NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -64-


__ADS_3


...Setelah sekian purnama, baru nemu visual yang cocok untuk Pak Anton 🤭...


Adam kembali ke kantor dengan amarah yang masih tersisa, sementara Tony memutuskan untuk langsung meninggalkan kelas dan pulang. Akibat ketegangan tadi moodnya jadi hancur.


"Lo di mana?" Tony menghubungi seseorang melalui ponselnya. Dia sudah berada di luar sekolah siang itu setelah tadinya terjadi sedikit adu mulut dengan satpam yang awalnya tidak mau membukakan pintu gerbang.


"Banyak anak-anak nggak? Oke deh, gue on the way sekarang," pungkasnya kemudian dan langsung tancap gas.


...🌺🌺🌺...


Adam menghempaskan tubuhnya di kursi di ruangannya dan mematung menahan emosi. Dia tidak bisa membayangkan seandainya Selenia akan terus bersikap seperti ini. Rumah rasanya sudah seperti neraka selama Selenia mengabaikan dirinya. Apalagi sekarang rahasia besar mereka telah diketahui orang lain. Arrrggghh!!! Kenapa jadi begini sih?!!! Kenapa Selenia seceroboh itu menceritakan rahasianya pada Tony?!


Namun saat dia mengambil ponselnya dari dalam laci dan mendapati ada 23 panggilan tak terjawab dari Selenia, raut wajah yang tadinya gusar dan cemas kini sedikit berubah.


Tanpa pikir panjang, Adam pun langsung menghubungi nomor Selenia balik. Jantungnya sudah berdebar-debar saat mendengar bunyi tuuut di ujung telfon. Dia berharap, emosi Selenia sudah mereda.


"Hmmm," terdengar sahutan malas di ujung telfon. Tapi cukup membuat hati Adam merasa lega. Dia kangen banget dengan suara itu.


"Sayang, kamu tadi telfon aku? Ada apa? Maaf banget tadi aku lagi di luar."


"Kamu ngapain ke sekolahku Dam? Kamu ngapain temuin Tony di sana?!" sahut Selenia ketus.


Adam terperanjat dan menegakkan tubuh. Dia pikir Selenia menghubunginya untuk menyelesaikan masalah. Tapi ternyata malah membahas masalah baru. "Kamu... kamu tahu dari mana sayang? Oke, aku minta maaf tapi aku cuman..."


"Cuman apa? Kamu tuh ngapain sih Dam? Kenapa kamu nggak intropeksi diri kamu sendiri? Kamu ngapain sih temuin Tony? Hah? Untuk apa???"


"Sel please aku nggak mau berantem sama kamu. Aku udah kaya orang gila berhari-hari karena kamu cuekin aku. Please... aku berani sumpah, yang di video itu nggak berarti apa-apa. Itu cuma salah paham. Kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya ke kamu."


Terdengar hembusan nafas panjang di ujung telefon dan suara isakan.


"Sayang jangan nangis... tolong... please...." Adam semakin tidak tenang mendengar tangisan Selenia.


"Oke, aku akan kasih kesempatan buat kamu jelasin semuanya. Sampai ketemu nanti malam."


Dan Klik! Selenia langsung memutuskan obrolan tanpa menunggu jawaban dari Adam.


...🌺🌺🌺...


Tony duduk di sudut ruangan basecamp dan menghisap rokok elektriknya dalam-dalam. Cuma di sini dia bisa menggunakan benda itu. Sejak pernah divonis hampir terkena radang paru-paru sekitar satu tahun lalu, Ayahnya sangat mewanti-wanti supaya dia tidak merokok lagi dalam bentuk apapun. Basecamp begitu hening karena hanya ada Petra. Yang lain tentu masih sekolah dan pergi ke kampus. Hanya Petra lah satu-satunya orang yang selalu ada di tempat ini.


Petra menghampiri Tony dan melemparkan sebotol soft drink yang langsung dengan sigap ditangkap oleh Tony.


