NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -119-


__ADS_3

"Aku berangkat dulu ya sayang," pamit Adam pada Selenia setelah selesai sarapan. Tak lupa dia memberikan kecupan di kening istrinya sebelum beranjak meninggalkan rumah.


"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut," Selenia mengantarkan Adam sampai di teras sambil menggelayut manja di lengannya.


"Kamu juga yang bener belajarnya," Adam melirik jam tangan yang melingkar manis di lengannya. "Bentar lagi guru kamu datang kan?" tangannya mengacak-acak rambut Selenia pelan.


Selenia mengangguk. Tak lupa dia juga mencium tangan Adam sebelum suaminya itu meninggalkan rumah.


Oh ya, semenjak Selenia dinonaktifkan dari sekolah, Pak Tono beralih tugas menjadi sopirnya Adam karena Selenia tidak mau Adam memberhentikan Pak Tono.


Begitu mobil yang membawa Adam berlalu, Selenia segera mempersiapkan keperluannya sendiri untuk memulai home schooling. Dia mengambil beberapa buku dari kamarnya dan meletakkan di ruang tengah.


Tak lama kemudian terdengar pintu di ketuk dan Bi Iyah berlari tergopoh-gopoh untuk membuka pintu.


"Selamat pagi Selenia," sapa seorang perempuan dengan suara lembut.


Selenia yang sedang asyik membuka-buka buku pelajarannya di sofa, reflek menoleh dan langsung berdiri. Bu Fani, guru yang dikirim dari SMA Bhakti Nusa khusus untuk mengajar home schooling Selenia, melemparkan seulas senyum manis padanya.


"Ee... selamat pagi Bu..." jawab Selenia sembari menunduk sopan. "Mari Ibu, silahkan duduk."


Bu Fani berjalan mendekati Selenia dan meletakkan materinya di atas meja.


Bu Fani adalah guru bantu di SMA Bhakti Nusa. Dia baru dua kali mengajar di kelas Selenia, menggantikan Bu Ningsih--guru matematika--yang pada saat itu harus izin karena ada kepentingan. Dia tidak begitu mengenal Selenia, tapi semenjak gosip itu beredar di sekolah, dia jadi ingat murid biasa yang pernah dia ajar di kelasnya itu.


Sebelum memulai pembelajaran, Bu Fani memberitahu Selenia, kalau dialah yang akan membimbing Selenia sampai ujian nanti. Selenia tidak keberatan, karena dia memang sudah memasrahkan urusan ini ke sekolah. Bu Fani senang melihat muridnya yang masih memiliki semangat walau sedang ditimpa masalah. Lagipula, dia juga sudah mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada Selenia dari wali kelasnya.


Bu Fani orangnya asyik. Selenia sama sekali tidak merasa canggung atau apapun selama dibimbing beliau di masa home schoolingnya.


Hari demi hari dilewati Selenia dengan penuh semangat. Selenia bahkan tak sungkan untuk bertukar pikiran dan curhat dengan Bu Fani. Dan karena kedekatan itu, Bu Fani kini jadi tahu lebih gamblang bagaimana kehidupan Selenia yang sebenarnya. Dan dia justru merasa kasihan karena gosip yang beredar di sekolah, sangat jauh berbeda dengan keadaan Selenia.


Gosip yang beredar, mengatakan kalau Selenia selama ini menjadi simpanan Om-om, menjadi sugar baby yang akhirnya harus menikah dengan Om-om itu karena hubungan mereka sudah kelewat batas. Padahal faktanya tidak seperti itu.


Bu Fani sudah bertemu dengan Adam di hari ketiga dia mengajar home schooling. Dan dia cukup takjub melihat keharmonisan keluarga muridnya itu. Baginya Selenia dan Adam tidak tampak seperti ABG dan Om-om. Adam tidak setua yang disebut dalam gosip. Dan yang lebih penting, latar belakang hubungan mereka jelas. Dan kehamilan Selenia bukanlah aib--gosip hamil di luar nikah seperti yang selama ini beredar. Hanya saja mungkin, pernikahan ini tidak bisa dibenarkan mengingat Selenia masih berstatus sebagai pelajar.


Dari apa yang dia amati, Bu Fani memiliki keinginan untuk membersihkan nama baik Selenia di sekolah. Minimal di kelas Selenia. Dia tidak mau, gosip yang salah kaprah itu akan terus terpatri dan merugikan Selenia ke depannya.


...🌺🌺🌺...


Beberapa hari kemudian,


"Seleniaaaaa.... ya ampun gue kangen banget sama lo....!" Cia memeluk Selenia erat begitu pintu rumah Selenia terbuka dari dalam.


