NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -66-


__ADS_3


Adam terbangun dari tidurnya saat mendengar dering telfon di ruang tengah. Dia baru sadar kalau ternyata semalam dirinya ketiduran di sofa. Dan saat pagi ini membuka mata, dia mendapati tubuhnya sudah dibalut selimut tebal. Pasti Bi Iyah, karena tidak mungkin kalau Selenia tiba-tiba pulang dan melakukan ini padanya.


"Halo," sapa Adam dengan suara berat. Kepalanya terasa agak pusing.


"Dam, kamu kemana aja sih? Kenapa nomor kamu nggak bisa dihubungi?" suara Bu Lisa terdengar heboh di ujung telefon yang seketika membuat Adam membelalakkan mata.


"Eee... iya Ma. Semalam ponselku jatuh dari lantai dua dan rusak," jawab Adam berbohong.


"Ya ampun Dam. Kok bisa ? Kamu ini kenapa nggak hati-hati sih?!"


"Namanya juga nggak sengaja, Ma. Nanti deh kalau udah nggak sibuk aku beli lagi. Ada apa Ma?"


"Ini Mama cuma mau ngabarin kalau.... oh iya, Selenia mana?" Bu Lisa tiba-tiba membelokkan pembicaraan.


Adam melirik jam besar di ruangan tersebut. Pukul 7.35 menit.


"Selenia.... e.. dia udah berangkat sekolah Ma," Adam berbohong lagi.


"Dari semalam Mama hubungin dia juga sama sekali nggak diangkat."


"I-iya semalam habis makan malam Selenia langsung tidur. Katanya nggak enak badan Ma," Adam menggigit bibir karena terpaksa berbohong berkali-kali pada Mamanya. "Mama ada perlu apa?"


"Oh begitu. Jagain Selenia lho Dam. Perhatiin jangan sampai dia telat makan, sakit atau apa. Banyak-banyak minum air putih."


Adam cuma bisa mengangguk. Kenapa rasanya seperti ada ikatan batin. Mama menghubungi dia di saat seperti ini. Meski Mamanya itu tidak mengetahui permasalahan yang sedang terjadi, tapi pesannya seolah menegaskan bahwa Adam sudah lalai menjaga Selenia dan malah membuatnya sakit hati dan menangis.


"Mama cuma mau ngasih kabar, kalau kemungkinan Mama sama Papa bakalan lebih lama lagi di New York. Kemaren Mama baru aja tanda tangan kontrak sama salah satu designer ternama di sini, dan mungkin Mama bakal pulang sekitar 4 atau 5 bulan lagi. Nggak pa-pa kan?"


Adam menarik nafas berat. Seberat hatinya mengatakan 'Ya' untuk keputusan Bu Lisa. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa menghalangi keinginan Mamanya karena ini juga merupakan keinginan terbesar beliau sejak dulu. Bekerja sama dengan designer kenamaan di Negeri adidaya tersebut adalah mimpinya yang telah terwujud.


"Yang penting Mama sama Papa juga baik-baik di sana. Jaga kesehatan."


"Pasti sayang. Ya udah kalau gitu sekarang Mama mau dinner dulu sama Papa. Terus lanjut ketemu temen."


Adam kembali melirik jam besar. Oh iya, di sana sekarang adalah malam hari.


"Iya Ma, hati-hati."


"Daaagh sayang. Salam buat Selenia ya."


Bu Lisa mengakhiri panggilan.


"Ya Ma," jawab Adam yang tentunya sudah tidak didengar lagi oleh Bu Lisa.


Adam baru saja mau kembali ke sofa, saat telfon kembali berdering. Dia berdecak meski akhirnya kembali menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Pak Anton. Sama seperi Bu Lisa, dia juga menanyakan kenapa nomornya tidak aktif dan lagi-lagi Adam harus berbohong dengan mengatakan kalau ponselnya rusak karena jatuh dari lantai dua.


"Saya juga mau izin untuk sehari ini saja Pak. Saya sedikit tidak enak badan."


