NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -92-


__ADS_3

"Leukimia?" ucap Pak Anton terbata saat Dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU memberitahukan penyakit yang diderita mantan istrinya.


Tony yang sedari tadi duduk dengan gelisah ditemani Marvin, berdiri sejenak namun kembali terduduk lemah begitu mendengar informasi sang Dokter. Mamanya menderita Leukimia? Sudah berapa lama?


"K-kalau boleh saya tahu, sudah berapa lama beliau mengidap penyakit itu Dok?" pertanyaan Pak Anton mewakili isi hati Tony. Dia pun nampak masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja didengar. Dia melihat Tony sekilas. Anak itu sedang menunduk sambil meremas-remas rambutnya sendiri.


"Kalau melihat dari gejala yang dia alami sekarang, kemungkinan Bu Riska sudah menderita penyakit ini selama kurang lebih 2 atau 3 bulan," terang si dokter. "Penyakitnya sudah memasuki stadium empat pak, dan selama itu, sepertinya Bu Riska tidak pernah melakukan pengobatan, itulah kenapa sel kankernya menyebar sangat cepat."


Nafas Pak Anton seolah tertahan. Dia mengepalkan tinjunya geram. Dia sudah mendengar semua cerita tentang perlakuan suami baru mantan istrinya itu yang hanya manis di awal. Bu Riska mulai di campakkan saat dianggap sudah tidak bisa memberikan apa-apa lagi. Tapi Bu Riska tidak menceritakan tentang penyakit yang dia derita padanya saat mereka beberapa kali bertemu. Dia hanya selalu mengatakan bahwa dia sangat merindukan anak semata wayangnya dan ingin menebus semua waktu yang pernah hilang bersama Tony semenjak dia menikah lagi.


Tony terisak. Semua nasehat yang diucapkan Marvin kala itu seolah merasuki setiap relung hatinya. Apakah sekarang semuanya benar-benar terlambat?


Jangan sampai lo merasakan penyesalan di saat semuanya sudah terlambat. Itu hanya akan menjadi sakit hati yang tidak pernah berujung.


Marvin mendekat dan merangkul punggung Tony, berusaha menguatkan dirinya yang seketika terlihat sangat rapuh.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk dia Dok. Apapun!" sayup-sayup terdengar Pak Anton yang masih berbicara dengan dokter di depan ruang ICU.


"Kami pasti akan berusaha Pak. Meskipun kemungkinan untuk sembuh 100 persen sangatlah kecil," Dokter itu memegang bahu Pak Anton. "Nanti setelah Bu Riska sadar dan kondisinya stabil, kita sama-sama jadwalkan kemotrapi untuk beliau."


"Iya Dok," Pak Anton mengangguk cepat. "Pokoknya lakukan yang terbaik untuk..... Ibu dari anak saya."


Kalimat 'Ibu dari anak saya' yang keluar dari mulut Pak Anton membuat kepala Tony menegak. Saat dia menatap Papanya, pandangan mereka sama-sama bertemu dan Pak Anton mengangguk.


...🌺🌺🌺...


Cia baru saja keluar dari rumah Selenia tepat saat Adam juga baru saja tiba di rumah. Dia baru saja mengantarkan pesanan Selenia yang meminta dibelikan parfum bayi.


"Hei Ci, kok buru-buru? Udah lama ya?" sapa Adam begitu keluar dari mobil.


"Lumayan..." Cia cengar-cengir. "Iya nih..... kak..." dia menggaruk-garuk kepala karena bingung dan canggung harus memanggil suami sahabatnya itu dengan sebutan apa.


Meskipun dia dan Selenia bersahabat, tapi Cia dan Adam jarang sekali berinteraksi. Pengennya sih manggil Oom, tapi kok kaya nggak enak banget. Adam masih terlalu muda untuk dipanggil menggunakan sebutan itu.


"Ohhh gitu? Gimana Selenia? Masih marah-marah nggak?"


Kening Cia mengerut. "Marah-marah? Maksudnya?"


