NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -51-


__ADS_3

Hujan turun begitu deras saat jam istirahat membuat anak-anak memilih untuk tetap berada di kelas, kecuali mereka yang tidak bisa menahan lapar. Begitu juga dengan Selenia dan Cia yang memilih tetap berada di dalam kelas sembari bermain ponsel.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di ruang musik, Tony sedang berada di sana bersama beberapa temannya. Teman-temannya sedang sibuk membicarakan tentang turnamen basket di televisi, namun Tony justru memilih duduk menyendiri di tepi jendela sembari melihat keluar. Alunan musik yang sengaja diputar untuk mengusir jenuh, seolah menjadi soundtrack kilasan-kilasan masa lalu yang berkelebatan di otaknya.


Flashback On,


"Ayo sayang... jangan takut. Nanti habis ini kita mandi, terus Mama buatin kamu sup ayam kesukaan kamu."


Dia ingat, dulu waktu kecil dia takut sekali bermain hujan. Doktrin yang dia dapat dari Almarhumah Neneknya (Ibu dari Mamanya Tony)--yang mengatakan kalau maen air hujan bisa bikin sakit--membuatnya selalu memilih untuk berdiam di rumah saat hujan turun. Bermain PS, nonton TV atau sekedar tiduran di kamar. Sementara itu Ibunya tidak begitu percaya dengan hal-hal seperti yang Neneknya katakan.


"Adakalanya seorang anak harus dikenalkan dengan alam, supaya kemampuan motoriknya bagus," Begitu yang pernah diucapkan Mama Tony pada Nenek saat itu. Namun tetap saja sang nenek masih melarang cucunya itu bermain air hujan. Kalau sudah begitu, Mamanya Tony tidak bisa membantah lagi.


Sampai akhirnya, pada suatu hari saat Nenek Tony tidak ada di rumah dan hujan turun dengan deras, Ibu Tony mengajak Tony bermain air hujan. Awalnya Tony menolak karena takut sakit. Tapi Ibunya terus membujuk dan mengiming-imingi sup ayam makanan kesukaan Tony waktu kecil. Akhirnya Tony pun mau mencoba bermain air hujan.


"Seger ya Ma... enak... yuhuuuu...!!"


Teriak Tony kala itu. Dia benar-benar girang seolah menemukan permainan baru yang selama ini tidak pernah dia dapat. Tony berlari ke sana kemari di halaman rumah sembari berteriak-teriak kesenangan.


Flashback Off.


Tony tersenyum mengingat kenangan itu. Meskipun dia pernah masuk rumah sakit gara-gara habis hujan-hujanan--pas pulang dari menjenguk Selenia waktu itu--tapi setidaknya Ibunya sudah membuktikan kalau bermain air hujan tidak seseram yang Neneknya katakan. Tapi dimana dia sekarang? Sosok yang selalu menguatkan dan memberi support saat dia kecil.


Kemudian soal bukit bintang. Melihat album foto milik Cia tadi membuat ingatannya melayang ke masa lalu dan bagaimana awal mula dia mengetahui tempat itu. Sebenarnya nama tempat itu bukan bukit bintang. Bukit bintang hanya sebutan Tony saja karena memang pada malam hari dan cuaca sedang cerah, panorama kota tampak begitu mempesona dilihat dari atas bukit tersebut.


Flashback on (again)


Waktu itu usia Tony baru 5 tahun, saat Ayah dan Ibunya mengajak dia pergi ke sebuah pameran miniatur di sebuah gedung. Tony dengan penuh sukacita berjalan menjelajahi seisi gedung, melihat satu persatu miniatur yang tertata rapi di sana. Sampai akhirnya matanya terhenti pada salah satu miniatur yang begitu menyedot perhatiannya. Sebuah miniatur tatanan kota yang dibingkai apik menggunakan kotak kaca. Tony kecil mengelilingi miniatur tersebut dengan mulut menganga--ekspresi takjub.


Seorang laki-laki berpenampilan rapi menghampiri dan menyapa dengan ramah. Dia bertanya siapa nama Tony, dan dengan siapa dia datang. Tentu saja Tony kecil langsung menjawab sejujur-jujurnya karena masih polos. Laki-laki itu tahu Tony kecil begitu mengagumi miniatur dihadapannya. Jadi dengan ramah bak tour guide dia memberitahukan pada Tony apa-apa saja yang ada di dalam area miniatur tatanan kota tersebut, seperti gedung, rumah, sekolah, masjid, gereja, tiang listrik, pemancar radio dan yang lainnya. Tony kecil mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama.


"Wuuuooooo kerennnn Oom!!" pekik Tony kecil dengan mata berbinar saat laki-laki itu menekan tombol merah diujung bingkai. Lampu-lampu kecil miniatur di dalam bingkai itu menyala.


