
"Ohh begitu? Oke baik, nanti saya akan hubungi GM saya untuk lebih jelasnya. Terimakasih, selamat malam," Pak Anton mengakhiri obrolannya di telfon. Dia baru saja dihubungi oleh jasa penyewaan alat berat yang akan digunakan untuk pembangunan rukan di pusat kota.
Pak Anton lalu beranjak dari kursi, menyusuri rak buku besar di dalam ruang kerjanya di rumah dan menarik salah satu map bersampul coklat dari sana. Map itu berisi dokumen lengkap para staff kantor. Beberapa hari yang lalu dia baru saja merekrut satu karyawan yang dia tempatkan di bagian personalia dan akan memasukkan CV-nya ke map tersebut. Sambil membuka-buka lembaran di dalam map dan meneliti kelengkapannya, seketika keningnya mengerut. Kok kaya ada yang aneh? pikir Pak Anton.
"CV punya Adam kok nggak ada?" gumam Pak Anton begitu menyadari ada lembaran yang hilang. Dia mengulangi membuka-buka map, dan masih tidak menemukan lembaran tersebut. "Apa mungkin di tempat lain?" dia terus mencoba mengingat-ingat.
Pak Anton mengumpulkan beberapa map dan berusaha mencari CV Adam dari map-map tersebut. Bisa riweuh kalau sampai hilang. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ton..!" Panggil Pak Anton saat melihat Tony melintas di depan ruang kerjanya.
"Ya Pa?" kepala Tony nongol dari balik pintu yang setengah terbuka.
"Kamu melihat salah satu CV karyawan Papa?"
Kepala Tony menegak. Omaigod! Dia baru ingat kalau CV milik Adam yang dia ambil dari ruang kerja Ayahnya beberapa hari yang lalu masih ada di kamarnya.
"Eng.... nggak tahu Pa," jawab Tony terpaksa berbohong. Sementara perasaannya sudah dag dig dug. Bisa-bisanya sih waktu itu nggak langsung gue balikin?! Makinya dalam hati.
Pak Anton manggut-manggut. Dia sebenarnya juga berpikir kalau Tony tidak mungkin melakukan itu.
Saat Pak Anton kembali sibuk mengecek map-mapnya, Tony langsung ngibrit ke kamar dan mencari CV milik Adam yang ternyata masih terselip di salah satu buku pelajaran sekolahnya. Fyuhhh.... untung nggak hilang. Secepatnya dia akan segera mengembalikan CV itu, kalau Papanya sudah tidur.
...🌺🌺🌺...
Selenia sedang menikmati keripik di ruang makan, menemani Bi Iyah yang sedang sibuk menyusun box bening berisi menu makanan ke dalam kulkas. Perempuan paruh baya itu berencana mau pulang kampung. Jadi, sebelum dia pergi, dia menyiapkan menu yang biasa dia masak untuk Adam dan Selenia, supaya mereka gampang mengolahnya saat dia belum kembali ke sini. Ada bahan untuk membuat omelette sayur, tumisan, rica-rica ayam, sayur asem dan beberapa menu lain. Bi Iyah menyiapkan ke masing-masing box dalam setiap satu menunya.
"Ini bumbu-bumbunya sudah lengkap Non, sudah Bibik blender sekalian," kata Bi Iyah. "Pokoknya nanti kalau Non Selenia kepengen masak, ya tinggal masukin aja, udah Bibik pisah-pisahkan juga."
Selenia hanya manggut-manggut meski tidak sepenuhnya paham. Ya mana dia tahu, selama ini dia jarang banget terjun ke dapur.
"Bibik lama nggak di kampungnya?" tanya Selenia.
"Enggak kok Non. Paling minggu depan udah balik ke sini lagi," jawab Bi Iyah. "Nggak pa-pa ya Non, bibik agak lama pulang kampungnya."
Selenia tersenyum kecil. "Nggak pa-pa kok Bik, yang penting nanti Bibik kembali lagi ke sini."
Bi Iyah mengangguk-angguk.
Selenia kembali menikmati keripiknya dan berpikir. Kalau minggu depan Bibik baru balik, That's mean dia harus bener-bener bisa atur waktu selama Bibik nggak di rumah. Lagipula dia juga nggak mungkin melarang Bibik supaya nggak pulang. Semenjak dia tinggal di sini, dia sama sekali belum pernah pulang kampung.
__ADS_1
"Bibik pulang naek bis?" tanya Selenia lagi.
"Iya lah Non, memangnya Bibik mau naek pesawat?" gurau Bik Iyah. Selenia tergelak. "Mau turun di mana?"
"Bibik bisa aja. Ya udah kalau gitu besok ke agen busnya bareng sama pas aku berangkat sekolah ya."
"Nggak usah Non, biar Bibik naik taxi aja. Nanti Non terlambat ke sekolahnya kalau nganter ke agen."
"Enggak. Tenang aja."
Adam muncul dengan wajah lesu dan rambut yang sedikit acak-acakan. Dia melemparkan seulas senyum pada Selenia sembari berjalan mendekati kulkas. Sebenarnya ada hal yang harus dia sampaikan pada Selenia terkait pekerjaannya. Dan hal itu cukup mengganggu pikirannya. Tapi saat melihat wajah Selenia yang tampak ceria, dia tidak tega untuk mengatakannya sekarang. Takut merusak suasana hati Selenia. Pasalnya pekerjaan itu ada hubungannya juga dengan Renata. Apalagi Selenia kan tidak begitu welcome dengan Renata. Belum lagi ditambah Bibik yang besok mau pulang kampung.
