NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -70-


__ADS_3

"Kamu serius sayang?"


Adam cukup kaget dan tidak percaya melihat respon Selenia yang begitu biasa saat dia mengutarakan rencananya yang akan pergi ke luar kota. Istrinya itu tidak marah atau terlihat kecewa padahal Adam sudah berhati-hati sekali saat mengatakan kalau dia akan pergi ke sana dengan Renata dan satu staff lain--Irham.


"Dua rius malah," Selenia mengacungkan dua jarinya. "Emang kenapa sih?"


Malam ini Adam sengaja mengajak Selenia keluar--sekalian makan malam. Selain untuk menikmati suasana luar, niatnya juga karena ingin mengutarakan tujuannya itu. Karena takutnya kalau ngomongnya di rumah dan di dengar bibik kan nggak enak juga. Apalagi Selenia itu kan sensitif banget kalau dengar nama Renata. Tapi ini kok....


"Maaf nih sayang. Tapi bukannya kamu tuh.... nggak suka ya kalau aku deket sama... Renata?"


Selenia tersenyum kecil. Dia menggigit kentang goreng kesukannya. Iya sih, Adam memang belum tahu tentang pertemuannya dengan Renata tempo hari, yang akhirnya membuat dirinya terbuka hati dan kemudian pulang ke rumah.


"Itu dulu. Sebelum aku tahu kalau ternyata Renata adalah orang yang baiiiiik banget," jawab Selenia.


Adam masih belum mengerti. Selenia nggak lagi ngigau kan?


"Baik?"


Selenia mengangguk dan tersenyum. Melihat Adam yang kebingungan dan terkesan mendesak ingin tahu alasan yang sebenarnya, Selenia pun segera menghabiskan makanannya, kemudian memutuskan untuk mulai bercerita.


Adam hanya menjadi pendengar setia selama istrinya itu bercerita. Meski otaknya masih belum bisa mempercayai semuanya, tapi hatinya merasa lega. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Renata akan melakukan ini untuknya. Timbul rasa bersalah dalam dirinya karena akhir-akhir ini telah banyak mengacuhkan sekretarisnya itu, hanya karena bermaksud untuk jaga jarak.


Selenia meraih tangan Adam.


"Makanya sekarang aku nggak terlalu khawatirin hal itu. Tapi kamu harus janji, kalau kamu nggak akan manfaatin kepercayaan yang aku berikan ke kamu."


Adam menarik nafas panjang dan tersenyum lebar. "Kita kan udah janji bakalan sama-sama terus. Nggak pernah sekalipun di otakku terlintas keinginan untuk berpaling dari kamu atau menduakan kamu. Aku tu sayaaaaang banget sama kamu."


Meski kalimat itu tidak hanya sekali dua kali diucapkan oleh Adam, tapi tetap saja selalu bisa membuat hati Selenia meleleh. Rasa haru membuat matanya berkaca-kaca.


"Meskipun..." Adam melanjutkan kalimatnya dengan tatapan sayang yang berubah menjadi tatapan jahil.


Saat itu air mata Selenia telah menetes di pipi. "Meskipun apa?" ucapnya terbata.


"Duuuh kok nangis sih sayang?" Adam buru-buru menyeka air mata itu dengan kedua jempolnya. "Jangan nangis dong."


"Meskipun apa dulu?" Selenia merajuk.


Adam menggeleng. Nggak tega rasanya untuk membercandai Selenia. "Enggak kok sayang. Nggak pa-pa."


Selenia menarik tangannya dan memberengut. "Ihh meskipun apa? Kebiasaan deh gantungin kalimat."


"Tapi janji nggak boleh marah ya. Aku cuma bercanda lho."


"Iya janji."


"Meskipun........" Adam sengaja mengulur kalimatnya hingga Selenia tampak mulai memiringkan kepala. ".....kadang bikin jengkel," bisiknya kemudian.


Seketika kepala Selenia langsung menegak. Dia sudah bersiap untuk memprotes tapi Adam langsung menyahut.


"Eit kan udah janji, nggak boleh marah."


Jadi Selenia cuma memejamkan mata dan mendengus lirih.


Tanpa mereka sadari, seseorang yang berada di tempat yang sama, tapi duduk di meja di ujung ruangan tengah memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dengan tatapan benci.


