
Tony sedang berada di sebuah kafe, sendirian. Pagi tadi dia bangun pagi-pagi sekali dan justru bingung akan melakukan kegiatan apa. Pergi ke sekolah? Malas. Segala macam ***** bengek persyaratan untuk penerimaan ijazah sudah dia selesaikan beberapa hari yang lalu. Bahkan saat ponselnya terus berdering, yang berasal dari teman tongkrongannya di sekolah yang memintanya datang, dia abaikan. Jadi selama beberapa hari ini dia hanya menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan keliling kota sendirian, mampir basecamp, mampir ke kantor Ayahnya. Kegiatan yang dia lakukan sekedar untuk mengalihkan perhatian supaya tidak terus menerus memikirkan Selenia.
Tony tersenyum getir mengingat kebodohannya--melupakan seseorang dengan cara memblokir nomor orang tersebut--childish sekali bukan? Tapi memang tidak ada cara lain. Seandainya dia terus mengetahui nomor Selenia dalam keadaan online, hatinya selalu menggebu-nggebu untuk mengirimkan pesan. Dan jika itu terjadi, maka suasana hatinya akan memburuk. Dia akan terus memikirkan Selenia dan tidak ada habisnya.
Sembari menikmati suguhannya, Tony menyesap rokok filternya dalam-dalam. Lalu tiga detik kemudian kepulan asap menghembus dari mulutnya membentuk rangkain huruf O yang berbaris--dia memainkan asap tersebut. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kafe yang belum terlalu ramai. Tentu saja, saat ini kan jamnya orang-orang sedang sibuk.
Namun tak selang berapa lama, empat orang remaja terlihat memasuki kafe sembari bergurau. Tony menatap lurus ke arah mereka karena mengenal salah satunya. Marvin. Tumben tu anak nggak sama Cia, batinnya. Satu tangan Tony sudah setengah terangkat dan hampir melambai untuk memanggil Marvin sebelum akhirnya dia mengurungkan niat tersebut. Marvin sepertinya sedang asyik dengan teman-temannya. Dia tidak mau mengganggu.
Tapi diluar dugaan, Marvin yang saat itu juga tengah mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk, dia melihat Tony dan melambaikan tangannya pada anak itu. Tony tersenyum simpul dan balas melambai.
"Tunggu bentar ya bro, gue samperin temen gue dulu," ucap Marvin menepuk salah seorang temannya setelah mereka mendapatkan tempat di meja nomor 18. Letaknya cukup jauh dari meja Tony.
Ketiga teman Marvin mengangguk dan duduk di bangku yang masih kosong tersebut. Salah satu dari mereka pergi ke meja konter untuk memesan makanan.
"Kesini pagi-pagi cuma mau ngerokok?" celetuk Marvin setibanya di meja Tony.
Tony tersenyum kecil dan mematikan rokoknya. "Ck, apaan sih lo."
"Ya gue sih yakin aja lo nggak bakal ngelakuin itu di rumah. Kecuali lo emang niat bunuh diri aja, digantung bokap lo hidup-hidup. Hahaha...!" Marvin tergelak.
"Ah resek lo, baru sebatang doang kali. Gue udah lama juga udah stop sebenernya. Pagi ini aja tiba-tiba pengen."
Marvin menepiskan tangannya. "Lo sendirian aja?" celingukan.
"Lo juga tumben nggak sama Cia?" Tony mengangkat dagu.
"Tadinya sih gue mau keluar sama dia, tapi dianya lagi ke rumah sakit. Jenguk Selenia gitu katanya."
Mata Tony membelalak kaget demi mendengar jawaban tersebut.
"Selenia di rumah sakit?!" tubuhnya menegak. "Dia sakit apa?"
__ADS_1
"Cia bilang katanya semalam dia pingsan gitu."
"Serius lo Vin?!" Tony berdiri dan dengan cekatan segera mengemasi beberapa barangnya di atas meja.
"Gue kira lo udah tahu."
Tony menggeleng. Tentu saja dia tidak tahu sama sekali. Dia bahkan sudah memblokir nomor Selenia. Sudah hampir dua minggu dia tidak pernah mendengar kabar tentangnya dan sebenarnya dia sedang dalam fase melupakan. Tapi entah kenapa, kabar dari Marvin barusan membuatnya tidak bisa tinggal diam. Apa yang sedang terjadi pada Selenia? Kenapa dia bisa pingsan?
"Lo tahu di rumah sakit mana?"
Setelah Marvin memberitahukan nama rumah sakitnya, Tony segera bergegas meninggalkan kafe.
...🌺🌺🌺...
"Sus, pasien yang bernama Selenia Effendi ada di ruang mana ya?" tanya Tony pada suster jaga sesampainya dia di rumah sakit.
"Sebentar ya mas, saya cari dulu," suster itu menanggapi dengan ramah sembari memperhatikan layar komputer di hadapannya.
"Pasien atas nama Selenia Effendi..." ucap suster dan seketika membuat Tony meluruskan wajah ke arahnya dengan tampang serius. "Dia masih berada di ruang ICU. Anda lurus saja nanti ada perempatan ambil ke kiri."
