
Selenia sibuk menatap layar ponsel selama perjalanan pulang. Dia kepikiran pesannya pada Tony yang hanya dibaca dan tak kunjung dibalas.
"Kamu kenapa sih sayang, kok kelihatannya gelisah banget?" celetuk Adam. Tangan kirinya meraih lengan Selenia dan meremasnya pelan.
Selenia menelusupkan ponselnya ke dalam tas dan menggeleng.
"Eee... nggak pa-pa kok sayang. Aku capek aja dan ngantuk juga," Selenia menguap. Dengan manja dia lalu menyandarkan kepalanya di lengan Adam dan memejamkan mata.
Acara belanja sesorean ini cukup membuatnya happy sekaligus juga lelah. Adam memutar volume musik di dalam mobil yang mengalunkan irama syahdu, mengiringi perjalanan pulang mereka.
...🌺🌺🌺...
Beberapa hari kemudian,
Selenia menepati janjinya pada Renata untuk main ke distro. Dia pergi ke tempat itu di antar Pak Tono. Alasan dia nekat pergi ke sana, dia merasa bosan di rumah karena tidak memiliki kegiatan. Cia sendiri, jam segini masih di sekolah. Karena meskipun ujian telah berakhir, siswa kelas 12 masih diminta datang ke sekolah untuk menandatangani berkas-berkas sebagai pelengkap surat nilai dan ijazah. Sementara khusus untuk Selenia, sudah menjadi tugas Bu Fani untuk mengantarkan miliknya ke rumah.
Renata menyambut kedatangan Selenia dengan tangan terbuka. Siang itu distro lumayan ramai, jadi Selenia memilih duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan sambil membaca katalog, sementara Renata melayani pembeli.
Renata baru memiliki dua pegawai. Jadi di saat pengunjung ramai, dia pun turut sibuk melayani. Setelah pengunjung mulai berkurang, dia menghampiri Selenia sembari membawakan minuman dan makanan ringan.
"Ya ampun Ren, nggak usah repot-repot kali. Aku cuman mau main aja kok."
"Enggak, orang cuma minum sama beginian aja. Kamu kok sendirian aja? Biasanya sama.... siapa itu nama teman kamu?"
"Cia?"
"Iya, Cia. Dia kemana?"
"Dia masih di sekolah lah," Selenia melirik jam tangannya. "Ini kan masih jam sekolah."
"Oh iya, kamu sendiri? Sudah pulang? Atau.... hehehe bolos?" gurau Renata. "Memang sih kalau ujian udah selesai tuh, rasanya kaya bener-bener bisa menghirup udara bebassss gitu nggak sih? Soalnya dulu aku juga gitu," ocehnya yang tanpa dia sadari membuat Selenia menunduk murung.
Renata memang belum tahu tentang Selenia yang telah dinonaktifkan dari sekolah sebelum ujian nasional berlangsung. Selenia menelan ludah dan tersenyum getir.
"Iya kamu bener. Dan sekarang aku memang merasa bebas banget. Tinggal nungguin pengumuman aja... tapi ya deg-degan juga sih..." Selenia menyeruput minumannya. "Tapi...."
"Tapi apa Sel?"
"Sebenernya.... aku tu udah dikeluarin dari sekolah dua minggu sebelum ujian nasional," ucap Selenia lirih. Hatinya masih suka merasa perih jika mengingat peristiwa itu--saat Lala membongkar rahasianya di depan kelas.
Mata Renata membelalak dan mulutnya menganga membentuk huruf O.
"Terus gimana? Kok bisa? Memangnya kamu ketahuan?"
Selenia tersenyum kecut. "Ceritanya panjang, tapi beruntung aku masih diberi kesempatan untuk tetap bisa ikut ujian sama pihak sekolah. Metode belajar aku dipindahkan ke home schooling."
Renata menatap sayu pada Selenia. Dia meraih kedua tangan Selenia dan meremasnya pelan. Permasalahan ini pasti sempat membuat Selenia down. Tapi apapun itu--hal yang membuat Selenia dikeluarkan dari sekolah--dia tidak ingin menanyakan lebih lanjut. Itu adalah privasi Selenia yang menurutnya tidak perlu dikulik lebih dalam.
__ADS_1
"Syukur deh, aku ikut seneng kamu masih memiliki kesempatan seperti ini," Renata menyunggingkan seulas senyum. "Terus? Kamu punya rencana lanjutin kuliah di mana nih?" dia turut menyeruput minumannya dan mengalihkan pembicaraan untuk tidak membahas perihal itu lagi.
