NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -93-


__ADS_3

Adam baru saja selesai membersihkan diri. Dia nggak sabar ingin segera menemui istrinya. Sambil berdiri di depan cermin, dia merapihkan rambut dan mengelus-elus pipi dan dagunya yang mulus karena selesai dicukur. Tangannya meraih parfum di atas meja, namun buru-buru dikembalikan karena dia ingat Selenia sedang sensitive dengan aroma parfumnya. Meski dia masih bingung kenapa Selenia bisa seperti itu, tapi Adam tidak mau ambil pusing. Mungkin saja yang dibilang Cia tadi benar. Selenia sensitive dengan bau parfumnya karena lagi nggak enak badan.


"Sore sayang," sapa Adam riang saat masuk ke kamar Selenia.


Selenia yang masih asyik WA-nan sama Cia, sedikit terperanjat dan hidungnya mengendus-endus.


"Aku udah mandi sayang, dan aku nggak pakek parfum juga. Aman kok," Adam berdiri di depan tempat tidur sembari merentangkan kedua tangannya. "Gimana badannya? Udah enakan?"


Dan memang benar. Selenia tidak mencium aroma parfum yang membuatnya pengen muntah itu sore ini.


"Lumayan," Selenia nyengir dan melambai meminta Adam supaya duduk di sampingnya.


Mendapat sambutan itu, Adam langsung bergerak cepat mendekati Selenia dan mendaratkan ciuman singkat di bibir mungilnya.


Ya Tuhan, suami gue kenapa kelihatan cool banget sore ini. Mata Selenia berbinar. Dia mengelus pipi dan dagu Adam.


"Kok di cukur sih?" tanya Selenia.


"Biar rapih sayang," Adam menggenggam tangan Selenia dan menciumnya. "Kamu lagi apa? Kok kayaknya sumringah banget? Udah mandi belum?"


Selenia menggeleng. "Bentar lagi deh, baru juga jam segini," dia membungkuk mengambil sesuatu dari dalam nakas. "Aku ada sesuatu buat kamu."


Adam menerima kotak berwarna hijau dari tangan Selenia ragu. Perasaannya nggak enak. Kenapa tiba-tiba Selenia memberikan hadiah? Ulang tahunnya kan masih beberapa hari lagi.


"Ini apa sayang?"


"Kalau pengen tahu isinya ya di buka dong," Selenia menarik senyum penuh arti.


"Masalahnya kan ini bukan hari istimewa gitu...." kata Adam. "Anniv kita... masih lama, terus kalau ulang tahunku....." dia melirik kalender lipat di atas nakas dan mendapati beberapa tanggal yang dicoret oleh Selenia. "...masih beberapa hari lagi."


"Buka aja Dam..." Selenia memaksa dengan lembut sembari menggoyang-goyangkan lengan Adam. "Ini memang bukan Anniv atau ultah kamu. Tapi di hari ultah kamu nanti, tetep bakalan ada surprise dari aku."


"Serius?" mata Adam berbinar mendengar janji Selenia. "Ya udah kalau gitu aku buka ya," tangannya mulai menarik perekat yang merapatkan kotak di tangannya.


Selenia tak bisa berhenti tersenyum dan tidak sabar melihat ekspresi Adam saat menerima bingkisan darinya.


Kotak itu terbuka, dan....


"What?!" tangan Adam mengangkat sebotol parfum bayi warna kuning. "Parfum bayi? Kamu kasih aku parfum bayi?" dia membolak-balik botol tersebut dengan tatapan bingung.


Selenia mengangguk-angguk dengan tampang sumringah. Sementara Adam justru menggeleng-geleng karena bener-bener nggak ngerti apa maksudnya.


"Jadi, aku minta mulai sekarang kamu jangan pake parfum kamu lagi. Aku nggak suka, baunya bikin eneeegg!" celoteh Selenia enteng. "Dan itu salah satu parfum bayi yang aromanya menenangkan banget, kamu harus pakek."


"Tapi sayang, yang bener aja..." Adam memprotes. "Aku kamu suruh pakek parfum bayi?? Sayang parfumku itu wangi ya, dan nggak bikin eneg. Kamu jangan ngaco, itu parfum asli dari Paris. Jastip temen aku lho. Harganya mahal," celotehnya tak mau kalah.


