
Adam sebenarnya telah sampai di hotel tempatnya menginap sejak pukul 11 siang tadi. Tapi karena saat itu dia, Renata dan Irham langsung dihadapkan pasa tugas dan acara yang tidak bisa ditunda, jadi dia belum sempat memberi kabar pada Selenia.
Baru kemudian sorenya setelah selesai mandi, dia segera memutuskan untuk menelfon Selenia.
Namun saat baru saja mengaktifkan ponsel, sebuah pesan video dari nomor tanpa nama masuk. Kening Adam mengerut. Video apa sih? Jempolnya menekan tombol play dan seketika matanya membelalak.
Video itu menunjukkan rentetan kejadian sebelum Selenia kecelakaan kemarin.
Video pertama, dalam video itu memperlihatkan seorang perempuan berseragam SMA berdiri di tepi jalan, dan kemudian berjalan mendekati halte. Kamera itu semakin mendekat mengikuti langkah si perempuan dan seketika terlihat perempuan di depan kamera itu jatuh tersungkur karena sengaja ditubruk dari belakang.
"Aduuhh!!" terdengar teriakan si perempuan yang suaranya sangat dikenali oleh Adam. Itu suara Selenia.
Tak lama setelah suara itu, kamera kembali bergerak dan memperlihatkan posisi Selenia yang masih bersimpuh sembari menatap ke atas. Selenia menatap ke wajah pemegang kamera itu dan sepertinya kamera itu letaknya tersembunyi--mungkin di dalam jaket atau baju. Selenia mendongak dengan wajah ketakutan. Lalu tak lama terdengar langkah kaki setengah berlari mendekati mereka.
"Sel, kamu nggak pa-pa?" dia Tony. Dia datang untuk membantu Selenia berdiri dan si pemilik kamera itu segera pergi.
Video kedua, memperlihatkan suasana SMA Bhakti Nusa yang masih sepi karena masih pagi dan baru ada beberapa anak yang datang. Lalu kamera itu mulai mengarah ke sudut lain dan kemudian mulai bergerak diiringi suara deru mesin motor. Sampai kemudian deru motor itu berhenti tepat di depan gerbang SMA Bhakti Nusa.
"Permisi Pak," terdengar suara sedikit berat dari si pembawa kamera.
Pak Satpam yang tadinya sedang berdiri di dalam pos sambil mengamati anak-anak yang masuk gerbang, menoleh dan mendekat.
"Ya Mas? Ada apa ya?" tanya Pak Satpam.
Terdengar bunyi kresek-kresek saat si pembawa kamera mengorek-ngorek isi rombong. Dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna coklat tua lalu diserahkan pada si satpam.
"Ini apa Mas?" tanya Pak Satpam.
"Paket Pak. Untuk Selenia. Di sini ada kan siswi yang bernama Selenia?" tanya si pembawa kamera.
Jantung Adam sudah berdegup kencang melihat rentetan video yang belum ada setengah putaran tersebut.
Ada apa ini? Kenapa Selenia? Kenapa dia mengikuti Selenia.
Namun Adam tetap menonton video itu sampai akhir.
Pak Satpam tampak terdiam dan si pembawa kamera itu mengeluarkan ponsel kemudian menyebutkan nama lengkap Selenia.
"Selenia Effendi," ucapnya.
Baru setelah nama lengkap Selenia di sebut, Pak Satpam pun mengangguk.
"Tapi ini dari siapa Mas?" Pak Satpam membolak-balik kotak polos tersebut.
"Ini memang kejutan kok Pak. Tooling Bapak berikan saja untuk dia."
Pak Satpam terpaksa mengangguk karena tak lama setelah itu terdengar bunyi berisik anak-anak yang mulai berdatangan. Lalu si pembawa kamera itu pergi dari sana.
Video ketiga, kamera itu menampilkan jalanan basah karena diguyur air hujan dan suara deru motor yang keras membahana. Dari suaranya, Adam yakin itu motor sport. Kamera itu pasti di letakkan di atas helm, seperti yang biasa dilakukan para pemotor saat melakukan touring. Kamera mendekat pada mobil yang berhenti di tepi jalan dan satu taxi di depan mobil tersebut. Kemudian secepat kilat, saat seorang perempuan keluar dari mobil itu untuk mendekati taxi di depannya, terdengar suara gas yang ditarik untuk mempercepat laju motor dan DASH!! si pemotor dengan sengaja menyerempet perempuan itu hingga membuatnya terjengkang ke tepi jalan.
