NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -18-


__ADS_3

Hari kedua acara ulang tahun SMA Bhakti Nusa


Suasana stand bazaar semakin meriah. Di hari kedua itu, banyak pedagang baru yang ikut berpartisipasi. Hiburan di panggung pun semakin ramai. Beberapa lomba diadakan yang membuat suasana menjadi semakin penuh semangat. Lomba-lomba itu diantaranya seperti teater, melukis, dance, memasak khusus murid laki-laki, dan lomba make up.


"Lariiis maniiisss....!" wajah Cia sumringah sembari menepuk-nepukkan beberapa lembar uang ke atas barang dagangan yang masih tersisa di atas meja.


Selenia turut tersenyum. Sama bahagianya seperti Cia karena sebelumnya dia tidak pernah menyangka kalau penjualan barang-barang prelovednya bakalan selaris ini. Padahal dulu dia sempat bingung dan bertanya-tanya 'mau dibawa kemana barang-barang ini' setiap kali membuka almari. Pernah juga dia kepikiran untuk menjual barang prelovednya secara online. Tapi entah kenapa selalu tertunda. Tapi kini barang-barang yang kemarin dia boyong ke sekolah itu hanya tinggal menyisakan aksesoris-aksesoris kecil, seperti bros dan gantungan kunci karakter. Itu merupakan barang-barang yang pernah dia beli di Bogor saat liburan ke rumah Neneknya--tentunya sebelum Ibunya sakit dan saat dia belum menikah.


Selenia menyelipkan uang hasil penjualannya ke dalam tas, dan seketika terlintas di benaknya untuk mengajak Adam makan malam di luar menggunakan uang hasil jerih payahnya tersebut. Yah, itung-itung bagi-bagi rejeki. Bukankah selama ini Adam sudah berbuat banyak hal untuk dirinya?


Tanpa pikir panjang, Selenia mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan mengetik pesan untuk Adam.


Selenia: [nanti malam makan di luar ya, aku yang traktir :)]


Pesan WhatsApp itu menunjukkan satu checklist yang artinya belum terkirim. Selenia mengernyitkan kening. Tumben ponsel Adam nggak aktif. Apa dia lagi meeting? Pikirnya. Tapi nggak biasanya Adam menonaktifkan ponselnya... atau...


"Sel, liat dance yuk. Gue pengen nonton performnya Tony." ajak Cia kemudian.


Selenia tersentak dan buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku baju seragamnya. Mungkin Adam memang lagi sibuk banget dan nggak mau diganggu. Pikirnya kemudian.


"Males ah. Gue mau di sini aja." ucap Selenia.


"Busyet... cuma tinggal barang mungil-mungil doang." gerutu Cia. "Masih ada waktu sehari besok, gue yakin pasti ludes!"


"Amiiin..." Selenia tersenyum.

__ADS_1


"Ya udah sekarang closed dulu. Gak kasian lo sama Tony. Dia udah bantuin lo atur barang-barang ini lho kemarin. Masa iya sekarang giliran dia mau perform malah kita gak nonton." Cia terus ngedumel. Dia memasukkan sisa barang jualannya ke kardus kemudian meletakkannya di bawah meja.


Selenia terkikik melihat ekspresi Cia. "Ya siapa suruh? Kemarin gue juga nggak minta dia buat bantuin gue kan?" Balas Selenia sengaja untuk membuat Cia jengkel.


Sahabatnya itu sedang jongkok di bawah meja, saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Selenia. Merasa jengkel, Cia langsung berdiri untuk memprotes sikap Selenia. Tapi sayangnya dia tidak menyadari kalau posisi kepalanya tepat di bawah meja. Maka terdengarlah bunyi benturan keras di meja itu saat Cia berdiri.


"Auuhh!!!" pekik Cia lantang membuat beberapa anak di dekat mereka kaget dan menoleh ke arahnya. Kepala Cia membentur tepian meja.


"Cia, ya ampun!" Tatap Selenia panik. Reflek dia langsung menarik lengan Cia menjauh dari kolong meja. "Lo nggak pa-pa kan? Liat-liat dong makanya...." omelnya.


Cia bersungut-sungut sembari berdiri dan mengusap-usap kepalanya. "Eh lo jangan ngomong gitu dong Sel. Biar bagaimanapun dia tetep udah bantuin lo..." gerutunya perihal sikap Selenia yang terkesan meremehkan Tony. Sepertinya perasaan Tony saat ini lebih penting daripada sakit kepalanya itu.


