
Pak Fendi menikmati secangkir kopi sembari membaca koran di ruang depan. Hari ini dia menghubungi jasa Go Clean untuk membantunya beberes dan mengemasi beberapa barang yang sudah tidak terpakai di rumahnya. Mereka bilang akan datang satu jam lagi.
"Mbak Selenia sepertinya betah banget ya Pak tinggal sama suami," celetuk Mang Komar sambil mengelap beberapa perabot yang ada di ruang tamu.
Pak Fendi tersenyum dari balik korannya. "Semoga saja begitu ya Mang. Kemaren selama saya berada di sana, mereka juga kayaknya adem ayem."
"Tapi apa Mbak Selenia nggak pengen maen ke sini Pak? Kan semenjak dia menikah, dia nggak pernah lagi datang ke sini."
"Dia itu sebenernya juga pengen ke sini Mang," Pak Fendi menutup korannya. "Tapi kamu tahu kan, dia itu deket banget sama Bu Kalila... jadi... mungkin dia belum siap ke sini lagi. Takut sedih katanya."
Mang Komar terdiam dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Dia paham maksud Pak Fendi. Selenia memang orang yang paling terpukul saat Mamanya meninggal. Belum lagi ditambah permintaan terakhir beliau yang memberatkan Selenia. Mang Komar yang sudah mengenal Selenia sejak masih kecil, sangat tahu sifatnya. Selenia adalah pribadi yang periang. Dia bahkan sudah menganggap Mang Komar seperti keluarga sendiri. Dulu sering sekali Selenia ngerecokin Mang Komar kalau sedang beberes rumah. Tapi semenjak Mamanya mulai keluar masuk rumah sakit, sifat periang Selenia perlahan menghilang. Dia jadi lebih sering mengurung diri di kamar. Kadang Mang Komar juga suka melihat Selenia melamun sambil memandangi foto keluarga yang tergantung di dinding yang ada di beberapa ruangan rumah itu.
"Mang, nanti kalau ada orang Go Clean dateng, panggil saya ya?" Pak Fendi beranjak dari kursi. "Saya mau ke atas dulu."
"Oh, iya Pak. Baik," Mang Komar menunduk.
...🌺🌺🌺...
Fero, teman sekelas Tony, melempar bola kertas ke arah Tony saat mendapati anak itu tengah membenamkan wajahnya di meja saat pelajaran sedang berlangsung. Pagi itu kelas mereka sedang menerima pelajaran Kimia dari Pak Nino. Laki-laki yang baru lulus kuliah beberapa bulan lalu itu tampak sibuk berdiri di podium kelas dan menuliskan banyak rumus di papan tulis.
Tony menegakkan tubuh, celingukan mencari si pelempar bola kertas. Fero nyengir saat Tony menghentikan pandangan ke arahnya. Tidak mau merespon apa yang Fero perbuat, dia kembali membungkukkan tubuhnya dengan malas di meja. Fero menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Tony yang tidak seperti biasanya. Aneh, lesu banget tu anak, pikirnya.
...🌺🌺🌺...
"Bagaimana Dam? Sudah lengkap dokumen pembangunan rukan?" Pak Anton masuk ke ruangan Adam sambil membawa beberapa lembar kertas yang langsung dia letakkan di meja kerja Adam.
"Tinggal sedikit lagi Pak," sahut Adam sambil terus menatap layar komputer. "Ini masih saya cek ulang, tapi sepertinya sudah beres."
"Bagus deh kalau begitu," Pak Anton menghempaskan tubuhnya di kursi. "Tadi saya juga sudah mengingatkan Irham soal alat berat dan beberapa material lain."
Adam beringsut dari berkas di hadapannya. Dia tersenyum dan bernafas lega karena telah berhasil menyelesaikan dokumen yang beberapa hari ini cukup membuatnya sangat sibuk. Tapi kemudian senyum itu menghilang saat matanya menatap lembaran kertas yang baru saja di letakkan Pak Anton di mejanya. Sembari menarik kertas itu, dia melirik ragu ke arah Pak Anton yang tersenyum penuh arti.
"Itu formulir study kamu ke Frankfurt," ujar Pak Anton.
Dahi Adam mengerut. Di kertas itu ada banyak sekali kolom kosong yang harus diisi dengan identitasnya secara lengkap.
"Saya sudah memilih kamu dan Galuh (marketing) yang akan ikut program itu," Pak Anton menambahkan.
Padahal Adam sudah tidak lagi memikirkan tentang tawaran ini. Kenapa sekarang Pak Anton justru mengingatkannya kembali? Berkas yang di rumah juga sudah dia museumkan ke dalam laci.
"Kenapa kamu diam Dam? Kamu masih berniat untuk ikut program itu kan?" Pak Anton melipat kedua tangannya di atas meja.
"Ehmm... iya Pak... tapi..."