Selenia menggeleng pelan. "Aku nunda kuliah, dan mau daftar tahun depan aja."
Renata mengerutkan kening. "Kenapa begitu?"
"Tentu aku mau fokus sama ini dulu Ren," Selenia menunjuk perutnya. "Aku nggak mau baru beberapa bulan kuliah, terus ambil cuti. Jadi lebih baik tahun depan aja sekalian."
"Oh iya kamu bener," Renata mengulurkan tangannya menyentuh perut Selenia. "Duuuh aku suka gemes deh kalau ngelihat bumil gini. Tapi...." matanya mengamati wajah dan tubuh Selenia yang menurutnya terlihat semakin berisi.
"*By the way berat badan kamu nambah berapa kilo selama hamil Sel? Makin chubby* aja ini pipi," Renata mencubit pipi Selenia gemas.
Selenia terkikik. "Aduh jangan ditanyain lagi. Aku aja sampai trauma kalau ngelihat timbangan. Entahlah... soalnya selepas trimester pertama, aku kan udah nggak pernah mual-mual lagi. Jadi pengennya makaaaan terus."
"Itu sih kaya aku dulu waktu hamilnya Nola. Tapi nggak pa-pa sih, itu artinya bayi kamu tumbuh sehat."
Tring!!
Lonceng yang berasal dari pintu distro yang terbuka membuat Renata dan Selenia reflek menoleh. Segerombolan remaja masuk dan mulai melihat-lihat pakaian.
"Eh tunggu sebentar ya, aku layani mereka dulu," Renata beranjak dan berjalan menghampiri pelanggan yang baru masuk.
Selenia kembali menyeruput minumannya. Sembari membuka-buka katalog, dia sesekali mencuri pandang ke arah Renata yang terlihat begitu aktif dan ramah melayani pembeli. Selenia menggeleng-gelengkan kepala mengingat masa lalu di mana dia pernah begitu mencemburui perempuan itu. Ternyata Renata tidak seburuk yang pernah dia pikir.
...🌺🌺🌺...
Anak itu sedang sibuk di kamarnya, mempersiapkan beberapa persyaratan untuk masuk universitas. Dia sudah memantapkan pilihannya pada satu universitas di Amerika, New York Istitute Of Technology (NYIT). Satu hal yang membuat dia yakin harus kuliah di luar negeri adalah..... dia ingin bisa melupakan Selenia. Karena baginya, mustahil dia bisa move on kalau dia masih berada di Indonesia. Tempat ini terlalu sempit untuk tidak melihat Selenia setiap waktu. Bahkan setelah peristiwa sore itu--saat dia melihat Selenia dan Adam di restoran mall--dengan sangat terpaksa Tony memblokir nomor Selenia lagi.
Pak Anton masuk ke kamar anak semata wayangnya dan menyaksikan kesibukan itu. Dia sengaja berdiri di tepian pintu, menunggu sampai Tony menyadari keberadaannya. Tapi sayang, karena terlalu sibuk dengan lembaran-lembaran di hadapannya, Tony benar-benar tidak sadar seseorang telah membuka pintu kamarnya.
"Ehm!" Pak Anton berdehem.
Tony cuma menoleh sekilas lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Pak Anton geleng-geleng kepala dan menghampiri Tony.
"Sepertinya kamu sedang sangat sibuk ya?" Pak Anton meremas bahu Tony pelan. Matanya turut mengamati berkas-berkas yang berserak di meja Tony. "Gimana? Udah lengkap persyaratannya?"
Tony manggut-manggut. "Tinggal tunggu ijazah aja sih Pa," dia menghela nafas. "Deg degan nunggu pengumuman ini."
"Papa yakin kamu lulus," ucap Pak Anton menyemangati.
"Amiin...!" Tony memasukkan semua berkas yang sudah dia koreksi ke dalam satu map, lalu menyimpannya ke dalam laci.
Pak Anton memutar tubuh Tony menghadapkan ke arahnya. Kedua tangannya memegang kedua bahu Tony dan dia menatap wajah anaknya itu lekat-lekat.
"Ton, kalau memang ini sudah menjadi pilihan kamu, Papa cuma bisa mendukung dan mendoakan kamu," ucap Pak Anton sendu. "Ya, walaupun tidak bisa dipungkiri kalau.... sebenarnya Papa berat kalau harus jauh dari kamu. Kamu tahu sendiri kan, selama ini kita selalu bersama-sama?"