"SEL!!!" Teriak Adam reflek melihat rekaman tersebut. Dia membekap mulut dan seketika emosinya hampir meledak melihat rekaman di video itu.
Kamera itu menjauh dari posisi Selenia yang tersuruk di tepian. Dan yang membuat Adam semakin syok, sebelum pemotor itu pergi, dia sempat memainkan gasnya dengan sengaja sambil menatap ke arah Selenia yang mulai di tolong Pak Tono dan sopir taxi. Permainan gas itu sama persis dengan orang yang beberapa waktu yang lalu tiba-tiba memepet mobilnya saat dia pulang dari kantor. Ducati merah? Dan ternyata itu bukan Tony. Tony justru menolong Selenia seperti di video pertama. Jadi dia siapa? Dan apa maksudnya melakukan itu pada Selenia?
Adam bangkit dan berdiri dengan gusar. Perasaan khawatirnya tak terbendung. Dia mondar-mandir di kamar dengan ponsel menempel di telinga mencoba menghubungi Selenia.
"Angkat sayang... angkaaat...." ucapnya berkali-kali. Tapi Selenia tak juga mengangkat telfonnya. Adam mencoba menelfon lagi dan lagi, tapi masih tidak ada jawaban.
Tring!
Sebuah pesan masuk di ponselnya.
+6281234666xxx: [kamu sudah memulai urusan denganku. Jadi, ayo kita nikmati saja permainannya.]
Adam meremas ponselnya dan langsung menghubungi nomor tersebut.
"Halo?! Siapa kamu?!" tanya Adam memburu begitu panggilannya pada nomor itu diterima.
Tidak ada sahutan. Hanya terdengar suara nafas yang begitu teratur.
"Halo!!" teriak Adam.
__ADS_1
"Hahahahahahahaha..." terdengar tawa dan kemudian sambungan itu terputus. Saat Adam mencoba untuk menghubungi nomor itu lagi, nomornya justru tidak aktif.
"Astaga?!" Adam meremas kepalanya sendiri. Dia mulai merasa kalut.
...🌺🌺🌺...
Selenia baru saja masuk kamar saat mendengar ponselnya berdering di atas bantal. Dia baru saja dari luar mengantarkan Cia sampai di ujung tangga karena sahabatnya itu mau pulang. Mata Selenia berbinar saat melihat siapa yang menelfon.
"Halo Dam," sapanya riang sembari perlahan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sayang, kamu kemana aja ditelfon dari tadi nggak di angkat? Kamu nggak pa-pa kan? Kamu baik-baik aja kan di rumah?"
Kening Selenia mengerut mendengar pertanyaan beruntun Adam di ujung telfon.
"Aku? Aku baik-baik aja kok, nggak ada masalah. Tadi aku lama angkat telfon kamu soalnya aku nganter Cia sampai tangga, Dam. Dia barusan ke sini jenguk aku."
Terdengar nafas Adam bergemuruh.
"Sayang please, aku mau nanya satu hal. Kenapa kamu selama ini nggak pernah cerita ke aku kalau ada seseorang yang nguntit kamu?"
Selenia semakin heran mendengar pertanyaan Adam. Nguntit apa sih? Dia sama sekali nggak ngerti.
"Kamu ngomong apa sih Dam? Nguntit apaan? Kamu mabok?"
"Bilang sama aku kamu habis nerima paket misterius di sekolah. Iya kan? Bilang sama aku kamu pernah ditubruk orang asing di depan sekolah. Iya kan?"
Selenia menegakkan tubuhnya. Seketika dia langsung ingat tentang kejadian itu. Dan yang bikin dia heran, dari mana Adam bisa tahu itu semua?
"K-kamu tahu dari mana Dam?" Selenia celingukan melihat sekeliling kamarnya. Padahal dia sudah berusaha melupakan kejadian paket misterius itu.
"Bilang sama aku, kamu dapat apa sayang?"
"Dam... itu nggak penting kok. Lagian itu udah beberapa hari yang lalu. Mungkin itu orang iseng aja. Buktinya setelah itu aku nggak dapet apa-apa lagi."
"Itu nggak bener sayang. Orang yang ngirim paket itu adalah orang yang sama dengan orang yang nyerempet kamu di jalan kemarin...!Dia sengaja ngelakuin itu sama kamu!"
Apa?! Mulut Selenia menganga. "Apa Dam?!! K-kamu..."
"E... isinya... b-burung m-mati... y-yang lehernya digorok..."
"Astagaaaaa.... astaga... astaga..."
