NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -75-


__ADS_3

Suasana hati Cia sepi banget karena Selenia tidak masuk sekolah. Jadi pada saat jam istirahat dia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di kelas, menonton koreo dance di YouTube sampai jam istirahat berakhir. Padahal ini baru sehari Selenia nggak masuk. Sementara akibat kecelakaan itu, dokter memberikan pernyataan di surat izinnya, bahwa Selenia baru bisa masuk sekolah kalau kondisinya sudah benar-benar pulih atau setelah jahitannya dibuka.


Hmmmmhhh....!


Cia menempelkan dagunya ke atas meja dengan malas.


Resiko punya teman akrab satu orang doang, sekalinya dia nggak masuk sekolah, sepi melanda. Batinnya dalam hati.


Sebenarnya bukan karena Cia tidak punya teman lain selain Selenia. Cuma hanya dengan Selenia lah dia merasa kalau ngobrol tuh bisa nyambung dan nyaman. Dan sepertinya cuma Selenia lah satu-satunya teman yang bisa menerima 1000 sikap ajaib Cia.


Saat sedang asyik menonton koreo dance sambil sesekali menirukan gerakannya meski hanya sambil duduk, Cia melihat Tony melintas di depan kelasnya sendirian. Reflek dia berhenti dan berdiri untuk meneriaki cowok itu tapi kemudian urung dan kembali duduk.


Males lah, kayaknya Tony sepagian ini lagi bad mood juga kali ya? Biasanya kalau lewat depan kelas ini, dia kan selalu mampir meski hanya sekedar melongokkan kepala dan berteriak "Kantin yuk!" dari luar. Bahkan pagi tadi saat mereka berpapasan di koridor, anak itu sikapnya juga dingin banget. Dia hanya melempar senyum singkat ke Cia dan kemudian berlalu begitu saja. Cia yang dasarnya cuek pun cuma mengangkat bahu dan selebihnya tidak mau tahu tentang masalah anak itu.


Cia: [sepi banget gada lo Sel.]


Cia mengirimkan pesan pada Selenia, disertai foto selfie dengan komuk malas yang lucu.


Selenia: [pinjem speaker sekolah, trus tereak sepuas lo 😛]


Cia menggeram membaca balasan pesan Selenia.


Cia: [enak ya, di rumah cuma rebahan.]


Selenia: [Gila lo. Emang lo mau kaki lo dijahit? 😏]


Cia terkikik. Membayangkan ekspresi Selenia saat membaca pesannya.


Cia: [hahaha... canda hyung...]


Selenia: [Kapan kesini lagi? Gw juga kesepian tau.]


Cia: [pinjem toa pak RW terus tereak yg kenceng.]


Cia tersenyum puas karena merasa berhasil membalas ledekan Selenia saat dia merasa kesepian tadi.


Selenia: [DASAR SABLENG!!]


Dan Cia tidak bisa menahan tawanya lagi. Di dalam kelas yang sepi itu dia tergelak sampai-sampai membuat seorang murid yang baru masuk kelas memandangnya heran.


"Ahahahha... ini kenapa lucu banget sih stand up comedynya Yudha Keling.... hahaha...!" ujar Cia kemudian, berusaha ngeles supaya murid yang memandangnya heran tadi tahu apa yang sedang dia tertawakan.


...🌺🌺🌺...


Tony berdiri di taman, mengamati bangunan aula sekolah di hadapannya, yang baru saja selesai di renovasi. Aula yang tadinya berbentuk jadul dengan bangunan model lama, kini terlihat sangat megah dan elegant. Sulit baginya untuk mempercayai bahwa dalam setiap lekuk bentuk bangunan itu ada sentuhan karya Adam di sana. Ya, arsitek kebanggaan Ayahnya itu memang mempunyai professional kerja yang bagus. Tony kemudian membandingkan dengan dirinya yang seolah tidak ada apa-apanya dibanding Adam. Maka tidak salah jika Selenia, begitu mencintai laki-laki itu. Hhhh... kenapa rasanya sulit sekali membuang perasaan itu?


Calm down, Tony. Kamu hanya belum terbiasa. Sebuah suara dalam hatinya memberikan semangat. Bersamaan dengan itu ponsel di dalam saku celananya bergetar, menyentakkan lamunannya. Dari Petra.