"Tapi apa Dam?" potong Pak Anton tidak sabar. "Itu program paling singkat bisa kamu ambil hanya dalam waktu 1 tahun. Tapi kalau kamu mau memperpanjang, malah bagus. Saya sangat mendukung."
Adam menghela nafas panjang. Dalam hal seperti ini dia begitu salut dengan atasan seperti Pak Anton yang begitu peduli dan memperhatikan masa depan karyawannya. Tapi tetap saja, kali ini tawaran Pak Anton itu cukup berat untuk dia putuskan.
"Masih ada waktu beberapa bulan lagi Pak," Adam membaca ulang beberapa isi lembaran tersebut. "Saya pastikan sebelum hari itu tiba, saya sudah membuat keputusan."
__ADS_1
Pak Anton manggut-manggut mendengar jawaban dari Adam.
"Baiklah kalau begitu," Pak Anton berdiri. "Semoga kamu tidak mengambil keputusan yang salah ya," tegasnya penuh arti sebelum meninggalkan ruangan Adam.
...🌺🌺🌺...
Sorenya saat jam kantor usai, Renata langsung berkemas dan keluar ruangan. Dia melintas melewati ruangan Adam dan melihat laki-laki itu juga tampak sedang berkemas.
Renata berhenti di depan gedung, mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan menghubungi sopirnya. Semenjak mendapat surat gugatan permintaan hak asuh anak dari mantan suaminya, Renata jadi tidak tenang lama-lama meninggalkan rumah. Apalagi dia meminta sidang ditunda karena minggu depan masih harus ke luar kota untuk acara kantor yang tidak bisa ditinggalkan--menghadiri acara pembukaan pembangunan rukan bersama Irham dan Adam. Dia takut karena hal itu, Devan akan nekat. Renata sendiri juga masih mencari tahu kenapa setelah sekian lama, tiba-tiba mantan suaminya itu meminta hak asuh anak darinya.
"Aduh jadi gimana dong Pak? Oh... gitu ya.... ya udah deh kalau gitu biar saya cari taxi online saja," ucapnya lesu saat mendengar kabar dari sopirnya kalau mobilnya masih di bengkel.
"Mobil kamu masih di bengkel?" sebuah suara bariton yang sangat dia kenal menyentakkan dirinya yang baru saja akan memesan taxi online.
"Eh, Pak Adam..." Renata menoleh. "Iya Pak, kata sopir saya harus nunggu beberapa hari lagi."
"Ya sudah, kalau begitu kamu pulang bareng saya saja," Adam menawarkan.
Renata terdiam. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia senang mendengar tawaran itu. It's okay, jalan utama mereka memang searah. Tapi persimpangan yang menuju rumah Renata berbeda dengan jalan menuju rumah Adam. Itu artinya, Adam bakalan putar balik kalau mau pulang dari mengantar dirinya.
"Kok malah bengong sih?" Adam melirik jam tangannya.
"Memangnya nggak ngerepotin Bapak?"
"Ck, kamu ini kaya sama siapa aja sih Ren. Ya masa iya saya tega ninggalin kamu yang jelas-jelas lagi butuh bantuan? Ayo pulang, keburu sore."
"Oh e.. i-iya Pak... sebelumnya terimakasih atas tawarannya," jawab Renata. Dia menepuk-nepuk bibirnya sendiri yang mendadak jadi gagap.
"Nggak pa-pa kok Pak," Renata menggeleng sembari menunduk.
Adam geleng-geleng kepala lalu berjalan meninggalkan gedung.
Renata mengatur nafas sebelum akhirnya menyusul Adam di belakang dengan perasaan berbunga-bunga.
...🌺🌺🌺...
"Apa Dam???" Selenia terduduk lesu di sofa biasa mereka ngobrol tiap malam--di ruang tengah. Mereka baru saja selesai menikmati makan malam. Sore tadi Adam mengirim pesan ke Selenia memintanya untuk tidak perlu repot memasak, karena dia akan membeli makanan siap saji sepulang dari kantor.
Dan malam ini juga dengan berat hati Adam terpaksa memberitahukan perihal program study ke Frankfurt itu pada Selenia. Dia juga memperlihatkan formulir pendaftarannya dari Pak Anton.
"Aku sebenernya bingung Sel..." Adam menggantung kalimatnya. Banyak sekali yang ingin dia sampaikan, tapi dia bingung harus memulai dari mana.
"Kenapa bingung?" sahut Selenia. "Itu tawaran yang bagus kok," ucapnya pura-pura tegar. "Lagian itu kan untuk masa depan kamu juga Dam."
Adam tersenyum kecil. Dia menatap wajah Selenia dan membelai rambut istrinya itu lembut. "Kamu yakin ngebolehin aku pergi?" tanyanya lirih.
