
Hampir setiap orang yang berpapasan dengannya di kantor, menanyakan penyebab luka lebam di wajah Adam. Tapi Adam tidak mau berbicara banyak dan hanya membalas dengan senyum atas pertanyaan mereka. Terlebih lagi Pak Anton. Dia bahkan menyangka pegawai kesayangannya itu telah mendapatkan kejahatan di jalan alias dibegal.
"Ini cuma luka kecil kok Pak. Lusa kemarin sepulang dari kantor, saya nggak sengaja ngeliat ada ibu-ibu dijambret. Dan saya reflek aja nolong, malah jadi baku hantam sama jambretnya," Adam terpaksa berbohong pada Pak Anton.
"Ya ampun ,Dam. Untung aja nggak fatal," Pak Anton geleng-geleng kepala.
Mereka berdua ngobrol di depan ruangan Adam, karena pada saat Adam baru datang Pak Anton kebetulan baru keluar dari ruangannya. Dia kaget melihat kondisi Adam yang seperti itu.
Saat itu Renata yang baru saja datang, hanya berlalu melewati mereka berdua dan langsung menuju ruangannya. Sedih sekali mendengar Adam yang harus berbohong pada Pak Anton atas peristiwa itu. Dia merasa bersalah.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Adam memang mulai menjaga jarak dari Renata. Mereka tidak lagi makan siang bersama dan hanya berbicara seperlunya saja.
Hal itu tentu membuat Renata semakin bingung. Juga memancing rasa ingin tahunya tentang Selenia yang kenapa malam itu tiba-tiba ada di rumahnya, saat Adam dan Devan berkelahi. Perasaan bersalahnya kian bertambah kalau sampai dia menjadi penyebab hubungan Adam dan Selenia--yang mungkin adalah pacar atau tunangannya--berantakan.
"Pak, bisa kita bicara sebentar?" tanya Renata suatu hari saat jam makan siang.
Sebelum menjawab pertanyaan Renata, Adam sudah terlebih dahulu memasang tampang malas.
"Saya mohon, Pak. Kalau memang saya sudah menjadi penyebab dari semua masalah Bapak, izinkan saya untuk bisa memperbaiki semuanya."
Setelah berpikir sejenak tapi tidak menemukan kepastian, Adam akhirnya menuruti permintaan Renata dan mereka menuju ke kantin.
Di kantin, Renata mulai menanyakan tentang Selenia dan kenapa malam itu dia bisa berada di sana. Kalau dulu dia mengira Selenia itu adiknya Adam, sebenarnya dugaan itu sudah terjawab sejak mereka bertemu di pemakaman saat Ayah Selenia menyebut kalau dia adalah anak satu-satunya. Jadi kesimpulannya, Selenia itu pasti pacar atau mungkin tunangannya Adam. Status Adam kan masih single. Begitu yang tertulis di CV miliknya yang pernah dibaca Renata saat dia baru saja bekerja di kantor ini.
"Selenia itu istri saya," Adam menjawab pertanyaan Renata terkait insiden malam itu. "Kami memang sudah menikah, secara siri."
Kepala Renata rasanya seperti dihantam palu godam mendengar pernyataan tersebut. Ternyata hubungan mereka sudah lebih dari yang dia duga.
Dan karena merasa telah mendapatkan peluang untuk membuka rahasianya, Adam akhirnya memutuskan bercerita tentang kehidupannya yang tidak semua orang tahu itu, karena merasa sudah tidak tahan lagi untuk menyimpannya.
Pilu sekali hati Renata mendengar kenyataan tersebut. Jauh di dasar hatinya yang paling dalam, dia merasa cemburu. Orang yang selama ini begitu peduli dan perhatian padanya dan Nola, orang yang selama ini dia idam-idamkan, orang yang dia pikir akan menjadi tempatnya melabuhkan hati, ternyata sudah menjadi milik orang lain.
"Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan untuk membuat Selenia kembali," ucap Adam putus asa. Renata hanya bisa terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Dia bahkan memblokir kontak WhatsApp saya Ren," jadi sehari setelah dia tidak masuk ke kantor kala itu, Adam membeli ponsel lagi untuk menggantikan ponselnya yang hancur.
Selama beberapa hari ini, Adam merasa bahwa semuanya tidak berubah menjadi lebih baik dan justru sebaliknya. Beberapa kali dia mencoba menemui Selenia di sekolah, tapi istrinya itu selalu menghindar. Sakit sekali rasanya melihat Selenia yang seolah tidak mengenali dirinya. Ditambah lagi keberadaan Tony yang seakan mengambil kesempatan dalam masalah ini karena selalu terlihat di dekat Selenia.
Apa benar, Selenia sudah tidak membutuhkannya lagi? Adam takut kalau Selenia akan berpaling dan benar-benar menggugat cerai dirinya, seperti apa yang pernah dituturkan Pak Fendi pagi itu.
Dan selama beberapa hari itu pula, Renata diam-diam mengikuti Adam yang mendatangi sekolah Selenia saat jam pulang sekolah. Dan memang itulah kenyataannya. Selenia masih tidak mau berbicara dengan Adam. Saat itu tujuan Renata menguntit karena dia ingin mencari tahu sendiri ada hubungan apa antara Adam dan Selenia. Tapi dia tidak pernah menemukan jawaban yang sebenarnya sampai akhirnya hari ini, dia mendengarnya langsung dari Adam.
"Bapak yang sabar ya," hanya itu yang mampu Renata ucapkan.
Adam mengangguk sembari menarik nafas berat.
"Bagaimana sidang kamu Ren? Kapan akan di gelar?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Kemungkinan lusa, Pak. Karena Devan terus merong-rong saya meminta untuk segera di percepat," Renata menunduk. "Jujur saya takut, Pak."
"Kamu harus optimis, Ren. Kamu harus yakin," Adam mencoba menguatkan. "Semoga saja, kamu yang akan memenangkan sidang itu."
"Amiin."
__ADS_1
"Tapi..... maaf, kalau kamu meminta saya untuk menemani di hari itu, saya tidak bisa."
Renata menatap Adam dengan tatapan kecewa. Padahal dia baru saja ingin mengutarakan hal itu, tapi Adam sudah mencegatnya duluan. Itu berarti dia akan datang sendiri sebagai tergugat dan hanya ditemani pengacara. Sementara Devan, dia pasti akan membawa keluarga besarnya. Itulah yang membuat Renata merasa pesimis. Dia tersenyum getir dan mengangguk.
Adam melirik jam tangannya. Waktu istirahat tinggal tersisa lima menit lagi.
"Maaf kalau saya tidak bisa maksimal membantu masalah kamu," Adam menghabiskan minumannya dan berdiri. "Semoga sidang kamu sukses. Dan apapun hasilnya, semoga itu yang terbaik."
"Pak..." panggil Renata saat Adam sudah melangkah meninggalkan meja. Adam menoleh. "Terimakasih untuk semua kebaikan Bapak. Saya tidak tahu lagi kalau tidak ada Bapak..."
Adam tersenyum simpul. "Sama-sama, Ren. Good luck," lalu melanjutkan langkah meninggalkan kantin.
Renata belum beranjak dari kursinya. Dia memandangi punggung Adam yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu. Aura laki-laki itu memang terlihat berbeda akhir-akhir ini. Permasalahan keluarga yang dia hadapi telah membuat senyum dan semangatnya hilang. Dari situ terlihat betapa laki-laki itu sangat mencintai istrinya.
Melihat itu semua, Renata jadi berpikir, egois rasanya jika dia masih mementingkan perasaannya sendiri. Dia memang cemburu dan kecewa dengan kenyataan yang hari ini dia dengar. Tapi mengingat apa yang telah Adam lakukan padanya selama ini, mampu membuatnya berbesar hati untuk mulai menghilangkan dan mengubur dalam-dalam perasaannya pada Adam. Laki-laki itu sudah banyak membantunya menghadapi berbagai masalah yang menghampirinya. Adam orang baik dan dia yakin Selenia pasti adalah perempuan yang tepat untuknya.
