
...Gracia Lula Palwinta (CIA)...
"APA??!!! SERIUS LO??!!!" suara Cia yang berasal dari ujung telfon memekakkan telinga Selenia. Dia syok dan nggak begitu percaya dengan jawaban Selenia saat dia bertanya 'Lo semalem pulang sama Adam kan?'. Dan Selenia memberikan jawaban yang tidak pernah dia fikir sebelumnya.
Akibat teriakan nyaring Cia itu, Selenia sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Selenia tengah duduk di kursi ayun yang ada di teras samping di tepi kolam renang.
"Ya ampun Cia, kuping gue panas. Lo apaan sih? Kebiasaan deh apa-apa dihebohin!" gerutu Selenia. Dia mengorek-ngorek telinganya yang serasa berdengung.
"Hahahaha... ya maaaap...!" Ceria terbahak. "Tapi sumpah, gue penasaran, bisa-bisanya lo pulang di anter sama Tony? Memangnya waktu itu Tony masih di sekolah? Oh ya, terus Adam tahu lo pulang dianter sama Tony...?"
"Cia lo lama-lama kaya bokap gue deh!" potong Selenia mendengar Cia yang tak berhenti nyerocos. "Satu-satu aja kenapa sih kalo nanya? Satu pertanyaan aja belum dijawab, udah nanyaaaaa aja."
Cia terkikik mendengar ekspresi Selenia yang malah ngomel-ngomel di ujung telefon. Dia lantas mengatur nafas dan mulai mengajukan satu per satu pertanyaan. Cia memang kepo banget sama urusan Selenia. Bukan apa-apa sih. Selenia juga tidak pernah keberatan kalau Cia tahu semua hal tentang dirinya. Karena memang kalau ada apa-apa, orang pertama yang akan Selenia kasih tahu ya si Cia. Cuma sikap Cia yang suka heboh dan rame itu yang kadang bikin Selenia berpikir seribu kali sebelum menceritakan sesuatu padanya. Selenia juga harus siap siaga dengan tangannya untuk membekap mulut anak itu kalau-kalau dia suka spontan berteriak atau memekik setiap mendengar sesuatu yang new.
Menurut Selenia, tidak ada yang spesial perihal Tony yang mengantarnya pulang. Itu semua terjadi karena kebetulan. Kebetulan saat itu Tony masih di sana. Dan kalaupun malam itu Selenia bertemu dengan murid lain, mungkin mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti Tony. Dan kalaupun tidak, Selenia masih bisa mencari alternatif lain--menggunakan taxi online misalnya. Cia bergeming mendengar alasan itu.
"Jangan gampang ambil kesimpulan deh, Sel." Cia membantah. "Kalau ternyata Tony suka sama lo gimana?"
"Ck, ah apaan sih lo?" Selenia berdecak. "Nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh." tangannya menggerakkan kursi ayun dan mengayunkannya pelan.
"Ya nggak ada yang aneh? Tony cowok, elu cewek...so... peka dikit kek..."
"Lo kira lo bukan cewek??" potong Selenia. "Peka... peka..."
"Ya maksud gue bukan yang kaya gituuu Seeel... hmmm..."
"Ya udah lah nggak usah bahas itu. Lo lagi di mana?" Selenia mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Bentar-bentar, telor gue yang satu bentar lagi keluar..." jawab Cia asal.
"Hah?! Maksud lo?!" Selenia membelalak.
Samar-samar terdengar bunyi duuut panjang. Sontak saja Selenia menutup hidung ketika tahu bunyi itu berasal dari mana. Ya meskipun mereka tidak sedang berada dalam satu tempat, tapi Selenia bisa membayangkan aroma gas pertama di pagi hari itu seperti apa.
"Mmmmhhh... hahaha..." Cia justru ngakak tanpa dosa. "Ups, sorry...!" gurau Cia.
"Dih gila lo. Jadi lo baru bangun?"
"Ho'oh."
"Dasar!" Selenia mencibir.
"Mumpung ada kesempatan Sel. Semalem gue sampe rumah nggak bisa langsung tidur tau. Jam 2 kalau nggak salah gue baru berasa ngantuk." terdengar suara Cia yang menguap.
"Ya nggak ngapa-ngapain sih. Cuma scroll instagram, tinder, tiktok, nonton drakor. Hmmm... apa lo bilang? Chatt lo pas tengah malem? Ya kali gue harus gangguin sejoli yang..."
"Apaaa??? Apaaa Apaaa???" sahut Selenia. Cia selalu menggodanya dengan kalimat-kalimat yang menjurus ke arah itu sekarang.
Cia ngakak di ujung. "Lo sendiri lagi ngapain? Ada rencana mau keluar nggak hari ini?"