Malam itu, setelah selama beberapa hari disibukkan dengan persiapan praktek dan segala macam ***** bengek untuk ujian nasional, akhirnya Cia bisa menyambangi Selenia ke rumahnya. Dia mengaku stress banget selama berada di sekolah karena sebagian anak masih berpikir Cia seperti yang Lala asumsikan. Apalagi sekarang tidak ada Selenia yang bisa mengalihkan perhatiannya di sekolah.


Cia datang sendirian malam ini, karena Marvin kebetulan lagi ada acara dengan teman kampusnya.


"Aduuh... akhirnya gue bisa ketemu elo lagiii," Cia menghempaskan tubuhnya di sofa. "Gimana home schooling lo? Lancar?"


"Lancar sih. Bu Fani ternyata orangnya friendly banget."


"Kelihatan sih dari orangnya, kalau nggak salah kelas kita pernah diajar sama dia kan? Pas Bu Ningsih absen?"


Selenia mengacungkan jempolnya. "Betul. Eh bentar ya, gue buatin minuman dulu. Lo mau minuman panas atau dingin?"


"Mmmm... terserah lo aja deh Sel."


"Ya udah bentar ya," Selenia pergi ke dapur untuk membuatkan minum dan mengambil cemilan.


Saat Selenia ke dapur, Cia duduk-duduk santai di sofa sambil membuka-buka majalah milik Adam yang ada di bawah meja. Majalah otomotif dan bisnis. Cia tersenyum geli saat melihat sekeliling ruangan. Tempat ini benar-benar hanya didominasi dengan barang-barang milik Adam. Hmmmm... bahkan tak ada satupun foto mereka berdua terpajang di rumah ini. Hanya ada satu foto Adam yang terletak di dalam lemari kaca. Foto Selenia? Nggak ada. Kenapa ya? Padahal kan hubungan mereka sekarang udah lebih harmonis dan super romantis. Atau mungkin mereka belum sempat merombaknya?


"Bengong teruuus...." Selenia muncul dengan membawa dua cangkir kopi expresso dan kue kering dalam kaleng. "Nih, espresso... anggap aja kita lagi ngopi di kaf, hihihi..." dia duduk di samping Cia.


Cia menutup majalah dan mengembalikan ke tempatnya. "Uluuuuuhhh.... udah berapa abad kita nggak nongkrong di kafe Seeeel.... kangen iih..." dia memeluk Selenia sebentar lalu menyeruput espressonya.


Selenia terkekeh. Dia sadar sudah lama banget nggak pernah nongkrong bareng Cia.


"Nanti ya kapan-kapan kita double date," dia mengedipkan matanya.


"Serius?" mata Cia berbinar. "Lo sama Adam, gue sama Marvin gitu?"


"Ya iya lah... emang mau sama siapa lagi??"


"Asyiiiik..... cepetan agendain ya. Jangan lama-lama. Eh..." Cia celingukan. "By the way, kok gue nggak ngeliat suami lo?"

__ADS_1


"Iya, tadi dia udah bilang katanya pulangnya agak telat karena mau ketemu client dari Kalimantan."


Cia manggut-manggut. "Bi Iyah mana?"


"Ada, di kamarnya. Lagi istirahat."


Cia manggut-manggut lagi. "Gimana ni kabar calon ponakan gue?" dia mengelus perut Selenia yang sudah tampak sedikit menonjol. Apalagi Selenia malam itu sedang mengenakan piama.


Selenia turut mengelus perutnya. "Dia sehat, apalagi dapet perhatian lebih dari Daddynya."


"Lo udah nggak mual-mual lagi kan?"


"Enggak. Udah lepas trimester pertama kan, gue malah sering laper sekarang. Pengennya makaaan terus."


"Ati-ati kalau gendut."


"Nggak pa-pa lagi, yang penting anak gue sehat."


Cia tersenyum haru. Selenia sudah jauh lebih dewasa sekarang.


Sambil menikmati kopi dan cemilan serta nonton tv, kedua sahabat itu ngobrol seru banget. Menggosipkan guru, murid famous di sekolah, dan fashion ootd terkini, seperti yang biasa mereka obrolkan di sekolah. Selenia juga mengeluh kalau dia sekarang sudah mulai dilarang memakai celana jeans oleh Adam. Padahal itu adalah pakaian yang paling nyaman dipakai saat jalan-kalan keluar.


"Ya iyalah... kasian bayi lo kalau lo makek jeans Sel. Kenceng kan?" komentar Cia.


"Iya sih. Tapi untung aja sekarang gue nggak pernah kemana-mana. Habis gimana, susu, vitamin, semua kebutuhan gue udah dipenuhi sama mama.


Cia menepuk-nepuk paha Selenia.


