
Suatu pagi saat Tony baru tiba di sekolah dan memarkirkan motornya, dia melihat mobil yang begitu familiar memasuki pelataran SMA Bhakti Nusa. Mobil tersebut melintas di depannya kemudian memarkirkan diri di antara mobil para guru. Tony berusaha mengingat sesuatu tentang mobil itu.
Dan benar saja, begitu si pengendara mobil tersebut keluar, Tony ingat, itu mobil milik laki-laki yang pernah bersama Selenia di restaurant tempo hari.
Adam keluar dari mobilnya dengan gentle. Tak lupa dia merapihkan dasi dan kerah kemejanya sebelum bergegas. Di tangannya menenteng amplop besar berwarna coklat. Setelah dirasa cukup, dia pun berlalu menuju tempat yang biasa dia datangi di sekolah ini. Sudah empat hari dia tidak meninjau pembangunan renovasi aula dan sekarang dia datang ke sini sendirian. Renata tidak bisa ikut mendampingi karena dia tidak masuk. Anaknya sakit.
Penasaran, Tony pun mengikuti Adam jauh dari belakang. Ada urusan apa dia datang kemari? Apa ada hubungannya sama Selenia?
Tony tersenyum getir kalau ingat kebersamaan laki-laki itu dengan Selenia. Masa iya Selenia pacaran sama laki-laki yang usianya terpaut sangat jauh dengannya? Ya memang sih, secara fisik laki-laki itu masih tampak fit dan bugar. Tapi tetap saja, usia tidak bisa berbohong.
Atau kakak? Tony ingat tentang nama 'Adam' yang pernah disebut-sebut oleh Cia. Nggak... nggak mungkin dia kakak Selenia. Kebersamaan mereka malam itu nggak wajar aja kalau disebut kebersamaan antar saudara. Terlalu mesra, pikir Tony.
Langkah Tony terhenti di ujung koridor saat melihat Adam yang juga berhenti di aula yang tengah di renovasi. Dia menyalami beberapa pegawai dan kemudian tampak ngobrol akrab dengan mandornya. Kening Tony mengernyit. Jadi dia ada hubungannya sama proyek milik Papa? Dia..... pegawai di kantor Papa?
...🌺🌺🌺...
Malam itu, Pak Anton sedang membaca koran di ruang tengah saat Tony menghampiri dan kemudian duduk di sampingnya.
"Tumben kamu di rumah aja?" Pak Anton menutup korannya.
"Papa nggak liat di luar lagi hujan?"
Pak Anton terkekeh. "Biasanya kamu nggak peduli sama cuaca. Hujan deras aja pernah kan kamu nekat pergi ikut kompetisi game online?" cibirnya.
"Itu kan lain Pa. Urusannya sama pendapatan..." sahut Tony tak mau kalah.
Pak Anton tersenyum. Dia tahu bagaimana Tony. Kalau urusan game online, dia memang nomor satu. Meskipun tidak selalu mendapatkan juara satu, tapi setidaknya anaknya itu selalu berhasil masuk deretan sepuluh besar di setiap kompetisi. Pak Anton memang selalu mendukung apa-apa saja yang menjadi kegemaran Tony. Asalkan tidak mengganggu sekolahnya.
Dia menepuk-nepuk pundak anaknya kemudian meletakkan korannya di atas meja.
"Pa..." panggil Tony lirih.
"Hmm?"
"Pegawai Papa ada yang Papa suruh buat ngecek renovasi aula di sekolah?"
Pak Anton melirik heran ke anaknya. Tumben-tumbenan dia nanyain tentang pekerjaannya.
"Kok kamu nanya soal itu? Memangnya ada apa Ton?" tanya Pak Anton balik.
__ADS_1
"Papa jawab aja, iya atau enggak?"
"Ya jelas lah. Proyek itu kan memang Papa yang pegang." Pak Anton masih tak habis pikir dengan pertanyaan Tony. "Kalau nggak setiap saat dicek, gimana Papa bisa liat perkembangannya?" jelasnya.