Apapun dan bagaimanapun latar belakang pernikahan mereka.
...🌺🌺🌺...
Malam itu, Selenia duduk di balkon kamarnya seorang diri. Matanya menatap sendu ke arah layar ponsel yang menampilkan foto seseorang. Foto yang dia ambil dari feeds Instagram Adam.
"Kamu lagi apa, Dam?" gumamnya. Jari jemarinya mengelus wajah dalam layar dengan lembut. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia merindukan sosok suaminya.
Selama dia tinggal di rumah Ayahnya, Cia memang beberapa kali datang untuk menghibur dirinya atau sekedar untuk mengalihkan perasaan Selenia supaya tidak terus menerus memikirkan masalahnya. Kata Cia, life must go on. Artinya dengan atau tanpa Adam Selenia harus tetap semangat.
"Masa depan kita masih panjang Sel. Jangan terlalu larut dalam kesedihan," kata Cia waktu itu. "It's okay lah, lo boleh sedih, kecewa, marah, atau semacamnya, but please.... jangan lama-lama ya. Percaya deh, apa yang sudah ditakdirkan untuk kita pasti akan kembali ke kita."
Sebenarnya emosi Selenia ke Adam sudah mulai sedikit mereda semenjak mendengar semua cerita Adam dari Ayahnya. Tapi entah kenapa, hatinya masih sulit sekali untuk bisa memaafkan semua perbuatannya. Itulah kenapa, setiap kali Adam mencoba menemuinya di sekolah, dia memilih untuk menghindar, meski dia juga merasa sakit saat melakukan itu. Sebagai seorang istri sebenarnya dia tidak tega saat meninggalkan Adam dengan wajah penuh keputusasaan di depan gerbang sekolah. Dia tahu Adam sudah menyesali perbuatannya. Tapi memang rasanya sulit sekali untuk melupakan semuanya. Bayang-bayang peristiwa itu masih terus menyelimuti otak Selenia.
"Belum tidur Nak?" Pak Fendi muncul dari balik pintu.
Selenia buru-buru mematikan ponsel dan meletakkannya di ujung kursi.
"Eh, Ayah. Belum ngantuk kok Yah."
Pak Fendi duduk di samping Selenia. Dia menatap wajah anak semata wayangnya itu dan tersenyum. Sebagai seorang Ayah yang memiliki ikatan kuat dengan anak, dia tahu apa yang tengah anaknya itu rasakan.
"Apa.... kamu bener-bener belum bisa memaafkan Adam?"
Selenia menoleh sekilas. Dia tidak segera menjawab. Hanya terdengar hembusan nafas lirih dari mulutnya.
"Mendiamkan suami sampai berhari-hari itu nggak baik lho. Apalagi Adam sudah mengakui semuanya."
"Hati aku masih sakit Yah kalau ingat kejadian malam itu."
"Ayah ngerti. Tapi kan semuanya sekarang sudah jelas. Yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang kamu pikir, nak. Dia datang ke sana bukan karena memperebutkan Renata."
Selenia kembali terdiam. Selanjutnya dia hanya mendengarkan Ayahnya berbicara banyak tentang kehidupan setelah pernikahan. Menceritakan tentang kisahnya dan Mama. Menasehati dan memberi wejangan padanya, bahwa hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan.
"Ayah tu nggak pengen yang muluk-muluk dari kamu," Pak Fendi membelai rambut Selenia lembut. "Melihat kamu bahagia, itu sudah lebih dari cukup buat Ayah."
__ADS_1
"Aku sebenernya bahagia Yah sama Adam. Tapi tidak untuk saat ini. Tolong Ayah ngerti ya. Tolong jangan paksa-paksa aku untuk segera berbicara sama Adam. Kasih aku waktu Yah."
