
Pagi itu, sudah hampir setengah jam Adam berada di ruang makan, tapi Selenia tak kunjung muncul. Padahal waktu sudah menunjukkan jam dimana seharusnya dia sudah harus bersiap untuk berangkat sekolah. Masa sih Selenia belum bangun?
Setelah menyeruput minumannya, Adam langsung berlari ke lantai dua untuk melihat keadaan istrinya. Dan benar saja, saat Adam membuka pintu kamar Selenia, dia melihat istrinya itu masih tertidur pulas.
"Sayang?" panggil Adam lirih.
Tidak ada sahutan. Selenia masih terlelap. Perlahan Adam duduk di tepi ranjang dan tangannya meraba kening Selenia. Suhu tubuhnya normal, tapi kenapa dia nggak sekolah?
"Sayang...." Adam membelai pipi dan rambut Selenia lembut.
"Mmmmhhh...." Selenia menggeliat kecil. "Apa Dam...?" tanyanya lirih dengan mata yang masih terpejam.
"Kok kamu nggak bangun? Memang kamu nggak sekolah?"
Selenia menggeleng. "Aku ngantuk bangeeet..."
Adam mendesah. Mungkin karena semalam mereka pulang terlalu larut dari rumah Renata.
"Kamu yakin mau bolos? Udah ngomong sama Cia belum?"
Selenia mengangguk pelan. Matanya pun masih tetap terpejam. Adam tersenyum kecil dan membelai-belai pipi Selenia. Menggemaskan sekali anak ini lama-lama.
"Ya udah kalau gitu kamu bobok aja, aku mau berang...."
"Mmmmhhhhkkkkk!!" Selenia tiba-tiba terbangun sembari menutup mulutnya. Sebelum Adam menyelesaikan kalimatnya, dia sudah terlebih dahulu berlari dan menerjang kamar mandi di kamarnya.
"Hooeeeekkk!! Hoeeeeekkk!!"
Adam tentu kaget melihat hal itu. Dia kemudian berlari menyusul ke kamar mandi dan memijit-mijit tengkuk Selenia yang masih muntah-muntah.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Adam cemas.
Selenia tidak menjawab. Dia masih membungkuk di depan wastafel, bersiap untuk meluapkan rasa mual yang tiba-tiba mengocok perutnya pagi ini.
"Hoooeekkkkk!!" Selenia kembali muntah, hingga dia merasakan tubuhnya begitu lemas.
"Sayang kamu sakit? Kita ke dokter ya."
Selenia menggeleng-geleng dan melambaikan tangannya lemah. "Enggak Dam... nggak usah. Aku mau istirahat aja. Aku nggak pergi sekolah hari ini."
"Tapi badan kamu lemes kaya gini lho..."
"Aku nggak pa-pa kok. Kamu nggak usah khawatir," ucap Selenia lirih. "Aku cuma pengen tidur aja."
"Nggak usah khawatir gimana? Kondisi kamu kaya gini kok aku nggak boleh khawatir?"
Selenia membasuh muka dan kemudian berjalan pelan keluar kamar mandi. Adam yang masih kebingungan karena istrinya itu tidak mau diajak ke dokter, mengikuti dan merangkul bahu Selenia supaya langkahnya tidak terhuyung. Badan Selenia memang nggak panas, tapi wajahnya pucat banget.
Selenia duduk di tempat tidur dan menyandarkan punggungnya.
__ADS_1
"Sayang... kita ke dokter ya..." Adam terus membujuk.
"Udah lah Dam, aku bilang nggak usah ya nggak usah!"
Mata Adam membulat mendengar intonasi bicara Selenia yang meninggi.
"Tapi..."
"Aku nggak pa-pa. Ini mungkin cuma masuk angin aja gara-gara semalem pulang kemalaman dari rumah Renata."
"Ya udah deh kalau gitu," Adam cuma bisa pasrah kalau Selenia sudah menolak mentah-mentah seperti itu. Sebelum pergi dia memeluk Selenia sebentar tapi... "Aku berangkat du...."
"Ihhh Adam!" Selenia reflek mendorong tubuh Adam. "Jangan deket-deket ah, kamu bau!"
Glek! Adam menelan ludah. Bau? Orang dia udah mandi, rapi, pake parfum kok dibilang bau sih?
"Lhoh... aku udah mandi sayang," Adam mengendus-endus tubuhnya sendiri. "Udah pakek parfum juga."
"Iya tapi parfum kamu tu bau."
"Ini parfum yang biasa aku pakek lho sayang. Semalem aku juga pakek ini pas kita mau ke rumah Renata, dan kamu nggak protes."
"Semalam ya semalam, beda sama sekarang!" Selenia menutup hidung dan mulutnya. "Ih sumpah parfum kamu bikin eneggg banget. Udah kamu buruan berangkat sanaaaaa...." dia nekat mendorong tubuh Adam.
Adam berdiri dan menatap Selenia dengan pandangan bingung. Selenia kenapa sih?
"Cium sayang. Dikiiiit aja," Adam membungkuk.
Adam mendesah pasrah. "Ya udah deh kalau gitu aku berangkat. Kamu hati-hati di rumah ya, nanti kalau ada apa-apa langsung kabarin aku. See you..." dan dia memberikan kissbye sebelum berbalik.
"Eh Adam tunggu!!" teriak Selenia saat Adam sudah sampai di ujung pintu. Adam menoleh.
