NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -102-


__ADS_3

"Thanks ya Ton, udah donorin darah kamu buat Adam. Aku berhutang budi banget sama kamu," ucap Selenia suatu sore saat dia kembali ke rumah sakit. Dia baru saja mengetahui hal itu pagi tadi dari Ayahnya, yang langsung memuji kesetiakawanan Tony. Kata Pak Fendi, Selenia harus berterima kasih padanya, karena kalau tidak ada dia, mereka tidak tahu lagi apakah nyawa Adam masih bisa di selamatkan atau tidak.


Padahal sebenarnya tanpa diminta pun, Selenia sudah punya niatan untuk melalukannya, seandainya dia bertemu orang baik yang telah mendonorkan darahnya untuk suaminya itu. Dan ternyata orang itu adalah orang yang selama ini berada cukup dekat dengannya.


Mereka berempat--Selenia, Tony, Cia dan Marvin--berada di kantin, menikmati makan siang yang tertunda. Ya, hari ini Selenia juga sudah kembali ke sekolah meskipun pikirannya selalu berada di rumah sakit. Dia datang ke sekolah pun atas paksaan Bu Lisa karena sebentar lagi ujian sekolah. Bu Lisa tidak mau, masa depan menantunya itu tertunda atau bahkan terhenti hanya karena posisinya saat ini.


"Kamu nggak usah ngomong gitu Sel," jawab Tony. "Sudah menjadi kewajiban aku juga kan, sebagai sesama manusia," dia melirik Cia dan Marvin.


"Apalagi.... saat itu, dari sekian banyak orang yang ada di sana, cuma aku satu-satunya orang yang golongan darahnya sama dengan Adam. Jadi menurutku, ini sudah menjadi takdir Tuhan. Kamu nggak berhutang apapun ke aku."


Cia bertepuk tangan kecil, merasa bangga dengan pola pikir Tony. Dibalik sikapnya yang kadang emosian, ternyata dia sangat bijaksana.


Tak terasa waktu terus berjalan, namun kondisi Adam belum menunjukkan kemajuan. Sudah tiga hari ini dia masih belum sadarkan diri. Beberapa kali Selenia mencoba mendekat dan mengajaknya mengobrol, berharap ada keajaiban yang datang dan membuatnya tersadar dari koma, tapi Adam masih terus memejamkan mata dan belum bisa merespon dengan reaksi apapun.


Selenia sangat merindukan kebersamaan mereka. Bukan hanya rumah yang sepi, hatinya pun juga. Dia merasa separuh jiwanya seolah menghilang. Hampa, adalah kata yang tepat untuk melukiskan keadaannya sekarang. Beruntung masih ada Cia, Marvin dan Tony yang sedikit demi sedikit bisa menjadi pelipur laranya. Tanpa pernah diminta, mereka selalu datang di saat Selenia membutuhkan teman bicara. Apalagi Tony yang memang sering berada di rumah sakit semenjak menemani mamanya. Besok, katanya adalah kemotrapi ke dua Bu Riska.


"Oh, ya. Gimana kabar Mama kamu Ton?" tanya Selenia. "Maaf ya Ton, aku... belum sempat jenguk beliau."


"Mama..... ya gitu lah..." Tony mengangkat bahu. "Namanya juga penyakit kanker sudah stadium empat. Aku cuma bisa berharap pada keajaiban."


"Jangan ngomong gitu Ton," sahut Cia. "Kamu harus positive thinking dong.... nyokap kamu pasti sembuh. Kamu harus percaya itu."


"Iya Ton," Selenia menimpali. "Kalau kamu aja bisa ngasih positive vibes buat aku, kamu juga harus bisa menerapkan buat diri kamu sendiri dong."


"Nyokap lo itu orang kuat. Gue aja yakin banget beliau pasti bisa melewati semuanya," sambung Marvin.