...🌺🌺🌺...


Di tempat lain, tepatnya di basecamp tongkrongan Tony, Tony baru saja datang dan memarkirkan motor saat matanya melihat seorang perempuan setengah baya duduk berdampingan dengan Petra. Basecamp masih tampak sepi karena anak-anak belum pada datang.


Perempuan itu berdiri menyambut kedatangan Tony dan melempar senyum. Kening Tony mengernyit begitu melihat dengan jelas siapa dia.


"Mama?" gumam Tony sangat lirih.


"Tony sayang. Kamu datang nak?" perempuan itu mendekati Tony yang berdiri mematung di tepi teras. Dia mencoba membelai wajah Tony namun tangan Tony justru menampik dengan kasar.


Perempuan itu mulai menangis.


Petra yang melihat itu semua tidak bisa berbuat banyak. Dari awal perempuan itu datang ke sini, dia sudah menduga kalau kejadiannya pasti bakal kaya gini--kalau mereka berdua sampai bertemu. Petra sangat tahu latar belakang hubungan Tony dan Riska (Mamanya Tony), karena pernah mendengar cerita itu dari Tony sendiri. Jadi dia lebih memilih untuk menyingkir dan masuk ke basecamp. Dia tidak mau ikut campur urusan mereka.


"Mama??" ucap Tony lirih dengan tatapan sinis. Dia tidak menyangka malam ini akan mendapat kejutan yang benar-benar membuatnya syok saking terkejutnya. "Hahaha... masih ingat sama aku? Jangan-jangan kamu salah orang."


"Sayang, jangan bicara begitu. Mama nggak pernah lupa sama kamu. Mama selalu ingat sama kamu."


Tony tersenyum sinis. "Kenapa Mama ke sini?" dia melempar helmnya dengan asal ke sudut teras, membuat Bu Riska terkejut.

__ADS_1


Begitu juga Petra yang ada di dalam basecamp. Dia langsung berlari mengintip melalui jendela.


"Mama kangen sama kamu sayang. Tolong izinkan Mama buat meluk kamu."


"BULSHIT MA, BULSHIT!!" teriak Tony tak tertahankan lagi. "Kemarin Mama kemana aja? Waktu ulang tahun aku Mama kenapa nggak datang? Hah?!"


"Mama datang Tony. Tapi Mama malu buat masuk ke dalam. Tolong maafin Mama."


Wajah Tony sudah membara menahan gejolak emosi yang saling berbenturan di dalam hatinya. Di dalam hatinya dia memang merindukan sosok Ibu yang sudah lebih dari 10 tahun menghilang dari kehidupannya. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan amarah mengingat Mamanya yang dulu rela meninggalkan keluarga hanya demi laki-laki lain.


"Sekarang lebih baik Mama pergi!" Tony menunjuk lurus ke jalan.


"Tony... mama mohon nak," Bu Riska terus memohon sembari menurunkan badannya dan berlutut.


Tony seketika langsung mundur menjauh. Dia tidak mau terpancing dengan drama itu karena hatinya terlalu sakit. Dia tidak bisa memaafkan Mamanya sekarang.


"Mama pergi," ucapnya mencoba pelan.


Dengan posisi yang masih berlutut, Bu Riska memandang Tony nanar. Air mata sudah membasahi pipinya. Perlahan dia mulai bangkit dan berdiri. Petra yang mengintip dari dalam, menaruh iba pada Bu Riska. Tapi dia tetap tidak mau ikut campur. Apalagi posisi Tony sedang dalam emosi yang tak terkendali. Bisa semakin kacau semuanya.


Bu Riska tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya terisak dan perlahan melangkah meninggalkan basecamp. Saat sudah berjalan sampai di ujung halaman, dia kembali berhenti dan menoleh melihat Tony yang terduduk di kursi sambil masih mengamati dirinya. Dia tahu Tony pasti tidak benar-benar mengusirnya. Tapi dia juga sadar kalau kedatangannya pasti sudah membuat Tony sedih dan terluka. Dalam hati dia berjanji akan memperbaiki semuanya. Terutama hubungannya dengan Tony, anak semata wayangnya.


Begitu Bu Riska tidak lagi terlihat, Petra keluar dan menghampiri Tony.


