
"Sayang, si baby dikasih nama siapa?" tanya Selenia suatu pagi setelah selesai sarapan. Si baby juga baru saja selesai di cek oleh suster sekaligus diberi ASI.
Selenia dan Adam sama-sama berdiri di depan inkubator, melihat si baby yang tampak nyaman dalam balutan selimut.
"Kamu udah siapin nama belum?" Adam menoleh.
Selenia menggeleng polos. Dia sama sekali belum memiliki rekomendasi nama untuk anaknya.
"Aku sudah siapin nama buat anak kita sayang," Adam merangkul bahu Selenia dan kembali menatap si baby. "Namanya, Rainer Mallory Prawira. Gimana? Bagus nggak?"
"Rainer Mallory Prawira," Selenia menggumam. Seketika matanya berbinar dan kepalanya langsung mengangguk-angguk. "Bagus sayang, terus, panggilannya siapa?"
"Ray? Allo? Terserah kamu sayang."
"Ray," Selenia langsung menentukan pilihan.
Adam tersenyum dan menenggelamkan tubuh Selenia ke dalam pelukannya. Pagi itu, bayi mereka telah memiliki nama. Keduanya sama-sama merasa bahagia karena perkembangan Ray semakin menunjukkan kemajuan. Selenia sendiri sudah tidak sabar pengen segera pulang. Dia sudah kangen dengan suasana kamarnya. Pagi tadi saat mengecek kondisi Ray, suster juga mengatakan kalau kondisi bayi mungil itu terus menunjukkan kemajuan, mereka bisa lebih cepat keluar dari rumah sakit.
"Semoga saja nggak sampai satu bulan ya sayang. Aku udah bosen," ucap Selenia merengek manja.
"Iya sayang. Aku yakin kok, kita pasti akan secepatnya pulang."
...🌺🌺🌺...
"Penerbangan kamu take off jam berapa Ton?" Pak Anton menghampiri Tony di kamarnya. Anak itu sedang mengecek barang-barang yang akan dia bawa ke New York.
Hari ini Tony sudah mantap akan berangkat ke negara adidaya itu untuk mengejar cita-citanya. Semua perlengkapan untuk masuk NYIT (New York Institute Of Technology) sudah dia masukkan ke dalam satu map yang telah dia amankan ke dalam koper baju. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru di kampus teknologi itu telah dia terima kemarin sore, dan Tony dinyatakan lolos.
Tony akan diantar oleh ayah dan tantenya sampai bandara. Ya, belum lama ini dia telah berdamai dengan Bu Fatma. Itu semua dia lakukan semata karena memikirkan ayahnya juga. Tony pikir, siapa lagi yang akan merawat dan menjaga ayahnya selama dia di New York kalau bukan tantenya.
__ADS_1
"30 menit lagi Pa," jawab Tony datar.
Pak Anton manggut-manggut. "Ya sudah, kalau gitu Papa minta Pak Ihsan siapkan mobil dulu ya."
"Tunggu Pa..." Tony berbalik saat Pak Anton sudah hampir melangkah meninggalkan kamar.
"Ada apa?"
"Nanti Petra mau ke sini. Selama aku di New York, aku minta dia buat bawa dan jaga motorku."
"Iya nggak pa-pa," Pak Anton menyetujui. "Lagipula Papa juga nggak mungkin mau pake motor kamu," ujarnya terkekeh sembari berjalan meninggalkan kamar.
Semuanya sudah siap. Tony menghempaskan bokongnya di atas kursi gaming kesayangannya. Tangannya menyentuh dan mengelus rangkaian PC yang selama ini selalu setia menemani kesendiriannya. Dia tersenyum kecil dan matanya mengamati sekeliling kamar. Ruangan yang selalu menjadi tempat peraduannya dari segala masalah, sebentar lagi akan dia tinggalkan. Tony mengeluarkan ponsel dari dalam saku hoodie yang dia kenakan. Dengan helaan nafas berat, jari jemarinya mulai menyusuri nomor yang ada di daftar kontak. Dan lagi-lagi, pencariannya harus terhenti pada satu nomor yang telah dengan teguh dia blokir. Selenia. Entah kenapa rasanya, setiap kali tangannya bersentuhan dengan ponsel, nomor itulah yang akan pertama kali dia cari dari daftar kontak dan akan dia pandangi selama beberapa saat.
Kamu pasti sedang berbahagia bersama keluarga kecilmu Sel. Kebahagiaanmu lengkap sudah dengan kehadiran malaikat kalian sekarang. Hhhhh.... Tony tersenyum getir. Dia menghela nafas panjang dan mulai mengetikkan sesuatu di kolom pesan. Setelah pesan terkirim, dia lalu beranjak dari kursinya, menyambar ransel punggung dan menarik kopernya kemudian keluar kamar. Sebelum menutup pintu kamarnya, sejenak dia berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata memandang ke dalam. Goodbye my room, see you next...... time.