"Tapi besok kamu harus masuk lho Dam. Kita ada pertemuan penting dengan client Singapore."


"Iya Pak, baik."


Setelah itu, Adam segera menuju lantai dua dengan malas. Hari ini dia sedang tidak ingin melakukan apapun. Hanya satu yang sangat dia inginkan, berbicara dengan Selenia. Tapi itu mustahil untuk dilakukannya sekarang. Kalau ingat bagaimana reaksi Selenia semalam saat mengetahui dirinya sedang baku hantam dengan Devan di rumah Renata, rasanya begitu menyakitkan.


Ting tong! Ting tong!


Terdengar bunyi bel pintu saat Adam sudah sampai di ujung tangga. Dia menoleh dan melihat ke bawah.


"Bik!" teriak Adam memanggil Bi Iyah. "Bukain pintunya Bik..!"


Tidak ada sahutan, sementara bel terus berbunyi. Akhirnya mau tidak mau, Adam pun terpaksa turun dan membukakan pintu. Dia begitu gelagapan saat melihat siapa yang datang. Pak Fendi, dengan pakaian yang sudah rapi, tersenyum simpul ke arahnya. Bagaimana bisa dia bahkan tidak mendengar deru mesin mobil mertuanya itu memasuki halaman? Masalah ini benar-benar membuat pikirannya kacau.


"Baru bangun Dam?" tanya Pak Fendi saat melihat Adam yang sedikit berantakan. Dia juga mendapati beberapa bekas luka di wajahnya, tapi tentu dia sudah tahu penyebabnya.


Adam salah tingkah. Dia hanya mengangguk dan menggeleng kebingungan. "Iya... Iya, Yah. Masuk dulu Yah..."


Pak Fendi masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Bi Iyah yang berlari tergopoh-gopoh dari ruang belakang.

__ADS_1


"Maaf Pak Adam.... tadi Bibik lagi di toi....." Bi Iyah tidak tahu kalau Pak Fendi yang datang jadi dia segera menghentikan ucapannya. "....let..." lanjutnya lirih sembari menunduk hormat pada Pak Fendi.


Adam memberi isyarat dengan anggukan kepala supaya Bi Iyah segera kembali ke belakang untuk membuatkan minum.


Pak Fendi duduk di sofa ruang tamu, disusul Adam yang tampak canggung dan salah tingkah.


"Eee.. Ayah, saya mau ke atas sebentar, nanti saya balik lagi."


Pak Fendi mengangguk dan mempersilahkan. Adam kemudian berjalan ke kamarnya dengan terburu-buru. Tak lupa dia juga menyahut selimutnya yang berserak di sofa. Dia mau ganti baju sekalian cuci muka. Malu banget rasanya ketemu mertua dengan kondisi yang masih muka bantal.


Feeling Adam mengatakan, kalau kedatangan Pak Fendi ke sini pasti akan membahas permasalahan rumah tangganya dengan Selenia. Meskipun dia merasa grogi, bingung, dan takut, tapi menurutnya lebih cepat lebih baik. Adam berharap mertuanya itu bisa menjadi penengah untuk dirinya dan Selenia.


Adam kembali menemui Pak Fendi yang sedang membuka-buka majalah otomotif miliknya. Dua cangkir teh panas telah terhidang di meja.


"Kenapa kamu nggak ke kantor Dam?" Pak Fendi menutup majalahnya.


Adam tidak langsung menjawab. Dia bingung. Melihat hal itu, Pak Fendi hanya terkekeh pelan kemudian menyeruput tehnya sedikit.


"Memang tidak ada perjalanan rumah tangga yang selalu mulus," ucap Pak Fendi memulai topik pembicaraan. "Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi setiap pasangan suami-istri. Bukannya Ayah mendoakan yang buruk-buruk. Tapi hampir setiap tahun, besar atau kecil pasti ada saja masalah yang menghampiri."


