NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -82-


__ADS_3

Tony dan Selenia duduk berhadapan di salah satu kafe yang tak jauh dari sekolah. Tadinya dia ingin mengajak Selenia ke tempat lain. Tapi karena tidak mungkin membawa Selenia menggunakan motor dengan kondisi kakinya yang masih sakit, jadi mereka memilih tempat terdekat saja yang bisa dijangkau cukup dengan jalan kaki. Seperti yang Selenia janjikan tadi, dia ingin berbicara empat mata dengan Tony. Sementara Cia, saat mereka keluar dari sekolah tadi, Marvin sudah standby di depan gerbang untuk menjemputnya. Sepertinya hubungan keduanya juga semakin menghangat.


Selenia memesan dua porsi onion ring dan dua cup dalgona coffe untuk menemani obrolan mereka.


"Kamu mau ngomong apa sih Sel? Kayaknya serius banget," Tony menopang dagunya menggunakan kedua tangan. Dia telah memakan onion ringnya setengah porsi.


"Iya. Memang serius kok," Selenia nyengir dan menyeruput minumannya sedikit.


Mata Tony menyipit mendengar kalimat itu. Seserius apa nih? pikirnya.


"Ton..." Selenia mengawali. "Makasih ya, berkat kamu akhirnya peneror itu bisa ditangkap."


"Ditangkap untuk dilepas," sahut Tony dengan senyum mencemooh. "Aku nggak habis pikir lho sama jalan fikiran suami kamu."


Kening Selenia mengerut mendengar pernyataan Tony yang diluar dugaannya. Senyum yang hampir saja mengembang seketika lenyap.


"Maksud kamu?"


"Orang seperti Devan itu saiko. Nggak ada yang jamin dia bakalan jera dan nggak berbuat sesuatu yang lebih nekat. Apalagi statusnya hanya sebagai tahanan kota," Tony geleng-geleng kepala.


Kenapa pendapat Tony sama seperti pendapat Cia? Pikir Selenia. Memangnya keputusan itu Adam yang buat, atau bagaimana sih?


"Jadi sebenarnya keputusan itu diambil dari kesepakatan siapa sih Ton?" tanya Selenia bingung. "Adam?"


"Ya... memang dia nggak ikut campur sih," Tony meneguk dalgonanya. "Keputusan itu cuma disepakati dari pihakku, dan juga pihak Devan. Adam kan datang ke sana cuma karena diminta buat nemenin Papa. Karena kolega Papa nggak ada yang tahu masalah ini, dan memang nggak berniat untuk kasih tahu." tutur Tony panjang.


"Kamu inget kan sama Tanteku yang dulu nemenin aku di rumah sakit?" tanya Tony dan Selenia mengangguk. Dia masih ingat. "Dia orangnya heboh dan punya penyakit jantung juga. So..." Tony mengangkat kedua bahu, tanpa melanjutkan kata-katanya.


"Terus maksud kamu bilang nggak ngerti sama jalan fikiran Adam tadi apa?"


Tony menghela nafas. Adam memang tidak turut menyepakati mufakat itu. Dia hanya merasa kecewa dengan sikap Adam yang menurutnya seperti terkesan biasa-biasa saja dengan hukuman Devan yang dianggapnya terlalu ringan. Padahal kan seharusnya dia bisa menuntut lebih karena yang diterror dan dicelakai adalah istrinya.


"Maksudku gini lho, dia kan tahu orang itu udah nyelakain istrinya. Seharusnya dia bisa mengajukan tuntutan lebih ke Devan," terang Tony. "Ck, tapi ya udah lah.. lupain aja. Ini mungkin cuma perasaanku aja. Ya moga aja Devan benar-benar jera dengan hukumannya."


Selenia manggut-manggut. Dia yakin Adam pasti sudah berpikir panjang. Dan ini memang cuma perasaan Tony saja yang overthinking, sama seperti Cia. Peneror bernama Devan itu pasti sudah jera dengan hukuman yang dia terima. Buktinya setelah peristiwa penangkapan itu, dia sudah tidak lagi mendapatkan teror dan tidak ada yang menguntit.


"Semoga aja ya," ujar Selenia. "By the way... aku juga minta maaf sama kamu."


"Buat?"


"Gara-gara aku... kamu jadi harus ngerasain yang namanya nginep di hotel prodeo," Selenia mengatupkan kedua tangannya.


"Ck, ini bukan salah kamu lagi. Kamu nggak perlu minta maaf," Tony terkekeh. "Tapi memang bener, aku di sana sama sekali nggak bisa tidur. Nyamuknya banyak banget."


