
Di jam pelajaran terakhir kali ini, suasana di kelas 12 IPA C--kelas Selenia--hening karena semua murid tengah konsentrasi dengan penjelasan Bu Ike, guru Fisika di kelas itu. Hahaha... bayangkan, pelajaran Fisika di jam terakhir di saat otak sudah panas dan lelah-lelahnya. Saat itulah tiba-tiba ponsel Selenia di dalam laci bergetar. Selenia buru-buru mengambil ponsel tersebut sebelum seisi kelas memperhatikan dirinya.
Selenia menunduk, membaca pesan dari suaminya dengan hati-hati. Dia berdecak. Sebenarnya dia pengen pulang dulu dan istirahat sebentar di rumah, karena hari ini capek banget plus ngantuk berat. Kemudian rencananya mau ke RS nanti sore saja. Tapi membaca pesan itu dan ingat kondisi Adam yang sempat drop kemarin, perasaan tidak teganya muncul.
Balas Selenia. Sebelum Bu Ike menyadari ada muridnya yang sibuk bermain ponsel saat jam pelajaran, Selenia langsung menyurukkan ponselnya ke dalam laci. Tidak lupa dia mengaturnya ke mode silent total.
Cia yang ternyata mengintip saat Selenia membalas pesan tersebut, menyodok lengan Selenia dan mengedipkan sebelah matanya dengan jahil.
"Suami lo kangen tuh," bisik Cia menggoda.
Spontan Selenia mencubit pinggang Cia dan memberi pelototan tajam.
"Aduh Sel, Sakit!" pekik Cia reflek.
Seisi kelas, tak terkecuali Bu Ike mengarahkan pandangan ke bangku Selenia dan Cia. Selenia buru-buru melepaskan cubitannya dan menatap ke depan berlagak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Ada apa ya?" Bu Ike menurunkan kacamatanya melihat ke seisi ruangan. Dia masih berdiri di podium kelas.
"Nggak pa-pa Bu. Tangan Cia kejepit kursi saya." jawab Selenia asal.
"Hmmmmfffhhh...." terdengar beberapa murid yang menahan tawa. Sebagian dari mereka memang paham bagaimana hubungan persahabatan mereka.
Cia mencibir mendengar jawaban Selenia sambil mengusap-usap pinggangnya.
"Ya sudah mari kita lanjutkan lagi anak-anak," kata Bu Ike kemudian.
Sementara Bu Ike kembali menjelaskan mata pelajarannya, Cia menggerutu lirih. Dia menggeser tempat duduknya, menjauh dari Selenia. Selenia tidak peduli. Dia hanya melirik sahabatnya itu sebentar lalu kembali fokus dengan pelajaran Bu Ike.
...🌺🌺🌺...
Cia ngotot banget ingin ikut Selenia ke rumah sakit saat pulang sekolah siang itu. Apa boleh buat? Cia bahkan mengancam akan membongkar semuanya kalau Selenia terus melarang. Meskipun Selenia tahu, ancaman Cia tidak serius, tapi tetap saja hal itu membuatnya geram.
"Awas saja kalau lo berani ngelakuin itu!" gertak Selenia lirih. "Gue nggak mau kenal sama lo lagi!"
Cia terkikik melihat reaksi Selenia. Lagipula mana mungkin dia setega itu.
Di dalam mobil menuju rumah sakit, Selenia terus memperingatkan Cia supaya tidak melakukan hal-hal aneh ketika di depan Adam nanti. Selenia yakin Adam pasti akan merasa aneh juga kalau tahu dia membawa Cia ke rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi, Cia udah nekat banget. Bahkan pada saat Pak Tono baru sampai di depan gerbang, dia sudah mendahului Selenia masuk ke mobil. Dasar bocah! Gerutu Selenia melihat tingkah sahabatnya itu.
Cia cuma menahan senyum melihat Selenia yang ngedumel. Sebenarnya dia sendiri masih suka heran dan belum bisa sepenuhnya percaya kalau sahabatnya itu sudah menikah. Apalagi pernikahan yang sudah Selenia jalani selama 4 bulan itu baru diketahuinya belum lama ini. Kenapa dia bisa sama sekali tidak curiga?
