NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -135-


__ADS_3

3 BULAN KEMUDIAN


3 Bulan adalah waktu yang singkat untuk mempersiapkan pesta pernikahan dengan kategori mewah. Tapi semua itu tidak membuat Adam dan Selenia menyerah. Mereka berpikir ini adalah tantangan yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lika-liku kehidupan yang telah mereka jalani sebelum akhirnya tiba di titik ini.


Pagi ini, Selenia dan Adam sudah bangun sebelum subuh. Begitu juga dengan semua orang di rumah. Ray yang hari ini usianya genap empat bulan lebih 5 hari, sudah tidak lagi sering bangun malam seperti biasanya. Bahkan semalam dia mulai tidur dari jam 8 malam sampai pagi. Hanya bangun sekali, sekitar jam 11 malam karena ingin minum.


Sejak H-5 pesta pernikahan akan di gelar, ketiga orang tua mereka pun sudah menginap di rumah ini.


Setelah bersiap, mereka lalu meluncur ke hotel yang berdampingan dengan gedung tempat mereka melangsungkan resepsi pernikahan, untuk kemudian di make up.


...🌺🌺🌺...


Cia tentu saja tidak mau melewatkan momen ini. Dia datang bersama Marvin, tepat saat Selenia dan keluarganya juga baru tiba di hotel.


"Aaaaa...." Cia berlari memeluk Selenia begitu sahabatnya itu muncul dari mobil. "Lo tahu nggak sih, gue semalaman nggak bisa tidur karena pengen cepet-cepet pagi. Gue nggak sabar banget lihat lo dipinang sama Adam," serunya penuh antusias.


"Kalau begitu ayo dong kita mulai siap-siap," Bu Lisa merangkul bahu Cia.


"Yuk yuk yuk...!"


Mereka semua memasuki hotel dan langsung bertemu dengan tim MUA yang akan merias keluarga besar itu. Sebagai pengganti Bu Kalila--mama Selenia--yang akan menjadi pasangan sarimbit Pak Fendi, Selenia meminta hal itu kepada Tantenya--kakak dari Bu Kalila--yang tinggal di Bogor jauh hari sebelum hari H. Tante Marwa, wajahnya hampir mirip dengan Bu Kalila.


"Tante cantik banget deh," puji Selenia saat melihat riasan Tante Marwa dari pantulan cermin. Khusus para perempuan, mereka dirias berjajar dalam satu ruangan. "Miriiip banget sama almarhumah mama."


Tante Marwa melempar senyum pada Selenia dari cermin. Dia menatap haru Selenia yang hampir selesai di rias. Keponakannya itu terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan kebaya dengan adat sunda yang akan digunakan di acara ijab qobul.


Cia dan Marvin pun mendapat hak istimewa di hari pernikahan sakral Selenia dan Adam. Atas inisiatifnya sendiri, Selenia menyewakan gaun khusus untuk mereka berdua, dengan harapan hubungan keduanya bisa sampai pada jenjang yang lebih serius seperti dirinya dan Adam. Di belakang Marvin dan Cia nanti juga akan ada beberapa pasang bridesmaid dan best man. Pasangan-pasangan bride dan best itu terdiri dari beberapa sepupu dari pihak Adam dan Selenia. Mereka yang rata-rata umurnya masih dibawah 19 tahun, heboh sendiri di satu ruangan khusus. Berselfie, bikin vlog dan ada juga yang main TikTok.


Lalu bagaimana dengan Ray?


Ray aman dan nyaman bersama Bi Iyah di salah satu kamar hotel karena dia masih tidur. Bahkan selama beberapa hari ini Selenia telah memompa ASI-nya hingga beberapa botol dan menyimpannya di freezer untuk persediaan Ray--karena dia cukup sibuk untuk mempersiapkan semuanya sehingga membuatnya tidak bisa 24 jam full bersama Ray.


...🌺🌺🌺...


Kegiatan make up berhasil dirampungkan kurang dari dua jam. Sebelum meluncur ke gedung tempat akad dan resepsi dilaksanakan, Selenia terlebih dahulu menghampiri Ray dan Bi Iyah di kamar hotel. Tak di sangka, di depan pintu kamar, dia berpapasan dengan Adam yang saat itu juga akan menengok Ray.