"Lo abis berantem?" Petra menghempaskan diri di samping Tony. "Ini masih jam sekolah kan? Ngapain lo bolos?"


Tony tidak menjawab. Dia hanya melirik Petra sebentar sembari menenggak minumannya. Petra terkekeh melihat ekspresi yang tak biasa itu. Tony yang biasanya bar-bar jadi kalem dan tak bergairah.


"Masalah cewek? Lo udah punya cewek belom sih?" tanya Petra lagi.


"Ck! Bukan lah," jawab Tony datar.


"Terus?"


"Nggak ada," Tony menghabiskan minumannya dan berdiri.


"Mau kemana lagi lo?"


"Gue mau tidur dulu. Pusing kepala gue," Tony berjalan menuju satu ruangan yang ada di basecamp.


Jadi basecamp itu merupakan bangunan minimalis satu lantai. Terdapat beberapa ruangan di sana seperti dapur, kamar mandi, ruang depan, ruang tengah yang disulap menjadi ruang mabar dan satu kamar tidur.


"Dasar bocah aneh," gumam Petra sambil geleng-geleng kepala. Daripada mengurusi Tony yang lagi nggak mood diajak ngobrol, dia memilih menyalakan PC di ruang mabar dan main game.


...🌺🌺🌺...


Waktu terasa berjalan begitu lambat bagi Adam. Sepanjang hari selama di kantor, beberapa kali dia melihat jam dinding dengan wajah gusar. Bahkan saat jam istirahat makan siang, dia tampak tidak menikmati waktu istirahatnya. Di pikirannya hanya ada Selenia dan dia ingin segera pulang setelah tadi mendengar kalau istrinya itu akan memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Jadi saat jam kerja berakhir, Adam tidak mau buang-buang waktu lagi. Setelah merapihkan meja kerjanya, dia segera bergegas meninggalkan ruangan. Di depan gedung dia bertemu dengan Renata yang tampak gusar menimang-nimang ponsel. Adam bermaksud ingin menyapa, tapi kemudian dia ingat bahwa prahara yang terjadi di rumah tangganya, besar kecil juga bersumber dari kedekatannya dengan Renata. Lalu tanpa mempedulikan perempuan itu, dia segera mempercepat langkah menuju parkiran.


Renata terperangah melihat sikap Adam. Dia hampir saja tidak mempercayai apa yang baru saja dia lihat. Kecewa dan sedih menghampiri dirinya yang merasa diabaikan.


"Lo belum pulang?" Maya muncul dari belakang, mengagetkan dirinya.


"Eh... iya ini mau pulang."


Maya mengerutkan kening. "Wajah lo kenapa sih? Lo sakit?" dia menyentuh kening Renata.


Renata menggeleng cepat. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering dan Renata kembali tersentak. Baik Maya dan dirinya sama-sama menatap ke arah ponsel di genggamannya. Sebuah nomor tanpa nama terpampang di layar.

__ADS_1


"Lhoh, kok nggak diangkat?" celetuk Maya saat Renata mereject panggilan tersebut.


"Nggak penting kok May. Gue juga nggak kenal," sahut Renata. "Ya udah pulang yuk. Udah sore," dia menunjuk mobil yang baru datang di dekat tempat parkir yang tak lain adalah sopirnya.


...🌺🌺🌺...


Setibanya di rumah, Adam langsung berlari ke lantai dua, ke kamar Selenia. Dia tersenyum lega saat mendapati pintu kamar istrinya itu tidak lagi dikunci. Ah, semoga ini pertanda baik. Batinnya.


Adam masuk ke kamar dengan hati-hati dan melihat istrinya itu tengah terlelap di atas tempat tidur. Dia kemudian duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan wajah manis Selenia yang sedang tertidur pulas. Tidak biasanya Selenia tidur jam segini, pikirnya. Perlahan dia memberanikan diri membelai rambut Selenia. Saat Selenia menggeliat pelan, Adam buru-buru menarik tangannya.


