NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -65-


__ADS_3

Selenia sudah berlari begitu jauh meninggalkan rumah Renata. Hatinya sangat sakit, hancur dan terluka melihat hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan. Dia berlari sambil menangis dan akhirnya duduk bersimpuh di tepi jalan yang cukup sepi. Bayangan Adam yang berkelahi dengan laki-laki tadi terus membekas di benaknya. Bagi Selenia, mereka seolah bertarung untuk memperebutkan Renata. Sebegitu besarkah Adam memperjuangkan sekretarisnya? Kenapa dia sampai harus berkelahi dengan laki-laki itu di rumah Renata?


Selenia tidak ingin pulang. Tapi dia juga tidak tahu mau kemana. Sampai ketika sebuah taxi lewat, dia melambaikan tangan. Namun baru saja akan masuk ke dalam taxi tersebut, tiba-tiba tangannya dicekal seseorang.


"Maaf Pak, teman saya sedang mabuk!" Tony yang entah sejak kapan tiba di sana, bicara dengan asal ke sopir taxi.


Sopir itu menatap bingung ke arah Tony dan Selenia, namun kemudian memilih untuk segera berlalu.


"Apa-apaan kamu Ton?" Selenia menghentakkan tangan Tony. "Siapa yang mabuk?!"


"Maaf Sel, aku minta ma'af. Tapi kamu nggak bisa pergi sendirian dalam keadaan kaya gini. Kamu mau kemana? Ayo aku antar."


Selenia kembali menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tony tidak tega melihatnya. Dia merangkul Selenia dan mengajaknya menepi, di dekat motornya yang diparkir tak jauh dari situ.


"Adam jahat banget sama aku Ton. Aku nggak nyangka dia bakalan ngelakuin ini sama aku. Aku beneran nggak habis pikir kenapa dia tega sama aku..." ucap Cia di sela-sela isakannya.


"Udah Sel, kamu tenang ya..." Tony memeluk Selenia dan cewek itu hanya bisa pasrah. "Kamu kalau mau nangis, jangan ditempat seperti ini... please... ada aku di sini Sel. I'm promise... I'll always be here for you."


"Makasih Ton. Kalau saja tadi kamu nggak ada di deket rumahku, aku nggak akan pernah tahu apa yang Adam lakuin malam ini."


Tony melepas pelukannya dan menyeka air mata Selenia.


"Sekarang kamu aku anter pulang ya."


Selenia menggeleng. "Aku nggak mau pulang ke rumah Adam Ton."


"Terus? Kamu mau kemana?"


"Anterin aku ke rumah Ayahku.... please..."


Tony menghela nafas.


"Kamu nggak perlu memohon seperti itu Sel. Ya udah ayok, aku anter kamu ke rumah Ayah kamu. Jangan nangis lagi ya," dia menyeka lagi air mata yang sempat menitik di pipi Selenia. "Tunjukin jalannya ya."


Selenia mengangguk. Setelah itu mereka lalu berboncengan menuju rumah Ayah Selenia.


...🌺🌺🌺...


BRAKK!!


Bi Iyah yang sedang mengemasi makanan di meja makan--karena tadi saat waktunya makan malam para majikannya tiba-tiba pada keluar nggak tahu kemana--terkejut dan hampir menjatuhkan piring di tangannya. Setelah meletakkan piringnya kembali ke meja dia segera berlari ke depan untuk mengecek apa yang terjadi. Sebuah pot hancur. Tanah serta bunganya berserakan di lantai. Ternyata majikannya itu menabrakkn mobilnya sendiri ke pot tersebut.


Adam keluar dari dalam mobil dengan keadaan kacau dan langsung masuk ke rumah tanpa mempedulikan Bi Iyah yang kebingungan melihat kepulangannya.


"Seeeel!!!" Adam berteriak. Dia berlari menaiki tangga ke lantai dua. Saat tidak menemukan Selenia di kamarnya, dia lalu kembali turun dan berpapasan dengan Bi Iyah.


"Bik, Selenia mana?" nafasnya memburu dan matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Berharap Selenia akan muncul di sini.


Bi Iyah bingung bercampur takut melihat kondisi Adam malam ini yang begitu acak-acakan dengan beberapa luka lebam di wajah.