__ADS_1


"Kamu cantik banget sayang," Adam mengusap pipi Selenia lembut.


Sama halnya dengan Adam, Selenia juga mendapati suaminya itu tampak sangat gagah dan keren dengan kemeja putih yang dipadukan dengan jas hitam doff serta celana dengan warna senada dengan jasnya. Ya Tuhan, terimakasih telah mempertemukan aku dengan laki-laki seperti dia.


Adam mengulurkan tangan menggandeng tangan Selenia dan mereka bersama-sama masuk ke kamar.


"Masya Allah.... Pak Adam dan Non Selenia keren sekali!" puji Bi Iyah menyambut kemunculan mereka berdua.


"Kita mau tengokin Ray dulu bik," Selenia menghampiri Ray yang sudah bangun dari tidurnya dan tengah bemain-main dengan kakinya sendiri di atas tempat tidur. "Sayaaaang, kamu lagi apa??"


Seperti halnya bayi-bayi lain yang melihat kedatangan Ibunya, Ray langsung menjerit bahagia saat melihat Selenia. Dia tertawa menggemaskan memamerkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi.


"Ray nggak boleh rewel ya," Adam menimpali sembari duduk di tepi tempat tidur. "Sementara tenang dulu sama bibik, anak pintar."


"Pokoknya Pak Adam dan Non Selenia tenang saja. Bibik akan jagain den Ray sepenuh hati," sahut Bi Iyah. "Semoga acaranya lancar ya Pak, Non. Bibi cuma bisa mendoakan saja," matanya tampak berkaca-kaca.


Selenia berdiri dan memeluk Bi Iyah. Orang ini adalah orang yang berjasa dalam hidupnya. Asisten yang pandai menjaga rahasia keluarganya dan nggak culametan. Selenia sudah menganggap Bi Iyah seperti keluarganya sendiri.


"Itu yang paling penting bik, makasiiiih banget ya bik, selama ini sudah jadi partner yang baik buat keluargaku," bisik Selenia di belakang punggung Bi Iyah.


"Sama-sama Non. Bibi bahagiaaaa banget akhirnya Pak Adam dan Non Selenia bisa sampai di titik ini. Semoga setelah ini, keluarga kalian semakin harmonis, romantis dan langgeng sampai Kakek-Nenek ya," Bi Iyah terisak.


...🌺🌺🌺...


Adam dan Selenia duduk bersanding di kursi khusus sesi akad, di depan penghulu dan saksi. Saat itu suasana mulai hening. Seluruh tamu undangan yang berasal dari keluarga besar dan staff kantor perusahaan Adam duduk di kursi masing-masing, bersiap untuk menyaksikan acara sakral tersebut.


Sebelum acara akad dimulai, Pak Edwin terlebih dahulu meminta sedikit waktu untuk menyampaikan sesuatu.


"Selamat pagi. Terimakasih atas waktu dan perhatiannya. Sebelumnya saya berdiri di sini, karena ada sedikit kata yang ingin saya sampaikan sebelum akad dimulai. Saya merasa, kalau mungkin ini sudah saatnya kalian semua yang ada di sini tahu cerita dan latar belakang mempelai," ujar Pak Edwin mengawali sambutannya sembari menatap Adam dan Selenia bergantian. Suasana semakin hening. Beberapa tamu yang ada di sana, memang tidak semua tahu kalau Adam dan Selenia sebenarnya telah menikah. Hanya keluarga besar saja yang mengetahuinya.


Selenia yang merasa belum siap dan merasa deg-degan, menatap Adam dengan mata nanar. Namun Adam justru membalasnya dengan senyum dan meremas tangan Selenia lembut.


"It's nothing, everything will be fine," bisik Adam lirih.


"Ini saya sampaikan, supaya suatu hari nanti tidak ada kesalah pahaman. Oke, langsung saja. Senenarnya, pasangan mempelai yang akan melangsungkan akad hari ini, yaitu anak saya, Adam Lucas Prawira dan menantu saya Selenia Effendi, keduanya telah menikah secara siri satu tahun yang lalu," Pak Edwin melanjutkan.

__ADS_1


Beberapa tamu undangan yang baru mengetahui hal itu hari ini, kaget. Mereka saling menoleh, berbisik dan mulai berkasak-kusuk. Membuat suasana hati Selenia semakin tidak nyaman. What's wrong? Kenapa Papa berbuat seperti itu di hari bahagia ini?


