
Sesampainya di rumah sakit, Selenia langsung keluar dari mobil dan berteriak memanggil suster untuk meminta disiapkan brankar dorong. Tiga orang suster dan satu perawat laki-laki segera membawakan brankar ke tepi mobil dan mengeluarkan Adam yang sudah tidak sadarkan diri.
Selenia dan Adam ke rumah sakit diantar oleh seseorang yang juga turut membantu mereka di parkiran Carlos saat Selenia berteriak-teriak meminta pertolongan. Sebagai ucapan terimakasih, Selenia memberikan sejumlah uang kepada orang tersebut untuk ongkos dia pulang menggunakan taksi online atau grab atau apapun.
Selenia terus menangis sembari mengikuti langkah para suster yang membawa Adam di atas brankar menuju ruang UGD.
"Maaf Ibuk, sebaiknya anda menunggu di luar. Biar pasien, kami dan dokter yang tangani," ucap salah seorang suster saat Selenia hendak ikut masuk ke ruang UGD.
"Tapi sus, itu suami saya..."
"Ibu tenang ya," si suster sangat tahu kekhawatiran Selenia, karena menghadapi situasi seperti ini tidak hanya sekali dua kali. "Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk pasien."
Pintu UGD tertutup dari dalam. Selenia menangis hebat dan memerosotkan tubuhnya ke lantai. Dia tidak mempedulikan beberapa orang lewat yang melihat ke arahnya. Hati Selenia sangat sakit. Kenapa hal itu bisa terjadi? Siapa orang itu? Kenapa dia melukai Adam?
Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalanya. Baru saja dia merasakan bahagia yang membuatnya melambung begitu tinggi, dan sekarang dia harus merasakan dihempas ke tanah sekeras mungkin. Baru saja Adam tahu tentang kehamilannya, kenapa semua ini harus terjadi?
Andai saja aku tidak mengulur waktu.
Andai saja aku memberitahukan hal ini dari awal.
Andai saja malam ini mereka melakukan birthday dinner di rumah.
Andai saja.... andai.... andai.... andai....
Selenia duduk dan memeluk lututnya erat. Dia sangat takut akan terjadi sesuatu sama Adam. Takut sekali.
Ponselnya berdering. Dengan lemah, dia mengambilnya dari dalam clutch dan melihat siapa yang menelfon.
"Hallo Seeeeeel... gimana nih? Duuuh gue nggak sabar nunggu sampe besok.... cerita dong. Kalian berdua pasti sudah pulang kan? Ini udah hampir tengah malam tau... atau lo mampir hotel sekalian? Eh awas jangan macem-macem lo..."
Suara Cia yang terdengar riang di ujung telfon, membuat Selenia semakin terisak.
"Sel???" nada riang Cia meredup dan suara cemprengnya memelan. "Kok kayanya lo lagi nangis? are you okay? Acara lo berjalan lancar kan? Nggak ada masalah kan?" meski memelan tapi tetap saja watak menyerocos itu tidak bisa hilang.
"C-Cia...." ucap Selenia terbata. Dia pun tampak kesulitan mengatur nafas karena sangat emosional. "Gue.....gue.... di rumah s-sakkiiit..."
"What?!! Rumah sakit?? Lo kenapa Sel????"
"Adam Ci.... dia...... dia....." isak tangis Selenia semakin tak terkontrol sehingga menyulitkan dirinya untuk menyampaikan penjelasannya pada Cia.
"Sel, lo tenang. Tarik nafas.... Adam kenapaaaa?"
Selenia mencoba mengikuti instruksi Cia. Dia menarik nafas dan membuangnya perlahan.
"Adam.... ditusuk orang Ci...." dan Selenia kembali tidak bisa menahan tangis.
"APA?!!!! kok bisa??? Terus sekarang lo di rumah sakit mana???"
Selenia celingukan. Saking paniknya dia sampai lupa nama rumah sakit ini. Hanya satu yang dia ingat, dia pernah datang ke sini untuk menjenguk Mamanya Tony.
"Oke.... oke... gue ke sana sekarang. Pokoknya lo tenang, jangan panik...."
...🌺🌺🌺...
Tony baru saja kembali dari kantin rumah sakit saat bertubrukan dengan Cia di depan pintu utama.
__ADS_1
"Cia? Marvin? Kalian ngapain malem-malem ke rumah sakit?" tanya Tony. Dia heran melihat Cia yang berwajah panik. Sementara Marvin cuma mengangkat bahu.
Marvin sama sekali belum tahu kenapa Cia tiba-tiba menelfon dan mengajaknya ke rumah sakit malam ini. Selama di perjalanan tadi Cia pun tidak bercerita apa-apa dan hanya memintanya untuk membawa mobil lebih cepat.
