
Selenia sampai di rumah sekitar pukul sepuluh malam. Saat itu Adam masih terjaga di ruang tengah dengan ditemani acara TV yang membosankan. Begitu mengetahui istrinya pulang, dia langsung beranjak dari kursi. Dilihatnya Selenia yang berjalan ke arahnya dengan wajah yang.... menurutnya sumringah.
"Kok kamu belum tidur?" tanya Selenia kalem.
"Mana mungkin aku bisa tidur kalau kamu belum pulang," jawab Adam cemas tapi sedikit ketus. "Kamu ke mana aja selain ke rumah sakit? Kenapa baru pulang?"
"Aku nggak kemana-mana. Aku cuma ke rumah sakit aja kok."
"Hmmm," Adam menggumam. Raut wajahnya tampak lain.
Selenia melihat ada geliat bahasa tubuh yang berbeda yang berusaha disembunyikan Adam darinya.
"Memang jam besuk bisa sampai semalam ini?" Adam melanjutkan.
"Ya memang enggak sih. Tapi pas aku keluar dari rumah sakit, jam besuk memang tinggal beberapa menit lagi."
"Terus bagaimana keadaan Tony?" tanya Adam datar.
"Dia udah mendingan sih. Kayaknya bentar lagi boleh pulang kok."
Adam mendengus lirih. Dia berbalik, kemudian kembali duduk di kursinya.
"Ya udah, kamu tidur gih. Udah malem, besok kamu udah mulai masuk sekolah kan?" ujar Adam tanpa sedikit pun melihat ke Selenia. Tangannya sibuk mengoperasikan remote control dan memindah channel TV.
Melihat hal itu, Selenia semakin heran. Adam kenapa sih? Kok aneh banget.
"Dam," kepala Selenia melongok di samping Adam. "Kamu kenapa sih?"
"Nggak pa-pa kok," jawab Adam singkat padat jelas.
Selenia kembali menegakkan tubuhnya.
"Kok kamu jadi jutek gitu sama aku? Ya aku minta maaf kalau aku pulang telat. Kan aku juga perginya nggak sendirian...." dia tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba tersadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
__ADS_1
Minta maaf? Terdengar lucu dan aneh. Sesalah apapun dia, baru kali ini kalimat maaf terlontar dari mulutnya.
Tapi jauh dari rasa itu, Selenia menangkap sesuatu dari sikap Adam. Dia sadar nggak sih udah jutekin aku? Senyum Selenia mengembang.
Adam menoleh sekilas. Bayangan Selenia yang diantar pulang oleh Tony malam itu kembali terlintas di kepalanya. Entah kenapa, berat hatinya menerima kenyataan kalau Selenia begitu akrab dengan anak Bosnya.
"Ehm..., kamu nggak suka aku jenguk Tony?" bisik Selenia tepat di telinga Adam.
Getaran panas menjalar di telinga Adam saat mendengar pertanyaan tersebut. Dia melirik Selenia dengan ekor matanya. Wajah Selenia begitu dekat dengan wajahnya.
"Bukan gitu maksudnya Sel," Adam berusaha membantah. Dia beringsut menghadap ke Selenia yang masih membungkuk, menyandarkan dadanya di punggung kursi. "Kamu sendiri itu kan baru sembuh, harusnya nggak pulang larut malam begini," dia berhasil ngeles.
Tapi sayangnya, Selenia cukup peka untuk menilai arti tatapan mata suaminya itu. Meski jawaban Adam benar, tapi Selenia tahu itu hanya jawaban untuk menutupi alasan yang sebenarnya.
Selenia terkikik. Dia tidak bisa lagi menahan tawa yang sudah sejak tadi ditahan. Kenapa sekarang malah Adam terkesan malu mengakui yang sebenarnya? Bukankah selama ini dia selalu jujur dengan perasaannya?
"Kenapa ketawa?" Adam mengangkat alisnya.
Selenia tidak tahan lagi. Selama tinggal bersama, baru kali ini dia melihat wajah Adam semasam itu. Dan itu semua terang-terangan dia tunjukkan di depan Selenia karena satu alasan. Cemburu. Ya, Selenia tahu Adam sedang cemburu.
