
Selenia memilih dress model off shoulder dengan tema sesuai di kartu undangan--monokrom, perpaduan warna hitam dan putih yang elegant--untuk dikenakan ke acara ulang tahun Tony malam ini. Dia duduk di depan cermin sembari memoleskan make up tipis di wajahnya. Meskipun bisa dibilang jarang dandan, tapi Selenia tahu bagaimana membawa penampilan ke suatu acara. Mengingat usianya yang masih 17 tahun, dia memilih make up yang flawless.
Setelah berputar sekali di depan cermin, Selenia menyabet tas dan kadonya lalu keluar. Dia kaget manakala membuka pintu dan mendapati Adam sudah berdiri tegak di sana.
"Lhoh...." Selenia menatap Adam dari ujung kepala sampai ujung kaki. Suaminya itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tosca cenderung gelap, yang dipadukan dengan celana chino casual berwarna abu tua. Adam juga mengenakan sepatu sport biasa berwarna campuran hitam biru. Sama sekali tidak ada tema monokrom dari pakaian yang dia kenakan.
"Kenapa? Keren ya?" gurau Adam sembari mengibaskan kerah kemejanya.
"Temanya kan monokrom. Kenapa kamu pake baju warna kaya gini?"
Adam mengangkat alis. "Pak Anton nggak ada bilang seperti itu kok," jawabnya.
"Di undangan ada kok," bantah Selenia.
"Di undanganku nggak ada Sel. Masa iya aku nggak baca," terang Adam kalem. "Ya mungkin tema itu cuma dikhususkan untuk temen-temennya Tony aja."
Selenia mendengus lirih. Mungkin apa yang dikatakan Adam benar. Tak mau berdebat lebih panjang, Selenia berjalan melewati Adam. Dia menuruni tangga dengan hati-hati karena sedang menggunakan high heels. Adam yang mengikuti Selenia dari belakang cuma bisa terkekeh melihat cara jalan Selenia.
"Nggak usah ketawa deh," Selenia bergeming tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Ponselnya bergetar begitu dia sampai di ujung tangga. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi klakson mobil di luar.
[Cia: cepet Sel, gapake lama]
Selenia membaca pesan Cia sekilas dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Tuh mereka udah dateng," kata Adam mengarahkan dagunya ke pintu. "Hati-hati di jalan. Jangan nakal ya," godanya setelah memberi kecupan di pipi kanan Selenia.
Selenia tidak bergeming. Dia hanya melambaikan tangan lalu keluar menemui Cia dan Marvin yang sudah menunggu di mobil. Mereka berangkat bertiga malam ini.
...🌺🌺🌺...
Acara ulang tahun Tony dirayakan di gedung. Tatanan dekorasi yang apik membuat suasana semakin tampak mewah. Dengar-dengar akan ada pengumuman penting malam ini. Kursi tamu undangan dibagi menjadi dua bagian. Undangan untuk teman-teman Tony berada di bagian gedung sebelah kanan, dengan dekorasi bertema monokrom seperti yang tertulis di undangan. Sementara sebelah kiri khusus untuk para tamu dari orang-orang kantor Pak Anton. Sebuah kue ulang tahun bertingkat berukuran jumbo tertata manis di bagian depan atau latar utama gedung. Para pengiring musik sudah bersiap dengan alat musik di tangan masing-masing di podium, di dekat latar utama.
Alunan country musik yang syahdu menyambut kehadiran para tamu undangan yang mulai berdatangan. Sebelum masuk gedung, mereka terlebih dahulu mengisi buku tamu di pintu utama. Begitu juga dengan Selenia, Cia dan Marvin. Setelah mengisi buku tamu dan meletakkan kado di meja yang telah disediakan, mereka langsung mengambil posisi di kursi yang telah disiapkan. Dan benar saja, tamu undangan yang berasal dari kantor Pak Anton tidak ada yang mengenakan pakaian sesuai tema. Mereka bebas.