"Adam....." ucap Cia terbata. "Kata Selenia, dia ditusuk orang. Dan sekarang ada di rumah sakit ini."
Adam? Mata Tony membelalak kaget.
"Apa Ci?! Lo serius?! Sekarang dia di mana??"
Adam siapa sih? Marvin masih bingung.
"UGD. Kita ke UGD!" Cia berjalan cepat menuju ruang UGD, diikuti oleh Tony dan Marvin.
Sesampainya di ruang UGD, Cia melihat Selenia yang duduk bersimpuh di luar ruangan sembari menangis. Cia pun langsung mendekat dan memeluk Selenia erat, membantunya berdiri perlahan. Selenia terlihat sangat lemah. Matanya sembab dan wajahnya juga pucat.
"Adam Ci...." Selenia terisak di pelukan Cia. "Gue takut Ci..... gue takuuut..."
"Sssst.... lo tenang ya. Kita duduk di sana dulu," Cia membawa Selenia duduk di kursi. Dia pun turut menangis karena tidak tega melihat sahabatnya yang tampak sangat hancur.
Tony dan Marvin masih sama-sama terdiam. Mereka memilih untuk duduk di kursi lain yang tak jauh dari tempat Cia dan Selenia duduk.
Cia terus menenangkan Selenia dalam pelukannya. Sebenarnya dia penasaran bagaimana hal ini bisa terjadi. Tapi dia tahu, nggak etis rasanya untuk menanyakannya sekarang.
"Gue takut Adam kenapa-kenapa Ci....... dari tadi dokternya belum keluar.... gue takut Ciii...."
"Iya gue ngerti gimana perasaan lo sekarang. Tapi lo harus tenang..." Cia mengusap-usap bahu Selenia lembut. "Lo udah ngabarin orang rumah?"
Selenia menggeleng.
"Kalau gitu gue telfon rumah lo ya...." ucap Cia. Selenia mengangguk.
Cia mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan mencari kontak nomor rumah Selenia. Setelah ketemu, dia menyodorkan ponsel itu ke Tony, meminta supaya Tony saja yang berbicara.
"Lo aja yang ngomong. Ini nomor rumahnya Selenia," kata Cia tanpa suara.
Tony menerima ponsel itu dan mulai berbicara dengan seseorang di seberang. Matanya tidak berhenti mengawasi Selenia yang tak hentinya menangis. Ternyata cintanya untuk Adam begitu besar. Hhh... lagi-lagi pikiran itu sangat mengganggu isi kepalanya.
...🌺🌺🌺...
Disebuah ruangan dengan cahaya lampu temaram.
Seorang laki-laki berputar di atas kursi putarnya, tersenyum lega dan melempar segepok uang yang dibungkus dengan amplop berwarna coklat ke atas meja. Amplop berisi uang itu kemudian langsung disahut oleh laki-laki berperawakan tinggi tegap yang berdiri di hadapannya. Laki-laki dengan lengan penuh tatto itu membuka amplop dan menghitung jumlah uang yang baru saja dia terima.
"Cukup bos," ucap laki-laki bertatto sembari mencium amplop coklat di tangannya.
"Lo yakin kan nggak ada satu pun orang yang melihat aksi lo?"
"Yakin banget bos," jawab si laki-laki bertatto mantap. "Suasana benar-benar sudah sepi, hanya ada beberapa mobil saja yang terparkir di lapangan parkir."
Laki-laki yang duduk di kursi putar itu manggut-manggut.
"Bagus. Gue suka cara kerja lo. Cepat dan tepat sasaran. Sekarang lo boleh pergi. Tapi ingat, jangan pernah lo bocorin ini ke siapapun, atau lo yang bakal gue habisin."
"Bos tenang aja. Selama bayaran yang bos berikan sesuai permintaan, rahasia bos aman!" laki-laki itu mengacungkan jempolnya. "Kalau begitu saya permisi. Jangan sungkan-sungkan menghubungi saya kalau butuh sesuatu," ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Suasana begitu hening. Dengan gaya angkuh, dia--laki-laki yang baru saja memberikan uang itu--mengelus-elus dagunya sendiri dan tersenyum licik. Dia merasa puas dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Coba dari awal lo nurut apa yang gue mau. Mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini. Sekarang rasain pembalasan gue, Dam. Lo nggak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
Ya, laki-laki itu adalah Devan. Dia menyuruh seseorang untuk membunuh Adam dengan bayaran tinggi. Hukuman menjadi tahanan kota tidak membuatnya menyurutkan langkah untuk tetap melanjutkan aksinya. Devan masih merasa sangat sakit hati dengan kekalahannya mendapatkan hak asuh Nola dari Renata. Dan Adam adalah seseorang yang dia anggap telah merusak rencananya karena membantu Renata. Padahal dari awal dia sudah yakin akan memenangkan sidang itu karena dia menganggap Renata tidak mampu membayar pengacara. Kakaknya yang kaya raya saja sudah bangkrut dan mendekam di penjara.