Cia ingat kapan pertama kali dia bertemu dengan Adam. Bukan bertemu sih, lebih tepatnya pertama kali dia melihat Adam. Yaitu di hari ketiga meninggalnya Tante Kalila--Ibunya Selenia. Saat itu Cia baru bisa melawat ke rumah Selenia karena baru pulang dari Bandung. Itupun masih di rumah Selenia yang lama. Itulah pertama kalinya dia melihat Adam yang saat itu sedang ngobrol bersama beberapa kolega Selenia. Tapi dia sama sekali tidak pernah berpikir kalau hari itu telah terjadi pernikahan antara Selenia dan Adam. Makanya saat Cia maen ke rumah baru Selenia dan kembali bertemu dengan Adam, dia tidak berpikir sejauh itu. Selenia sedang dititipkan ke keluarganya karena Ayahnya berada di Luar Negri, itu saja yang ada di pikiran Cia.
__ADS_1
"Tapi Sel... Ada yang mau gue tanyain sama lo," bisik Cia seraya menyenggol Selenia yang masih memberengut karena ancaman konyolnya.
Selenia menoleh. "Apa lagi?"
"Gue penasaran nih. Apa... Lo sama Adam pernah..." Cia mengedip-ngedipkan matanya jahil.
Selenia melotot tajam. Dia tahu kemana arah pembicaraan Cia. Geram sekali rasanya mendengar pertanyaan super kepo yang menurutnya juga aneh. Selenia bergidig dan meremas lengan Cia. Bukannya Cia sudah mendengar secara keseluruhan alasannya menikah? Kenapa sih ni anak keponya tingkat dewa?!
"Auuufffhhh....! Sakit Sel...!" Cia merintih.
"Pak agak cepet ya bawa mobilnya!" Selenia berbicara pada Pak Tono dengan nada ketus.
Saat Pak Tono menambah kecepatan mobilnya, Cia langsung terdiam dan tidak berani bertanya lagi.
...🌺🌺🌺...
"Frankfurt?" Selenia mendengar Bu Lisa menyebutkan nama kota itu saat dia baru saja tiba di depan pintu kamar tempat Adam di rawat.
Selenia menarik kembali tangannya yang sudah bersiap memutar gagang pintu. Dia mengurungkan niatnya untuk segera masuk ke sana. Sepertinya ada sesuatu yang serius yang sedang Ibu dan Anak itu bicarakan. Saat itu Selenia sendirian, karena begitu sampai di rumah sakit tadi, Cia langsung melipir ke toilet.
"Kenapa kamu harus bingung sih Dam? Yang pak Anton bilang itu bener. Ini memang kesempatan bagus buat kamu, bagus buat masa depan kamu juga. Jangan disia-siakan dong," terdengar Bu Lisa berbicara panjang.
"Aku tahu Ma. Tapi posisi aku sekarang kan lain. Aku nggak mungkin egois, ninggalin Selenia di sini sendiri sementara aku sibuk mengejar karir dan duniaku sendiri," suara Adam terdengar begitu lesu.
"Ma, nggak bisa gitu dong," Adam membantah. "Nggak segampang itu. Selenia itu istri aku, aku nggak bisa seenaknya pergi-pergi tanpa persetujuan dia, pikirin juga perasaan dia dong Ma."
"Ya kan kamu tinggal ngomong sama Dia. Mama yakin dia pasti izinin kamu kok. Lagian kamu juga nggak selamanya di sana kan?" sahut Bu Lisa cepat.
Apa?! Jadi berkas di kamar Adam yang sempat dia lihat waktu itu serius? Adam mendapat tawaran itu dari kantornya?
Selenia mengakui kalau suaminya itu memang cerdas. Tidak salah kalau dia mendapatkan tawaran sebagus itu dari perusahaan tempat dia bekerja. Selenia tersenyum getir. Hatinya terasa pias saat mendengar alasan kenapa Adam tidak bisa langsung memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Ternyata karena memikirkan dirinya.
Selenia menyandarkan tubuhnya dengan pasrah di tembok sembari mendekap tasnya erat.
'Apa selama ini aku terlalu jahat sama Adam? Adam yang selama ini selalu peduli dan memperhatikan aku, tapi apa balasanku padanya?'
Ya Tuhan...
Selenia menggigit bibirnya sendiri. Obrolan di dalam ruangan itu masih berlanjut.