"Kenapa sih Dam?? Adam apa sebenernya?" Selenia yang tadinya riang dan santai berubah jadi cemas.
"Sayang dengerin aku," Adam menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. "Selama aku nggak di rumah, jangan pernah keluar sendiri. Jangan kemana-mana."
"Aku nggak mungkin kemana-mana Dam. Kaki aku masih sakit," potong Selenia semakin tidak tenang.
"Oke. Dan tolong, kalau udah malem, tutup dan kunci semua pintu dan jendela. Minta tolong sama Pak Tono atau Bi Iyah buat nemenin kamu. Dan kamu juga jangan tidur sendiri. Minta suruh temenin Bi Iyah, oke?"
"Dam ini sebenarnya ada apa??"
"Lakuin aja apa yang aku suruh sayang. Ya... please.... aku pengennya bisa pulang sekarang, tapi itu nggak mungkin. Jadi tolong kamu lakuin aja apa yang aku suruh."
"I-iya. Iya aku ngerti," Selenia turun dan tempat tidurnya dan berjalan pelan-pelan keluar kamar. "Ini aku mau panggil Bibik dulu."
"Oke sayang. Pokoknya ingat pesan aku. Aku sayang kamu. Nanti aku telfon lagi."
Setelah obrolan mereka terputus. Selenia segera pergi ke ujung tangga dan memanggil Pak Tono dan Bi Iyah bergantian yang langsung menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Saat Selenia mengintruksikan apa yang dikatakan Adam di telfon, mereka berdua justru terheran-heran. Kenapa? Nggak biasanya seperti ini?
"Udan Pak... Bik... pokoknya tutup aja... kunci semua!" kata Selenia. "Ini Pak Adam yang minta."
"Baik mbak," Pak Tono segera berbalik dan mulai menutup jendela serta pintu.
"Iya Non," Bi Iyah menimpali dan segera melakukan apa yang diminta Selenia.
Sementara itu Selenia pun mulai menutup semua kelambu di lantai 2. Termasuk yang di kamar Adam dan kamarnya. Saat hari mulai gelap, Selenia memanggil Bi Iyah untuk menemani dia di kamarnya.
Ada rasa takut yang timbul di hati Selenia, serta muncul berbagai pertanyaan tentang bagaimana Adam bisa tahu apa yang telah terjadi padanya beberapa hari kemarin terkait orang aneh yang sudah coba dia lupakan. Dan kenapa orang itu mencelakainya? Selenia bergidig mengingat kecelakaan yang dia alami kemarin hingga membuat kaki kanannya banyak luka dan harus dijahit. Kepalanya juga kian berdenyut saat tahu bahwa itu semua telah direncanakan.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Adam tidak bisa tenang. Bahkan saat makan malam bersama Irham dan Renata, dia selalu melihat ke ponselnya yang dia letakkan di atas meja. Dia tidak bisa berhenti khawatir dan terus penasaran dengan siapa pengirim video itu.
Bahkan sepanjang malam itu dia tidak bisa tidur dan terus berkomunikasi dengan Selenia melalui WA sampai hampir tengah malah. Adam menanyakan hasil kontrol kaki Selenia dan istrinya itu bilang katanya nggak ada masalah. Tinggal nunggu jahitan kering untuk di buka yang kemungkinan akan dilakukan lusa. Pengirim pesan misterius itu juga tidak lagi mengirimkan apa-apa di ponselnya.
Selenia: [Dam aku ngantuk banget, aku tidur dulu ya.]
Adam melirik jam dinding kamar hotelnya. Sudah jam 11.50 malam.
Adam: [Kamu nggak tidur sendiri kan sayang?]
Selenia: [(mengirim foto selfie yang menunjukkan dirinya dan Bi Iyah yang sudah tertidur pulas di sebelahnya). Nih kalau kamu nggak percaya]
Adam tersenyum dan merasa lega melihat foto yang dikirim Selenia.
Adam: [Ya udah sayang. Jaga diri baik-baik ya. Nice dream. Love you.]
Selenia: [Love you too 😘]
Adam menghela nafas dan menyimpan ponselnya di bawah bantal. Dia juga merasakan matanya yang mulai mengantuk. Tapi sulit sekali memejamkan mata setiap kali ingat video tadi. Kenapa dia menguntit Selenia?
Adam mengambil ponselnya kembali dan mencoba menghubungi si nomor misterius. Tapi nomor itu masih tidak aktif.
Ya Tuhan. Lindungi istriku.
