ibunya. Dia ingat percakapannya dengan Marvin di bukit bintang beberapa waktu yang lalu. Marvin bilang, dia berhak marah, tapi Marvin juga berpesan kalau kemarahannya itu jangan sampai membuatnya menyesal suatu hari nanti.


Tony membenamkan wajahnya di bantal.


Apakah Mama juga akan mendatangi Papa? Apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupannya sekarang, sehingga dia memiliki keberanian untuk datang lagi di kehidupanku dan Papa?


Sejak perempuan itu memutuskan untuk pergi, sepertinya sudah tidak ada lagi ruang di hati Tony untuk sekedar mengingat tentang dirinya.


...🌺🌺🌺...


Di basecamp,


"Apa katanya?" tanya Ricko saat mendengar Petra mendengus kesal.


"Belum jelas. Nanti mau dikabarin lagi," Petra melempar ponselnya ke sofa dan berjalan ke arah dapur. Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa satu kaleng soft drink.


"Ck! Dia sebenarnya niat nggak sih ikut turnamen?" sahut Yoga kesal.


"Tu anak kenapa sih sebenernya? Akhir-akhir ini permainannya juga jelek banget sumpah," Febian menimpali.


"Dia udah punya cewek belom sih Pet?" tanya Gilang.


Petra terkekeh mendengar pertanyaan Gilang. "Ya mana gue tahu. Itu urusan pribadi dia kali."


"Tapi di antara kita ber enam, elo yang paling deket sama dia. Masa lo nggak tahu?" sahut Febian lagi.


Petra cuma melirik Febian dan tersenyum. "Kalau urusan pribadi gue mana tahu dah. Dan gue juga nggak mau cari tahu. Setiap orang itu punya privasi. Hargai," dia berjalan ke arah PC gaming dan mulai menyalakan monitor. "Udahlah, dia pasti ikutan turnamen kok. Mungkin aja sekarang emang lagi ada masalah atau badmood atau apalah... tungguin aja infonya lagi."


Yoga, Ricko, Febian dan Gilang hanya saling pandang dan saling mengangkat bahu.


...🌺🌺🌺...


Sementara itu di rumah Tony, Pak Anton sedang duduk dan merenung di ruang kerjanya. Matanya memandang sebuah foto yang terbingkai manis di atas meja. Foto keluarga kecilnya saat dia dan istrinya belum bercerai. Di foto itu Tony masih kecil, mungkin baru berusia 4 tahun dan masih digendong.


Pak Anton tersenyum menatap foto itu. Dia ingat betul bagaimana harmonisme keluarga yang dia miliki sebelum badai itu menerpa. Riska adalah sosok yang peduli dan penuh kasih kepada keluarga. Tak pernah bisa dilupakan oleh Pak Anton bagaimana perempuan itu menemaninya dari nol. Itulah kenapa sampai sekarang, dia masih memiliki ruang di hatinya untuk perempuan itu.


Pak Anton masih mencintai Riska. Salah satu alasan kenapa dia tidak pernah menikah lagi setelah bercerai. Karena menurutnya, Riska meninggalkan dirinya bukan karena menemukan yang lebih baik. Saat Riska pergi, justru karir Pak Anton sedang bagus-bagusnya. Waktu adalah sebab dari awal mulanya badai itu terjadi. Semenjak usaha dan bisnisnya mulai merangkak naik, Pak Anton jadi lebih banyak fokus pada pekerjaan dan perusahaan hingga dia terlena yang akhirnya membuat Riska merasa diabaikan. Itulah kenapa Riska pun memilih untuk mencari kebahagiaannya sendiri di luar.


"Aku cuma butuh waktumu, Mas. Tapi semakin ke sini, aku perhatikan kamu semakin tidak memiliki waktu untukku dan Tony. Aku kecewa mas dengan sikap kamu," begitu dulu Riska pernah memprotes sikap Pak Anton yang selalu super sibuk dan jarang di rumah. "Jangan salahkan aku kenapa aku mencari kebahagiaan di luar. Aku di rumah nggak bahagia. Suamiku tidak pernah memperhatikan aku!"


"Maafkan aku Riska," Pak Anton mengelus foto itu. Penyesalan memang selalu ada dan datang di akhir. Andai saha saat itu dia bisa lebih mengendalikan diri, pikir Pak Anton.


Perceraian tidak hanya membuat Pak Anton sedih. Tapi juga membuat hati Tony terluka. Apalagi setelah perceraian itu, Ibunya tidak pernah lagi mendatangi dia. Terakhir kali datang adalah saat memberitahukan kalau dia akan menikah. Itulah akhirnya yang membuat Tony berpikir kalau Ibunya meninggalkan keluarga hanya demi laki-laki lain. Itu memang kenyataan yang terjadi. Tapi di balik itu semua, Pak Anton tetap merasa bahwa kesalahan tidak sepenuhnya ada pada Riska.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2