"Hmmmhh..." Selenia bersuara tapi matanya masih terpejam.


Adam tersenyum. Dia benar-benar rindu pada Selenia. Tanpa dia sadari, sudah beberapa hari selama perang dingin itu, dia tidak pernah lagi mendengar rengekan, gurauan dan sikap manjanya.


"Adam..." Selenia kembali bergeming dalam tidurnya, disusul dengan gerakan memeluk gulingnya erat.


Lagi-lagi Adam tersenyum. Selenia mengigau dan menyebut namanya. Apakah dia hadir dalam mimpi Selenia?


"Aku di sini sayang," Adam berbisik dan kembali membelai rambut Selenia. Dia memperhatikan setiap senti wajah imut Selenia beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar kamar.


Tidak tega rasanya membangunkan Selenia. Jadi lebih baik mereka ngobrol nanti malam saja pas waktunya longgar.


...🌺🌺🌺...


Tony terbangun dari tidurnya saat mendengar suara gaduh-gaduh di luar. Saat dia membuka mata, dia baru ingat kalau ternyata dia masih berada di basecamp. Jadi dia langsung tahu dari mana asal suara gaduh tersebut. Anak-anak pasti sudah pada ngumpul. Tony melihat jam di ponselnya dan seketika bangkit. Dia membuka kelambu kamar dan melihat suasana di luar yang tampak redup. Gila! Sudah berapa jam gue tidur? Pikirnya. Dia kemudian beranjak dan keluar kamar menemui anak-anak yang lagi pada sibuk dengan ponsel dan PC.


"Udah bangun pangeran?" celetuk Yoga sambil terus mengoperasikan ponselnya. Dia hanya melirik sekilas ke arah Tony saat dia baru muncul.


"Udah sampai mana mimpinya dek?" sambung Petra. Dia sedang duduk di sofa sambil menghisap vapor.


"Sampai di hatiiiimuuu bang. Hahaha...!" Ricko tak mau kalah. Dan disusul tawa yang lain memenuhi ruangan.


"Ck, apaan sih kalian?!" Tony menyusul Petra dan duduk di sampingnya. "Lo nggak bangunin gue sih?" dia menepuk lengan Petra.


"Katanya lo pusing. Ya gue nggak mau ganggu lah," Petra membela diri. "Mana tidurnya kaya orang mati," cibirnya.


Tony tak lagi menjawab dan kembali berdiri. "Udah sore nih, gue cabut dulu ya."


"Mau kemana sih Ton? Pulang malem sekalian aja kenapa?" Yoga menghentikan permainannya. "Lagian udah biasa ini."


"Gue lagi nggak mood ngapa-ngapain bro. Dan sorry kayaknya malam ini gue juga nggak ikut mabar."


"Nggak ada gunanya kalian semua maksain orang lagi gak niat," Petra menimpali. "Nggak bakal maksimal."


"Ya tapi kan turnamennya bentar lagi bro."


"Kalian semua nggak usah khawatir soal itu. Gue tetep ikut kok," kata Tony yang merasa tidak enak hati diberondong Yoga dan Ricko.


"Tapi lo akhir-akhir ini jarang main lagi bro. Strateginya gimana dong?" sahut Yoga lagi.


"Eh stop stop stop!" Petra berdiri, mencoba menengahi perdebatan kecil tersebut. "Kalian nggak usah pada heboh, okay?" dia melirik kalender yang tertempel di dinding.


"Masih ada waktu buat latihan. Dan lo Ton..." Petra menepuk bahu Tony. "Lo kalau mau pulang sekarang nggak pa-pa. Tapi please, gue minta lo konsisten ya."


Tony mengangguk dan mengacungkan jempolnya. "Makasih ya Pet," ucapnya dibarengi senyuman kecil pada Petra. "Gue cabut guys!" dia menatap Yoga dan Ricko bergantian dan segera meninggalkan basecamp.