Kejadian itu juga yang hampir membuat kedua orang tua Tony kecil kwalahan karena anaknya tidak mau di ajak pulang. Dia terus berdiri di samping miniatur idamannya dan merengek supaya dibelikan miniatur tersebut. Tapi itu tidak mungkin, karena pada saat itu, semua barang yang ada di gedung tidak untuk dijual. Sebagai ganti, dia mau diajak pulang asal Ayahnya berjanji akan membelikan banyak lego dengan dalih dia akan meniru membuat miniatur tersebut menggunakan legonya. Dan juga dia akan minta datang lagi ke pameran miniatur ini beberapa hari kemudian.


Tapi sayang, saat dia kembali ke gedung itu hanya bersama Ibunya--Pak Anton tidak ikut karena sedang meeting--ternyata acara pameran telah selesai. Tony kecil marah, menangis dan mengancam tidak mau pulang sampai dia melihat miniatur itu lagi. Beruntung Ibunya tidak kurang akal. Dia mengajak Tony kecil ke suatu tempat dan mengatakan dia akan melihat miniatur yang tidak akan pernah pindah dari tempatnya.


Ya, itulah bukit bintang. Saat siang hari, pemandangan perkotaan akan nampak seperti miniatur jika dilihat dari sana.


Flashback Off.


"Mama..." gumam Tony. Dia tersenyum kecut mendapati kenyataan bahwa orang yang dulu selalu berada di sampingnya, membimbing dan mensupport dia, kini tidak dia ketahui lagi di mana rimbanya. Bahkan pada saat ulang tahunnya yang ke 18 kemarin, dia juga tidak datang. Tony berpikir kalau memang Ibunya masih ingat dia punya anak, dia pasti akan datang walau hanya sebentar. Ah... mungkin dia memang sudah lupa kalau pernah melahirkan seorang anak yang kini mulai beranjak dewasa.


"Bengong terus!" Febri menepuk bahu Tony dan menyodorkan satu cup coklat hangat.


"Eh!" Tony tersentak dari lamunannya. "Beli di mana?" dia celingukan ke sekeliling ruangan. "Lhoh anak-anak pada kemana?"


"Jadi pertanyaan mana ni yang mesti gue jawab dulu?" Febri terkekeh melihat Tony yang nampak seperti orang linglung.


"Ck, apaan sih lo."


"Lo tuh yang apaan. Ngelamun sampek berjam-jam... ngeliatin air hujan... syahdu ya boss?!" Febri menggoda.

__ADS_1


Reflek Tony melemparkan gulungan kertas yang ada di hadapannya ke Febri, namun dengan sigap berhasil ditangkap oleh Febri, kemudian dilemparkannya gulungan itu ke luar jendela.


"Coklat gue beli di kantin," Febri mengangkat cup coklatnya. "Dan anak-anak.... mereka pada laper. Jadi ke kantin nyari makan. Lagian elo juga sih, dipanggil tantontanton nggak respon sama sekali. Mikir apa sih? Kaya orang susah aja hidup lo?"


"Dih anjing lo malah ngoceh," Tony menendang betis Febri pelan. Lagi-lagi Febri berhasil ngeles.


"Hahaha!" Febri tergelak. "Canda Ton. jadi gimana? Gosip itu beneran?" dia mendadak mengalihkan pembicaraan.


Tony mengernyitkan kening. "Gosip apalagi?" dia mengangkat dagu.


"Lo beneran udah jadian sama anak 12 IPA C itu? Siapa namanya?"


"Maksud lo Selenia? Jadian?" dia balik nanya. "Siapa yang bilang?"


"Banyak yang bilang," Febri menyeruput coklatnya. "Pokoknya semenjak lo dansa sama Selenia di acara ultah lo kemaren, trus videonya beredar ke seluruh penghuni SMA ini, mereka pada bilang kalian udah jadian."


Tony terkekeh mendengar penjelasan Febri. "Pada ngaco semua," timpalnya. Dia sudah melihat video itu dan masih menyimpan di ponselnya. "Gue dansa sama dia cuma have fun aja kali," dia bangkit, menenggak coklatnya sampai habis kemudian melempar cupnya ke tempat sampah. "Udah lah. Lo juga kenapa lagi cowok masih mikirin gosip. Gue mau ke kelas."


Tony melenggang dengan gontai meninggalkan ruang musik dan Febri yang masih bengong menatap langkahnya yang kian menjauh.


Lala yang tidak sengaja mencuri dengar percakapan mereka dari luar, buru-buru pergi saat tahu Tony akan keluar.


Jadi mereka belum jadian?


Lala merasa lega dengan pengakuan yang tidak sengaja dia dengar barusan. Syukur deh kalau memang begitu kenyataannya.


