NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -45-


__ADS_3

"Ah mereka tuh pada kurang kerjaan banget sih!" Selenia menggerutu di taman. "Buat apa coba ngevideoin orang lagi dansa. Yang dansa bukan cuma gue sama Tony, tapi banyak. Kenapa yang dibikin heboh gue sama Tony doang?!"


"Bukan masalah lo lagi dansanya Sel. Tapi sama siapa lo dansa, itu..." tukas Cia. "Secara seluruh makhluk SMA ini tu tahu banget siapa Tony, dari kalangan mana... itu pointnya."


"Ck! Point-point apaan?" Selenia menghempaskan bokongnya ke kursi taman dengan kesal. Moodnya mendadak rusak gara-gara gosip yang beredar.


"Trus semalem gimana si Adam? Soalnya semalem gue liat dia ngeliatin lho, pas kalian berdua lagi dansa mesra? Tapi gue juga heran, kok bisa Adam ada di sana? Dia dapat undangan apa mau ngawasin lo?"


"Nggak usah ngomong mesra-mesra gitu deh Ci," Selenia menoleh sewot. "Itu dia, gue bisa dansa sama Tony di depan itu juga karena dia yang narik tangan gue. lagian lo juga udah asyik sendiri sama gebetan lo! gue udah kaya obat nyamuk aja. Ya udahlah mumpung ada yang ngajakin gue hebring, ya masa gue mo nolak?"


"Hmmmpfffhhh..." Cia berusaha menahan tawanya. Ekspresi Selenia lucu. Dia tahu sahabatnya itu tidak suka dengan keadaannya sekarang. Dimana hampir separuh penghuni SMA membicarakan dirinya dan Tony. Cia juga ingat kalau semalam dia terlalu asyik sama Marvin, sampai-sampai dia tidak sadar kalau Selenia sudah dibawa Tony ke latar utama.


"Lo ngetawain gue?" sahut Selenia ketus.


"Sorry...." Cia menutup mulutnya. "Makanya gue nanya, gimana sama Adam? Dia nggak marah?"


"Ck, dia marah." jawab Selenia lesu. "Eh bukan ding, tapi gue yang marah," koreksinya kemudian. Dia beringsut dan duduk menghadap Cia. "Ci gue mau nanya dong," ucapnya lebih kalem.


"Apa?"


"Salah nggak sih kalau gue tu.... nggak suka liat Adam deket sama perempuan lain?"


Cia memiringkan kepalanya, mencoba memastikan bahwa yang sedang berbicara dengannya itu benar-benar Selenia. Masalahnya barusan anak ini menggerutu sewot-sewot kan? Tapi sekarang tampang tegangnya itu berubah jadi kalem dan memelas. Dan barusan dia ngomong apa? Dia nggak suka melihat suaminya dengan perempuan lain? Selenia beneran mulai jatuh cinta sama Adam?

__ADS_1


"Ya...ya nggak salah sih Sel," jawab Cia hati-hati. "Emangnya lo pernah liat Adam sama siapa?"


"Itu dia Ci...!" intonasi Selenia kembali meninggi membuat Cia membelalak. "Lo tahu kan semalem yang diundang ke pestanya Tony dari orang kantor Bokapnya Tony juga? Lo tahu nggak sih.... Bokap Tony itu... Bosnya Adam!"


"Haaa??" Mulut Cia menganga lebar.


"Dan lo tau nggak semalem Adam ke sana bareng siapa? Dia sama Renata Ciii...." rengek Selenia. Tangannya meremas lengan Cia untuk menumpahkan emosinya.


Cia masih belum selesai dari keterkagetannya. Otaknya baru saja mengingat tentang sosok Ayahnya Tony yang pernah dia temui di sekolah ini beberapa waktu yang lalu. Sekarang harus kembali berpikir, siapa lagi Renata? Dia kemudian menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain. Ayahnya Tony ada hubungannya sama renovasi aula sekolah kan? Yah, dia donatur sekaligus kontraktor. Dan dia juga pernah melihat Adam berada di sini waktu itu, kalau nggak salah dia jadi supervisor renovasi aula. Nah, perempuan itu... yang pernah dia lihat juga di sini, pas sekolah ada acara ultah... apa itu yang namanya...


"Kok lo malah bengong sih, Ci!" bentak Selenia karena Cia nggak segera merespon keluhannya.


"Eh.. sorry sorry...tadi siapa lo bilang? Renata?"