"Nama pegawai Papa itu.... siapa?"
"Adam." jawab Pak Anton. "Kenapa? Kamu mau tau nama lengkapnya juga??? Namanya Adam Lucas Prawira." terangnya kemudian.
"Wuisshhh... ckckck." Tony pura-pura berdecak kagum saat Ayahnya menyebutkan nama lengkap Adam.
"Memangnya ada apa sih Ton? Kamu kenal sama dia?"
"Kalau aku kenal sama dia, ngapain aku nanya ke Papa?"
"Ya siapa tahu." Pak Anton kembali membuka korannya.
"Mmm... apa Adam itu punya saudara?"
Kening Pak Anton mengerut dalam-dalam. Dia heran kenapa Tony terkesan begitu ingin tahu tentang Adam. Namun karena yang bertanya itu adalah anaknya sendiri, maka dari itu Pak Anton merasa tidak memiliki masalah untuk memberitahu kepada Tony, siapa Adam.
"Enggak. Dia itu anak tunggal. Sama seperti kamu."
"Kenapa enggak?" balas Pak Anton.
Ee....kakaknya Selenia...! Dia itu protektif banget sama Selenia, jadi ya... gitu deh... kalau dia tahu Selenia nggak sarapan sebelum berangkat sekolah, dia bakalan marah..."
Ucapan Cia waktu itu terngiang-ngiang di telinga Tony. Tapi kenapa Ayahnya mengatakan kalau Adam itu anak tunggal?
"Kakak atau adik gitu? Nggak ada?"
Pak Anton terkekeh. "Kalau yang namanya anak tunggal itu nggak ada saudara Ton. Memangnya kamu punya? Lagian kamu kenapa sih kok kepo banget sama dia?"
"Bukan begitu Pa... ya.... apa ya...." Tony tidak tahu lagi harus ngomong apa.
"Papa itu udah kenal dia lama. Dia udah hampir 4 tahun kerja sama Papa. Papa juga kenal baik sama orang tuanya. Namanya Pak Prawira dan Bu Lisa. Tapi kabarnya mereka sedang ada di New York untuk urusan bisnis." Pak Anton menjelaskan panjang lebar dengan sukarela. "Dah? Apalagi yang mau kamu tanyakan? Jumlah pegawai Papa ada berapa? Proyek Papa ada di mana aja?"
Tony hanya bisa terdiam. Yang bikin dia tambah bingung lagi sekarang adalah, kenapa Selenia menyembunyikan ini darinya? Kalau kenyataannya Adam itu bukan kakaknya dan mereka memiliki hubungan, kenapa kesannya seperti ditutup-tutupi juga darinya?
Pak Anton merangkul Tony penuh kasih membuat anak itu tersentak dari lamunannya.
__ADS_1
"Makanya kamu tu sering-sering maen ke kantor Papa. Jangan sibuk sendiri sama urusan kamu. Lagian siapa lagi nanti yang akan lanjutin perusahaan Papa kalau bukan kamu?" ujar Pak Anton menasehati.
Tony tersenyum kecil. Dia tidak menanggapi ucapan Ayahnya karena pikirannya tengah sibuk sendiri. Satu hal yang membuatnya tidak habis pikir. Untuk apa? Kenapa Selenia menyembunyikan status Adam darinya?
Kini Tony jadi semakin yakin, bahwa apa yang dia lihat di restoran waktu itu, adalah sepasang kekasih yang sedang dating. Tony menyembunyikan senyum getirnya dari Pak Anton. Jadi Selenia sudah punya pacar? Atau itu malah tunangannya? Cincin? Tony menggeleng. Dia belum pernah mengamati jari jemari Selenia secara detil--apakah dia mengenakan cincin atau tidak.
...🌺🌺🌺...
JGEERRR!! JGEEERRRR!!
"Aaaaa!!!" Selenia memekik saat suara petir terdengar menggelegar. Dia baru saja menyelesaikan PR di kamarnya. Setelah mengemasi buku-bukunya, dia langsung berlari ke tempat tidur dan meringkuk ke dalam selimut.