"Itu artinya lo beruntung, lo itu... sorry ya Sel, bukan maksud gue mau gimana-gimana. Lo kehilangan nyokap lo, tapi sekarang lo dapat keluarga kecil dan paket lengkap. Suami yang setia, penyayang, mencintai lo dan mertua yang baik hati. Ya gue tahu, nggak ada yang pernah bisa gantiin posisi nyokap lo, tapi setidaknya permintaan terakhir beliau, bisa bikin lo bahagia kan?"


Selenia dengan begitu mudah mencerna kata demi kata yang dilontarkan sahabatnya. Dia tersenyum haru dan tanpa sadar ada setitik butiran bening yang mengalir di pipinya.


"Lhoooh... kok lo nangis sih Sel?" Cia merangkul Selenia. "Gue salah ngomong ya? Maaf Sel.... gue nggak ada maksud apa-apa sumpah .. maaf ya Seel...." ucapnya memohon.


Selenia tersenyum di tengah tangis harunya dan menggeleng.


"Enggak Cia, lo nggak salah omong. Tapi omongan lo bener. Dari dulu mama memang selalu berusaha memberikan yang terbaik buat gue. Dan di hari terakhir beliau, mama masih melakukan itu."


"Yah... walapun pada saat itu mama minta gue buat nikah, dan gue ngerasa keberatan, itu karena gue kaget.. ya lo bisa bayangin sediri kan, tiba-tiba disuruh nikah."


"Iya gue ngerti. Gue pasti juga bakal kaget kalau itu terjadi sama gue," sahut Cia.


"Tapi sekarang gue tahu, kalau ternyata itu bukan hanya sekedar permintaan tanpa maksud. Karena gue sekarang merasa bahagia Ci, lahir batin."


"Syukurlah Sel, gue ikutan seneng dengernya."


Mereka saling merangkul untuk beberapa saat.


"Oh iya Sel," Cia melepas rangkulannya. "Sebenernya kedatangan gue kemari, selain mau maen, gue juga pengen ngomongin soal Tony ke elo."


"Tony?" kening Selenia mengerut. Tanpa dia sadari, ternyata dia telah kehilangan komunikasi dengan Tony begitu lama. "Dia kenapa Ci?"


"Beberapa hari yang lalu dia datang ke rumah gue dan...."


"Assalamualaikum!" sebuah suara bariton menggema di ruang tengah menghentikan ucapan Cia. Ternyata Adam telah pulang. Cia dan Selenia spontan menoleh ke sumber suara yang berasal dari sosok gagah yang telah berdiri di ambang pintu antara ruang tamu dan ruang tengah.


"Waalaikumsalam," jawab Cia dan Selenia bersamaan.


"Oh, ada Cia?" Adam melempar seulas senyum ke Cia sembari berjalan mendekati Selenia. Tanpa sungkan dia langsung mengecup kepala Selenia di depan Cia. "Kamu udah makan sayang?"


"Udah tadi. Kamu?" Selenia mendongak.


"Udah juga tadi di kantor," jawab Adam sembari mengendurkan dasi yang melingkar di leher.


Cia terpaksa melengos melihat ke arah lain dan pura-pura tidak melihat. Dia salting sendiri melihat kemesraan Selenia dengan suaminya.


"Cia udah lama?" tanya Adam.


"E... lumayan sih."


Adam menghela nafas berat. "Hari ini capek banget aku sayang, mana besok masih ketemu sama client dari Kalimantan itu lagi."


"Lhoh, katanya hari ini ketemunya? Kan tadi kamu bilang kamu pulang telat karena mau ketemu dia kan?"

__ADS_1


"Iya sih, tapi belum selesai. Rencananya mau dilanjut besok lagi. Tapi aku minta ketemu pagi aja, biar nggak pulang malam. Capek banget."


Untuk sementara, Cia terpaksa harus sedikit menyingkir dengan menggeser duduknya menjauh dari Selenia karena sahabatnya itu sedang berbicara dengan suaminya. Duh, kaya obat nyamuk gue... batin Cia.


"Ya udah kalau gitu kamu mandi sana trus ganti baju, biar seger," Selenia membelai sebelah pipi Adam. "Atau mau aku buatin kopi?"


"Nggak usah sayang. Nanti aku buat sendiri aja. Kamu enakin aja ngobrolnya sama Cia," Adam menatap Cia yang sedang pura-pura membaca buku di tangannya dan tersenyum geli.


Adam baru saja melangkah melewati meja tempat Selenia meletakkan kopi dan cemilan saat tiba-tiba berhenti dan membungkuk menatap kedua cangkir berisi espresso yang isinya masing-masing tinggal setengah.


Melihat hal itu, Selenia reflek langsung menutup mulut menggunakan tangannya. Mampus! Aku lupa, kan aku nggak boleh minum espresso sama Adam.


