
Adam baru bisa memejamkan mata saat mendengar jam di ruang tamu berdentang sebanyak 12 kali. Itupun harus dipaksa karena dia tidak ingin bangun kesiangan. Masih banyak tugas yang menanti di kantor besok.
Dia bergelung di tempat tidurnya, ke kanan dan kiri dengan gelisah. Pikirannya sedang melanglang buana pada sosok Tony yang dikhawatirkan akan mencuri hati Selenia. Errgggghhh!! Adam mengacak-acak rambutnya sendiri dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Dia merasa tersiksa dengan kekhawatiran yang menghantui perasaannya. Meski sudah berkali-kali Selenia mengatakan kalau dia itu cuma teman, teman, dan teman. Tapi entah kenapa itu tidak cukup mampu membuat hatinya tenang.
Tok tok tok!
Adam membuka selimutnya setengah badan dan kepalanya terangkat. Siapa tengah malam gini ketuk-ketuk pintu?
Tok tok tok!
"Daaaam..." terdengar suara parau Selenia.
"Selenia?" Dengan gerak cepat, Adam bangkit dari tempat tidur dan berlari mendekati pintu.
Selenia dengan wajah setengah mengantuk, masih sempat melemparkan senyum lebar pada Adam. Kening Adam mengerut. Perasaan tadi pas mau tidur dia kesel banget. Kenapa tengah malam malah bangun terus cengar-cengir gini? Kesambet? Adam bergidig, membuang jauh-jauh pikiran negatifnya.
"Daaaam.... aku laper..." rengek Selenia sambil mengelus-elus perutnya.
"Hah? Malem-malem gini?" Adam mengangkat alisnya, heran. "Ini tengah malem lho sayang."
"Ya terus emangnya kenapa? Orang aku beneran laper," gerutu Selenia.
Adam buru-buru tersenyum sebelum kekesalan Selenia kembali terulang. "Iya iya iya..... kamu mau makan apa? Aku buatin. Jangan yang susah-susah tapi."
"Buatin aku telur dadar mata sapi ya. Yang kuningnya setengah mateng."
Adam menghela nafas. "Oke, ya udah ayo kita ke dapur," dia membimbing Selenia menuju dapur dan seketika rasa kantuknya menghilang.
Di dapur, Selenia duduk di kursi makan, menunggu Adam selesai memasak telur dadar mata sapi permintaannya. Kepalanya dibenamkan di antara kedua tangannya yang terlipat. Dia ngantuk, tapi juga laper. Tapi Selenia nggak heran sih, karena ini pasti bawaan bayinya juga. Semakin hari sebenarnya dia menyadari banyak sekali perubahan yang terjadi semenjak hamil.
"Udah nih. Mau pakek nasi apa enggak?" tanya Adam setelah telur mata sapi buatannya matang.
"Ya pakek dong Dam, kan aku laper."
Adam dengan sabar dan telaten menuruti permintaan Selenia. Dia menyusun nasi dan telur di atas piring, lalu menghidangkan di depan Selenia. Tak lupa dia juga menyiapkan segelas air minum.
"Pak Adam? Non Selenia?" Bi Iyah muncul dari kamarnya di ruang belakang dengan rambut kusut masai khas orang bangun tidur.
Dia pasti heran melihat kedua majikannya tengah malam begini berada di ruang makan
"Kok.... malam-malam begini...." tangannya menunjuk ke arah Selenia yang sedang makan dengan lahap sementara Adam hanya menemani di sebelahnya.
Selenia tidak menggubris kemunculan Bi Iyah dan terus menikmati makanannya. Jadi Adam segera mengode pembantunya tersebut supaya kembali ke kamar lagi dengan anggukan kepala dan sedikit mengibaskan tangan.
Ini benar-benar kali pertama Selenia makan tengah malam selama mereka tinggal bersama. Itulah kenapa Adam tidak bisa berhenti merasa aneh dan bingung. Padahal biasanya para kaum perempuan sangat menghindari makan makanan berat di jam-jam seperti ini--takut gendut adalah alasan klasik. Tapi ya sudahlah, mungkin Selenia memang beneran lapar. Lagipula kalau menilik kebiasaannya belakangan ini, porsi makan Selenia memang jauh berkurang dari biasanya. Setiap pagi dia lebih sering sarapan dengan roti selai saja dan minum teh. Sementara saat makan malam, dia juga jarang sekali menghabiskan makanannya.
Selesai! Makanan di atas piring Selenia habis tidak tersisa. Setelah menenggak habis minumannya, dia kemudian bersendawa dengan lega. Lalu tanpa mempedulikan Adam yang masih menunggu di ruang makan, Selenia beranjak dan melangkah gontai kembali ke kamar.