Sekarang dia merasa sangat puas. Orang yang berani merusak kebahagiaannya, tidak boleh merasakan kebahagiaan.
...🌺🌺🌺...
Bi Iyah, Pak Tono dan Pak Fendi datang bersamaan ke rumah sakit. Setibanya di ruang UGD, Bi Iyah langsung mendekati Selenia dan memeluknya erat. Dia menangis tersedu-sedu. Sejak menerima kabar dari Tony, rasanya tubuh Bi Iyah langsung melunglai. Dia cuma bisa teriak-teriak memanggil Pak Tono dan meminta untuk segera diantar ke rumah sakit.
"Ya Allah Non..... Non Selenia yang sabar ya......" ucap Bi Iyah di sela-sela isakannya.
JEGREK!
Seorang dokter keluar dari ruang UGD, dan serempak membuat semua orang yang ada di luar ruangan ini berdiri. Selenia beringsut lebih cepat mendekati si dokter, meski sebenarnya dia merasa lemah karena masih syok.
"Dokter.... bagaimana keadaan suami saya Dok...??!!" tanya Selenia depressif.
Marvin kaget dan kepalanya menegak mendengar kalimat yang diucapkan Selenia kepada dokter tersebut. Suami? Adam suaminya Selenia? Selenia kan masih sekolah. Masa udah nikah?
Dokter itu menghela nafas panjang sebelum memberi penjelasan.
"Kondisi pasien sangat kritis...."
Semua orang yang ada di situ merasakan suasana tegang. Terlebih Selenia. Tubuhnya gemetar dan jantungnya berdegup tak beraturan.
"Luka akibat tusukan itu terlalu dalam, sehingga membuat pasien mengeluarkan banyak sekali darah dan...... dia membutuhkan donor darah sesegera mungkin. Kalau tidak.... pasien mungkin tidak akan bisa diselamatkan."
Tubuh Selenia melunglai dan terhuyung. Beruntung Pak Fendi langsung menahan tubuhnya.
"Golongan darah pasien adalah AB," Dokter melanjutkan. "Jadi dia hanya bisa menerima pendonor dari jenis yang sama. Dan saat ini stok darah AB di rumah sakit sedang menipis. Kemungkinan tidak akan cukup untuk memenuhi pasokan di tubuh pasien. Apakah kalian semua yang ada di sini memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?" dokter itu menatap semuanya satu per satu.
Pak Fendi menggeleng, karena golongan darahnya B sama dengan Selenia.
Begitu juga dengan Marvin yang memiliki golongan darah O. Cia pun sama, golongan darahnya tidak cocok dengan Adam. Pak Tono dan Bi Iyah apalagi. Hal itu membuat Selenia kembali menangis. Dia tidak tahu lagi harus mencari pendonor ke siapa. Tubuhnya semakin bergetar dan dia merasakan sekelilingnya seolah semakin memudar lalu kemudian menjadi gelap.
"Non Selenia!!"
"Sel!!!"
Pekik mereka bersamaan saat tubuh Selenia ambruk di pelukan Pak Fendi. Dia pingsan.
"Golongan darah saya AB!" ucap Tony lantang. "Ambil saja darah saya."
Cia dan Marvin menoleh ke arah Tony bersamaan. Cia menengadahkan wajahnya ke atas, merasa sedikit lega. Sementara Pak Fendi dan Bi Iyah sibuk menolong Selenia dan membawanya ke salah satu ruang pemeriksaan yang tak jauh dari ruang UGD.
"Syukurlah," ucap Dokter merespon pernyataan Tony. "Kalau begitu mari ikut saya."
Awalnya saat Dokter itu memberikan penjelasan tentang kondisi Adam, Tony sebenarnya berat untuk mengakui bahwa dia memiliki golongan darah yang sama dengan Adam. Namun saat melihat Selenia yang lemah tidak berdaya, dia tidak tega. Dia tahu cintanya mungkin tidak akan pernah terbalas. Tapi setidaknya, dia ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk pujaan hatinya itu. Dia ingin Selenia kembali tersenyum dan bahagia. Walaupun senyum dan kebahagiaan itu bukan untuk dirinya.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1