"Sabar ya bro," ucapnya sambil merangkul bahu Tony dari samping. "Gue tahu lo nggak siap untuk ini. Gue tahu lo pasti kaget ngeliat nyokap lo yang tiba-tiba datang."


Tony tidak menjawab. Lalu tanpa merespon ucapan Petra, Tony langsung masuk ke basecamp meninggalkan Petra di teras sendirian. Niatnya ingin mabar di basecamp bersama anak-anak mendadak hilang. Setelah melempar jaket dan ponselnya ke sofa, dia memilih untuk menelusup ke kamar. Padahal saat itu anak-anak mulai berdatangan. Dari dalam kamar dia mendengar Yoga, Ricko, Febian dan Gilang yang menanyakan kemana dirinya pada Petra.


"Dia tidur. Nggak mau di ganggu. Pusing katanya," jawab Petra asal. "Udah lah kita mabar sendiri aja."


"Gue curiga tu bocah udah punya pacar deh. Makanya galau-galauan melulu," terdengar Gilang menyahut.


Tony tersenyum getir mendengar celotehan anak-anak tentang dirinya yang semuanya salah.


Pacar? Hahaha... kayaknya itu hanya sebatas mimpi saja. Batinnya dan wajah Selenia mendadak menghiasi benaknya.


...🌺🌺🌺...


Tak mau kalah dari Selenia yang katanya malam ini makan di luar sama Adam, Cia langsung heboh menelfon Marvin dan mengajaknya jalan-jalan.


Tanpa pikir panjang lagi, Marvin pun langsung mengiyakan ajakan tersebut. Meski tadi janjinya nggak pengen makan-makan, toh mereka tetep mampir juga ke warteg. Baru setelah kenyang, mereka kemudian keliling Jakarta menggunakan motor untuk menikmati city light.


Kalau ada kontes, Marvin dan Cia sepertinya bisa masuk kategori couple goals tahun ini karena hubungan mereka memang asyik banget. Sepanjang jalan menikmati suasana malam itu, mereka bernyanyi-nyanyi di atas motor dan sesekali tertawa. Bahkan saat Marvin iseng mengeluh capek, Cia pun dengan sigap langsung memijit pundak Marvin meski motor masih berjalan.


"Bentar yang bentar," Marvin mendadak menghentikan motornya di tepi jalan.


"Kok berhenti? Ada apa yang?"


Marvin melihat seorang perempuan berjalan ke arah mereka sambil menenteng tas. Karena merasa begitu familiar, itulah kenapa Marvin berhenti. Cia sendiri masih bingung dan celingukan di atas motor.


"Tante Riska?" sapa Marvin saat perempuan itu melewati motornya.


Perempuan itu berhenti. Dia menoleh ke arah Marvin dan Cia dan menatap mereka bergantian.


"Tante Riska kan?" Marvin memperjelas.


"Marvin?" Bu Riska buru-buru menyeka air matanya karena sepanjang perjalanan dari dalam basecamp tadi dia terus menangis. "Apa kabar nak?" dia mencoba tersenyum.


Marvin dan Cia kemudian turun dari motor dan menyalami Bu Riska.


"Cia," ucap Cia memperkenalkan diri.


"Baik tante. Tante sendiri gimana? Tante dari mana?" tanya Marvin.


"Yaaa.... beginilah keadaan tante sekarang Vin," Bu Riska tersenyum getir. "Tadi Tante dari....." merasa tidak mungkin menjawab dari basecamp Tony, dia memilih untuk berbohong. "...dari rumah temen."


"Terus sekarang Tante mau kemana?"


"Tante mau pulang. Rumah tante cuma di depan sana kok," dia berbohong lagi dan menunjuk ke depan dengan asal.


Padahal sebenarnya, dia sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi semenjak diceraikan suami keduanya beberapa bulan yang lalu. Malam ini kalau waktunya nuntut dia baru mau cari kontrakan lagi. Kontrakan lamanya tidak bisa lagi menerima janda seperti dirinya, karena dianggap meresahkan rumah tangga penghuni kontrakan lain.


"Oh gitu. Ya udah tante, hati-hati kalau gitu."


"Tante duluan ya nak," ucapnya dan berlalu.

__ADS_1


Cia masih bingung kok Marvin kenal sama perempuan itu.