Adam masih terdiam. Dia menyadari bahwa semua kericuhan ini terjadi karena dirinya. Dirinya yang tidak bisa tegas dan akhirnya membuat perasaan Selenia menjadi korban.


"Entah itu masalah ekonomi, orang ketiga, usia yang mungkin terpaut terlampau jauh dan membuat keduanya sulit untuk sepaham..." Pak Fendi tersenyum simpul. "Jadi apa benar, yang diceritakan Selenia pada Ayah? Dia bahkan ngomong sama Ayah... kalau dia pengen bercerai dari kamu."


Adam langsung menggeleng mendengar pertanyaan tersebut. "Itu nggak bener, Yah. Saya nggak akan pernah mau bercerai dari Selenia. Itu semua salah paham. Selenia bahkan belum ngasih saya waktu untuk berbicara dan menjelaskan semuanya."


"Kalau begitu, kamu bisa menjelaskannya ke Ayah sekarang. Bukan maksud Ayah untuk mencampuri urusan rumah tangga kalian, tapi...."


"Bisa, Yah. Tentu bisa," sahut Adam.


Adam mulai menceritakan semuanya pada Pak Fendi. Dia bercerita tentang masalah Renata yang sedang menghadapi tuntutan hak asuh anak dari mantan suaminya, yang membuatnya membantu dia sampai sejauh ini. Adam melakukan itu karena dia merasa kasihan pada Renata yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dia bahkan berani bersumpah kalau dia sama sekali tidak memiliki hubungan khusus dengan Renata.


"Lalu kenapa Selenia bilang, malam itu kamu berkelahi dengan laki-laki di depan rumah dia?" tanya Pak Fendi dengan tatapan menyelidik.


Adam menunduk menghindari tatapan mertuanya. Dia menghela nafas sebelum akhirnya menceritakan kronologi yang sebenarnya.


Malam itu, sebenarnya Adam sudah berencana untuk mengetuk pintu kamar Selenia dan mengajaknya makan malam. Dia merasa senang sekali karena akhirnya Selenia memberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya, dan dia tidak ingin membuang-buang waktu. Perang dingin itu sudah hampir membuatnya oleng. Kerja nggak fokus, tidur nggak nyenyak, makan juga nggak enak.


Sesampainya di rumah Renata, dia langsung mencekal punggung Devan yang masih berada di depan pintu rumah Renata dan akhirnya mereka terlibat perkelahian. Dan naasnya, Selenia mengetahui semua itu. Selenia melihat perkelahian itu dengan mata kepalanya sendiri hingga membuatnya beransumsi lain dari apa yang dilihat.


...🌺🌺🌺...


"Serius Ton?" mata Cia membelalak mendengar cerita Tony. Mereka ngobrol di taman saat jam istirahat "Jadi itu artinya.... kamu udah tahu..." Cia celingukan. "...rahasia mereka berdua?"


Tony tersenyum kecut dan mengangguk. "Udah lama kali."


"Serius? Tahu dari mana?" Cia semakin melebarkan bola matanya.


Tony menunjuk mata dan telinganya sendiri. Cia masih belum paham dengan jawaban itu dan mengerutkan kening.


"Aku denger dan liat sendiri Cia," Tony memperjelas. "Kalian pernah ngomongin soal suami-suami gitu di sini kan?"


Mata Cia menerawang ke atas pertanda sedang mengingat sesuatu. Dan pada akhirnya dia hanya mampu mengingat sedikit. Itupun tidak yakin kapan.


"Waktu itu kalau nggak salah setelah acara ulang tahunku, dan Selenia cerita soal kedekatan Adam sama Renata selama di party."


"Oke stop!" Cia mengarahkan telapak tangannya seperti memberi peringatan.


"Jadi gimana ceritanya semalem? Tega banget sih Adam kaya gitu?!" Cia menyilangkan kedua tangannya di dada dengan mimik sebal. "Pantes aja aku WA Selenia gak direspon sama sekali. Di baca juga enggak. Ternyata ponselnya ditinggal."