"Ada apa Pet?"


"Lo kapan ke basecamp lagi? Anak-anak udah nunggu keputusannya."


Tony terdiam. Berat rasanya utuk mengatakan bahwa untuk turnamen kali ini dia ingin absen dulu. Pikirannya sedang tidak fokus. Banyak hal yang berkelebatan di benaknya. Mamanya, perasaannya pada Selenia, terror yang dialami Selenia hingga membuatnya celaka.


"Halo, Ton. Lo masih di sana kan?" sahut Petra karena tak kunjung mendapat jawaban.


"Iya halo. Sorry Pet, kayaknya.... untuk turnamen kali ini.... gue absen dulu."


"Ck, kenapa?" terdengar nada kecewa Petra.

__ADS_1


"Mood gue lagi berantakan Pet," Tony menghela nafas pelan. "Gue harap lo bisa ngerti ya. Sekali lagi gue minta maaf."


"Okelah kalau gitu. Tapi please, gue harap lo jangan kaya gini terus. Life must go on bro."


"Thanks, Pet."


Tony mematikan telfon dan memejamkan mata, menahan segala gejolak emosi yang tiba-tiba merasuki setiap aliran darahnya. Petra mungkin bisa maklum dari pengunduran dirinya dari turnamen tersebut, karena mengira moodnya berantakan gara-gara Mamanya yang malam itu tiba-tiba menemuinya di basecamp. Padahal sebenarnya, yang dirasakan Tony lebih dari itu.


Kenapa semakin banyak persoalan yang mengganggu otaknya?


...🌺🌺🌺...


Kesokan harinya, hari dimana Adam akan berangkat ke luar kota, Selenia bangun lebih awal daripada biasanya. Sekitar jam empat subuh, saat dia membuka mata, dia merasakan kepalanya pusing dan perutnya seperti dikocok.


Maka dengan langkah tertatih-tatih, dia segera bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan memuntahkan isi perutnya.


Setelahnya, dia kembali lagi ke tempat tidur dengan tubuh yang terasa lemas. Dia juga merasa seluruh badannya pegal-pegal tidak karuan. Saat melihat jam dinding dan sadar kalau ini masih terlalu pagi, dia memutuskan untuk tidur lagi.


Beberapa jam kemudian...


Adam masuk ke kamar Selenia jam tujuh pagi dengan pakaian yang sudah rapi saat istrinya itu masih tertidur pulas. Dia berjalan pelan mendekati tempat tidur Selenia dan kemudian duduk di tepian. Gerakan itu membuat Selenia menggeliat. Dia membuka matanya perlahan dan merasakan kepalanya yang masih agak pusing.


"Mmmhhh... Adam," sapa Selenia lirih sambil berusaha melihat jam dinding dengan mata yang masih mengantuk. "Kamu udah rapi banget? Baru juga jam tujuh."


Adam membelai rambut Selenia lembut. "Cuma persiapan aja kok sayang. Aku tetep berangkat setengah jam lagi."


Selenia berusaha menegakkan tubuh untuk menjajari posisi Adam. Dia sedikit terhuyung karena masih terasa lemah, hingga Adam dengan cekatan langsung membantu menegakkan posisinya.


"Udah sayang, kamu tidur aja. Nanti biar sarapannya di bawa ke atas sama bibik," ucap Adam khawatir.


"Hoooaaaammhhh...." Selenia menguap sambil menutup mulutnya. "Aku mau cuci muka dulu," dia menyingkap selimut yang menutupi kakinya dan kemudian turun dari tempat tidur.


"Aku bantuin sayang... kaki kamu kan masih sakit."


"Nggak usah Dam, aku bisa sendiri kok. Tadi pagi aku juga udah ke kamar mandi sendiri," Selenia melepaskan tangan Adam dari pundaknya perlahan.


"Tapi sayang..."


"Adam, udah deh. Kamu tungguin aja, duduk, biar aku ke kamar mandi sendiri."


Akhirnya mau tidak mau Adam pun nurut. Dia membiarkan Selenia yang tertatih-tatih berjalan menuju kamar mandi sambil terus mengawasi dari tempat tidur.