...🌺🌺🌺...
Pak Tono penasaran kenapa tiba-tiba Selenia meminta dia dan Bi Iyah menutup dan mengunci semua pintu dan jendela seperti orang ketakutan. Itulah kenapa, malam ini saat Bi Iyah dan Selenia sudah tidur, dia memberanikan diri untuk mengecek ke sekeliling rumah. Sebagai satu-satunya lelaki yang ada si rumah itu selama Adam tidak di rumah, dia merasa keamanan orang di rumah ini adalah tanggung jawabnya.
Dengan berbekal senter dan alat pemukul bola kasti yang dia dapat dari gudang, dia berjalan dengan hati-hati memeriksa sekeliling rumah. Sambil bersenandung lirih untuk mengusir rasa takut yang tiba-tiba menyergap perasaannya, dia mengarahkan cahaya senter ke setiap sudut pelataran rumah.
Tidak ada apa-apa. Hanya suara desiran angin dan lolongan anjing dari kejauhan. Pak Tono mengusap-usap kedua lengannya sendiri dan merapatkan jaket. Setelah berkeliling ke belakang, kanan dan kiri rumah, dia mulai bergerak ke bagian depan.
Aman. Pintu pagar sudah tertutup rapat. Batinnya sembari mengusap dada. Tapi....
"Siapa tuh?" gumam Pak Tono saat matanya menangkap bayangan hitam berkelebat di depan pagar.
Dulu dia sudah terbiasa ronda di kampung, jadi keluar malam-malam begini sudah menjadi hal yang biasa baginya. Sambil bersiaga dengan tongkat pemukulnya, Pak Tono melangkah dengan hati-hati mendekati asal bayangan berkelebat tersebut. Dan seketika matanya membelalak saat menatap seseorang tengah berdiri tegap memandang ke arah rumah mereka.
"Siapa kamu!!" teriak Pak Tono.
Orang yang tengah berdiri tadi kaget dan langsung berlari menjauh. Dia sempat terseok-seok dan terjatuh namun dengan segera langsung berdiri dan kembali berlari sekencang mungkin.
"Hei tunggu!!" Pak Tono berusaha mengejar tapi langkah orang tersebut lebih cepat darinya. Jadi dia terpaksa berhenti dan membungkuk karena ngos-ngosan.
Pak Tono masih penasaran, tapi tidak mungkin untuk mengejar dan menangkap orang itu karena sudah terlewat sangat jauh. Dia kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah meski perasaannya masih tidak tenang.
...🌺🌺🌺...
Pagi hari, Adam terbangun dan langsung mengecek ponselnya. Dia cukup merasa lega karena nomor misterius itu tidak mengiriminya pesan lagi. Justru pesan dari Selenia yang membuatnya tersenyum dan sedikit melupakan tentang peristiwa terror itu.
Selenia: [Pagi sayang... udah bangun belum? Jangan terlalu khawatirin aku di rumah. I'm okay with Bibik. Dan nggak ada hal aneh yang terjadi kok. Malam ini aku tidur nyenyak banget malah.]
Adam menciumi ponselnya demi membaca pesan Selenia yang memanggilnya dengan kata Sayang. Tumben, pikirnya.
Adam: [Baru bangun sayang. Syukurlah kalau begitu. Semoga saja itu nggak berlanjut. Tapi aku tetep gak terima karena dia udah buat kamu celaka.]
Selenia: [Udahlah sayang... aku nggak mau kamu ribut sama orang. Lagian kaki aku juga udah mulai baikan kok. Jahitannya sebentar juga udah mau dibuka.]
Adam: [Oke, kalau gitu aku mau siap-siap dulu. Keburu siang.]
Selenia: [take a care ya... love you 😘]
Adam: [Love you more 😘😘😘😘😘😘]
Setelahnya Adam langsung bergegas untuk bersiap. Namun baru beberapa langkah menuju kamar mandi, kata-kata 'aku nggak mau kamu ribut sama orang' yang di sebut Selenia di pesannya tadi mengingatkan dia pada seseorang.
"Devan?!" gumam Adam. Dia terus melanjutkan langkah ke kamar mandi dengan pikiran yang tiba-tiba di selimuti dengan peristiwa perkelahiannya dengan Devan malam itu di rumah Renata.
Apakah ini ada hubungannya dengan Devan? Apa Devan yang melakukan semua ini? Apa Devan yang telah menguntit Selenia dan membuatnya celaka? Kalau memang iya, kenapa Selenia yang menjadi sasarannya?
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...