"Udah lah Ma. Jangan bahas itu lagi. Sebentar lagi Selenia datang. Aku nggak mau dia tahu soal ini sekarang. Nanti kalau waktunya sudah tepat, aku bakalan ngobrolin ini sama dia," pungkas Adam kemudian.
Cia berjalan menghampiri Selenia dengan wajah bersungut-sungut sambil menggerutu. Rok sekolahnya tampak basah sebagian dan kaos kakinya juga terlihat kotor.
"Dasar OB soak! Naruh ember sembarangan! Bikin orang celaka aja!" omelnya dengan wajah masam.
__ADS_1
"Hmmmpffffhhhh..." Selenia menahan tawa melihat penampilan Cia yang terlihat kacau.
"Nggak usah ketawa deh," Cia memberengut.
"Lo kenapa? Jatoh di mana?" tanya Selenia setengah tertawa.
"Itu si OB naruh ember sembarangan. Gue lagi enak-enak lewat eeeeeh..... alat pelnya nyusruk ke kaki gue. Reflek dong gue menghindar, malah kaki gue nginjak bekas pel yang belum di bilas. Kepleset... Sakit banget tau...!!" Cia nyerocos sambil mengusap-usap pantatnya.
"Ya udah... Namanya juga apes... Hihihi..." Selenia cekikikan.
"Jangan ketawa lo," Cia mengomel. Tangannya mengibas-ngibaskan roknya yang basah. "Ya udah ayo masuk. Lo kenapa masih di luar?"
Selenia mencibir jahil. "Nungguin elo lah. Ya udah yuk masuk," Sebelum memutar gagang pintu, dia kembali mengingatkan Cia. "Inget, jangan aneh-aneh!"
Cia memutar bola matanya. "Hmm... Iyaaa...!"
...🌺🌺🌺...
Adam dan Bu Lisa sama-sama terkejut melihat kedatangan Selenia yang tidak sendirian.
"S-Sel?" sapa Adam canggung. Dia melihat Selenia dan Cia bergantian.
Tanpa diminta, Cia memperkenalkan dirinya pada Bu Lisa dengan gayanya yang khas--supel dan centil--, karena sepertinya dia sudah melupakan tragedi yang baru saja menimpanya. Sementara pada Adam, dia hanya berjabat tangan sebentar dan tersenyum. Sesuai dengan peringatan yang dilontarkan Selenia tadi kan? Nggak boleh aneh-aneh.
Belum sempat Bu Lisa menanyakan lebih lanjut tentang Cia, ponsel di dalam tasnya berdering. Ternyata dari Pak Edwin, yang meminta Bu Lisa untuk segera pergi ke butik. Ada hal penting yang harus dibicarakan.
"Mmm, Anak-anak, tante mau ada perlu dulu ya. Kalian enakin aja ngobrolnya," kata Bu Lisa sebelum meninggalkan kamar.
"Mama..." Ups! Selenia bingung harus memanggil bu Lisa dengan sebutan Mama atau tante di depan Cia. Bu Lisa kan belum tahu siapa Cia.
Bu Lisa tersenyum getir mendengar panggilan itu. Padahal dia tadi memang sengaja menyebut dirinya tante karena sedang ada 'orang asing' di ruangan ini. Tapi apa boleh buat? Kalimat itu sudah terlanjur keluar dari mulut Selenia.
Melihat gelagat mertuanya yang tampak kurang nyaman, Selenia berjalan mendekati Bu Lisa. "Mama mau kemana?" tanya Selenia lirih setengah berbisik.
"Mama... e... mau ke butik sebentar. Ada urusan," jawab Bu Lisa lirih.
"Ya udah hati2 ya, Mama nggak usah khawatir, aku akan jagain Adam."
Luluh rasanya hati Bu Lisa mendengar kalimat itu. Semoga ini semua pertanda baik, harapnya.
Namun kekhawatirannya tentang kedatangan Cia tidak bisa hilang begitu saja. Sayangnya dia tidak punya banyak waktu untuk mengintrogasi Selenia dan mendengar alasan kenapa Cia bisa ikut kesini, karena suaminya terus menelfon. Dia pun kemudian bergegas meninggalkan kamar Adam dengan perasaan tak menentu.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1