"Ya ampun...sama polisinya nggak dikasih kompensasi ya? Obat nyamuk bakar kek... hihihi..." Selenia turut terkikik mendengarnya. "Oh ya Ton, waktu itu kok kamu bisa yakin banget kalau orang yang kamu pukul itu adalah orang yang nerror aku?"


Tony memungut satu onion ring dan melahap ke dalam mulutnya.


"Mungkin karena aku masih ingat sama postur tubuh dia dan kostumnya kali ya, atau mungkin dia nggak punya pakaian warna lain selain warna hitam..." guraunya, kemudian melanjutkan.


"Jadi pas pertama kali lihat dia di taman, aku langsung keinget peristiwa yang kamu ditubruk orang di depan gerbang sekolah, kamu inget nggak?" dan Selenia mengangguk. "Jelasnya lagi pas dia nyebut-nyebut nama kamu, waktu itu dia lagi nelfon seseorang. Nadanya kaya ngancem gitu..."


"Ha?" mulut Selenia menganga. "Dia nyebut nama aku?"


"Kalau nggak salah waktu itu dia ngomong gini 'Sampai lo libatin orang lain atau polisi, lo bakalan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup lo. Selenia.'...dia bener-bener nyebut nama kamu Sel dan itu kedengaran jelas banget di telingaku. Dan nggak tahu deh, waktu itu aku kaya langsung spontan aja mukul dia," Tony memberatkan suaranya, seperti menirukan gaya orang tersebut.


Selenia bergidig ngeri mendengar kalimat ancaman tersebut. "Dia ngomong begitu di telfon?"

__ADS_1


Ternyata dendamnya seorang Devan separah dan sengeri itu untuk melibatkan seseorang yang bahkan tidak pernah mengenalnya. Dia melakukan itu hanya mencari pancingan untuk berurusan dengan yang bersangkutan.


Tony mengangguk. Selenia menduga, orang itu ngomong begitu sama Adam nggak sih? Soalnya kemarin kan Adam juga sempet cerita kalau sebelum datang ke kantor polisi, dia sebenarnya udah kembali dari luar kota dan sengaja cari hotel untuk menginap. Karena sebenarnya tujuan dia kembali lebih awal dari jadwal, adalah untuk menemui orang tersebut. Rencana Tuhan ternyata jauh lebih indah. Selenia tidak pernah memiliki urusan dan masalah dengannya, jadi Tuhan menjauhkan dia darinya dengan caraNya.


Di tengah asyiknya mereka ngobrol, tiba-tiba ponsel Selenia yang diletakkan di atas meja bergetar. Selenia sempat melihat Tony yang mencuri pandang ke arah layar ponsel yang menyala, dengan tulisan My love calling.


"Bentar ya, aku terima telfon dulu," Selenia tersenyum ke arah Tony sebelum menggesek ikon berwarna hijau di ponselnya.


Tony hanya mengangguk.


"Hallo, Dam...iya aku masih ngobrol sama..." Selenia melirik Tony yang masih melihatnya. "...Tony... gimana? Oh... iya.... iya bentar lagi kok..." dia melirik Tony lagi. ".... kenapa sih?... hihihi...iya... ya udah okeeey... sampai nanti...bye..."


Selenia kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan menghabiskan dalgona coffenya yang tinggal sedikit.


"Ada apa? Udah di suruh pulang?" tanya Tony tanpa ekspresi.


Dia memang masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan kalau perempuan pujaan hatinya itu tidak akan pernah bisa dia miliki. Bahkan belum sempat dia mengungkapkan semuanya, semesta seakan terlebih dahulu memberi peringatan supaya dia lebih baik menyimpan atau mengubur perasaannya itu. Bulshit banget kalau move on adalah perkara mudah. Dia sudah mencoba melakukan itu berkali-kali, tapi nyatanya setiap kali melihat Selenia, sulit sekali rasanya untuk abai begitu saja. Entahlah.... Selenia memang perempuan yang biasa-biasa saja. Dan bahkan tidak begitu menonjol kan di sekolah? Jauh sekali dari tipikal cewek-cewek yang pernah dia dekati jaman masih di SMA lama. Tapi justru kesederhanaannya itulah yang menurut Tony memiliki damage tersendiri. Beruntungnya seorang Adam memiliki dia.


Selenia tersenyum. "Biasa lah... dia memang protective banget sama aku."


"Dan kamu nyaman?"