Dari kecil Selenia memang phobia dengan suara petir. Pasalnya dia pernah melihat pohon terbakar disambar petir tepat di depan matanya. Jadi sampai saat ini setiap kali melihat kilat atau mendengar petir dengan suara yang keras dia akan merasa begitu ketakutan.
Selenia masih meringkuk di dalam selimutnya. Cahaya kilatan samar-samar terlihat menembus kaca jendela yang kelambunya belum tertutup rapat. Selenia menahan nafas dan perlahan membuka selimut. Dengan tergesa-gesa dia menutup rapat kelambu kamarnya dan kembali ke tempat tidur.
Sementara di ruangan lain, tepatnya di kamar Adam, laki-laki itu pun sama kagetnya saat mendengar petir yang menggelegar. Saat itu dia sedang membaca ulang berkas tawaran study ke Frankfurt. Adam menutup berkas tersebut kemudian segera keluar kamar untuk memastikan keadaan istrinya. Namun saat melihat kamar Selenia yang tampak tertutup rapat, dia hanya menyunggingkan senyum dan kembali ke kamarnya sendiri.
Selenia pasti sudah tidur, pikirnya.
...🌺🌺🌺...
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah Renata, perempuan itu sedang menggendong anaknya yang terus menangis. Dahi Nola tengah dikompres menggunakan plester instan. Anak kecil itu sudah demam naik turun selama dua hari dan terus menangis. Dia bahkan tidak mau ikut dengan pengasuhnya dan maunya hanya ingin bersama Mamanya.
"Ssst... Nola sayang... Nola cepet sembuh ya... kan sudah minum obat..." tutur Renata sambil mendekap anaknya penuh kasih.
Dia duduk di sofa di kamarnya sembari memandang ke luar jendela. Cuaca malam itu seolah mewakili perasaannya. Di saat-saat seperti ini--saat anaknya sakit--dia begitu menyadari betapa berartinya keberadaan seorang pasangan. Tapi kemudian dia sadar dan tidak mau menyalahkan diri atas pernikahan seumur jagungnya yang kandas.
Kala itu, saat usia Nola baru empat bulan, Renata tidak sengaja mendapati ponsel suaminya berdering. Saat itu suaminya sedang mandi. Tadinya Renata tidak ingin mengacuhkan panggilan tersebut karena dia sendiri sedang sibuk mengurusi Nola yang sedang pup di pampers. Tapi sampai Renata selesai mengurusi Nola, ponsel itu terus berdering. Penasaran, Renata memutuskan untuk mengangkatnya. Nama Client Dirga terpampang di layar. Namun betapa terkejutnya Renata begitu mendengar sahutan manja dan mesra dari ujung telfon.
Dari situlah prahara rumah tangga itu bermula. Usut punya usut ternyata suaminya diam-diam telah menjalin hubungan dengan wanita lain di belakangnya. Renata tidak bisa terima akan hal itu. Jadi setelah berpikir dan berpikir, dia memilih untuk mengajukan gugatan. Mediasi sempat membuahkan hasil. Renata berpikir, tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua untuk suaminya dan memaafkan kesalah itu. Namun sayang, kesempatan itu justru disalah gunakan oleh suaminya. Bukannya insyaf, suaminya malah semakin menjadi dengan selingkuhannya.
Sampai akhirnya karena tidak tahan dan merasa terus dibohongi, Renata memutuskan untuk kembali mengajukan gugatan. Tidak ada lagi mediasi, karena Devan--mantan suaminya--tidak pernah mau datang ke persidangan. Keduanya resmi bercerai dan hak asuh Nola jatuh ke tangan Renata karena Nola masih di bawah umur.
Sejak saat itu, suaminya keluar dari rumah dan Renata tidak tahu lagi dia ada di mana. Terakhir mereka bertemu adalah pada saat ulang tahun Nola yang pertama. Devan datang sendirian ke acara itu.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1