"Ih kamu kok malah ngebantah sih Dam?!!" sembur Selenia. Tubuhnya menegak, dan wajahnya memasam. "Ya udah kalau kamu nggak mau pakek parfum itu. Kamu jangan pernah deket-deket sama aku!" dia melipat kedua tangannya dengan sebal.


"Lho, ancaman kamu sekarang gitu deh," sahut Adam lagi. "Kamu kenapa sih sayang? Beneran cuma kamu lho yang bilang parfum aku bau. Temen-temenku di kantor nggak ada yang bilang gitu. Sahabat kamu juga tuh si Cia, tadi aku suruh dia cium jasku bentar kan, dan dia bilang parfumnya wangi."


Apa?! Adam nyuruh Cia nyium jasnya?! Selenia menoleh dengan sewot. "Kamu nyuruh Cia nyium jas kamu??? hah??" matanya melotot penuh drama.


Mulut Adam seketika langsung mengatup. Ini nih, salah paham lagi nih. "B-bukan gitu maksudnya sayang. Aku cuman pengen mastiin aja kalau nggak ada yang salah sama parfumku."


"Jadi maksud kamu aku yang salah? Hidung aku yang error gitu?" Selenia beranjak dari tempat tidurnya dengan kasar. "Ya udah... tes aja semua hidung orang-orang di luar sana! Suruh cium parfum kamu yang dari PARIS itu!" dia berdiri di tepi tempat tidurnya. "Emang dasar lama-lama kamu tu keganjenan juga!"


"Sayang... sayang... bukan gitu maksud aku..." Adam turut berdiri dan memegang bahu Selenia.


Selenia menepis tangan Adam. "Udah deh! Pokoknya kalau kamu nggak mau pakek parfum itu ya udah buang aja sana ke tempat sampah!" dia berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. "Tapi jangan pernah deket-deket sama aku dengan bau yang aneh kaya parfum kamu itu!"

__ADS_1


"Iyaaaa iyaaa...aku nggak makek parfumku lagi..." Adam terpaksa mengalah. "Tapi sekarang kamu mau kemana??"


"MANDI!" teriaknya sekaligus membanting pintu kamar mandi sekeras mungkin.


Benturan pintu kamar mandi itu membuat Adam terlonjak kaget saking kerasnya. Dia menggaruk-garuk tengkuk dan kepalanya bergantian. Mimpi apa sih? Kenapa Selenia jadi super duper aneh gitu?


Adam mengambil parfum bayi dari atas tempat tidur Selenia dan menatapnya dengan pasrah. Dia sudah membayangkan bagaimana reaksi orang-orang di kantornya pada saat bersisih langkah dengannya nanti. Wuuussshhh.... bakalan awkward nggak sih kalau tiba-tiba ada aroma bayi di kantor?


Atau mungkin sikap Selenia yang aneh ini karena dia lagi dapet?


Adam meraih kalender lipat milik Selenia dan mengamati angka yang dicoret-coret di sana. Bener deh. Mungkin dia lagi dapet, makanya labilnya nggak ketulungan.


Tapi ya udah lah, daripada nggak boleh deket-deket sama dia, pake parfum bayi juga bukan sesuatu hal yang buruk kok. Toh nanti kalau punya anak, nggak cuma parfum bayi yang nempel di tubuhku. Bau pipis dan eek juga kan? Adam berusaha menenangkan dirinya sendiri.


...🌺🌺🌺...


Keesokan paginya, parfum itu benar-benar dipakai oleh Adam. Hal itu tentu saja membuat Selenia senang bukan main. Beberapa kali dia mengendus-endus tubuh Adam saat mereka berjalan beriringan menuruni tangga, dan Adam cuma bisa pasrah dan mengelus dada.


Orang pertama yang merasakan keanehan pagi itu adalah Bi Iyah. Saat Adam dan Selenia sudah berada di ruang makan dan Bi Iyah sedang menyiapkan makanan, perempuan paruh baya itu juga mengendus-enduskan hidungnya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Non, kok..... bibik nyium aroma.... kaya dedek bayi gitu ya?"