Keputusan Tony untuk pulang berubah saat dia melintasi gapura selamat datang di komplek perumahan tempat tinggal Selenia. Dia berhenti sebentar kemudian membelokkan motornya ke sana. Menyusuri jalanan lurus, melewati rumah-rumah sekitar komplek dan berhenti di depan salah satu rumah yang tampak sepi. Bibirnya tersenyum sinis melihat mobil yang terpakir di pelataran rumah tersebut. Rumah Selenia. Hari mulai gelap dan dia masih ingin berada di sana. Raut wajah ketakutan Selenia saat tangannya ditarik Adam kemarin masih terbayang-bayang di pelupuk matanya. Dan semenjak peristiwa itu, dia sama sekali tidak tahu bagaimana kabar Selenia sampai sore ini. Tony menatap lurus ke jendela di lantai dua rumah itu. Apa itu kamar Selenia?


Tony merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Selenia. Hasilnya, tidak ada jawaban.


"Mas nyari siapa ya?" seseorang mengagetkan dirinya.


"Saya... nunggu teman Pak," jawab Tony asal.


"Temannya Pak Adam apa Mbak Selenia?"


"Saya temannya sekolahnya Selenia," Tony membuka jaket dan menunjukkan logo seragamnya pada orang tersebut.


Orang itu manggut-manggut. Setelah ngobrol sedikit, orang itu lalu pergi meninggalkan Tony.


Hampir satu jam lebih Tony berada di sana, duduk di atas motor sembari memperhatikan kamar yang diduga kamar Selenia. Matanya melebar dan senyumnya mengembang saat melihat siluet dari kamar tersebut. Itu pasti Selenia. Tony begitu yakin. Tapi baru saja Tony akan menghubungi Selenia, lampu kamar itu tiba-tiba di matikan. Dia juga sempat mendengar suara Selenia memanggil nama Adam.


Tak lama setelah itu dia mendengar pintu rumah Selenia dibuka dan melihat Adam keluar dengan langkah terburu-buru. Tony pun langsung bergerak sedikit menjauh supaya Adam tidak melihatnya. Adam membuka pintu pagar lalu masuk mobil dan meninggalkan rumah.


"Adam!!" teriak Selenia dari teras.


Nah lho? Ada apa lagi? Batin Tony mendengar teriakan itu. Saat dia ingin mencoba mencari tahu, dia justru hampir bertabrakan dengan Selenia yang saat itu juga berlari keluar halaman.


"Sel? Kamu kenapa?" tanya Tony melihat wajah Selenia yang tampak cemas.

__ADS_1


"Tony? Kok kamu ada di sini? Kebetulan kalo gitu... ayok anterin aku!" Selenia menarik lengan Tony. Dia juga terlihat buru-buru.


"Kemana Sel?"


"Ikutin Adam!" teriak Selenia tidak sabar. "Ayok Ton buruan anterin aku!!"


"Ee... iya... iya... ayok!"


Tanpa banyak bertanya lagi, setelah Selenia naik ke boncengan, Tony langsung melesat mencoba mengikuti mobil Adam yang sudah jauh sekali berada di depannya.


"Cepetan Ton... jangan kehilangan jejak..." Selenia merengek. Dia terpaksa harus berteriak untuk melawan suara angin.


"Memangnya Adam mau kemana Sel? Ngapain kita ikutin dia?"


"Udah pokoknya ikutin aja!"


Tony tidak lagi bertanya dan berusaha menstabilkan kecepatan motornya supaya tidak kehilangan jejak mobil Adam. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah, dimana Adam menghentikan mobilnya dan keluar. Selenia masih duduk di atas motor Tony, melihat dari kejauhan apa yang akan suaminya itu lakukan di sini.


Adam tampak menghampiri seorang laki-laki yang tengah menggedor-gedor pintu rumah tersebut. Laki-laki itu juga kemudian berbalik dan mendorong tubuh Adam. Dia terlihat tidak suka dengan kedatangan Adam.


"Dia siapa Sel?" Tony masih bingung.