"Kenapa harus cemburu?" tanya Adam balik.
"Kalau nggak cemburu kenapa harus marah? Kan aku perginya nggak sendirian, bertiga sama Cia dan temannya."
"Seeel... tapi kan kamu pulang terlalu..."
"Larut malam?" potong Selenia. "Tapi kan kamu nggak harus jutek juga sama aku. Sadar nggak sih? Baru kali ini aku ngeliat kamu sejutek itu sama aku."
Adam tidak bisa berkata-kata lagi. Selenia benar. Tapi entah kenapa kali ini dia tidak bisa mengakui itu di depan Selenia. Tersirat rasa malu di dalam hatinya.
Selenia terkikik.
"Ya udah deh kalau kamu jutekin aku, mendingan aku tidur aja. Ngantuk," Selenia berjalan melenggak-lenggok meninggalkan Adam.
__ADS_1
Ugghhh dasar...! Gimana nggak gemes coba?!
Merasa tengah digoda, Adam langsung mematikan TV dan mengejar Selenia. Mendengar langkah memburu di belakangnya, Selenia segera mempercepat langkah menaiki tangga. Suasana malam yang hampir larut itu menjadi sedikit gaduh karena aksi kejar-kejaran Adam dan Selenia. Sampai-sampai hal itu membuat Bi Iyah yang sudah tertidur pulas sejak tadi harus terbangun. Dia keluar dari kamar dan ampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dari lantai bawah itu dia melihat Adam tengah menggendong Selenia menaiki tangga ke lantai dua.
Waduh..... ada apa dengan mereka ya?
...🌺🌺🌺...
"Turunin... Adaamm..." Selenia memukul-mukul punggung Adam. Dia tidak bisa berkutik saat tiba-tiba Adam mengangkat tubuhnya dan membawanya sampai di depan kamar.
Nafas Adam terengah-engah saat menurunkan Selenia. Ditatapnya wajah istrinya yang begitu menggemaskan. Tidak salah lagi. Gadis ABG itu berhasil membuatnya jatuh cinta berkali-kali sekarang.
"Kamu kecewa nggak sih sama pernikahan kita?" Adam mendekap wajah Selenia. Pertanyaan yang selama ini dia pendam, akhirnya terlontar dari mulutnya.
Selenia terdiam. Dia memang pernah kecewa dengan pernikahan ini. Tapi sekarang semua kekecewaan itu telah sirna. Sebaliknya, Selenia mulai merasa nyaman dan bahagia bersama Adam. Tapi diluar itu semua, terkadang ada perasaan takut yang tiba-tiba menghantui perasaannya. Dia tidak yakin, apa mungkin mereka bisa terus bersama? Bayangan wajah Renata melintas di benaknya. Membuat hatinya selalu merasa pias oleh sosok itu.
"Kenapa kamu nanya gitu Dam?" Selenia balik bertanya.
"Karena kamu nggak pernah mencintai aku kan?" Adam melepaskan dekapan tangannya dari wajah Selenia.
Selenia tersentak. Wajahnya menunjukkan kekagetan mendengar kalimat itu.
"Siapa yang bilang kalau aku nggak cinta sama kamu?" kali ini Selenia berkata dengan bibir bergetar. Kenapa Adam harus bertanya seperti itu? Dia mencintai Adam, entah sejak kapan.
Mereka hanya saling tatap untuk beberapa saat.
"Aku bahagia kok dengan pernikahan kita," ucap Selenia lirih nyaris tidak terdengar.
Tapi telinga Adam cukup tajam untuk mendengarnya. Ada perasaan lega merasuk ke dalam relung hatinya atas pengakuan itu. Adam mendekap erat tubuh Selenia dan mencium keningnya. Dia sayaaaaang banget dengan gadis ABG ini dan tidak ingin kehilangan Selenia.
"Ya udah, sekarang kamu tidur," Adam membelai rambut Selenia lembut. "Mimpi indah ya."
Selenia mengangguk. Dia berbalik dan melangkah gontai memasuki kamarnya. "Daaaghh... met malem," tangannya melambai sebelum akhirnya pintu kamar tersebut tertutup rapat.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...