"Iya Cia. Dia datang ke pesta itu sama Renata dan anaknya. Lo tahu nggak sih, mereka udah kaya happy family banget! Sampe baju mereka bertiga couple banget warnanya, plek-ketiplek!" cerocos Selenia tanpa jeda. Tanpa sadar matanya sudah berkaca-kaca. Emosinya kembali muncul mengingat kebersamaan Adam dan Renata di pesta semalam. Padahal harusnya dia hari ini sudah happy kan karena Adam sudah minta maaf dan baikin dia. Tapi entah kenapa dia malah jadi curcol sama Cia pagi ini. Dia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Cia.


"Lo inget?"


"Iya yang pas di sekolah kita ada acara, yang pas kita nggak sengaja ngelihat mereka di parkiran? Perempuan itu namanya Renata?"


Selenia mengangguk cepat. "Dia sekretarisnya Adam Ci. Bayangin Ci, suami gue punya sekretaris pribadi yang dimana dia pasti bakalan sering menghabiskan waktu bersama di kantor," dia sudah tidak tahan lagi.


"Ehh ssssttt..." Cia reflek membekap mulut Selenia. Dia celingukan ke sekeliling taman. "Lo jangan keras-keras ngomong suami-suami, aduuuh..."

__ADS_1


Tersadar dia sudah keceplosan, Selenia turut menutup mulutnya sendiri. Dia juga celingukan tapi untunglah suasana taman pagi itu memang sepi. Hanya ada beberapa anak yang berlalu lalang tapi jauh dari posisi mereka.


"Ya udah Sel, lo nggak usah mikir yang macem-macem deh. Gue percaya kok Adam tu nggak kaya gitu. Gue bisa liat dari cara dia memperlakukan lo, dia sebenernya sayang kok sama lo." tutur Cia. Mau bagaimana lagi? Hubungan yang dijalani Selenia itu gampang-gampang susah. Dia sendiri bahkan tidak bisa membayangkan seandainya ada di posisi Selenia. Menikah pas masih sekolah. Hari-hari dia pasti bakalan lebih heboh daripada Selenia yang bisa terlihat biasa-biasa saja.


Cia benar. Dan Selenia tahu Adam menyayangi dia. Dia hanya tidakk rela melihat Adam dengan perempuan lain. Dia cemburu. Sungguh, Selenia tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau perasaannya pada Adam bakal seperti ini. Ternyata memang benar, selisih benci dan cinta itu sangat tipis.


Tapi setidaknya kata-kata Cia cukup mampu meredam gejolak perasaan Selenia yang hampir memuncak. Lagipula membicarakan hal ini di sekolah bukan saat yang tepat.


"Eh gila!" pekik Cia tiba-tiba. Dia melihat jam tangannya dan seketika shock. "Udah jam pelajaran pertama Sel! gimana bisa telinga gue budek nggak denger bell. Lo denger nggak tadi?"


"Hah?? Serius lo??" Selenia juga melihat jam tangannya. "Ya ampun, mampus! Mapelnya Bu Ningsih Ciaaaaa....! Gue juga nggak denger bell sumpah!"


Mereka berdiri, merapihkan baju dan rambut lalu berlari terbirit-birit menuju kelas. Bisa-bisanya gara-gara ngebahas Adam dan Renata membuat mereka tidak mendengar bell masuk kelas sudah berbunyi.


...🌺🌺🌺...


Suami? Mereka sudah menikah?


Tony mematung di tempat yang tidak jauh dari posisi Selenia dan Cia ngobrol barusan. Tadinya dia ingin bergabung dengan mereka di taman. Tapi pas melihat Selenia yang terlihat emosional berbicara dengan Cia, dia memilih untuk berhenti, karena sepertinya mereka juga sedang ngobrol serius. Sampai akhirnya dia mendengar kalimat itu. Tony bahkan mendengar bell masuk kelas--saat Selenia terus membicarakan Renata yang datang ke pestanya bersama Adam layaknya happy family--tapi memilih untuk tidak mempedulikannya. Tony benar-benar tidak menyangka kalau hubungan Adam dan Selenia jauh dari dugaannya.


Tapi bagaimana bisa mereka sudah menikah? Dan kenapa Selenia harus menikah padahal dia masih sekolah? Dengan Adam? Yang jelas-jelas usianya terpaut jauh sekali dari dia?


Tony belum bisa mempercayai itu sekarang.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2