Selenia menahan senyum dan mengerling ke arah Adam yang tampak tersiksa dengan aromanya sendiri.


"Ooooh... itu parfum barunya Pak Adam bik," jawab Selenia.


Bi Iyah melihat Adam tengah menyibukkan diri memotong roti di hadapannya. Dia tidak mau membahas soal parfum di depan Bi Iyah. Kalau Bi Iyah saja sudah merasa aneh dengan aroma parfumnya, apalagi orang-orang di kantornya nanti.


Untung saja Bi Iyah tidak banyak komen. Dia hanya menatapnya sebentar dan berlalu ke ruang belakang.


Setelah sarapan, mereka kemudian bersiap untuk berangkat ke tujuannya masing-masing.


"Makasih ya Dam, udah mau pake parfumnya," ucap Selenia manja sebelum masuk mobil.


"Ya udah kalau gitu aku berangkat ya," Selenia menyalami dan mencium tangan Adam. "Daaaaaggh...!"


Hmmmh... sabar Dam... sabaaar.... batin Adam sembari mengelus dadanya sendiri. Semoga aja masa periodnya Selenia segera berakhir, biar sikap anehnya juga cepet kabur.


...🌺🌺🌺...


Di kantor, Adam harus lebih menambah kadar kepercayaan dirinya untuk menghadapi tatapan orang-orang yang menatapnya geli sambil bisik-bisik. Apalagi para staff perempuan yang hobby ngegosip tuh.


Adam berusaha menutup telinga dan mata dari tatapan dan suara aneh bin menilai dari mereka. Ya lagian bukan salah mereka juga sih. Salahnya sendiri yang memakai parfum bayi. Eh... salah Selenia ding, dia kan yang memaksanya untuk memakai parfum itu.


Jadi maksud kamu aku yang salah? Hidung aku yang error gitu? Kalimat Selenia itu menggema di telinganya.


Ups! Oke... oke... ini bukan salah Selenia. Ini salahku... salahku punya parfum yang baunya aneh, yang nggak disukai Selenia, jadi dia minta aku ganti parfum dan dia membelikannya untukku. Yaps.... ini salahmu Adam, bukan Selenia. Oke?!


Tring!


Pintu lift terbuka dan Adam langsung keluar. Namun beberapa detik kemudian BRUK! Tak sengaja dia menabrak Renata yang sedang membawa beberapa dokumen dan membuat dokumen itu jatuh berhamburan ke lantai.


"Auuhhhh...!!" pekik Renata.


"Aduh Ren... maaf maaf maaf!" Adam buru-buru jongkok dan memunguti dokumen tersebut.


"Iya nggak pa-pa kok Pak," Renata turut memunguti dokumennya. Dan saat itu dia mencium aroma yang tidak asing di hidungnya. Tentu saja, ini aroma parfumnya Nola.


Adam berdiri dan menyerahkan dokumen itu pada Renata. Perempuan itu menerima dokumennya dan menatap Adam hati-hati. Dia ingin memastikan kalau tidak salah menduga. Masa iya sih Pak Adam memakai parfum bayi?

__ADS_1


"Ada apa Ren?" tanya Adam. "Kok kamu ngeliatin saya seperti itu?" dia sebenarnya sudah bisa menebak apa yang difikirkan Renata.


"Ohhh nggak pa-pa kok Pak," Renata menggeleng. "Maaf saya mau ke ruangan saya dulu, permisi."


Adam mendengus lirih. Dia yakin Renata pasti merasa aneh dengan parfum bayi yang dia pakai hari ini.


...🌺🌺🌺...


Pada saat istirahat makan siang, Adam yang biasanya tidak pernah lagi makan bersama Renata, kali ini dia menghampiri Renata yang sedang menikmati makanannya.


Perempuan itu kaget saat melihat Adam yang tiba-tiba duduk di hadapannya.


"P-pak Adam?" Renata menyeruput minumannya sedikit untuk mendorong makanan yang berasa nyangkut di kerongkongan.


Saat itu, Maya baru muncul di pintu kantin dan melihat Renata sudah berduaan dengan Adam langsung mengubah haluan, mencari tempat duduk lain.