What? Adam memandangi punggung Selenia yang semakin menjauh. Benar-benar nggak habis pikir dengan sikap aneh Selenia malam ini. Namun karena mengingat ini tengah malam, Adam pun memilih untuk mengelus dada saja dan pergi ke kamarnya sendiri.
Keesokan paginya, mereka sama-sama bangun kesiangan. Hal itu membuat keduanya bergerak terburu-buru untuk segera pergi ke tujuan masing-masing, dan tidak ada waktu untuk sarapan. Padahal Bi Iyah sudah menyediakan semuanya.
"Kok kamu nggak bangunin aku sih Dam?!" protes Selenia saat mereka berjalan menuruni tangga bersamaan.
Adam sedang dalam keadaan sambil memasang dasi di bajunya. "Orang aku sendiri bangunin kesiangan kok. Gara-gara kamu nih, tengah malam kok minta makan."
"Kok sekarang kamu jadi berani nyalah-nyalahin aku?!" Selenia bahkan menyisir rambutnya sambil jalan. "Orang laper mana bisa ditahan?!" ini anak kamu juga yang kelaparan kali.
"Iya.... iya, maaf aku salah omong," Adam menepuk-nepuk bibirnya sendiri. "Ya udah..., nggak usah debat," dia melirik arloji yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
"Udah mepet banget nih waktunya. Aku sarapan di kantor aja ya sayang. bye..." Adam mengecup pipi Selenia dan segera berlalu.
"Ehhh... tunggu....!" Selenia berlari mengejar Adam. "Aku juga nggak ada waktu sarapan di rumah."
Mereka baru saja sampai di depan pintu saat Bi Iyah berlari tergopoh-gopoh menghampiri. Di pundaknya tersampir kain lap.
"Non... Non Selenia tahu nggak termos kecil yang biasa Bibik taruh di dekat rak piring?" tanya Bi Iyah. Sepagian ini dia beres-beres di dapur dan baru sadar ada benda yang hilang dari sana.
Adam dan Selenia sama-sama berhenti dan menoleh ke Bi Iyah.
"Pak Adam sama Non nggak sarapan? Padahal Bibik udah siapin sara....."
"Kita nggak ada waktu buat sarapan Bik," jawab Adam. "Udah mepet banget waktunya."
"Iya Bik, kita udah kesiangan," sahut Selenia. "Termos kecil ada di kamar aku, Bi Iyah ambil sendiri aja ya, di dalam nakas. Kamarnya nggak aku kunci kok."
Adam sempat melirik saat Selenia mengatakan itu. Ngapain Selenia bawa-bawa termos air panas ke kamar? Biasanya dia kan cuma butuh air putih.
"Oh, B-baik Non," Bi Iyah mengangguk dan kemudian berbalik menuju kamar Selenia.
Namun baru beberapa langkah Selenia keluar rumah, dia tiba-tiba ingat kalau di dalam nakas tempat termos kecil itu berada, ada susu bumil miliknya. Wah gawat!
"Eeehh... biiiiik Iyaaaaah!!!!" Spontan Selenia berbalik dan berlari masuk kembali ke dalam rumah, mengejar Bi Iyah yang sudah sampai di ujung tangga lantai atas.
"Lhoo sayang kenapa??" Adam turut berbalik dan mengejar Selena yang tiba-tiba kaya orang panik.
"Bik bik bik.... biar aku ambilin termosnya!" Selenia menghadang langkah Bi Iyah. "Bibik tunggu sini aja ya... bentar."
Selenia masuk ke kamarnya meninggalkan Bi Iyah yang terbengong-bengong. Lalu tak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa termos yang diminta Bi Iyah. Adam yang mengamati kehebohan itu dari bawah cuma bisa geleng-geleng kepala sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pagi ini kenapa super ribet gini sih?
"Lho, katanya buru-buru. Kok kamu malah masih di sini?" tanya Selenia heran mendapati Adam yang juga ikut kembali masuk ke rumah.
"Sayang kamu kenapa sih kaya orang panik gitu?"
...🌺🌺🌺...
"Lo bolos lagi?" tanya Petra saat Tony baru muncul. Dia sedang membersihkan PC dan perabot yang berdebu menggunakan kemoceng.
Petra memang satu-satunya orang yang selalu standby di basecamp.
Tony tidak menjawab pertanyaan Petra dan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia mengeluarkan vapor dari dalam tasnya yang seketika langsung direbut oleh Petra.
"Lo udah di larang kenapa masih nekat sih?!" bentak Petra. "Nggak kapok vapor yang kemarin udah dibanting sama Bokap lo?"
Tony hanya melirik Petra sekilas kemudian merebahkan tubuhnya di sofa. Dia sedang tidak ingin berdebat.
Petra menghela nafas dalam-dalam. "Lo kenapa sih Ton? Cerita dong kalo ada masalah, jangan dipendem sendiri. Kita temen bro."