"Apa? ICU? Oke suster, terimakasih!" sahut Tony dan langsung bergegas.
Selenia dirawat di ruang ICU? Berarti kondisinya parah? Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi padanya? Berbagai macam pertanyaan berseliweran di kepala Tony selagi dia berjalan. Dia pingsan di rumahnya sendiri? Perasaan Tony jadi semakin tidak menentu.
Setibanya di ujung lorong, mendadak Tony menghentikan langkah. Dia melihat Adam bersama seorang dokter keluar dari ruang ICU yang dimaksud. Untuk mencegah supaya Adam tidak melihat bahwa dia sedang berada di sini, Tony mundur dan bersembunyi di balik tembok. Dari sana, dia bisa cukup jelas mendengar percakapan dua orang tersebut.
"Saya telah menjadwalkan untuk operasinya dua hari lagi ya pak," itu suara si dokter. "Dan untuk siang nanti saya rasa Bu Selenia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat."
"Syukurlah dok kalau begitu. Terimakasih untuk semua usaha yang telah anda lakukan untuk istri saya," Adam menyalami dokter itu dengah penuh rasa terimakasih.
"Baiklah, nanti sekiranya sudah waktunya dipindahkan, saya akan kembali lagi ke sini. Kalau begitu sekarang saya permisi dulu, karena ada pasien lain yang sudah menunggu saya."
__ADS_1
Adam mengangguk dan mempersilahkan. Setelah dokter itu pergi, Adam kembali masuk ke ruang ICU untuk menemani Selenia.
"Operasi?" Tony menggumam. "Operasi apa? Bukannya kehamilan Selenia belum genap sembilan bulan? Kenapa harus dioperasi sekarang?"
...🌺🌺🌺...
Akhirnya, dari informasi yang dia cari melalui suster yang selalu mengecek kondisi Selenia, Tony menemukan jawaban dari pertanyaan demi pertanyaan yang mengendap di benaknya. Ternyata Selenia akan di operasi caesar dan melahirkan secara prematur dikarenakan preklamsia yang dideritanya.
Dari situ dia tidak bisa tinggal diam. Beberapa kali, tanpa sepengetahuan Adam dan yang lain, dia selalu datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Selenia meski hanya dari luar. Perasaannya cukup lega namun juga sedikit pedih setiap kali menyaksikan kebersamaan Selenia dan Adam di dalam ruang rawat inap. Meskipun selang oksigen dan selang infus masih terhubung pada tubuhnya, Selenia tetap bisa tertawa dan tersenyum saat bercengkerama dengan Adam.
Ternyata Adam memang benar-benar belahan jiwa bagi Selenia. Orang yang dapat mengerti Selenia luar dalam dan yang lebih penting Adam adalah orang yang bisa memahami dan melengkapi Selenia.
Kadang Tony sendiri berpikir, seandainya Selenia menjadi miliknya, apakah dia bisa membahagiakan Selenia seperti Adam membahagiakannya? Dan Tony selalu menggeleng atau.... dia juga tidak tahu. Mungkin saja bisa, tapi tidak akan seperti Adam.
Lalu kenapa perasaan ini sulit pergi? Sampai kapan akan terus berada di sana, padahal aku sudah berusaha melupakan sekuat tenaga? Kalau memang dia bukan untukku, kenapa kau tidak membuang rasa ini dari dalam hatiku Tuhan? Kenapa seakan kau justru merekatkannya erat-erat bahkan guyuran air mata kekecewaan pun tak mampu melepaskannya?
Kenapa kau menyalahkan Tuhan? sebuah suara lain dalam hatinya menyahut. Tidak semua yang datang padamu selalu menyiratkan makna. Tidak semua yang kau titipi hati harus membalasnya. Kau seharusnya menyadari dari awal bahwa kau telah mengambil hati seseorang yang salah. Dia tidak pernah mencintaimu dan dia tidak akan pernah bisa membalas cintamu. Dia datang hanya bercanda, mengajakmu bergembira dari alasanmu terluka. Dan seharusnya kau tertawa, bukan malah jatuh cinta.
Suara hati yang lain itu menghantam kesadaran Tony. Dengan langkah berat, dia meninggalkan ruang rawat inap Selenia yang tak pernah berani dia masuki. Dan sore nanti adalah jadwal operasi Selenia.
Baiklah, ini mungkin akan menjadi kali terakhirku melihat Selenia sebelum aku meninggalkan Indonesia. Aku tahu, karena seharusnya dari awal aku sadar bahwa aku telah dipukul mundur oleh keadaan. Dan bodohnya, selama ini aku malah memaksa untuk menetap karena perasaan. Mungkin memang inilah saatnya. Saat yang tepat untuk aku benar-benar melupakan semuanya tentangmu. Aku menyerah...
Aku menyerah oleh kenyataan.
Selamat tinggal Selenia, semoga kita bisa kembali berjumpa dalam versi yang berbeda.
Tony duduk diatas motor dengan tatapan mengarah ke bangunan rumah sakit dihadapannya. Dia menghela nafas panjang dan perlahan. Semoga operasimu berjalan lancar Sel.... ucapnya dalam hati, sebelum kemudian menstarter motornya dan melesat meninggalkan rumah sakit.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1