Tak lama kemudian Selenia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih fresh, bersamaan dengan Bi Iyah yang mengantar sarapan untuk mereka berdua. Jadi selama Selenia belum lepas jahitan, Adam meminta segala aktivitas istrinya itu dilakukan di dalam kamar saja, termasuk makan, supaya tidak bolak-balik naik turun. Apalagi Selenia tipikal yang keras kepala banget menurut Adam. Karena dengan kondisi kakinya yang seperti ini saja, dia sama sekali tidak mau memakai alat bantu jalan apapun. Bahkan saat dia berbaik hati menawarkan untuk membelikan kursi roda pas Selenia baru pulang dari klinik, istrinya itu justru mencak-mencak.


Kamu pikir aku lumpuh? Aku masih bisa jalan! Aku nggak mau pake kursi roda atau krek atau apalah itu. Omel Selenia kenceng yang akhirnya membuat Adam memilih untuk diam dan menuruti saja apa kemauan istrinya itu.


"Sarapan siaaaaap," ucap Bi Iyah riang dan meletakkan sarapan mereka di atas nakas. "Lhoh... Non... kok udah ke kamar mandi sendiri? Kenapa nggak sama...."


"Aku bisa Bik," sahut Selenia sembari menatap Adam yang juga menatapnya. Dia melihat sorot mata khawatir suaminya dan tersenyum. Adam cuma bisa geleng-geleng kepala.


"Syukur deh kalau Non sudah bisa jalan lagi. Non harus semangat sembuh ya," kata Bi Iyah menyemangati. "Kalau begitu Bibik mau balik ke dapur dulu. Selamat menikmati sarapan semua," ucapnya dan kemudian berbalik meninggalkan kamar Selenia.


"Tun kaaaan... Bibik aja selow liat aku jalan ke kamar mandir sendiri," Selenia menjulurkan lidah pada Adam. "Kamu ni terlalu overthinking," dia mencubit pipi Adam gemas. "Ihhh kok pagi ini aku seneng banget liat pipi kamu Dam," geramnya menahan gemas sambil kembali duduk di atas tempat tidur.


Adam lagi-lagi cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Selenia. "Ya udah ni cubit sepuas kamu," dia menyodorkan pipinya pada Selenia.


Namun Selenia bukannya mencubit, malah mengelus dan mengecup pipi itu sekali. Adam yang kaget menerima perlakuan itu langsung membalas mengecup pipi Selenia dan istrinya itu cuma tersenyum tersipu. Adam kemudian menghidangkan makanan yang dibawa Bi Iyah pada Selenia, dan mereka sarapan bersama.


Selesai sarapan, Adam segera bersiap. Dia mengambil koper dari kamarnya. Selenia yang saat itu berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri, menatap suaminya dengan wajah masam. Padahal rencana ini sudah dia dengar jauh-jauh hari, tapi saat melihat Adam yang sudah memakai setelan jas super rapi, dengan tangan menarik koper besar yang berisi keperluannya selama di luar kota, rasanya sedih sekali. Kesepian seketika menyergap dirinya. Pasti bakalan sepi banget selama Adam tidak di rumah.

__ADS_1


Selenia memeluk Adam erat. Meskipun dadanya terasa sesak, dia mencoba untuk menahan air matanya yang hampir keluar.


"Aku berangkat dulu ya. Jaga diri baik-baik, dan nanti kalau ke klinik hati-hati," Adam membalas pelukan Selenia. "Kabarin aku kalau kamu sudah mau berangkat."


Selenia hanya mengangguk. Diam-diam dia menyeka air matanya tanpa sepengetahuan Adam. Tak lama kemudian, terdengar bunyi klakson motor dari luar.


"Itu temen aku udah datang," Adam melepaskan pelukannya dan mengecup kening Selenia. Dia berangkat ke luar kota bersama Irham dan Renata, menggunakan mobil Irham. "Kamu nggak usah nganter sampai luar, nanti kasian naik turun."


Selenia mengangguk. Setelah kembali mengecup kening, pipi, dan bibir istrinya, Adam pun segera pergi. Selenia menatap punggung suaminya yang semakin jauh dan menghilang di balik tangga. Setelahnya dia kembali ke kamar dan berdiri di tepi jendela untuk kembali menyaksikan keberangkatan suaminya. Tampak Pak Tono membantu Adam memasukkan koper ke dalam bagasi dan juga Bi Iyah yang mengantar sampai pintu pagar. Sebelum masuk mobil, Adam sempat berbicara pada Bi Iyah dan perempuan paruh baya itu mengangguk-angguk.


