NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -37-


__ADS_3

Adam terbangun dari tidurnya sekitar pukul 3.15 pagi karena mendengar suara gaduh yang ternyata berasal dari seorang perempuan paruh baya yang baru datang. Perempuan itu diantar seorang suster dan terlihat kepanikan di wajahnya.


"Ini kamarnya Bu," suster itu memberitahu dengan sopan.


"Makasih ya sus ya," jawab perempuan paruh baya tersebut masih dengan ekspresi tergesa-gesa.


Setelah suster berlalu, Pak Anton muncul dari kamar dan langsung disambut oleh perempuan itu.


"Tony kenapa Ton?? Gimana keadaannya sekarang?" tanya perempuan itu pada Pak Anton dengan nada cemas.


Pak Anton melirik ke arah Adam yang sedari tadi hanya bisa terdiam melihat kehebohan saudaranya.


"Biasalah kak. Namanya juga anak muda. Terlalu semangat ngelakuin sesuatu, akhirnya kecapekan. Untung saja tadi cepat aku bawa ke sini," jawab Pak Anton.


Adam berdiri dan berjalan mendekati mereka berdua. Sepertinya Pak Anton sudah ada teman di sini, jadi dia bisa pulang sekarang dan nggak harus nunggu pagi. Dia sudah nggak betah banget sama hawa dingin di rumah sakit ini.


"Oh ya kak, kenalin ini Adam," Pak Anton memperkenalkan Adam pada saudaranya.


Dengan sopan Adam menjabat tangan saudara Pak Anton dan mereka sama-sama mengenalkan diri.


"Saya Fatma. Kakaknya Anton," kata perempuan itu sembari tersenyum.


"Pak, kalau begitu saya permisi mau pamit pulang sekarang," kata Adam meminta izin.


Pak Anton melihat jam tangannya. "Nggak nanggung Dam? Besok aja sekalian. Nanti kamu cuma capek di jalan," Dia mencoba menahan.


Adam menggeleng pelan. "Nggak kok Pak. Saya pulang saja. Besok kalau ada waktu saya akan datang lagi kesini."


"Ya sudah kalau begitu," Pak Anton menepuk-nepuk pundak Adam. "Hati-hati di jalan. Jangan lupa, besok kamu libur dulu aja. Nanti biar saya hubungi Maya," imbuhnya.


Adam mengangguk. "Iya Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," dia kemudian berlalu.


Adam berjalan menyusuri lorong rumah sakit sembari merapatkan jaketnya. Dari jauh terdengar bunyi petir dan angin basah terasa mulai berhembus. Saat tiba di ruang utama rumah sakit, dia berpapasan dengan Renata. Perempuan menenteng kantong plastik besar.


"Kamu dari mana Ren?" Adam mengamati barang bawaan Renata.


"Dari apotek beli pampersnya Nola, Pak."


"Gimana? Kapan Nola bisa pulang?"


Renata menggeleng pelan. "Saya belum tahu. Belum ada kabar lagi dari dokter. Semoga saja hari ini."


"Oh.... ya, semoga aja dia bisa secepatnya dibawa pulang."

__ADS_1


"Amiin. Oh ya, bapak mau kemana?"


"Saya mau pulang. Soalnya saudaranya Pak Anton sudah datang," Adam menyatukan kedua belah telapak tangannya dan mengusap-usap pelan. "Saya nggak betah, di sini dingin banget."


"Oh, begitu. Ya udah kalau begitu saya juga mau ke kamar Nola dulu, permisi. Bapak hati-hati di jalan."


"Oke. Saya duluan ya Ren."


...🌺🌺🌺...


Hujan turun begitu deras. Selenia yang sama sekali tidak bisa memejamkan mata buru-buru bangun dan menyalakan lampu. Dia mulai takut saat dari jauh terdengar suara petir. Dia kembali mengecek ke luar melalui jendela, dan sedikit kecewa karena Adam benar-benar tidak pulang. Selenia kembali ke ranjang dan mengecek ponsel. Sejak mereka chatting tadi, Adam terlacak tidak online lagi.


Dia tidur di rumah sakit? Dimana? Mana hujan deres banget gini lagi. Selenia membayangkan Adam hanya duduk di kursi tunggu sembari menahan kantuk. Kasian banget kalau memang seperti itu. Padahal dia besok harus ngantor kan? Gimana kalau dia capek terus sakit lagi kaya dulu?


Hal itu mengingatkan Selenia pada momen ketika Adam pingsan. Selenia menggeleng kuat-kuat. Dia takut hal itu kembali terjadi pada suaminya. Apalagi sudah beberapa hari ini Adam mulai pulang petang hari lagi seperti sebelum dia sakit dulu.


"Adam," gumam Selenia lirih. Sekarang sudah hampir pukul empat subuh dan pikirannya semakin tidak tenang memikirkan suaminya.


"Aku kerja keras juga untuk masa depan aku dan Selenia, Ma."


"Aku akan selalu menerima apa yang terjadi dalam hidupku sekarang, Ma. Aku akan terus berusaha mencintai Selenia... dan aku juga akan terus berusaha membuat dia bisa menerima aku...."


Kata-kata yang itu berulang kali terngiang-ngiang di telinga Selenia.