Selenia tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Adam sekilas dan membuang pandangannya ke televisi yang sedang menampilkan acara musik. Berat baginya untuk mengatakan iya, tapi egois rasanya kalau dia mengatakan tidak. Bagaimanapun, dia tidak berhak menahan Adam mengejar mimpinya.
"Kenapa kamu diem?" Adam menarik dagu Selenia.
__ADS_1
Bibir Selenia membentuk senyum kecil, tapi tidak dengan matanya. "Memangnya kalau aku nggak pengen kamu pergi, kamu bakalan tetep di sini?"
"Pasti!" jawab Adam penuh keyakinan.
"Jangan Dam..." sahut Selenia lirih. "Kamu nggak boleh gitu. Aku tahu kamu sebenernya pengen banget ikut program itu kan?"
"Sel... dengerin aku ngomong ya," Adam menangkup wajah Selenia dan menatap matanya dalam-dalam. "Aku memang pengen ikut, dan itu memang program yang bagus banget. Tapi kan aku punya kamu, istriku. Aku nggak akan mungkin nekat berangkat kalau kamu nggak ngizinin aku."
"Tapi itu buat masa depan kamu Dam."
"Heii..." Adam masih menangkup wajah Selenia. "Masa depan aku itu kamu."
"Daaaam...." Selenia menepis tangan Adam lembut. "Kamu jangan ngomong gitu. Kamu harus bener-bener mikir ini. Jangan sampai kamu nyesel. Kesempatan nggak datang dua kali."
Kepala Adam menegak mendengar pernyataan Selenia. Kenapa bisa sama seperti yang pernah dikatakan Pak Anton? Kesempatan tidak datang dua kali. Namun meski Selenia mengatakan semua itu, Adam tetap bisa merasakan bahwa istrinya merasa berat. Terlihat dari sorot matanya yang nampak nanar dan sayu.
"Kamu ngizinin aku?"
Selenia tersenyum kecut. Dan kemudian mengangguk. Dia menunduk untuk beberapa saat hingga Adam kembali mengangkat dagunya.
"Kamu serius?" bersamaan dengan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, Adam melihat tetesan bening mengalir di pipi Selenia. "Sel.... kamu nangis?" dia bergerak merapatkan tubuhnya ke Selenia dan kembali menangkup wajah mungil itu dengan tangannya.
Selenia menyeka air mata dengan punggung tangannya dan kemudian tersenyum setengah memaksa. "Aku... sebenernya aku udah tahu soal itu kok Dam."
"Apa?"
"Aku pernah kok lihat berkasnya di kamar kamu pas kamu sakit dulu. Dan aku juga pernah gak sengaja denger obrolan kamu sama Mama di rumah sakit. Kalian lagi ngomongin soal ini. Kamu bilang ke Mama kamu nunggu waktu yang tepat kan buat ngomongin ini sama aku? Dan akhirnya sekarang kamu ngomong ke aku."
Adam memundurkan tubuhnya perlahan. Matanya menyipit. Selenia sudah tahu dan diam saja?
"Kenapa kamu nggak ambil itu dari awal Dam?" tanya Selenia.
"Kalau begitu kamu sudah tahu alasanku kan?" Adam menggenggam tangan Selenia.
Air mata Selenia sudah tidak tertahankan lagi. Orang yang pernah dia benci tanpa sebab, rela menanggalkan impiannya hanya demi dirinya. Meski impian itu belum musnah, dan dia masih memiliki kesempatan, tapi justru keadaan lah yang membuatnya seolah sulit melangkah. Sekarang Selenia sadar, tidak seharusnya dia menjadi penghalang. Dia ingin suaminya itu tetap meraih mimpinya yang sudah jelas di depan mata.
"Aku nggak akan berangkat kalau kamu nggak izinin aku sayang."
Kata 'sayang' yang keluar dari mulut Adam membuat tangisnya semakin menjadi. Selalu terdengar nada ketulusan dari kata itu.
Selenia menggeleng. "Tapi kamu harus kejar impian kamu Dam..." ucapnya lirih.
"Udah stop," Adam menarik Selenia ke pelukannya. "Aku nyesel ngomong soal ini yang akhirnya cuma bikin kamu sedih. Aku nggak akan kemana-mana sayang, aku akan selalu ada untuk kamu."
"Daaam... tapi kamu harus mikir mateng-mateng, jangan asal ambil keputusan."
Adam menggeleng. "Seeeel, udah ya... nggak usah ngomongin itu lagi," Adam melirik formulir di atas meja yang bergeser karena tertiup hembusan angin dari ventilasi jendela. "Untuk saat ini, yang terpenting adalah aku, kamu dan hidup kita. Masa depan kita," dia mencium kening Selenia beberapa kali.
Selenia tidak berbicara lagi. Dia semakin tenggelam dalam kegundahan di pelukan suaminya. Alunan lagu The One That Got Away Katty Perry versi slowed reverb di televisi membuat perasaannya semakin pilu.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...