"Bagaimana ini bisa terjadi?" imbuh Pak Edwin lagi. Untuk beberapa menit, dia kemudian menceritakan awal mula pernikahan mereka, hingga lika-liku perjalanan panjang kehidupan rumah tangga mereka yang tentu tidak mudah. Tentang larangan 'berbuat sesuatu' yang akhirnya harus dilanggar, itu semua karena benih cinta yang mulai muncul. Tentang Selenia yang harus mengorbankan masa SMA-nya karena kehamilannya yang terbongkar, tentang perjuangan Selenia yang nekat mengikuti home schooling demi masa depannya, tentang perjuangannya melahirkan buah cinta mereka di usia yang masih sangat dini, dan tanpa mereka duga hal itu ternyata justru mengundang tepuk tangan penuh semangat dari para tamu undangan. Beberapa dari mereka mengatakan, Selenia pantas diperjuangkan. Dia masih sangat muda tapi bisa menyikapi semua yang terjadi dalam hidupnya dengan penuh kedewasaan. Kini semua yang ada di sini jadi tahu, bahwa pernikahan mereka ini adalah untuk meresmikannya secara negara.


Mendengar hal itu, membuat Selenia menitikkan air mata. Pak Penghulu mengulurkan tissue yang langsung diterima oleh Adam untuk menyeka air mata tersebut.


"Sekarang kamu dengar kan sayang? Kamu itu hebat, kamu itu luar biasa, dan aku beruntung memiliki kamu," bisik Adam.


"Baiklah, sekian saja yang ingin saya sampaikan. Selanjutnya, saya sendiri juga tidak sabar menanti momen sakral ini. Terimakasih atas perhatiannya," Pak Edwin menyerahkan mic pada MC dan kembali duduk.


Kini waktunya Pak penghulu menjalankan tugasnya. Tangan kanannya terulur yang langsung disambut mantap oleh tangan Adam.


"Saudara Adam Lucas Prawira bin Edwin Prawira, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Selenia Effendi binti Naufal Effendi dengan maskawin berupa uang tunai senilai 20 juta rupiah dan emas seberat 20 gram, dibayar tunai!" ucap Penghulu dengan lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Selenia Effendi binti Naufal Effendi dengan maskawinnya yang tersebut dibayar tunai," sahut Adam tegas dan mantap.


"Bagimana para saksi?" tanya Pak Penghulu pada saksi yang bersiap di antara mereka.


"SAH!"


"SAH! SAH!" jawaban lain disusul dengan riuh oleh para brides maid dan best man yang digawangi oleh Cia dan Marvin.


"Alhamdulillah," ucap semuanya serempak.


Selenia melepaskan nafasnya yang tertahan sejak Adam mengucap qobul dan seketika merasa lega. Dia mengulurkan tangannya, menjabat tangan Adam dan mencium tangan itu lamaaaaa sekali. Dia tidak bisa berhenti merasa haru. Hari ini ucapan ijab qobul itu benar-benar diucapkan dengan lantang, jelas dan penuh keyakinan oleh Adam. Berbeda sekali dengan pada saat pernikahan siri mereka satu tahun yang lalu.


...🌺🌺🌺...


Acara pesta pernikahan berlangsung meriah dan hangat. Para tamu menikmati semua sajian yang tersedia ditemani alunan musik syahdu dari tim orchestra. Para brides maid dan best man berkumpul sendiri dan sibuk membuat vlog. Dipimpin siapa lagi kalau bukan Cia? Dia memang terkenal gampang akrab dengan orang baru.


Dia bahkan dengan penuh percaya diri menghampiri Adam dan Selenia yang telah duduk di kursi mempelai dan dengan hebohnya mengarahkan ponsel ke mereka sendiri, untuk membuat Story Gram. Melihat hal itu, Bu Lisa tidak mau ketinggalan. Dia turut bergabung dengan Cia, Adam dan Selenia untuk menikmati suasana meriah itu.


Suasana benar-benar berlangsung sangat hangat. Sepanjang acara itu Selenia tidak pernah melepaskan gamitan tangannya dari lengan Adam.


Dia merasa sangat sangat sangat bahagia.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2