"Hmmmhh... tau nggak sih Ci, akhir-akhir ini aku tuh ngerasa sikap dia aneh dan kadang juga super labil banget."


"Masa sih kak? Aneh gimana?"

__ADS_1


"Oh ya aku mau nanya dulu sama kamu... Selenia sama Tony tuh.... mereka punya hubungan khusus nggak sih?" tanya Adam.


Cia menggeleng. Dan dia jujur. "Enggak, mereka cuma temen aja. Kita bertiga memang sering bareng-bareng di sekolah. Memangnya ada apa?"


Adam masih kurang yakin. "Yang bener?" tanyanya penuh selidik, dan Cia menggeleng mantap. "Tapi masa iya, kemarin-kemarin aku tu pernah pergokin Selenia lagi mantengin akun Instagramnya Tony. Dan kaya yang serius banget. Apa tuh kalau bukan karena ada sesuatu? Jujur aja Cia...."


Ingatan Cia melayang pada kejadian dimana Selenia yang tiba-tiba begitu menyukai hidung Tony--efek ngidam. Juga cerita Selenia yang dicemburuin Adam karena hal itu. Ya ampun Dam, coba aja gue bisa kasih tahu alasan yang sebenarnya ke elo kenapa dia bisa kaya gitu. Cia membatin.


"Beneran kak, mereka nggak ada hubungan khusus. Dan kalau soal itu--foto di Instagram--aku nggak paham deh, ya mungkin aja dia lagi pengen ceki-ceki aja. Biasalah... kalau jiwa stalkernya keluar Selenia emang suka gitu....." Cia bingung harus jawab apa jadi cuma asal ngelantur.


"Tapi serius. Mereka pure cuma temen aja," dia terus berusaha meyakinkan Adam.


"Hhhh... I hope so..." Adam mendesah. "Terus yang paling aneh nih, dia pernah tiba-tiba tengah malem, bangunin aku minta dibuatin telur dadar mata sapi. Bayangin Cia... itu hampir jam 12 malem dia minta makan. Padahal nggak biasanya kaya gitu."


Cia semakin menggaruk-garuk kepalanya dan terus cengar-cengir merespon cerita Adam. Itu fix efek ngidam.... Istri lo lagi ngidaaaam....errrgghhhh!! Hati Cia meronta-ronta ingin mengatakan yang sebenarnya.


"Yaaa... mungkin emang lagi lapar sih kak... hehe... aku juga suka gitu kok kadang," jawabnya lagi-lagi bohong. Cia mah paling anti makan di jam-jam super malam seperti itu. Bisa gagal nanti dietnya.


Untungnya Adam cuma manggut-manggut mendengar jawaban itu.


"Sama ini nih, coba kamu cium parfum baju aku," Adam menarik ujung kemejanya, mendekatkan ke hidung Cia. "Bau ya?"


"Enggak kok," Cia menggeleng. "Wangi banget malah," dia tau ini parfum mahal.


Kening Cia mengerut dalam-dalam. Masa sih Adam nggak peka kalau Selenia hamil? Kalau memang mereka berdua pernah ngelakuin itu harusnya kan.....


"Kalau itu.... aku nggak tahu ya kak. Mungkin aja dia ngerasa gitu karena efek lagi nggak enak badan juga. Aku kalau pas masuk angin juga gitu. Bawaannya pengen muntah kalau nyium yang wangi-wangi," ujar Cia. God! Udah berapa keping dosa yang dia buat sore ini karena terus-terusan bohong plus ngarang. I'm sorry, Dam.


Dalam hati Cia kasihan juga melihat Adam yang seperti sedang dipermainkan oleh Selenia. Yah, meskipun sikap Selenia yang labil itu karena bawaan orok, tetep aja Cia kasian sama Adam. Ini belum seberapa Dam, batinnya. Semoga aja kamu nggak syok dengan keanehan yang akan kamu terima berikutnya. Bad feeling yang dirasakan Cia tentang perfum bayi itu benar. Sahabatnya itu akan meminta suaminya untuk mengganti parfum mahalnya dengan parfum bayi. Gila nggak tuh?