"Selamat malam untuk semua tamu undangan yang berbahagia," Seorang MC mulai membuka acara. Dia berdiri di atas podium, di antara para pemain musik yang juga mengenakan kostum berwarna hitam putih. Dengan tegas dan lugas dia menyampaikan kata demi kata.
Selenia tampak gelisah di tempat duduknya. Pasalnya dari tadi dia sama sekali belum melihat Adam di tempat ini. Dia belum datang, atau ada masalah dalam perjalanannya? Selenia menoleh ke kursi sebelahnya. Cia dan Marvin tampak asyik berbisik-bisik dan bercanda. Selenia mencibir dan langsung membuang muka. Dasar! Serasa jadi obat nyamuk berada di sebelah mereka.
Selenia menghela nafas perlahan untuk menenangkan dirinya sendiri. Acara sudah berlangsung hampir 15 menit dan Adam masih belum datang.
Selenia: [kamu di mana sih? Kenapa belum dateng?]
Selenia mengirim pesan WhatsApp tapi justru menunjukkan satu centang. Artinya pesan itu tidak terkirim. Merasa emosi, dia melemparkan ponselnya dengan kasar ke dalam tas.
Suara MC menggema di seluruh ruangan. Acara potong kue akan segera di mulai. Semua tamu undangan diminta untuk berdiri dan ikut menyanyikan lagu Happy Birhtday. Tony muncul dari pintu samping di dampingi Pak Anton dan Bu Fatma. Dia terlihat keren mengenakan hem putih yang dibalut setelan jas, dasi dan celana berwarna hitam. Beberapa pengagum Tony di sekolah saling mengeluarkan kata-kata seperti 'Wah, keren banget!' 'Ih sumpah badboy idaman!' 'Wah!' ',Wow!' dan beberapa ekspresi kagum lainnya.
__ADS_1
Terlebih lagi Lala yang duduk tak jauh dari Selenia. Dia menatap penuh takjub ke sosok Tony yang baru muncul. Malam ini cewek itu seperti sengaja berpenampilan semaksimal mungkin. Make up nya pun kalau menurut Selenia terlihat berlebihan dan terlalu mencolok. Tapi ya udahlah selera orang kan beda-beda.
Tony beserta Ayah dan Tantenya berdiri di belakang kue ulang tahun. Sang MC menyerahkan pisau pemotong kue pada Tony. Lalu dengan dipandu oleh MC, Tony memotong kue tersebut diiringi lagu Happy Birhtday dari semua yang ada di dalam ruangan. Potongan pertama diberikan kepada Ayahnya, sementara yang kedua, meski sebenarnya bukan keinginan Tony dia tetap memberikan pada Tantenya.
Bersamaan dengan itu dua orang tampak muncul dari pintu utama. Mereka memang tidak menjadi pusat perhatian, tapi entah kenapa saat mereka datang, saat itu kebetulan Selenia sedang menoleh ke belakang--karena memang dari tadi dia tidak fokus dan lebih sering memperhatikan pintu masuk gedung.
Adam baru tiba di gedung pesta bersama Renata. DIA MENGGENDONG NOLA! Dan yang membuat Selenia semakin terkejut, pakaian yang mereka kenakan warnanya hampir mirip. Layaknya sepasang couple. Begitu juga dengan Nola. Anak kecil itu juga mengenakan baju yang warnanya sama persis dengan kemeja milik Adam.
Pandangan Adam dan Selenia bertemu. Adam menyunggingkan senyumnya pada Selenia, bermaksud memberi isyarat kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari apa yang dia lihat. Tapi tetap saja hal itu tidak bisa diterima begitu saja oleh Selenia. Dia tidak mau membalas senyuman Adam dan justru membuang muka. Emosinya sudah melesat naik ke ubun-ubun.