"Ya gitu deh..." Tony hanya menceritakan saat Selenia keluar dari rumah dan bertemu dirinya--dia tidak menceritakan kenapa dia mendatangi rumah Selenia dan berhenti di sana dalam waktu yang lama--lalu mengikuti Adam sampai rumah Renata hingga akhirnya Selenia melihat perkelahian tersebut.


"Dan dia nggak mau aku anter pulang ke rumah Adam. Maunya ke rumah Ayahnya," dia mengangkat bahu.


"Bener-bener ya tu Adam!" Cia mengepalkan tinjunya. "Kalau begitu yang aku lihat di Greenosh waktu itu nggak salah deh. Jadi mereka beneran punya hubungan?" gumamnya.


"Apa Ci?" mata Tony melebar. Dia ingat peristiwa di Greenosh. "Greenosh?"


Bibir Cia memberengut. "Iya. Jadi waktu itu aku nggak sengaja liat dia di Greenosh sama Renata lagi makan berdua. Terus aku videoin kan, dan videonya aku kasih liat ke Selenia," tiba-tiba dia mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. "Ogeb banget nggak sih gue? Secara nggak langsung kan itu berarti gue bikin Selenia sakit hati juga... hhheeeeee...." rengeknya.

__ADS_1


Tony manggut-manggut. Sekarang dia tahu darimana Selenia mendapatkan video itu. Hal yang juga membuat Adam berpikir kalau dia lah orang yang telah memperlihatkan video itu pada Selenia. Ternyata Selenia justru mendapatkannya dari Cia?


"Kamu nggak salah Ci. Memang Selenia tu harus tahu kebusukan Adam. Biar nggak kebablasan!" Tony menandaskan.


"Eh tapi kalau nggak salah, kayaknya waktu itu aku juga sempet liat kamu di sana deh. Di luar Greenosh, bener nggak sih?"


"Ohhh iya, waktu itu aku pulang dari basecamp, terus laper, terus mampir. Tapi karena basah kuyup jadi nggak boleh masuk sama petugasnya," ucap Tony berbohong.


"Dan kamu lihat mereka juga?"


"Nggak begitu memperhatikan," Tony menggeleng.


"Ugh! Dasar ya si Adam. Kok aku jadi greget banget ihhh!!" Cia menghantamkan tinjunya ke telapak tangannya sendiri.


"Gimana ceritanya mereka bisa nikah sih Ci?" tanya Tony kemudian. "Kasian tahu liat Selenia semalam. Dia keliatan terpukul banget."


Cia menatap Tony lama. Ada sedikit keraguan di dasar hatinya untuk menceritakan pernikahan rahasia itu padanya. Dia takut, rahasia ini akan semakin menyebar. Dan kalau sekolah sampai tahu, Selenia bisa dikeluarkan. Kan kasihan. Mereka tinggal beberapa bulan lagi di SMA.


"Kalau kamu nggak percaya sama aku, aku nggak maksa kok Ci," ucap Tony kemudian.


"Bukan gitu Ton... e... iya deh... jadi gini..." Cia menceritakan sesuai yang dia ketahui saja. Intinya alasan utama pernikahan itu terjadi adalah karena permintaan terakhir Mamanya Selenia.


Tony manggut-manggut. "Jadi mereka cuma nikah siri?"


Cia mengangguk. "Status Selenia kan masih pelajar. Mana mungkin bisa nikah resmi. Kan belum bisa Ton..."


Pantes saja status pernikahan di CV Adam yang dibaca Tony waktu itu keterangannya single. Sekarang Tony paham. Dan dia beranggapan kalau Adam sedang menyalahgunakan statusnya itu untuk kepentingannya sendiri. Dengan bisa memacari Renata, bersenang-senang di belakang Selenia dengan Renata dan Selenia hanya sebagai pelampiasannya kala di rumah. Jahat banget!


...🌺🌺🌺...


Pak Fendi merasa lega setelah mendengar cerita dari Adam. Dari awal dia memang sudah menduga kalau semua ini hanya salah paham.