Tony terkekeh pelan. "Thanks banget ya buat support kalian," dia melirik jam tangannya dan kemudian berdiri. "Kayaknya aku mesti cabut dulu. Ada beberapa pakaian kotor di kamar mama yang mesti dibawa ke *l*aundry."


"Oke deh," sahut mereka bertiga hampir bersamaan.


Tony menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah cepat. Bagaimana bisa dia lupa kalau hari ini masih punya tanggung jawab untuk membawa pakaian kotor ke laundry. Padahal Papanya sudah menyampaikan pesan itu sejak pagi. Semoga aja laundrynya belum tutup. Batinnya sambil terus mengamati jam.


Namun, saat melintas di lorong lain yang menghubungkan ke ruang ICU, tak sengaja Tony melihat seseorang berpakaian hitam-hitam menyelinap masuk ke sana. Merasa curiga, Tony kembali memundurkan langkah dan melongokkan kepalanya ke ruang tersebut. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Ruang tunggu juga kosong. Kemana bokap nyokapnya Adam? pikirnya.


Tiba-tiba muncul perasanan tidak enak di hati Tony yang akhirnya dia memutuskan untuk mendekati ruang ICU. Dia yakin, orang yang menyelinap masuk ke dalam tadi bukan dokter atau perawat rumah sakit ini.

__ADS_1


Hitam?


Hitam??


HITAM?!!


Mata Tony membelalak dan dia pun mempercepat langkahnya. Namun saat langkahnya hampir saja mendekati pintu, dia dikagetkan dengan sosok yang tadi menyelinap masuk, kini keluar dengan tergesa-gesa.


"Hei!! Siapa kamu?!!" teriak Tony.


Orang itu kaget dan menoleh ke arah Tony. Dia memakai topi dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Tapi dari tatapan mata itu, Tony merasa seolah tidak asing. Orang itu nampak gugup karena aksinya kegep, hingga menyebabkan gelang yang dia pakai tercantol di gagang pintu.


"Tunggu!!"


Tidak mau tertangkap basah, orang itu langsung menarik paksa gelangnya hingga terputus dan jatuh ke lantai. Sebelum Tony menangkapnya, orang asing itu berlari sekencang mungkin.


"Aaarrgghhh Sial!" maki Tony pada dirinya sendiri. Saat kepalanya menunduk, tak sengaja matanya menemukan gelang dengan kondisi terputus tergeletak di lantai. Tony memungutnya dan memperhatikan dengan seksama.


Deg! Ya, dia pernah melihat benda ini. Gelang ini adalah gelang milik Devan. Tony sempat melihatnya sekilas saat bertemu di kantor polisi waktu itu. Jadi dia yang melakukannya pada Adam?!!


Tony menoleh ke pintu di sebelahnya dan tambah syok saat melihat Adam sudah seperti orang kejang-kejang di atas brankar.


...🌺🌺🌺...


Bu Lisa menangis di pelukan suaminya. Begitu juga dengan Selenia yang tampak terkulai lemah di sisi Cia. Saat itu dia baru saja kembali dari kantin dengan Cia dan Marvin saat melihat suster dan dokter yang terburu-buru masuk ke ruang ICU. Jantung Selenia sudah berdebar tak beraturan. Ada apa dengan Adam? Dan kenapa Tony masih di sini? Bukankah dia bilang dia mau ke laundry? pikirnya.


Mereka semua menunggu dengan was-was apa yang terjadi di dalam karena seseorang diduga telah dengan sengaja memutuskan selang oksigen Adam menggunakan gunting. Bu Lisa menyesal telah meninggalkan Adam saat harus menerima telfon dari rekan bisnisnya di New York. Dia terpaksa keluar sebentar karena tadi signalnya mendadak putus-putus. Sementara Pak Edwin yang tidak sabar menunggu Bu Lisa kembali dan ingin segera ke toilet langsung pergi begitu saja. Lagipula tidak pernah terpikir sama sekali di benak mereka akan ada kejadian seperti ini. Apalagi rumah sakit ini di lengkapi kamera keamanan di setiap sudutnya.