MC mempersilahkan semua tamu untuk menikmati hidangan yang telah tersedia sembari menunggu moment penting yang akan menjadi puncak acara malam ini. Lantunan musik romantis menggema syahdu. Tapi tidak untuk di dengar oleh telinga Selenia. Dari tadi dia terus mencuri pandang ke arah tamu undangan sebelah kiri. Renata tampak terus berusaha berada di dekat Adam. Dan Nola seolah-olah hanya dia jadikan alasan supaya dia bisa mendekati Adam.
Adam: [Tadi Nola kebelet pup. Jadi aku harus nunggu. Maaf]
Selenia: [Harus banget ya sok bersikap daddyable gitu?! Harus banget Nola kamu yang gendong?!]
Adam: [Please Sel. Be enjoy Ya. love you 😘]
Selenia kembali melemparkan ponselnya ke dalam tas. Suasana memang meriah, tapi tidak dengan hatinya. Matanya terasa panas sekali melihat pemandangan kebersamaan Adam dan Renata. Lihat saja, mereka sudah seperti keluarga idaman!
"Hei!" sebuah suara mengejutkan Selenia dan dia menoleh. "Buat kamu, ini potongan ke tiga," Tony menyerahkan sepotong kue di tangannya pada Selenia.
"Oh... eh..." Selenia gelagapan. Dia celingak-celinguk mencari Cia dan Marvin yang ternyata sudah berkeliling menikmati makanan. Dasar! Kenapa sih malam ini rasanya pada nyari kesenangan sendiri-sendiri!
"Kamu kenapa sih? Kaya orang bingung gitu?" tanya Tony heran.
Selenia menerima kue dan minuman tersebut. Dia menggigit kuenya sedikit. "Oh.. e...nggak pa-pa kok," dia mencoba tersenyum semanis mungkin. "Selamat ulang tahun ya."
"Makasih," Tony mengangguk. "Cheers dong," dia menempelkan gelas minumannya dengan gelas Selenia. "For my eighteen birthday!"
Selenia cuma tersenyum dan mengikuti ajakan cheers dari Tony.
Tony sebenarnya sudah memperhatikan gelagat Selenia dan Adam dari jauh. Dugaannya tentang mereka yang memiliki hubungan khusus semakin kuat saat melihat wajah masam Selenia atas kebersamaan Adam dan Renata. Tony tersenyum getir mendapati kenyataan bahwa tatapan Selenia itu adalah kecemburuan. Dari situ dia semakin yakin, Adam bukanlah kakak Selenia.
"Tadi kamu berangkat bareng siapa?" tanya Tony kemudian.
"Hai Tony...." Lala tiba-tiba menghampiri mereka dan menyela obrolan keduanya. "Happy birthday ya Ton," dia mengulurkan tangan.
Tony menyambut uluran tangan Lala dengan santai. Sementara Selenia memilih untuk sedikit menyingkir.
"Thanks Lala," jawab Tony datar. "Ya udah gih nikmatin makanannya. Have fun ya," ucapnya dan langsung bergeser mendekati Selenia.
Lala cuma bisa melongo. Iiihh... nggak asyik banget sih?! gerutunya dalam hati. Merasa diabaikan, Lala pun langsung berjalan dengan sewot meninggalkan Tony dan Selenia. Apa sih istimewanya Selenia? Mendingan juga dandanan gue kemana-mana. Ughh!!
"Sel, kenapa kamu malah menyingkir sih?" tanya Tony.
"Hehehe, nggak pa-pa kok. Nggak enak aja ganggu orang lagi ngobrol."
__ADS_1
"Ya ampun ganggu apaan sih, enggak kali. Lala itu teman sekelas kamu kan?"
Selenia mengangguk. "Iya,"
Tony manggut-manggut. "Oh ya tadi aku nanya belum kamu jawab. Tadi kamu berangkat ke sini bareng siapa?"
"Aku sama Cia dan Marvin."