"P-Pak Adam kenapa?" Bi Iyah tidak menjawab pertanyaan Adam dan justru balik bertanya sambil menunjuk wajah Adam yang justru membuat Adam tambah jengkel.


"Selenia mana Bik?!!" bentak Adam.


"Eee... t-tadi kan keluarnya sama Bapak. Dan b-belum pulang sampai sekarang, P-Pak..." jawab Bi Iyah gugup.


Adam memejamkan mata. Selenia datang ke tempat itu dengan Tony. Apa itu berarti sekarang dia sedang bersama Tony? Dengan gusar dia kemudian berbalik ke lantai dua sembari mencoba menghubungi nomor Selenia. Tak ada jawaban sampai beberapa kali panggilan, karena ternyata ponsel Selenia berada di kamarnya. Selenia meninggalkan ponselnya.


"Aarrghhh!!" Adam menghantamkan ponselnya ke dinding dan seketika ponsel tersebut hancur menjadi beberapa bagian.


"Kenapa jadi seperti ini Ya Tuhan...!" dia memerosotkan tubuhnya dan bersimpuh di lantai. Adam menyesali apa yang telah dia lakukan malam ini. Kamu di mana sekarang sayang... maafin aku. Adam menangis. Dia memukul-mukul dinding berulang kali.


Pak Tono yang mendengar ribut-ribut dari ruang belakang, berlari menghampiri Bi Iyah yang masih terpaku di tempatnya.


"Ada apa Mak?" tanya Pak Tono sembari mencuri pandang ke lantai atas. "Tadi aku denger suara seperti barang di banting."


"Ssssttt..!" Bi Iyah memotong ucapan Pak Tono. "Aku juga ndak ngerti Ton. Pak Adam lagi marah banget."


"Marah? Marah sama siapa? Non Selenia?" Pak Tono masih kepo.

__ADS_1


"Aku ndak tahu. Non Selenia juga belum pulang sampai sekarang," Bi Iyah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Ini ada apalagi ya Ton? Kok aku lama-lama khawatir sama mereka," ucapnya gusar.


Pak Tono sendiri cuma menggeleng bingung. Mereka sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Lagipula mereka juga tidak punya hak untuk ikut campur masalah rumah tangga majikannya.


...🌺🌺🌺...


Pak Fendi baru saja keluar saat melihat sebuah motor berhenti di depan rumahnya. Dia melihat Selenia turun dari boncengan motor tersebut dan langsung berlari menghambur ke pelukannya.


"Lho Selenia? Kamu kenapa nak?" tentu saja Pak Fendi bingung melihat Selenia datang-datang sambil menangis.


Tony turut turun dari motornya dan menghampiri mereka dengan canggung. Ini kali pertama dia bertemu dengan Ayah Selenia. Pak Fendi mengusap-usap punggung Selenia, membiarkan anaknya itu menumpahkan segala emosionalnya.


"Ini ada apa sebenarnya?" tanya Pak Fendi setelah Selenia melepaskan pelukannya. Dia menatap Tony dan Selenia bergantian. "Kamu siapa?" tanyanya menunjuk ke arah Tony.


"Saya Tony Oom," Tony mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Pak Fendi. "Teman sekolahnya Selenia."


Selenia mengangguk, mendukung jawaban Tony.


"Adam mana Sel?" Pak Fendi mengalihkan pandangannya pada Selenia.


Selenia dan Tony saling tatap, lalu Selenia menggeleng. Pak Fendi mengerutkan kening melihat ekspresi anaknya. Dia menduga Selenia dan Adam pasti sedang ada masalah. Lalu setelah Selenia meminta supaya Tony pulang, dia dan Ayahnya masuk rumah. Malam ini Pak Fendi pun terpaksa membatalkan pertemuan dengan beberapa temannya di kafe.


"Ada apa sih sayang? Kenapa kamu malam-malam begini ke sini? Dan kenapa tidak sama Adam?" tanya Pak Fendi lebih kalem saat mereka sudah duduk di ruang tengah.