Deru mesin mobil Irham terdengar semakin menjauh. Selenia sempat melihat siluet kepala Renata dari kaca belakang. Sekarang dia tidak khawatir dengan keberadaannya.


...🌺🌺🌺...


Selenia memutuskan untuk pergi ke klinik jam 9 pagi. Dia berangkat hanya bersama Pak Tono ke sana. Sebenarnya tadi Bi Iyah sudah ngoceh banyak dan ngeyel pengen mengantar. Dia bilang, Adam yang memintanya untuk menemani Selenia ke klinik. Tapi Selenia kekeuh menolak. Akhirnya, karena tidak mau berdebat panjang, Bi Iyah pun merelakan Selenia pergi sendiri dan hanya di temani Pak Tono. Tapi perempuan paruh baya itu tak kehabisan akal. Diam-diam, setelah Selenia pergi, dia menelfon Pak Fendi dan menceritakan semuanya. Pak Fendi cukup kaget mendengarnya dan dia bilang akan segera menyusul ke klinik setelah urusannya selesai.


Sama halnya dengan Adam. Saat dia membaca pesan Selenia kalau dia mau berangkat ke klinik, perjalanannya belum dapat separuh dari alamat tujuan. Dia hanya bisa mengelus dada dan berpesan supaya Selenia lebih hati-hati. Jangankan Bi Iyah, dia saja kadang susah setengah mati membujuk Selenia. Hmmm!


Selenia tiba di klinik dan langsung menemui dokter yang kemarin menanganinya. Kebetulan pasien sedang tidak banyak, jadi dia bisa mendapat nomor antrian lebih awal. Sementara Pak Tono menunggu di parkiran.


"Selamat pagi," sapa dokter itu ramah.


"Pagi Dok," balas Selenia.


"Kamu cuma sendiri aja?" tanya Dokter itu heran. Kepalanya melongok-longok melihat ke belakang Selenia, kalau-kalau orang yang mengantarnya masih di luar ruangan.


"Iya, Dok. Saya sendiri. Sebenarnya dianter sopir sih, tapi dia menunggu di luar."


Dokter itu hanya manggut-manggut dan kemudian mempersilahkan Selenia berbaring di atas ranjang. Dia memeriksa semua anggota tubuh Selenia terutama bagian jahitan di kaki yang tampak mulai mengering. Setelah beberapa menit, dia meminta Selenia bangkit dan duduk di kursi di depannya.


Usia Dokter perempuan itu kira-kira seumuran Bu Lisa. Setelah melepas stetoskop yang terhubung dengan telinganya, dokter itu lalu menulis beberapa resep di kertas.


"Lukanya belum sepenuhnya kering. Jadi saya belum bisa melepas jahitannya sekarang," kata dokter sembari menatap lurus ke arah Selenia. Selenia hanya mengangguk. "Kamu bisa kembali lagi ke sini lusa."


"Oh, baik Dok. Kalau begitu, saya bisa pulang sekarang?"


"Tunggu," dokter itu menahan lengan Selenia. "Ada hal penting lain yang akan saya katakan sama kamu."


"Apa itu dok?" kening Selenia mengerut. Penasaran melihat wajah si dokter yang tampak serius.


"Tapi saya mau nanya dulu sama kamu."


"Ya?"


"Apa selama ini kamu tidak menyadari ada keanehan yang terjadi pada tubuh kamu?"


Kening Selenia mengerut lebih dalam. Pertanyaan yang penuh teka-teki. Apa maksudnya? Keanehan? Apa aku memiliki penyakit yang sama sekali tidak kusadari? Jantung Selenia sudah berdebar tidak karuan menunggu penjelasan dokter.


"A-apa itu Dok? S-saya nggak ngerasa gimana-gimana sama tubuh saya. Apa saya sakit? Saya sakit apa Dok??" tanya Selenia memburu.


Dokter itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya mengatakan....


"Kamu hamil."


Selenia terhenyak di tempat duduknya. Mulutnya menganga mendengar dua kata yang diucapkan oleh Dokter tersebut.


Aku tidak salah dengar kan?


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2