Selenia menggeleng. "Aku juga nggak ngerti Ton. Adam kenapa berantem sama tu orang," nadanya terdengar khawatir.


Sekarang Adam terlihat sedang adu mulut dengan laki-laki itu, tapi tidak begitu jelas didengar Selenia. Keduanya terlihat sama-sama tak mau mengalah sampai akhirnya terjadi baku hantam. Selenia kaget melihat pertarungan itu dan saat dia turun dari motor untuk menghampiri, Tony langsung mencegah.


"Jangan Sel!! Bahaya!!" Tony mencekal lengan Selenia.


"Tapi aku khawatir sama Adam Ton!" Selenia meronta mencoba melepaskan diri.


"Nggak, kamu nggak boleh ke sana."


"Lepasin Ton!!" Selenia menghentakkan tangannya sekeras mungkin dan berhasil lepas dari cekalan Tony. Dia baru saja berlari beberapa langkah saat tiba-tiba mendengar seorang perempuan berteriak.


"STOP!!! STOP!! DEVAN STOPP!!" Renata keluar dari dalam rumah dan otomatis menghentikan perkelahian Adam dan mantan suaminya.



...DEVAN...


Selenia pun seketika berhenti. Dia sudah berada sekitar 10 meter dari posisi mereka bertiga.


Apa?! Adam berkelahi dengan laki-laki itu demi Renata?! Apa aku tidak salah lihat?!


Tony pun sama kagetnya melihat hal itu. Dia segera mendekati Selenia yang mematung dan sedang membekap mulutnya sendiri mencoba menahan tangis. Tapi tetap saja, Selenia tidak bisa menahan air matanya. Hal itu membuat Tony semakin geram.


Apa maksud Adam? Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu?


"ADAM!!!!!" teriak Selenia tak tertahankan lagi.


Baik Adam, Devan dan Renata bersamaan menoleh ke sumber suara. Terutama Adam, dia membelalak, kaget dan syok melihat Selenia yang entah sudah sejak kapan berada di sana. Dia melihat Selenia berdiri bersama Tony di sampingnya. Tapi sekarang bukan soal Tony, Adam merasa dunianya seketika menjadi gelap dan dia sadar bahwa kedatangannya ke sini adalah kesalahan terbesar.


Ya Tuhan... apa yang sudah aku lakukan? Tanpa memperdulikan Devan dan Renata lagi, Adam segera berbalik untuk menghampiri Selenia.


"Sel!!"


Namun terlambat, karena Selenia sudah terlebih dahulu berlari meninggalkan tempat itu.


"Buat apa lo ngejar dia?!" Tony mencoba menghadang Adam.


"Kamu nggak usah ikut campur Ton!" Adam mendorong tubuh Tony.


"Selenia yang bawa gue ke sini, mau apa lo? Jadi lo berhenti!" Tony menunjuk Adam tajam. "Biar Selenia jadi urusan gue sekarang!" dia kemudian langsung berbalik menghampiri motornya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.


"AAARRGGHHH!!! ARGGHH!!!" Adam berteriak penuh emosi sambil menendang-nendang ban mobilnya.


"Urusan kita belum selesai Ren! Kamu jangan pernah mencoba mengulur-ulur waktu lagi! Aku tetap tungguin kamu di pengadilan!" Devan menunjuk-nunjuk ke arah Renata sebelum akhirnya berlalu.


Tapi Renata tidak mempedulikan ancaman Devan. Dia cukup bernafas lega begitu mantan suaminya itu pergi dan segera menghampiri Adam yang berjongkok di samping mobil.


"Pak... Pak Adam...."


Sebelum Renata melanjutkan kata-katanya, Adam langsung berdiri, masuk mobil dan melesat meninggalkan rumah Renata. Renata hanya mampu menggigit bibir dan memejamkan mata melihat kepergian Adam yang disertai emosi.


Kini dia sadar telah meminta pertolongan pada orang yang salah.


Perempuan tadi, pasti pacarnya Pak Adam kan? Ya Tuhan... apa yang telah kulakukan??


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2