Betapa bodohnya kamu kalau sampai menyia-nyiakan laki-laki seperti Adam, Sel. Hatinya bersuara. Rentetan kalimat, peristiwa dan perlakuan yang pernah dia tunjukkan pada Adam sebelum ini menyatu dengan suasana syahdu pagi itu. Menghanyutkan suasana hatinya yang kemudian membuatnya rindu. Selenia kangen berat dan baru kali ini dia merasakan hal itu pada suaminya.


Adam sudah pulang! Perasaannya begitu lega. Selenia menghela nafas dalam-dalam dan perlahan melangkah mendekati pintu. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


Dari dalam kamar, Selenia bisa mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa menaiki tangga dan semakin dekat.


Adam membuka pintu kamarnya, begitu juga dengan Selenia.


"Lhoh?" Adam menoleh dan melihat Selenia heran. "Kamu udah bangun??" Dia melirik jam tangannya.


Selenia tidak menjawab. Dia hanya memandangi suaminya dan merasakan matanya mulai panas karena tengah membendung air mata. Adam terlihat begitu lelah pagi ini. Rambutnya juga acak-acakan.


"Sel...??" ucap Adam lirih dan berjalan menghampiri Selenia.


Dalam sekejap saja, Selenia sudah menghambur ke pelukan Adam dan memeluk tubuh gempal itu erat. Dia menangis terisak di sana. Tentu saja hal itu membuat Adam bingung, tapi juga bahagia. Dia membalas pelukan Selenia, mendekap tubuh mungilnya lebih erat.


"Aku kangen kamu.... aku nggak bisa tidur.... aku kangen kamu, Dam... aku...." Selenia berbicara tanpa jeda sambil masih terisak.


Adam mencoba untuk melonggarkan dekapannya tapi dia merasa seolah Selenia justru semakin erat memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" bisik Adam lirih di belakang punggung Selenia.


Selenia masih terus terisak--dia benar-benar mendengar kata itu secara langsung sekarang--dan dia melepaskan pelukannya. Perasaan gengsi atau apapun itu dia buang jauh-jauh. Dia bahkan tidak peduli Adam mau menilainya bagaimana. Bagi Selenia, mengungkapkan apa yang dirasakan hatinya malam ini sudah cukup tepat.


Adam menangkup wajah Selenia dan menghapus air mata itu. Dia mendongakkan wajah Selenia, membuat mereka saling beradu pandang.


"Apa aku bermimpi?" tanya Adam lirih.


Selenia menggeleng. Dia mencubit pipi Adam untuk membuktikan kalau ini nyata. Masih sempet jahil ya di tengah suasana sendu begitu?


Adam sedikit menjingkat karena cubitan itu dan menghela nafas panjang. Dia lega. Legaaaaa sekali karena dia sama sekali tidak pernah berfikir akan mendapat kejutan seindah ini malam ini.


Mereka masih saling tatap. Tanpa sadar dorongan itu pun ada. Adam mendekatkan wajahnya ke wajah Selenia. Semakin dekat sampai jarak wajah keduanya hanya berkisar 1 senti. Mata Selenia yang terpejam, seolah menjadi kode untuk Adam. Dengan lembut, dia ******* bibir istrinya. Mesraaaaa sekali karena sama-sama saling menikmati. Ini pertama kalinya untuk Selenia. Jadi dia sedikit gugup. Tapi Adam cukup mampu membuat suasana menjadi rileks.


Kini itu semua bukan paksaan. Cinta mereka tumbuh seiring berjalannya waktu.


Bibir mereka berpagut cukup lama.


"Dam," bisik Selenia lirih setelah mereka selesai berciuman.


"Apa sayang?" tangan Adam masih mendekap wajah Selenia.


"Aku tu....." Selenia tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa? Kamu nggak bisa tidur?" Adam tersenyum manis banget.


Selenia menggeleng. "Aku tu phobia sama petir,"


"Oh ya? Ma'af aku baru tahu,"


"Makanya aku tuh kalau hujan deres banget terus ada petir, aku suka nggak bisa tidur."


Adam melepaskan dekapan tangannya. "Kalau gitu, aku ganti baju, nanti aku temenin kamu tidur. Gimana?" dia tersenyum sangat tulus.


Kening Selenia mengerut. It's impossible, but...


Padahal maksud dia ngomong begitu bukan berarti pengen ditemani tidur. Tapi memang salahnya juga sih, kenapa harus sepolos itu ngomongnya? Kan kesannya jadi.... aduuhhh.... Selenia tersenyum getir.


Tanpa menunggu jawaban dari Selenia, Adam berbalik dan menyelinap ke kamarnya. Lalu tak lama dia keluar lagi dengan sudah berganti pakaian memakai piyama. Selenia cuma bisa nurut saat Adam membimbingnya memasuki kamar. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang manakala Adam mulai berbaring di sisihnya. This is the first time! Tuhan, tolong. Kendalikan gejolak perasaan ini, batin Selenia.


"Masih ada waktu beberapa jam sampai pagi," Adam melihat jam dinding. "Kita tidur ya. Aku capek banget sayang," Adam mulai menutupi tubuh mereka menggunakan selimut. Mereka satu selimut.


Selenia mengangguk. Saat Adam memeluknya erat, lagi-lagi dia hanya bisa pasrah. Pagi itu untuk pertama kalinya mereka tidur bersama dalam satu ranjang.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2