Adam manggut-manggut. "Ya udah deh Ci, kalau gitu aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati pulangnya."


"Iya kak, permisi."


Baru beberapa langkah, Adam berbalik dan memanggil Cia yang sudah sampai di depan pagar rumahnya.


"Oh ya kamu pulang sama siapa Ci?"


"Taxi online kak!" Cia melambaikan ponselnya.


Adam mengacungkan jempolnya dan meneruskan langkah memasuki rumah.

__ADS_1


Sementara itu, Selenia yang ternyata mengawasi mereka berdua dari balik jendela kamarnya, sudah dag dig dug banget melihat mereka yang tampak akrab mengobrol. Dia khawatir Cia keceplosan ngomong tentang kehamilannya ke Adam.


Tring!! ponsel di genggaman Selenia berdenting.


Cia: [Adam kasian tahu Sel. Dia tuh udah mulai ngerasa ada yang aneh sama sikap2 lo. Kasih tahu sekarang aja kenapa sih? Gregetttt juga gue lama2 sama lo!]


Selenia: [shantaaaii shuyunk!! 😌]


Cia: [Gila lo!!!]


...🌺🌺🌺...


Tony masih berada di rumah sakit. Dia berdiri di depan pintu ruang ICU, menatap Mamanya yang terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang terhubung di tubuhnya. Dia terisak manakala mengingat perlakuannya dulu waktu Mamanya menemuinya di basecamp. Saat itu dia memang sangat marah. Benci, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya waktu itu.


Tapi sekarang, rasa itu telah musnah, hilang dan menguap ditelan penyesalan.


"Ton..." Pak Anton menepuk pundak Tony dari belakang.


Tony memutar tubuhnya. "Ya Pa?" ucapnya serak.


Marvin masih berada di tempat duduk di depan ruang ICU. Dia terlihat sedang berbicara di telfon.


"Kamu pulang aja dulu, ganti baju," saran Pak Anton. "Biar Mama, Papa yang jaga."


Tony menatap wajah Pak Anton nanar. Kakinya terasa berat untuk meninggalkan tempat ini.


"Kamu nggak usah khawatir. Mamamu pasti masih bisa sembuh," imbuh Pak Anton. Dia menangkap sorot kekhawatiran di mata anaknya. "Papa akan lakukan apapun untuk dia. Papa seneng kamu sudah bisa menerima kehadirannya kembali," suaranya terdengar parau. Matanya juga tampak berkaca-kaca tapi dia segera melengos supaya Tony tidak melihat air mata yang akhirnya jatuh juga. Dan sebelum dia kembali menatap Tony, dengan cepat dihapusnya air mata itu dengan punggung tangannya.


Tony menunduk sejenak. "Kalau begitu aku pulang sekarang Pa. Nanti aku balik lagi ke sini."


Pak Anton mengangguk. "Iya... kamu bisa ke sini lagi nanti."


Setelah melihat kembali Mamanya dari balik pintu selama beberapa detik, Tony kemudian berlalu. Saat berjalan melewati Marvin, anak itu masih terdengar sedang berbicara dengan seseorang di telfon.


"Iya.... nanti aku hubungi kamu lagi, oke. Love you... bye...." Marvin memutuskan obrolan dan langsung melangkah mengikuti Tony yang sudah jauh di depannya.


"Lo mau pulang?" tanya Marvin setelah berhasil menjajari langkah Tony.


"Balik ke kontrakan nyokap gue dulu, motor gue kan masih di sana."


Motor Tony masih berada di kontrakan tempat Mamanya tinggal. Karena pada saat Bu Riska pingsan, dia dan Marvin yang panik, langsung menelfon ambulance. Jadi Tony harus mendampingi Mamanya di dalam ambulance, sementara Marvin mengikuti di belakang menggunakan motor.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2