"Hei Ren," sapa Adam datar. "Ya udah makan aja, kenapa berhenti? Nggak enak ada saya?"


"E...e..enggak kok Pak, saya sudah selesai kok makannya."


"Kamu kenapa gugup begitu sih?"


Tentu saja gugup Pak, kan saya salting tiba-tiba Bapak nyamperin saya. Huffhhh! Eling Renata.... eling... Renata hanya menggeleng dan nyengir kuda.


"Oh iya Ren, saya mau nanya sesuatu sama kamu boleh nggak?" Adam menopang dagu menggunakan kedua tangannya.


"Apa itu Pak?"


"Memang..... perempuan itu... kalau lagi dapet, suasana hatinya beda ya sama hari-hari biasa?"


"Hmmppffhh..." Renata langsung menutup mulutnya karena kelepasan tertawa. "Maaf, Pak .. maaf.... saya tidak bermaksud..."


"Kamu nggak perlu minta maaf Ren. Pertanyaan saya mungkin memang terdengar lucu dan aneh ya?"


"Ehhmmm, enggak juga kok Pak. Saya cuma kaget aja kenapa tiba-tiba bapak bertanya seperti itu," sahut Renata canggung. "Memangnya... ada apa ya pak?"


"Ck..." Adam berdecak kecil. "Akhir-akhir ini saya kok ngerasa sikap Selenia itu makin aneh gitu lho."


Sejak masuk kantor dan mendapati reaksi aneh dari para staff soal parfumnya, Adam jadi menggabung-gabungkan sikap aneh Selenia beberapa hari ini. Itulah kenapa siang ini dia menemui Renata untuk menanyakan padanya apakah ini ada hubungannya dengan masa period. Mereka kan sama-sama perempuan. Jadi dia pikir Renata pasti tahu alasan kenapa sikap Selenia akhir-akhir ini berbeda dari biasanya.


"Anehnya gimana ya Pak?"


Adam menghela nafas, dan mulai menceritakan satu persatu keanehan sikap Selenia. Mulai dari yang tengah malam tiba-tiba membangunkannya untuk dibuatkan telur dadar sekaligus menemaninya makan padahal biasanya tidak pernah. Kemudian sikapnya yang labil nggak jelas, udah gitu marah-marah soal bau parfum yang akhirnya memaksa dia untuk ganti parfum pake parfum bayi!


Selenia hamil. Begitu perkiraan yang terlintas di benak Renata saat mendengar cerita Adam. Bisa jadi kan? Mereka kan memang sudah menikah dan tinggal serumah. Tidak menutup kemungkinan mereka akan 'melakukannya' kan? Nafsu mana kenal umur?


Renata juga masih ingat pas di acara ulang tahun Nola kemarin, saat mereka ngobrol di ruang belakang, dia sempat memperhatikan perubahan bentuk tubuh Selenia yang menurutnya lebih berisi dan montok. Sama seperti dirinya dulu saat hamilnya Nola.


"Eee... maaf ya pak sebelumnya. Tapi ini cuma menurut pendapat saya saja," Renata berbicara dengan penuh rasa hati-hati. "Apa mungkin.... Selenia.... h-hamil ya...?"


Mata Adam membelalak. Maksudnya, mana mungkin secepat itu? Mereka tidak sering 'melakukannya'.


"Kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan seperti itu?"


"Ini sih menurut pengalaman saya sendiri, Pak. Karena saya dulu waktu awal-awal hamil juga gitu. Emosi naik turun, labil. Kata dokter itu pengaruh hormon, jadi kaya bukan kemauan kita sendiri," Renata menjelaskan. "Kaya misalnya, kita jadi sangat menyukai sesuatu yang awalnya sangat kita tidak suka atau sebaliknya, begitu. Dan lebih sensitive juga sama hal-hal tertentu. Sama baebauan, makanan."


Adam manggut-manggut. Penjelasan Renata cukup masuk akal. Tapi masa iya sih Selenia hamil dan nggak ngomong sama dia? Terus kalender yang dicoret-coret itu apa kalau bukan menandai jadwal menstruasinya?


Aduuuh... kenapa jadi membingungkan begini sih?

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2