__ADS_1
Tony membalas tatapan Pak Anton. Kalimat yang diucapkan Ayahnya begitu dalam merasuki relung hatinya. Memang benar, selama ini mereka tidak pernah berpisah jauh dalam waktu yang lama dan selalu bersama-sama. Namun kali ini, demi masa depan dan hatinya, Tony harus rela meninggalkan Ayahnya untuk sementara.
"Aku tahu Pa. Aku minta maaf kalau keinginan ini membuat Papa keberatan. Tapi... ini sudah menjadi pilihan dan keputusanku. Hanya do'a dan support dari Papa yang aku minta."
"Kamu nggak perlu minta maaf Ton. Ini bukan suatu kesalahan. Papa akan tetap menunggu sampai kamu kembali dan...." Pak Anton tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apa Pa?"
"Sampai kapanpun, kamu adalah penerus Papa. Papa berharap, suatu hari nanti kamu bisa mengelola perusahaan yang telah Papa rintis dari nol, dan mengembangkannya jauh lebih baik lagi."
"Papa nggak usah khawatir. Ini adalah rumahku, sejauh apapun aku pergi, tempatku kembali ya ke sini. Itulah kenapa, sekarang aku ingin mencari bekal yang cukup supaya suatu hari nanti bisa mengelola perusahaan Papa dengan baik. Karena bagaimanapun, dari situlah aku dibesarkan. Dari kerja keras Papa."
Tak terasa air mata Pak Anton menitik mendengar ucapan itu. Sebelum Tony menyeka air matanya, Pak Anton buru-buru menyekanya terlebih dahulu. Dia sudah ingkar janji--untuk tidak akan pernah menangis di depan anaknya.
"Terimakasih nak," Pak Anton memeluk Tony erat. "Papa percaya kamu bisa. Cuma kamu satu-satunya harapan Papa."
...🌺🌺🌺...
Adam baru saja masuk ke kamar Selenia dan membawakan segelas susu, saat melihat istrinya itu sudah terkapar tidak berdaya di samping tempat tidur.
"SELENIA?!!!" teriaknya dan reflek melepaskan gelas yang berisi susu itu jatuh ke lantai. "Sel... bangun Sel! Kenapa ini?!" dia menepuk-nepuk pipi Selenia, tapi tidak ada respon.
"BI IYAAAAH!!! PAK TONO...!!!" teriak Adam memanggil para asistennya.
Bi Iyah dan Pak Tono yang kebetulan malam itu belum tidur dan masih bercengkerama di ruang belakang, kaget mendengarkan teriakan Adam dan langsung berlari ke lantai atas.
"YA ALLAH NON SELENIA??!!!" pekik Bi Iyah melihat Selenia yang tidak sadarkan diri di pangkuan Adam. "Non Selenia kenapa pak??" dia menangis dan membelai-belai kepala Selenia bingung.
"Pak Tono, siapkan mobil. Kita bawa Selenia ke rumah sakit sekarang!" titah Adam seraya mengangkat tubuh Selenia dalam gendongannya dan membawanya keluar.
...🌺🌺🌺...
Adam mondar-mandir di depan ruang gawat darurat dengan perasaan dan pikiran tak menentu. Dia bingung apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya malam ini? Kenapa tiba-tiba Selenia tidak sadarkan diri seperti itu. Padahal seharian ini dia sama sekali tidak melihat sesuatu yang aneh darinya. Dan bahkan siang tadi Selenia masih pergi ke distronya Renata. Saat makan malam tadi, dia juga terlihat sangat baik- baik saja.
Ada apa ini?
Bu Lisa, Pak Edwin dan Pak Fendi datang bersamaan. Tadi Bu Lisa mendapat kabar ini dari Bi Iyah.
"Dam? Kenapa ini bisa terjadi?? Ada apa sama Selenia??" Bu Lisa menangis dan meremas lengan Adam.
"Aku juga nggak tahu ma. Tadi aku baru mau antar susu ke kamar dia, tapi Selenia udah nggak sadarkan diri...." jawab Adam gemetar.
Pak Fendi turut menangis dan gelisah. Dia begitu khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada putri semata wayangnya.
Mereka semua yang ada di tempat itu gelisah. Terlebih lagi Adam. Beberapa kali dia melihat aktivitas di dalam ruangan melalui kaca kecil yang ada di pintu, berharap dokter segera keluar dan menjelaskan apa yang telah terjadi pada istrinya.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...