"Gue lagai santai aja. Eh tahu nggak sih lo tadi pagi Adam...." Ups. Selenia menepuk-nepuk mulutnya sendiri. Hampir saja dia keceplosan untuk menceritakan peristiwa pagi tadi--saat diam-diam Adam memberikan kecupan.
Cia yang penasaran dengan apa yang akan Selenia katakan, turut terdiam.
"Apa Sel? Kenapa nggak dilanjutin? Tadi pagi Adam kenapa? Dia ngapain lo?" cerocosnya saat Selenia tak kunjung melanjutkan ucapannya.
Mendengar pertanyaan beruntun seperti itu, Selenia kembali mencibir. Ah... dipikir nggak ada gunanya juga kalau curcol sama Cia di telfon. Jadi sepertinya mereka harus ketemu hari ini. Selenia tidak bisa menanggung beban kebahagiaan ini sendirian. Cia harus tahu. Sahabatnya itu harus tahu.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Adam sedang berada dalam satu ruangan bersama Pak Anton dan delapan karyawan lain. Dia duduk berhadapan dengan Renata yang tanpa dia sadari, sedari tadi selalu mencuri pandang ke arahnya. Pak Anton berdiri di depan layar proyektor, mempresentasikan kinerja proyek barunya. Perusahaannya itu baru saja memenangkan tender pembangunan sebuah gedung rukan lima lantai di pusat kota. Rencananya pembangunan itu akan dimulai beberapa bulan lagi.
Sebagai GM CV. PERKASA ADIGUNAWA, Adam juga diberikan kesempatan oleh Pak Anton untuk menyuarakan usulannya perihal proyek tersebut. Dia pun maju ke depan dan melakukan presentasi. Semua yang ada disitu menyaksikan dengan seksama apa-apa saja yang disampaikan oleh Adam. Maklum, diantara mereka berdelapan, Adam memang orang yang paling senior di sini. Besar kecil posisinya, bisa dibilang dia adalah orang yang turut andil dalam kemajuan perusahaan Pak Anton. Itulah kenapa Bossnya itu heran karena sampai sekarang dia belum juga memutuskan tentang keikutsertaannya di program study di Frankfurt yang pernah dia tawarkan. Padahal Pak Anton yakin, kalau dia mau, peluang-peluang terbaik akan menghampiri dirinya.
Jadi, setelah meeting selesai, Pak Anton menahan Adam supaya tidak ikut meninggalkan ruangan. Dia ingin berbicara empat mata dengannya.
Adam menghela nafas. Kalau saja Pak Anton tidak menanyakan hal itu kembali, dia memang sudah melupakannya. Jadi dia hanya banyak diam saat Pak Anton membicarakan tentang program study tersebut.
"Kamu gimana sih Dam? Kamu tahu kan, tawaran seperti ini tu langka. Kamu belum tentu bisa mendapatkan tawaran sebagus ini di tahun-tahun yang akan datang." oceh Pak Anton setelah berbicara panjang lebar tentang hal-hal bagus yang akan didapat jika seseorang menerima tawaran semacam itu.
"Bukannya saya menolak Pak." akhirnya Adam membuka suara. "Saya hanya belum bisa memberikan keputusan itu sekarang. Karena saya pikir... saya masih punya banyak waktu untuk benar-benar memantapkan pilihan saya..."
"Oke..... jadi hanya karena itu masih berlaku beberapa bulan ke depan, kamu sama sekali tidak punya gambaran..." Pak Anton duduk dan menopang dagu dengan kedua tangannya. "Dam, sekarang saya mau nanya satu hal sama kamu."
"Ya Pak?"
"Sebenarnya apa sih yang membuat kamu, kok kesannya berat banget untuk mengambil keputusan ini?" tanya Pak Anton tegas.
Lagi-lagi Adam hanya diam. Tentu ada alasan kenapa dia seperti itu. Tapi tidak bisa dia katakan pada Pak Anton. Pilihan antara menetap di sini dan mengikuti tawaran study itu merupakan hal yang saat ini sama-sama berat untuknya. Di sini ada Selenia, sementara di Frankfurt ada impiannya. Dan keduanya adalah hal yang sama berartinya bagi Adam.
Adam menggeleng pelan. "Tidak ada Pak." jawabnya kemudian. "Tapi saya pastikan saya akan memilih yang terbaik untuk menentukan masa depan saya."
Pak Anton manggut-manggut. Dia tahu dia tidak bisa memaksa kehendak seseorang sekalipun orang itu adalah anak emasnya di kantor ini. Jadi setelah mendapatkan jawaban tersebut, Pak Anton hanya menepuk-nepuk pundak Adam kemudian berlalu meninggalkan Adam di ruangan itu sendirian.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1