Di kursi lain, Tony duduk membungkuk sambil tangannya memutar-mutar gelang yang telah putus tadi. Sekarang dia sangat yakin bahwa Devan lah dalang dari semua ini. Gelang itu merupakan gelang couple ala-ala jaman now yang terbuat dari benang yang dikepang-kepang dengan liontin logam berbentuk persegi panjang dan berwarna perak. Ada nama Devan ♡ Erin di balik liontin tersebut. Tony meremas gelang itu geram. Jahat banget itu orang. Benar-benar psikopat!


"Apa itu Ton?" tanya Marvin yang sedari tadi duduk di sebelahnya.


"E... bukan apa-apa kok," Tony buru-buru menelusupkan gelang itu ke saku celananya.


"By the way, emang lo tadi liat jelas siapa orangnya?"

__ADS_1


Tony menggeleng. "Setengah wajahnya ketutup masker."


"Gila ya ada orang sejahat itu," Marvin geleng-geleng kepala. "Ada masalah apa sih dia sama Adam, sampai segitunya pengen ngilangin nyawa dia."


Tony tidak menjawab. Otaknya terus berputar memikirkan bagaimana caranya supaya bisa membuat Devan mengakui perbuatannya. Hukuman sebagai tahanan kota saja belum kelar, sekarang dia sudah berani berulah.


...🌺🌺🌺...


"Bagaimana kondisi anak saya dok?!!" Bu Lisa langsung berdiri begitu seorang dokter keluar dari ruang ICU.


Orang-orang di tempat itu saling memasang wajah tegang menunggu apa yang akan dokter itu katakan.


"Kondisi pasien seharusnya sudah membaik, kalau saja hal ini tidak terjadi," terang si dokter terdengar putus asa. "Kami minta maaf atas semua ketidaknyamanan dan ketidakamanan yang terjadi di rumah sakit kami. Ini benar-benar di luar dugaan kami, pak... bu. Saya harap, ibuk, bapak dan semuanya bisa jauh lebih sabar untuk menunggu pasien tersadar dari koma."


"Ya Allah..... Adam...." Bu Lisa menangis. Tanpa sadar dia menjatuhkan diri di lantai dan bersimpuh di sana.


Pak Edwin dan dokter itu pun reflek berjongkok untuk membantu Bu Lisa bangkit, tapi Bu Lisa menggeleng. Dia sedih dan hancur sekali.


"Mama.... mama sabar ya.... ayok kita duduk di kursi..." dengan sabar Pak Edwin membujuk istrinya untuk berdiri.


Tony menatap Selenia yang juga langsung menangis dan memeluk Cia erat saat mendengar penjelasan dokter. Emosinya semakin meledak-ledak di dalam. Hatinya turut sakit melihat pujaan hatinya yang terlihat hancur dan terluka. Apakah itu berarti dia harus bertindak?


Kalau kemarin Tuhan menakdirkan dia untuk menjadi pendonor darah bagi Adam, karena dari sekian banyak orang yang ada di sini hanya dia yang memiliki golongan darah yang sama, apakah hari ini juga merupakan pertanda?


Aku adalah orang yang memergoki orang jahat yang berusaha membunuh Adam di ruang ICU. Dan aku juga menemukan benda ini yang mungkin bisa memperkuat bukti selain dari rekaman cctv rumah sakit.


Apakah aku harus bergerak?


Tony menatap Selenia yang tampak tidak berdaya. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Bu Lisa yang sama-sama tidak berdayanya berada di pelukan Pak Edwin. Jelas sekali terlihat dari sorot mata mereka yang sarat akan kesedihan, kepedihan, dan luka yang mendalam. Dia kemudian berdiri.


"Mau kemana lo Ton?" tanya Marvin berbisik.


"Sorry, gue mau ke kamar nyokap. Gue duluan ya," ucap Tony sembari berlalu.


Tidak ada satu pun orang yang memperhatikan kepergian Tony, kecuali Marvin.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2