"Dia siapa sih yang?" tanya Cia setelah Bu Riska jauh.


"Dia itu mamanya Tony."


Mata Cia melebar. "Hah...??? Serius???"


"Iya, tapi udah cerai dari Papanya Tony."


"Kok bisa?" tanya Cia makin kepo.


"Mana ku tahu. Hmmm, ya udah nggak usah kepo deh yang. Nggak penting dan nggak baik juga terlalu ingin tahu urusan orang. Lanjut jalan lagi yuk," Marvin kembali menaiki motornya.


Cia pun mengikuti ajakan Marvin, meski sesekali masih melihat ke belakang, ke arah perempuan itu yang berjalan semakin jauh.


...🌺🌺🌺...


Semalam Pak Tono baru saja kembali ke rumah dan pagi ini sudah harus mulai mengantar Selenia ke sekolah.


"Wah, Pak Tono udah balik lagi Sel?" tanya Cia begitu Selenia keluar dari mobilnya.


"Iya dong. Gue gitu loh."


Cia mencibir. "Ih dasar tukang merajuk."


Mereka kemudian berjalan menuju kelas. Namun di pos satpam, Pak Sauhari, satpam sekolah mereka tiba-tiba memanggil Selenia.


"Mbak Selenia."


"Iya Pak?" Selenia dan Cia sama-sama menoleh.


"Ini tadi ada yang titip buat mbak," Pak Sauhari menyerahkan kotak seukuran buku tulis berbentuk kubus ke Selenia. Kotak itu berwarna coklat tua polos tanpa tulisan apapun.


Kening Selenia mengernyit sebelum menerima kotak tersebut. Apalagi dia merasa tidak pernah memesan atau membeli apapun via online. Dan kalaupun dia membeli, dia tidak pernah menujukan alamatnya ke sekolah.


"Apa itu Pak?" Selenia menunjuk kotak tersebut.


"Nggak tahu mbak, tadi yang nganter kesini kurir kok."


"Udah terima aja," Cia menyodok lengan Selenia. "Mungkin secret admirer. Hehehe," godanya. Padahal Selenia justru merasa aneh.


"Ya udah makasih ya Pak," ucap Selenia setelah akhirnya menerima bingkisan tersebut.


Mereka lalu berjalan menuju kelas sambil menerka-nerka apa isi kotak itu.


"Siapa sih? Aneh banget. Nggak ada nama pengirim sama alamat jelasnya," Selenia masih bingung.


"Namanya juga screet admirer. Ya pasti kaya gitu lah," Cia masih bersikukuh dengan dugaannya.


Sesampainya di kelas, Selenia tidak langsung membuka kotak itu dan hanya meletakkan di atas meja.


"Buka dong. Gue juga pengen lihat," kata Cia. "Penasaran gue."


Selenia menggeleng. "Enggak ah, gue takut. Lo aja gih yang buka."


"Hmmm, takut kenapa sih? Siang-siang bolong ini. Lagian kalau gue yang buka ya nggak sopan lah. Itu kan buat lo. Udah cepet buka gih, mumpung belum bel."


Tidak mau berdebat hanya untuk membahas siapa yang akan buka kotak, Selenia pun dengan berhati-hati mulai membukanya. Ada beberapa lapis kertas yang membungkus kotak tersebut. Masing-masing berwarna coklat tua, abu-abu dan terakhir putih.


"AAAAAAAAA!!!!!" Selenia dan Cia menjerit bersamaan begitu melihat isi dari kotak tersebut yang ternyata burung mati dengan luka sayatan di bagian leher. Bercak darah pun berceceran di dalam kotak. Reflek Selenia langsung melempar kotak dan isinya itu ke lantai.


Selenia dan Cia sama-sama gemetar. Beruntung di dalam kelas tidak ada siapa-siapa kecuali mereka.


"Ci... siapa yang ngelakuin ini sama gue Ci?" Selenia terduduk lemas di kursinya.


Cia masih memiliki sedikit keberanian untuk mengambil benda tersebut dan membuangnya ke tempat sampah di belakang gedung sekolah.


"Maksudnya apa ya Sel?" tanya Cia cemas.


Selenia masih gemetar ketakutan. Seumur-umur baru kali ini dia menerima benda semacam itu. Dan itu membuatnya sangat ketakutan.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2