"Hahaha..." Selenia terkekeh. "Iya lho... gue juga cuma bercanda kali..."


"Bercanda lo nggak lucu. Bikin kepala gue kejedot!"


Suara musik yang sangat Cia kenal menggema di atas panggung. Itu musik iringan dance milik Tony. Cia pernah mendengar musik tersebut saat Tony dan beberapa temannya latihan di studio beberapa hari yang lalu.


"Ah udah lupain. Itu grupnya Tony udah mulai. Ayok...!!" gantian Cia yang menarik tangan Selenia.


"Iya tunggu. Gue simpan barang-barang gue dulu." Selenia meraup benda-benda kecil tersebut, memasukkannya ke dalam plastik dan kemudian menyimpannya bersama dengan barang-barang milik Cia.


...🌺🌺🌺...


Adam dan Renata berada dalam satu mobil. Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju ke SMA Bhakti Nusa. Sepanjang perjalanan itu, Adam lebih banyak diam meski Renata duduk di sebelahnya. Selain karena dia fokus menyetir, pikirannya pun berkecamuk dengan banyak pertanyaan 'Bagaimana seandainya?'.

__ADS_1


Bagaimana seandainya dia bertemu dengan Selenia di sana? Bukan hal yang mustahil kan? Sekalipun letak aula yang akan dia tinjau itu jauh dari area kelas, tapi pertemuan mereka bisa saja terjadi kan?


Bagaimana seandainya Selenia marah atau berpikir negatif tentang kedatangannya ke sekolah? Dan dia akan menuntut banyak pertanyaan karena tidak tahu menahu soal ini sebelumnya.


Bagaimana seandainya dia melihat kebersamaannya dengan Renata? Apa dia akan marah atau cemburu?


Ah... andai-andai yang terakhir itu tidak begitu dia khawatirkan. Selenia tidak akan mungkin mencemburui Renata. Ingat Adam, pernikahan kalian bukan karena cinta. Batin Adam mengingatkan dirinya sendiri. Tapi kalau melihat perubahan sikap Selenia akhir-akhir ini, Dia mengira kalau.... ah... stop Adam. Jangan GR. Selenia itu masih ABG, wajar kalau sikapnya masih labil, berubah-ubah. Kaya kamu nggak pernah muda aja. Pikirnya kemudian.


Sementara itu bagi Renata, berada dalam satu mobil dengan Adam membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Dadanya terasa begitu membuncah. Kali ini dia bisa lebih memperhatikan secara detil sosok atasannya itu, walau hanya sekedar mencuri pandang. Tubuh gempalnya, hidung mancungnya, bibir sensualnya, rambutnya yang rapih, terlihat begitu sempurna. Bahkan genggaman tangannya yang erat pada kemudi, mampu membuat Renata berimanijinasi betapa nyamannya jika tangan itu menggenggam tangannya. Dan bahunya yang kekar, pasti menjadi tempat yang aman dan nyaman juga untuk bersandar. Benar-benar sosok yang sempurna untuk dijadikan pasangan hidup.


TRING!!


Ponsel Adam yang tergeletak di samping jok duduknya menyala. Terdapat notifikasi pesan WhatsApp masuk di layarnya. Adam memelankan laju mobil karena kebetulan jalanan sedikit macet dan dia harus mengemudikannya secara perlahan. Tangan kirinya meraih ponsel tersebut dan sesaat dia tersenyum saat membaca pesan tersebut.


Selenia mengajak makan malam di luar malam ini?


Adam tersenyum manis sekali. Tanpa berpikir lagi dia langsung membalas pesan tersebut dan mengiyakan ajakannya. Semoga ini adalah awal yang baik, batinnya. Pagi itu mendadak dia merasa begitu bahagia.


"Pak? Bapak baik-baik saja kan?" tanya Renata penuh selidik. Dia penasaran.


Adam kembali meletakkan ponselnya di samping jok. Dia tidak menjawab pertanyaan Renata dan hanya mengangguk mantap.


...🌺🌺🌺...


Yes! Pekik Selenia lirih begitu pesannya dibalas oleh Adam yang menyetujui ajakannya. Dengan ringan dia mengembalikan ponsel itu ke saku bajunya, dan kembali menikmati suguhan para dancer yang sedang perform di atas panggung.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2