...🌺🌺🌺...


Sama halnya dengan Selenia yang sibuk nonton konser Justin Timberlake di YouTube, Cia justru sibuk menscroll aplikasi online shopping untuk berburu diskon. Cia memang maniak kalau disuruh belanja online. Apalagi kalau sedang ada diskon seperti sekarang ini.


"Sel?" celetuk Cia kemudian.


"Hmmmm," sahut Selenia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Bagusan yang mana nih? Gue bingung!" Cia memperlihatkan dua jenis model baju di aplikasi belanja onlinenya pada Selenia.


Selenia mengarahkan pandangannya ke ponsel Cia beberapa detik dan langsung menunjuk memberikan pilihan.


"Masa coksu?" bibir Cia memberengut. "Baju gue udah banyak yang warna coksu Sel."


Selenia melirik. "Ya kalau gitu ngapa lo minta pendapat gue? Kebiasaan lo Ci, minta pendapat giliran dikasih pendapat malah gak terima."


"Hmmm, bukannya nggak terima Sel. Tapi masa baju gue selemari warnanya mau coksu semua. Nggak ah. Mending gue cari rekomendasi yang lain," Cia kembali menscroll ponselnya "Searching toko lain aja kali yak."


Selenia menghela nafas. sebal "Dasar oneng!" gerutunya.


Cia nginyem dan mencibir. Dia kembali menyibukkan diri dengan ponselnya. Setelah puas berselancar di layanan online shopping, dia pindah haluan membuka-buka Instagram dengan tampang yang mulai bosan. Hujan di luar semakin deras sedangkan perutnya juga terasa lapar. Tapi melihat ribuan air yang jatuh menyerbu bumi itu, keengganan bergerak menuju kantin, mengalahkan rasa laparnya.


"Eh Sel... Sel... Sel...!" celetuk Cia lagi, sembari menarik lengan Selenia. "Liat nih," Cia memperlihatkan layar ponselnya pada Selenia.


Selenia mempause video YouTubenya dan mengarahkan pandangannya pada ponsel Cia. Ponsel itu memperlihatkan sebuah tampilan feeds yang membuat Selenia langsung tahu apa maksud Cia. Dia menunjukkan akun Instagram milik Renata padanya.

__ADS_1


"Renata," Selenia menggumam.


"Bener kan? Ini Renata yang...." Selenia mulai mengecilkan intonasinya. "...satu kantor sama suami lo?"


"Lo follow dia ya?" Selenia menatap sinis pada Cia.


Cia menggeleng. "Gue lagi buka-buka explore, trus nggak sengaja nemu ini."


Selenia manggut-manggut. "Oh, jadi Instagramnya nggak di privat?"


Cia menarik kembali ponselnya dari hadapan Selenia.


"Foto-fotonya banyak banget deh," ucapnya sembari menelusuri feeds Renata. "Foto-fotonya juga keren-keren semua. Eh ini sama anaknya. Anaknya pas masih bayi tapi," Cia berbicara sendiri tanpa mempedulikan Selenia yang masih melihat ke arahnya.


Selenia sebenarnya gedeg mendengar Cia yang seolah memuji Renata di depannya. Pake bilang foto-fotonya keren semua lagi. Hrrgghhh!


"Apa nama Instagramnya?" tanya Selenia.


"renanola_adm," jawab Cia.


Selenia yang mendengar Cia mendikte nama Instagram Renata, membelalak saat mengetikkan huruf ADM.


ADM


underscore ADM


renanola_adm


Maksudnya Renata, Nola dan Adam?! Bukan apa-apa sih, tapi feeling Selenia mulai nggak enak saat mendengar username itu disebut oleh Cia.


Akun Renata yang tidak diprivat membuat penyakit kepo Selenia kambuh. Matanya membulat manakala melihat username Adam tampak memberikan love pada beberapa postingan Renata. Dan yang bikin Selenia tambah kaget lagi, setelah dia telusuri ternyata mereka mutualan. Selenia menutup aplikasi Instagramnya dengan sewot. It's okay! Itu mungkin memang hanya-akun-instagram, tapi Selenia tetap nggak rela.


"Lo kenapa Sel?" tanya Cia dari balik ponselnya. "Laper?"


Selenia hanya menggeleng.


"Gue laper nih," Cia mengelus-elus perutnya. "Kantin yuk," ajaknya.


"Males ah. Nanggung, bentar lagi juga bell."


"Masih lama," Cia melirik jam tangannya. "Makan Indomie enak Sel. Mumpung cocok nih sama cuacanya."


TEEEET...!! TEEEET...!! TEEEET....!!


Bell masuk kelas berbunyi dan Selenia menjulurkan lidah pada Cia.


"Hadeeeeeeh....." gerutu Cia sembari memegangi perutnya.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2