Kening Tony mengernyit. Kalau mereka memang kakak beradik/ punya hubungan khusus seharusnya berangkat ke sini bareng kan? Tapi ini, Adam malah berangkat dengan teman kantornya.
"Kenapa Ton?" tanya Selenia melihat ekspresi muka Tony yang tampak tegang.
"Nggak," Tony menggeleng cepat.
Lantunan musik mengalun semakin kalem. Beberapa pasangan couple saling merangkul dan berdansa. Mereka seolah tersihir dengan romantisme yang sengaja dibuat oleh para pemandu musik.
"Dansa yuk!" Tony menarik tangan Selenia menuju latar utama.
"Ton. Tapi aku nggak bisa dansa," teriak Selenia.
"Nanti aku ajarin," kata Tony terus menarik tangan Selenia.
Lala yang melihat Selenia ditarik-tarik oleh Tony ke tempat dansa merasa semakin dongkol. Dia menatap sinis ke arah mereka berdua. Dan sepertinya dia merasa tidak betah kalau harus berada di sini lebih lama lagi. Tanpa sepengetahuan yang lain--karena pada sibuk menikmati pesta--Lala pun langsung melipir keluar dari gedung dengan perasaan sedih dan kecewa. Sudah dandan semaksimal mungkin untuk mencari perhatian Tony, tapi malah Tony perhatiannya ke Selenia!
Semengara itu, Cia justru melongo melihat kebersamaan Tony dan Selenia di latar utama. Dia juga menemukan Adam di satu sudut, menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Mereka jadian?" tanya Marvin.
"Aku nggak ngerti," Cia menggeleng.
Selenia tidak bisa berkutik saat Tony mulai merangkulkan kedua tangannya ke leher cowok itu. Dengan mesra, Tony merengkuh pinggang Selenia yang masih tampak canggung. Tony menghela nafas, dan menatap dalam ke mata Selenia. Dan anehnya, Selenia juga membalas tatapan itu. Dengan mengikuti irama musik mereka berdansa bersama yang lain.
Tangan Adam mengepal menahan emosi melihat pemandangan itu. Perasaan tidak rela meraung-raung di dalam hatinya. Kenapa Selenia melakukan itu di depan matanya? Bukankah dia sudah bilang padanya untuk tidak perlu mengkhawatirkan tentang Renata? Nafas Adam memburu sampai acara dansa itu selesai.
Sesi terakhir malam ini adalah pengumuman penting dari Pak Anton yang menyatakan, bahwa di ulang tahun Tony yang ke 18 ini, secara khusus dan resmi dia menyerahkan seluruh aset miliknya kepada anak semata wayangnya tersebut. Erland Antonio Adigunawa. Karena di usia segitu nama Tony sudah bisa ditulis secara sah dan hukum sebagai pemegang saham perusahaan. Hanya saja, selama Tony masih menempuh pendidikan, semua tetap dihandle oleh Pak Anton.
Decak kagum dan tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Suasana semakin meriah kala musik yang tadinya syahdu berganti dengan musik hip hop. Musik yang asyik untuk jingkrak-jingkrakan. Saat itu semua kembali menikmati pesta, menghabiskan separuh malam yang tersisa.
Tony kembali menarik tangan Selenia dan mengajaknya bergoyang.
"LAGI DI PESTA JANGAN BENGONG!" teriak Tony berusaha mengalahkan suara musik yang menggema sembari melompat. "ANGGAP AJA LAGI CLUBBING!" dia tergelak.
Musik memang kadang bisa mengubah suasana hati seseorang. Untuk sejenak, Selenia melupakan apa yang baru saja terjadi. Tony benar, sekarang waktunya pesta dan berbahagia. Soal Renata bisa dibicarakan nanti di rumah. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Selenia pun mulai melompat dan berjoget.
"HAPPY BIRTHDAY, YA TON!!" teriak Selenia sembari berjoget.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...