Tony menemui ayah dan tantenya yang sudah menunggu di lantai bawah. Mata Bu Fatma tampak berkaca-kaca. Dia lalu menyergap Tony ke dalam pelukannya. Bu Fatma memang sudah menganggap Tony seperti anaknya sendiri, bukan hanya keponakan. Itulah kenapa dia juga merasa cukup berat melepas kepergian Tony yang ingin menimba ilmu di negara paman sam itu.
Pak Anton yang semenjak Tony menyiapkan segala kebutuhannya untuk tinggal di New York sudah berusaha tegar melepaskan, kini menumpahkan air matanya juga. Berat, pasti. Apalagi Tony adalah anak satu-satunya. Namun apapun alasannya, Pak Anton sadar dia tidak punya hak untuk menahan keinginan Tony. Anaknya itu sudah dewasa dan dia punya pilihan sendiri untuk masa depannya.
"Tante nggak usah khawatir. Aku pasti jaga diri dan aku pasti akan kembali lagi ke Indonesia," ujar Tony terbata. Melihat dua orang di depan matanya menangis, otomatis dia juga tidak bisa untuk tidak turut menangis. Ditambah, suasana hatinya yang sedang tidak menentu.
"Papa juga jaga diri baik-baik ya," Tony menggenggam kedua tangan Ayahnya. "Jangan apa-apa suka dikerjain sendiri. Sekarang kan nggak ada Tony di rumah, yang bisa Papa panggil sewaktu-waktu buat bantuin Papa."
Pak Anton semakin terisak. Dia tidak sanggup menjawab kata-kata Tony dan langsung memeluknya.
Saat suasana sendu sedang menyelimuti ruangan besar di rumah itu, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Ternyata Petra.
"Permisi om, tante," ucap Petra sembari menunduk sopan.
__ADS_1
"Eh Petra," Tony menyeka air matanya. "Mau ambil motor?" dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci. "Nih."
Petra menerima kunci dari tangan Tony. "Lo udah mau berangkat?" dia menepuk-nepuk bahu Tony.
Tony mengangguk. "Sampein ke anak-anak yang lain ya, gue pamit."
"Lo kuliah yang bener di sana. Jangan mikir cinta terus," gurau Petra di tengah suasana haru itu. Spontan Tony langsung melotot ke arahnya tapi hanya dibalas dengan senyum. Petra adalah orang yang tahu semua ceritanya tentang Selenia. Sebelum memutuskan untuk pergi ke New York, Tony meluapkan semua perasaannya tentang Selenia yang tidak pernah mampu dia ungkapkan pada Petra.
Petra juga orang yang pandai menyimpan rahasia. Jadi Tony percaya kalau apa yang dia ceritakan padanya tidak akan menyebar kemana-mana. Sekalipun itu ke teman-teman mabar.
"Ya udah ayo kita berangkat Ton," Pak Anton menarik koper milik Tony. "Sebentar lagi pesawat kamu take off."
Petra kembali memeluk Tony sebentar sebelum dia sendiri juga pamit.
"Sampai ketemu lagi bro. Gue sama anak-anak tetap nungguin lo balik ke sini," kata Petra sebelum akhirnya berlalu meninggalkan rumah Tony.
Tony berangkat ke bandara melewati SMA Bhakti Nusa. Dan saat tepat berada di depan bangunan tersebut, dia meminta sopirnya untuk memberhentikan mobilnya sebentar. Mobil itu berhenti tepat di seberang sekolah.
"Kamu mau ngapain Ton?" tanya Pak Anton heran.
Tony tidak menjawab. Dia juga tidak turun dari mobil dan hanya melihat bangunan bekas sekolahnya itu dari balik kaca. Dia melihat suasana sekolah yang tampak sepi. Gerbang sekolah juga tampak tertutup rapat. Maklum, setelah acara kelulusan kemarin, sekolah pasti sedang melakukan persiapan untuk membuka pendaftaran murid baru kan? Tapi di pos satpam, tampak Pak Sauhari sedang menikmati kopi sembari memperhatikan lingkungan sekitar.
"Ton, penerbangan kamu sebentar lagi take of lho. Kamu masih ada perlu di sana?" tanya Pak Anton lagi. Dia tampak gusar sembari terus mengawasi jam tanganya.
"Enggak kok Pa. Ya udah jalan lagi pak," ucap Tony kemudian.
Mobil kembali berjalan. Dalam perjalanannya menuju bandara, ingatan Tony melayang pada hari dimana dia pertama kali mengenal Selenia. Kejadian yang tidak di sengaja itu--saat lemparan bola basketnya mengenai kepala Selenia dan membuat anak itu pingsan--sukses membuat Tony tak mampu berpaling dari sosoknya. Tapi sayang, dia terlalu pengecut untuk sekedar mengatakan kalau dia mempunyai perasaan pada Selenia. Dan harus memendamnya sampai..... selamanya.
Selamat tinggal Selenia.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...