Selenia mendorong kursi makannya dan berdiri. Dia menghampiri Adam yang masih berdiri di depan kulkas, sedang menenggak sebotol air mineral.
"Lesu banget? Kenapa sih?" bisik Selenia.
Adam menoleh dan kembali meletakkan minumnya ke dalam kulkas. Dia menghela nafas berat, tersenyum dan kemudian menggeleng.
"Sudah malem. Tidur gih," ucapnya sembari membelai rambut Selenia lembut.
Adam menutup kulkas dan langsung berlalu meninggalkan ruang makan. Selenia mengerling lalu menyusul.
Adam menoleh. "Ada apa sayang?"
Erggghh!! Kata sayang dari Adam selalu bisa meluluhkan hati Selenia. Padahal dia baru saja ingin memprotes sikap anehnya itu.
"Kamu aneh tau nggak!" Selenia merajuk. Bibirnya mengerucut.
"Hmmmm, aneh gimana sih?" Adam memutar tubuh dan berjalan mendekati Selenia.
"Tadi makan malem masih asyik, eh giliran habis dapet telfon dari Pak Anton jadi nyebelin!" gerutu Selenia. "Kamu diapain sih sama Pak Anton sampai aku dapet imbasnya?"
"Ya ampun sayang. Jangan mulai deh," Adam merengkuh bahu Selenia. "Imbas apa sih? Aku ngapain?"
"Kamu cuekin aku lah. Jadi gak asyik lagi."
Adam menghela nafas. Bukan maksud dia untuk cuek sama Selenia. Tapi memang info dari Pak Anton barusan cukup mengganggu pikirannya. Gimana caranya buat ngomong ke Selenia?
"Siapa yang cuekin kamu sih sayang?" Adam mencubit hidung Selenia gemas dan berusaha bersikap ceria. "Nggak ada aku cuekin kamu. Sekarang udah malem. Bobok ya," dia membelai dagu Selenia lembut.
__ADS_1
"Nggak usah bohong deh," Selenia masih tidak percaya. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kenapa sih? Kamu pasti ada masalah sama pekerjaan kamu. Cerita dong sama aku. Aku ini istri kamu lho,"
"Nggak ada sayang... beneran deh," nanti aku bakal ngomong, tapi nggak sekarang. Lanjutnya membatin. "Aku cuma capek aja dan kepalaku rada pusing," ujarnya sembari memijit-mijit dahi.
Selenia menatap Adam lama. Wajah suaminya memang tampak lelah.
"Udah malem, tidur ya. Besok kamu juga sekolah kan?" Adam mengecup kening Selenia kemudian berbalik dan langsung masuk ke kamar.
Selenia tidak bergeming. Dia masih berdiri di tempatnya, menatap pintu kamar Adam yang tertutup. Adam ada masalah apa ya di kantor? Kok perasaanku nggak enak gini?
Selenia menghela nafas untuk menyingkiran prasangka buruk yang menghampiri otaknya. Tenang Sel, mungkin Adam memang sedang ada masalah kerjaan. Jangan egois, jangan merajuk, tunggu. Beri dia waktu untuk istirahat. Hatinya bersuara.
...🌺🌺🌺...
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.15 malam dan Adam masih terjaga di kamarnya. Dia terus memikirkan bagaimana caranya mengatakan pada Selenia kalau minggu depan dia harus pergi ke luar kota dalam rangka proyek pembangunan rukan. Apalagi Pak Anton meminta Renata dan Irham menemani dia dan kemungkinan mereka harus menginap.
Adam tahu, mengatakan yang sejujurnya pada Selenia pasti akan sedikit runyam. Selenia kan sensi banget sama Renata. Tapi berbohong juga bukan suatu solusi. Argghh! gimana ini ngomongnyaaa??!!! Adam mengacak-acak rambutnya gusar. Dia berguling, duduk, menutup wajahnya dengan bantal, tapi belum menemukan solusi yang tepat dan alasan yang pas.
Mungkin lebih baik ngomongnya pas Bibik udah balik kesini aja kali ya? Simpulnya kemudian.
...🌺🌺🌺...
Bibik tergopoh-gopoh memasuki mobil sembari membawa tas ransel yang berisi beberapa pakaian miliknya. Pagi ini, sekalian berangkat sekolah, sesuai janjinya, Selenia akan mengantarnya sampai terminal bersama Pak Tono.
"Hati-hati di jalan Bik, kalau bisa jangan lama-lama ya." pesan Adam sembari tersenyum penuh arti.
Bik Iyah tahu apa maksud majikannya tersebut. Pagi-pagi buta tadi, diam-diam Adam nenemui Bi Iyah yang masih sempat memasak sarapan untuk mereka dan mengatakan tentang rencananya ke luar kota minggu depan. Itulah kenapa dia berpesan supaya Bibik kembali lagi sebelum dia berangkat. Dia juga mewanti-wanti Bibik untuk tidak memberitahukan masalah ini dulu pada Selenia.
"Iya Pak," jawab Bi Iyah.
"Aku juga berangkat ya," dengan manja Selenia mengulurkan tangannya dari dalam mobil.
Adam geleng-geleng kepala dan tersenyum sembari menyambut uluran tangan Selenia. Dia mendorong punggung tangannya hingga menyentuh hidung Selenia.
"Hati-hati...." Adam mendekatkan kepalanya lalu berbisik. "...sayang."
Selenia mengatupkan bibir menahan senyum, dan reflek mencubit perut Adam. Hatinya berbunga-bunga setiap kali mendengar kata sayang dari suaminya.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...