"Jangan lupa beli parfum yang baru. Pokoknya kamu jangan pakek parfum ini lagi," omel Selenia sembari mengibas-ngibaskan selimut dengan kasar. "Atau kamu jangan pernah deket-deket sama aku kalau masih nekat pakek parfum itu!" ancamnya dan langsung berbaring, menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Tubuh Adam melunglai. Oke deh, dia benar-benar cuma bisa mengangguk pasrah dengan sikap Selenia pagi ini. Ganti parfum? It's impossible, but... ya udah lah, daripada nggak dibolehin deketin Selenia.
Adam berjalan keluar rumah dengan masih sambil mengendus-endus pakaiannya. Padahal ini wangi banget. Ini parfum kesukaannya yang dia impor langsung dari Paris lewat jastip temannya yang pulang liburan dari sana. Masa sih kata Selenia bau?
...🌺🌺🌺...
What?!
Mata Cia membulat saat membaca pesan Selenia. Bel istirahat baru saja berdering dan dia baru sempat mengaktifkan ponsel. Selenia bilang kalau hari ini dia lagi nggak enak badan. Katanya, sepulang dari rumah Renata semalam, jam satu dini hari dia baru bisa memejamkan mata. Eeeeh... malah jam tiga pagi kebangun karena perutnya mual nggak karuan. Selenia muntah-muntah beberapa kali dan kepalanya pusing. Subuh baru bisa tidur lagi saat badannya udah agak enakan. Itulah kenapa dia tidak kuat bangun untuk pergi ke sekolah karena masih ngantuk berat.
Selenia: [Gue mual lagi paginya, gara-gara bau parfumnya Adam. Eneggg banget sumpah]
Cia: [Ngidam lo makin nyata deh Sel. Itu kali aja anak lo emang pengen Bapaknya tahu kalau dia ada di dalem perut lo.]
Selenia: [Ah lo gausah berisik deh Cia. Ulang Tahunnya Adam tinggal beberapa hari lagi]
__ADS_1
Cia cuma bisa geleng-geleng kepala dengan kekeras kepalaan Selenia. Dia berharap, semoga saja Adam peka dengan perubahan yang terjadi pada istriny--yang disebabkan oleh pengaruh hormon itu-- supaya Selenia juga nggak terus menerus menyembunyikan kehamilannya.
Tapi bukan perkara itu yang membuat Cia membelalak. Melainkan perminta Selenia yang minta dibeliin parfum bayi, terus disuruh nganterin ke rumahnya sepulang sekolah nanti. Dari situ Cia udah bad feeling banget. Jangan-jangan dia mau nyuruh Adam makek parfum bayi. Pikirnya. Hmmmhh.... ini anak kepengenannya makin aneh-aneh aja deh.
Tapi ya udahlah, cuma parfum bayi ini. Bukan urusannya juga mau dipakek buat apa parfumnya sama Selenia. Cia pun mengiyakan dan berjanji akan membelikannya sepulang sekolah nanti.
Cia: [Berapa botol lo butuhnya?]
Selenia: [Satu botol aja.]
Cia: [Hmmmmm... oke deh. Sabar ya sampe pulang sekolah.]
Selenia: [Iya Aunty Ciaaaa.... thanks in advance yuaaa 😘😘😘😘😘😘]
Cia: [🥵🥵🥵🥵]
Cia mencibir, bergidig dan mengantongi ponselnya.
...🌺🌺🌺...
"Lo yakin ini rumahnya?" Tony menatap bangunan sederhana di hadapannya. Sebuah rumah yang catnya tampak memudar dan mulai ditumbuhi lumut di bagian bawah.
Seperti yang Tony janjikan semalam, siang ini sepulang sekolah, dia mendatangi tempat tinggal Bu Riska ditemani Marvin. Saat melihat bangunan rumah itu, Tony sempat tidak yakin mamanya tinggal di sini. Orang yang saat masih menjadi istri Papanya dulu terlihat sebagai perempuan glamour dan elegant, sekarang hidup seperti ini? Jauh sekali dari kata sederhana.
"Ayo masuk," ajak Marvin.
Tony masih menahan langkah dan mematung di tempat. Dia masih ragu untuk masuk ke dalam dan bertemu dengan Mamanya. Entahlah, kali ini bukan karena benci seperti yang dia rasakan sebelumnya. Tony hanya merasa tiba-tiba tidak siap.
"Kenapa Ton? Lo pengen ketemu nyokap lo kan?"
"Gu.... gue hanya..... gue belum siap ketemu sekarang.. Vin."
"Hffhhhhhhh...." Marvin mendengus lirih. "Ayolah Ton, kita udah sampai sini. Ayok!" dia menarik paksa tangan Tony.
Tok tok tok!
Marvin mengetuk pintu berwarna coklat usang dihadapannya. Lalu tak lama kemudian pintu terbuka dari dalam dan seseorang muncul dari baliknya.
"Tony.... anakku?" Bu Riska dengan wajah pucat menatap setengah tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Tony, anak semata wayangnya datang berkunjung ke rumahnya?
Tony masih terpaku, belum menyambut sapaan itu. Tapi jauh di dasar hatinya, tersirat perasaan cemas saat melihat wajah mamanya yang terlihat kuyu dan tanpa cahaya. Jauh berbeda dengan saat mereka bertemu di basecamp. Dia hanya bingung harus berlaku bagaimana. Bahkan saat kedua tangan Bu Riska membelai pipinya, Tony hanya hanya bisa diam. Sampai tiba-tiba, tubuh Bu Riska terkulai lemah di lantai, di hadapan Tony dan Marvin.
"Mama!!"
"Tante Riska!!"
Teriak Tony dan Marvin bersamaan.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...