"Awalnya sih enggak. Karena aku orangnya nggak suka terlalu di atur. Tapi sekarang udah biasa, malah aku suka sebel kalau dia cuekin aku...." Selenia menutup mulutnya dengan tangan. "Ups, maaf... malah curhat."


Tony memaksa tersenyum. Nyeri rasanya mendengar pengakuan itu. "Biasa aja lagi," ucapnya sok tegar.


"Tony?!"


Seorang perempuan tiba-tiba memanggil nama Tony, dan dia sudah berdiri di belakang Selenia. Kepala Tony terangkat melihat ke belakang tubuh Selenia. Dia kaget melihat siapa yang datang. Bu Riska, Mamanya. Selenia pun reflek memutar tubuh ke arah sumber suara. Dia menatap bingung pada perempuan paruh baya yang kini berjalan dan berdiri di antara mereka, juga ekspresi Tony yang menatap sinis pada perempuan tersebut.


"Kenapa anda kesini?" tanya Tony ketus.


"Ee... maaf..." Selenia menyela. Dia meraih ponselnya dari atas meja dan berdiri. "Sepertinya Ibu ada perlu sama Tony? Kalau begitu saya permisi dulu," Selenia menunduk hormat.


"Enggak Sel!" Tony turut berdiri dan menatap wanita paruh baya itu sinis. "Aku nggak ada urusan sama dia. Kita pergi sekarang!" dia meraih lengan Selenia dan menariknya untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Ton..." teriak Bu Riska putus asa. Dia menangis dan tetap berdiri di tempatnya, karena tahu bahwa mengejar pun tidak akan membuat Tony menghentikan langkahnya.


Tony sudah membawa Selenia keluar dari cafe saat Selenia menghentakkan tangannya.


"Berhenti, Ton!" teriak Selenia. "Kamu narik aku dan jalan cepet banget. Kaki aku sakit tau!" gerutunya.


Tony seketika menyadari apa yang telah dia lakukan. Emosi membuatnya lupa dengan keadaan Selenia.


"Argh... maaf Sel. Aku... aku minta maaf," ucap Tony gugup.


Selenia mendengus lirih.


"Memangnya dia tadi siapa? Kenapa kamu nggak mau ngomong sama dia?" dia penasaran. Dan kenapa sepertinya Tony begitu tidak suka dengan kedatangannya?


"Bukan siapa-siapa kok. Ya udah yok pulang. Nanti suami kamu nyariin," Tony melangkah meninggalkan Selenia yang masih belum puas dengan jawabannya.


Selenia cuma geleng-geleng kepala dan mengikuti langkah Tony di belakang.


...🌺🌺🌺...


Malam itu, setelah makan malam Adam langsung mengajak Selenia ke lantai atas untuk memberitahukan sesuatu. Mereka duduk di balkon kamar Selenia.

__ADS_1


"Lhoh, kenapa Dam?" Selenia heran mendengar pernyataan Adam yang tiba-tiba mengatakan bahwa dia tidak akan ikut program study ke Frankfurt.


"Aku nggak minat aja sayang," ucapnya. Seharian tadi di kantor dia sudah menimbang-nimbang keputusan itu. Bahkan sempat meminta pendapat juga pada Renata, meski jawabannya tidak sesuai dengan keinginannya. Renata justru sangat mendukung kalau dia mengambil tawaran tersebut. "Karena aku punya planning buat resign juga dari sana dan..."


"Apa?!" Selenia semakin membelalak. "Kamu kenapa sih Dam? Kok jadi aneh gini?"


"Aneh gimana sih maksud kamu?"


"Ya coba deh, itu tawaran bagus banget disia-siain gitu aja. Terus ini malah punya rencana mau resign segala. Kenapa sih? Kamu ada masalah di kantor?"


"Enggak sayang, aku nggak ada masalah dan bukannya mau sia-siain kesempatan juga. Aku udah mikir ini mateng-mateng kok."


"Trus kamu nggak minatnya kenapa? Mama Lisa pasti bakalan kecewa deh kalau denger keputusan kamu ini," Selenia ingat bagaimana antusiasme Ibu mertuanya saat mendengar kalau anak semata wayangnya itu mendapat tawaran bagus dari kantornya.


Adam tersenyum dan membelai pipi Selenia. "Sayang, ini yang jalanin aku lho, bukan Mama. Kalau aku maksain diri, hasilnya nggak bakalan maksimal juga. Lagian aku pengen di sini aja sama kamu," dia mencubit pipi Selenia gemas.