Pak Fendi menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu. Ayah tidak akan memaksa. Ayah tahu kamu pasti bisa melewati semua in," ucapnya kemudian berdiri. "Ya sudah, ini udah malam. Kamu cepetan tidur, besok sekolah kan?"
Selenia mengangguk. Begitu Pak Fendi keluar dari kamar, Selenia kembali membuka ponselnya. Dia kembali mengamati wajah yang sedang tersenyum manis tersebut lalu beranjak masuk ke kamar. Baru saja dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Mata Selenia melebar melihat deretan nomor di layar. Itu nomor telfon rumahnya kan? Jantungnya berdebar. Itu pasti Adam yang mencoba menghubungi dia karena WhatsAppnya masih diblokir. Angkat nggak ya?
Setelah menimang-nimang ponselnya beberapa detik dan panggilan itu tak juga berakhir, Selenia pun langsung menggeser ikon warna hijau ke atas.
"Halo, Non..." ternyata yang menelfon adalah Bi Iyah. Selenia sudah deg-degan banget karena mendengar suara Bi Iyah yang terisak. Ada apa nih?
"Bibik?" bibir Selenia bergetar. "Bibik kenapa nangis? Ada apa Bik? Ada masalah di rumah?" tanya Selenia beruntun.
"Bibik kangen sama Non Selenia. Kapan Non kembali ke rumah ini lagi?"
Mendengar hal itu, Selenia bernafas lega. Syukurlah, kalau tidak ada yang terjadi pada Adam. Dia pikir, Bi Iyah menghubungi dia karena terjadi sesuatu sama Adam. Tapi dia merasa sedih juga mendengar ratapan Bi Iyah.
Aku sebenarnya juga kangen sama suasana di rumah Bik. Batin Selenia.
"Aku nggak janji ya Bik. Doain aja yang terbaik."
"Pasti, Non. Bibik pasti selalu doain yang terbaik untuk Non dan Pak Adam. Kasian Pak Adam Non."
"Memangnya Pak Adam kenapa Bik?"
"Semenjak Non meninggalkan rumah ini, Pak Adam jadi sering murung. Pak Adam juga jarang makan, dia sering menghabiskan waktunya di kamar. Bibik takut Non kalau sampai terjadi sesuatu sama Pak Adam."
Tubuh Selenia menegak. "Apa Bik?"
"Iya, Non. Bibik takut. Bibik nggak tahu lagi gimana cara membujuk dan menghibur Pak Adam."
Apalagi ini?
Haruskah aku menyerah dan segera memaafkan Adam. Dia tahu itu tidak mudah, tapi dia juga takut kalau sampai terjadi sesuatu sama Adam.
"Bibik nggak usah khawatir. Pak Adam memang lagi banyak masalah di kantornya. Kita masih suka saling kirim pesan kok," kata Selenia. Dia terpaksa berbohong supaya Bi Iyah berhenti mengkhawatirkan Adam.
"Syukurlah Non kalau begitu. Cepet kembali ya Non. Rumah sepi banget nggak ada Non."
"Udah malem Bik," Selenia tidak merespon permintaan Bi Iyah. "Bibi harus istirahat."
"I-iya Non. Maaf sudah mengganggu. Selamat malam Non."
Obrolan mereka berakhir. Setelahnya Selenia makin jadi tak karu-karuan. Kalau Adam jarang makan, bagaimana dengan kesehatannya? Bagaimana kalau tipoidnya waktu itu kambuh lagi? Aduuuuh!
Selenia mencari nomor Adam dan membuka blokirannya.
Selenia: [Cuma mau ingetin. Jangan telat makan. Jangan kurang tidur. Jaga kesehatan]
Selenia mengirimkan pesan singkat ke Adam. Dan setelah pesannya terkirim, dia memblokir nomor Adam lagi.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...
... ...