Yang Petra tahu, sikap Tony memang sedikit berubah semenjak Ibunya datang ke basecamp ini beberapa waktu yang lalu. Dia yang sudah berteman dengan Tony cukup lama sangat tahu bagaimana karakter Tony setiap kali memiliki masalah. Dia lebih suka memendamnya sendiri dan jarang sekali, bahkan tidak pernah menceritakan ke teman-temannya. Kecuali pada Petra, dia memang lebih terbuka karena menurutnya Petra lebih bijak setiap kali dimintai saran.
Tony mengedip, matanya menatap langit-langit sementara otaknya berkelana menulusuri masalah demi masalah yang akhir-akhir ini sering menghampiri dirinya. Dan masalah terberat adalah tentang permintaan Papa supaya dia bisa memaafkan Mamanya. Dia sudah berfikir panjang, menimang-nimang hatinya sendiri supaya bisa lebih terbuka dan memaafkan masa lalu yang begitu pahit, tapi sulit.
"Ya udah kalau lo belum mau cerita sama gue nggak pa-pa," Petra berdiri. "Lo mau gue buatin apa? Kopi?"
"Nggak usah Pet," Tony menggeleng. "Gue ke sini cuman pengen istirahat aja."
"Kalau gitu gue ke belakang dulu ya."
Tony mengangguk. Saat Petra baru saja menghilang ke ruang belakang, terdengar suara deru mesin motor yang tidak asing di luar basecamp. Mata Tony mengerling ke arah tirai transparan yang menutup jendela kaca. Dia melihat seseorang mondar-mandir di depan basecamp.
__ADS_1
Petra muncul lagi bersamaan dengan Tony yang juga bangkit dari sofa. Ternyata dia juga ingin tahu siapa yang datang ke basecamp. Karena kalau anak-anak yang datang, pasti langsung gaduh setelah mesin motor mati.
Petra dan Tony saling tatap sejenak, sebelum Tony menghampiri pintu.
"Marvin?"
Marvin tersenyum. "Gue udah yakin lo pasti di sini. Soalnya hampir dua jam gue nunggu lo di depan sekolah, lo nggak dateng-dateng."
Petra hanya memperhatikan obrolan mereka dari dalam ruangan.
"Ada apa?" tanya Tony datar.
"Gue pengen bicara sama lo."
"Soal?" kening Tony mengerut.
"Jangan di sini," Marvin mencuri pandang ke arah Petra yang sedari tadi memperhatikan mereka dari dalam.
Merasa menjadi penghalang, Petra pun segera berbalik kembali ke ruang belakang, melanjutkan tugasnya yang terjeda.
"Kenapa nggak di sini aja?"
"Ayolah Ton. Gue minta lo nggak nolak."
Tony menatap Marvin sejenak. Kenapa sih ni anak?
"Gue ambil tas sama jaket dulu," Tony berbalik dan mengambil barangnya di sofa. "Pet! Gue cabut dulu ya!" teriaknya memberitahu Petra.
"YO! HATI-HATI!" sahut Petra jauh dari ruang belakang.
"Kita kemana?"
"Ikut gue aja," ajak Marvin.
Mereka meninggalkan basecamp dengan menaiki motor masing-masing.
...🌺🌺🌺...
"Selamat pagi Pak," Renata masuk ke ruangan Adam dan menunduk hormat sebelum berjalan mendekati meja kerjanya.
"Pagi Ren."
"Maaf, ini ada beberapa file yang harus bapak pelajari untuk kemudian ditanda tangani," Renata menyerahkan beberapa lembar kertas bermaterai ke Adam.
"Owh, oke. Silahkan kamu duduk dulu."
Renata duduk di kursi di depan meja kerja Adam dengan hati-hati. Sementara Adam dengan cekatan mengoreksi dan kemudian menandatangi file tersebut.
"Sudah ya Ren," Adam menyodorkan kembali file pada Renata.
"Terimakasih Pak," Renata bangkit dari kursi. Tapi sebelum meninggalkan ruangan Adam, dia mengeluarkan kertas seukuran podcast dan memberikan ke Adam.
"Apa ini Ren?" Adam membolak-balik kertas bergambar kuda pony itu dan tersenyum. "Nola ulang tahun? Acaranya malam ini?"
"Iya Pak, yang ke tiga. Saya tidak mengadakan pesta kok, hanya orang-orang dekat saja yang saya undang. Dan kalau Bapak berkenan, saya mohon Bapak bisa datang bersama Selenia."
"Ya ya ya..." Adam manggut-manggut. "Akan saya usahakan ya."
Renata menunduk hormat. "Kalau begitu saya permisi dulu Pak. Selamat pagi," lalu keluar dari ruangan Adam.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...