"Sekarang Ayah rasa semua sudah jelas Dam. Ayah percaya, kamu tidak akan melakukan hal itu, dan Ayah harap kamu tidak akan pernah melakukannya." Pak Fendi menghabiskan tehnya.


"Kapan saya bisa berbicara dengan Selenia Yah?" tanya Adam dengan wajah murung.


"Biar Ayah bicara dulu sama Selenia ya Dam. Kamu kan tahu sendiri, anak seumuran Selenia itu susah-susah gampang untuk diambil hatinya. Tapi Ayah akan berusaha menjelaskan apa yang kamu ceritakan ini padanya."


Adam menunduk sedih. Dia merasa sangat kecewa. Sampai kapan lagi dia harus menunggu?


"Tadi Selenia juga berpesan sama Ayah, supaya Ayah mengambilkan ponselnya, seragam, buku sekolah dan beberapa kebutuhannya."


"Kenapa Yah?" Adam menatap Pak Fendi gamang.


"Selenia bilang, dia akan tinggal bersama Ayah untuk beberapa hari. Katanya dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Nggak pa-pa kan?"


Adam menghela nafas berat. Itu artinya dia harus memendam semua kerinduan dan menanti kesempatan itu lebih lama lagi. Ya Tuhan... kenapa jadi begini?


"B-baik Yah..." ucapnya pasrah.


Dengan dibantu Bi Iyah, Pak Fendi mengemasi beberapa barang milik Selenia dan dimasukkan ke dalam koper. Bi Iyah bahkan melakukannya sambil menangis. Suasana mendadak terasa begitu sepi dan sunyi. Adam hanya mampu mengamati aktivitas berkemas mertua dan pembantunya dari ambang pintu kamar Selenia. Ini adalah hari terberat yang dia rasakan.


Rasanya lemas sekali melihat Pak Fendi keluar dari kamar Selenia sembari menarik koper. Bersamaan dengan itu, semua kenangan yang pernah mereka lewati selama tinggal bersama di rumah ini berseliweran di kepala Adam. Semua melintas seperti roll film yang tiada ujung.


Kenangan saat ulang tahun Selenia dan Adam meninggalkan kue di depan pintu, saat Adam masuk rumah sakit dan merasa sikap Selenia mulai berubah, kenangan saat Selenia marah-marah pas akan menghadiri pesta ulang tahun Tony karena dia tahu dia akan berangkat bersama Renata. Kenangan saat Adam memberikan surprise pada Selenia di bandara saat menjemput Ayahnya. Dan semua hal yang pernah mereka lalui bersama-sama di rumah ini.


"Sabar ya Dam," Pak Fendi menepuk-nepuk bahu Adam. "Semoga kalian berdua bisa melalui semua ini."


"Terimakasih Yah," suara Adam terdengar serak. Kerongkongannya terasa kering seolah menahan untuk tidak berbicara lagi.


Nikmati saja semuanya, Dam. Ini kan akibat ulahmu sendiri. Sebuah suara dari dalam hatinya terdengar meledek.


Setelah memasukkan koper ke bagasi, Pak Fendi pun segera pergi meninggalkan rumah Adam.


Adam berbalik ingin masuk rumah saat mendapati Bi Iyah yang masih menangis tersedu-sedu di ambang pintu. Beberapa kali dia menyeka air mata dengan ujung daster yang dia kenakan. Melihat hal itu, hati Adam jadi semakin sakit. Dia hanya menggelengkan kepala dan segera berlalu melewati Bi Iyah.


Tadi Bi Iyah diam-diam mendengarkan percakapan Adam dan Pak Fendi. Dia sangat kaget karena baru tahu apa yang membuat kedua majikannya itu perang dingin selama beberapa hari terakhir. Tapi dia sama sekali tidak mengira kalau semuanya akan berakhir seperti hari ini. Apa jadinya kalau Bu Lisa tahu tentang masalah ini? Dia pasti jauh lebih sedih dari dirinya.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2