"Adam, serius! Jangan bercanda ah," Selenia menepis tangan suaminya pelan.


"Siapa yang bercanda sih? Aku emang udah fix nggak pengen ikut program itu. Biar nanti sama Pak Anton di lobi ke yang lain. Banyak kok staff dia yang unggul selain aku."


Selenia berdiri dan berjalan mendekati pagar. Dia memutar tubuh menghadap ke Adam yang masih duduk di kursin dan menyandarkan punggungnya di pagar pembatas balkon kamarnya.


"Okeeey..." Selenia mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipinya. "Terus selanjutnya, ngapain tuh kamu pengen secepatnya resign dari sana?"


"Sayang aku udah 4 tahun lho di sana, dan itu bukan waktu yang singkat," Adam menyilangkan kedua tangannya di dada. "Sudah saatnya aku ngasih kesempatan ke yang lain. Dan rencananya aku pengen lanjutin perusahaan Papa, karena sekarang.... aku pun mulai mikir, kalau bukan aku yang nerusin, trus siapa lagi? Anak Papa sama Mama kan cuma aku."


Selenia tahu soal itu. Semenjak kesehatannya menurun, Pak Edwin memilih untuk vakum dari perusahaan interior dan eksterior yang telah dia rintis dari jaman Adam masih duduk di bangku SMP. Dia kemudian membantu bisnis istrinya yang menurut dia waktunya tidak sepadat saat dia masih memimpin perusahaan. Berhubung Adam merasa tidak memiliki passion di sana, setelah lulus dari kuliahnya di Washington, di malah memilih bekerja di perusahaan lain yang menurutnya sesuai dengan pendidikan yang dia geluti. Dan selama ini, perusahaan Pak Edwin tersebut dikelola oleh orang kepercayaannya.


Selenia tersenyum dan menghampiri Adam. "Okey, kalau itu memang sudah jadi keputusan kamu, pilihan kamu, aku sebagai istri kamu, akan selalu dukung dan do'ain kamu."


Adam berdiri, dan merengkuh pinggang Selenia. "Makasih ya sayang untuk supportnya. Itu yang paling penting buatku."


Selenia mengangguk. Perlahan, Adam mengangkat dagu Selenia dan pandangan mereka saling beradu. Hembusan angin di balkon meniup-niup rambut panjang Selenia dan membuat sebagian rambut itu menutupi wajahnya. Tangan Adam reflek menyibak rambut itu lembut.


Manis banget sih? batin Adam tatkala menatap wajah Selenia. Bibir yang mungil, mata yang tajam dan indah. Perlahan Adam membawa tubuh Selenia, merapatkan ke tubuhnya. Seolah terbawa suasana dari semilir angin malam yang menerpa, Selenia melingkarkan tangannya pada pinggang Adam. And that's it, dia mulai merasakan ada sesuatu yang mengeras mengganjal di perutnya. No no no... Selenia memundurkan tubuh karena dia ingat, hal itu tidak boleh terjadi. Dia lagi hamil muda. Masa iya Adam mau ngajak main?


"Kenapa?" tanya Adam saat menyadari Selenia merenggangkan dekapannya.


Selenia menggeleng. "Ng... nggak pa-pa."


Adam terkekeh. "Udah ngantuk?"


"B-belum sih... mmm... bentar lagi ya..."


"Apanya?"


"Tidurnya... be.. bentar lagi mau tidur kok," Selenia malah jadi gugup. Saat dia menunduk dan melihat ada yang menonjol di celana Adam, dia langsung kembali mendongak dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


Dan sialnya, Adam ternyata menyadari apa yang Selenia lakukan. Dia spontan tertawa dan kembali menarik tubuh Selenia mendekat pada tubuhnya.


"Kamu kenapa sayang? Ngeliat apa??" Adam menggoda dengan tetap menahan tubuh Selenia yang berusaha mengendur tapi gagal.


"Apa sih Dam? Aku nggak ngeliat apa-apa kok," Selenia tersipu.


Melihat gelagat menggemaskan tersebut, Adam tidak tahan lagi. Dia melepaskan tangannya dari pinggang Selenia, kemudian beralih menangkup wajah imut di hadapannya itu. Saat Selenia hendak membuka mulut untuk berbicara, dia sudah terlebih dahulu membungkam bibir mungil itu dengan bibirnya.


Suasana mendadak hening. Hanya sesekali terdengar decakan dari kedua bibir yang saling berpagut mesra. Mereka berdua menikmati malam dengan suasana hati yang tenang dan menghanyutkan.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2