"Sayang kamu minum espresso?!" Adam menatap serius ke Selenia.


Cia yang tadinya sibuk dengan majalah, turut memperhatikan Selenia yang tampak takut-takut menatap suaminya. Oh iya, Selenia kan lagi hamil, kenapa gue lupa buat ngelarang dia minum kopi itu.... batin Cia turut ketar-ketir.


"Ee.. aduh... maaf aku tadi lupa Dam... maaf..."


Adam mengenduskan nafas lirih. "Ya ampun sayang. Kan aku udah bilang, berhenti dulu minum kopi dan sejenisnya," dia terlihat sedang marah, tapi cara marahnya pada Selenia tetap tidak terdengar seperti orang marah saking lembutnya.


Ya ampun, so sweet banget sih pasangan iniiii.... batin Cia ikutan meleleh.


"Maaf... iya aku janji nggak minum lagi. Udah, itu tinggal setengah nanti aku buang aja," Selenia nyengir kuda.


Adam manggut-manggut. Untuk sekali ini dia bisa memaafkan keteledoran istrinya. Sebelum bergegas ke kamarnya di lantai dua, dia mengulangi pesannya pada Selenia tentang larangan minum kopi selama masa kehamilan.


"Suami lo ternyata over protective juga ya," komentar Cia begitu Adam menghilang di ujung tangga.


"Bukan over kok Cia, guenya aja yang teledor. Gue beneran lupa kalau gak boleh minum kopi lagi."


"Ya udah, itu tinggal setengah nggak usah diminum."


"Iya enggak kok," Selenia menyingkirkan gelas miliknya ke tepi meja. "Oh iya, tadi lo mau ngomong apa soal Tony?"


Selenia menutup majalahnya dan menarik nafas.


"Jadi gini..."


Cia menceritakan kedatangan Tony ke rumahnya tempo hari dan menyampaikan pesannya pada Selenia tentang rencananya untuk kuliah di luar negeri setelah lulus nanti. Juga tentang ketidak mauan Tony untuk ngomong langsung ke Selenia karena nggak enak hati sama Adam.


Selenia termenung mendengarnya. Kenapa Tony berpikir begitu? Kenapa dia tidak mau ngomong langsung saja? Kenapa harus lewat Cia?


"Lo bisa nggak sih Sel temuin dia, dimana kek... gue tu kasihan tau sama dia. Gue ngerasa kalau sebenernya dia tu pengen ketemu sama lo, cuman ya itu tadi--dia nggak enak sama Adam."


"Coba deh nanti gue hubungi dia. Dan kalau buat ketemu sama dia, gue tetep harus minta izin dulu dong sama Adam," terang Selenia.


Cia mengangguk kemudian menarik nafas. Dia melirik jam tangannya lalu meneguk habis espresso yang tinggal setengah cangkir.


"Udah malem nih, gue pulang dulu ya," Cia berdiri.


"Baru juga jam segini, buru-buru banget?" Selenia melirik jam besar yang baru menunjukkan pukul 8 malam.


"Suami lo kan udah pulang, nggak enak dong gue, takut ganggu kebersamaan kalian."


"Ya ampun Cia, kok lo ngomongnya gitu sih?" Selenia memberengut.


Cia terkikik. "Canda Sel.... lain waktu kan kita bisa ketemu lagi. Ya udah gue pulang dulu ya," dia menyentuh kedua bahu Selenia lalu mengecup pipi kiri dan kanan Selenia bergantian. "Daaaaah..."


"Hati-hati di jalan."


"Siap bos!" Cia menirukan gaya hormat sebelum meninggalkan ruang tengah. Selenia mengantarkan sampai teras.


Sementara itu di ujung tangga, Adam yang tadinya ingin bergabung dengan mereka, terpaksa menghentikan langkah saat mendengar obrolan keduanya yang membahas Tony dan rencananya.


Tony akan kuliah di luar negeri dan meminta tolong Cia untuk menyampaikannya pada Selenia? Kenapa dia nggak ngomong langsung saja? Atau datang ke sini?


Kini Adam tahu apa maksudnya. Setahu Adam Tony memang menaruh hati pada Selenia. Dia mungkin tidak ingin datang atau menemui Selenia secara langsung karena ingin menjaga perasaannya sendiri. Dia cemburu melihat kebersamaanku dan Selenia, jadi lebih baik tidak melihatnya sama sekali. Benarkah seperti itu?


Tiba-tiba Adam merasa ini tidak adil. Tidak adil untuk Tony. Anak itu sudah terlalu banyak berkorban untuk dia dan keluarganya. Jahat sekali rasanya kalau dia mempermasalahkan keinginannya untuk bertemu dengan Selenia, hanya karena dia ingin berpamitan.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2