Tangis Selenia semakin pecah manakala mulai duduk di kursi di dalam rumahnya sendiri. Matanya menatap potret keluarga yang tertempel di dinding, ke arah Mamanya yang sedang tersenyum. Andai Mama masih ada, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.


Mang Komar yang sudah lama tidak bertemu dengan Selenia, langsung menghampiri dengan membawakan secangkir teh hangat. Dia merasa amat sedih melihat Selenia yang menangis tersedu-sedu di depan Pak Fendi. Setelah meletakkan teh, Mang Komar langsung kembali ke belakang.


"Adam jahat Yah. Dia udah khianatin aku."


Pak Fendi belum begitu yakin mendengar cerita Selenia. "Masa sih?" dia tahu Adam bukan tipikal cowok seperti itu.


Lalu dengan terbata-bata Selenia menceritakan semua yang terjadi antara Adam dan dirinya selama beberapa hari ini. Dia juga menceritakan tentang Renata yang dianggap menjadi sumber permasalahan rumah tangga mereka.


"Aku pengen cerai Yah dari Adam. Nggak ada gunanya lagi kita lanjutin pernikahan ini..."


"Sssshhh... sayang jangan ngomong gitu. Nggak baik."


Pak Fendi menghela nafas panjang kemudian merangkul pundak Selenia.


"Kamu ini lagi emosi sayang. Jangan pernah mengambil keputusan saat sedang seperti ini. Ayah takut nanti kamu menyesal."


"Tapi aku udah liat sendiri dengan mata kepalaku, Ayah. Buat apa Adam berkelahi sama laki-laki itu di depan rumah Renata kalau bukan karena memperebutkan Renata...?"


Pak Fendi tersenyum mendengar penuturan Selenia.


"Sel... kenapa kamu bisa seyakin itu? Adam itu bukan ABG lho. Kayaknya kalaupun mereka memperebutkan seseorang bukan dengan cara berkelahi seperti itu. Mungkin saja kan mereka terlibat konflik masalah lain dan..."


"Tapi kenapa di rumah Renata? Dan Adam pergi ke sana juga buru-buru banget. Bahkan dia nggak ngegubris pas aku panggil-panggil dia. Hati aku sakit Yah," Selenia menengadahkan wajahnya. Air matanya begitu deras mengalir di pipi. Dia juga merasakan dadanya yang menjadi sakit karena terlalu banyak menangis.


"Untuk apa dia berbuat sejauh itu? Untuk apa dia membahayakan dirinya sendiri seperti itu?"


"Sayang..." Pak Fendi membelai rambut Selenia. "Ayah mengerti perasaan kamu. Tapi lebih baik sekarang kamu tidur dulu ya, supaya hati kamu lebih tenang."


Selenia menatap Ayahnya beberapa saat dan perlahan menyeruput tehnya. Setelah Selenia tak lagi menangis, Pak Fendi mengantarnya ke kamar yang selama ini telah dia tinggalkan. Selenia terduduk di tepi ranjang, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar yang dulu pernah menjadi tempat ternyaman sebelum dia diboyong Adam ke rumahnya.


Dia merasa capek tapi juga tidak bisa tidur. Bayang-bayang perkelahian itu terus menari-nari di kepalanya, membuat Selenia kembali menitikkan air mata.


Kenapa sekarang semuanya menjadi begitu berat?


...🌺🌺🌺...


Pak Anton sudah berdiri di ambang pintu saat mendengar deru motor Tony memasuki pekarangan rumah. Hari ini dia mendapat kabar dari salah satu guru di sekolah kalau setelah istirahat tadi, Tony tidak mengikuti pelajaran tanpa izin.


"Darimana saja kamu?" tanya Pak Anton dengan wajah menahan amarah. Ini bukan kali pertama Tony bolos sekolah. Sebelumnya, Pak Anton juga pernah mendapat kabar kalau Tony tidak masuk tanpa izin dari pagi, padahal selama ini anaknya itu selalu pamit untuk pergi ke sekolah. Tapi saat itu Pak Anton tidak sempat mengkroscek laporan dari guru Tony karena terlalu sibuk dengan urusannya di kantor.


Tony tidak menjawab. Dia terus berjalan dan berlalu melewati Pak Anton.


"Kenapa hari ini kamu bolos sekolah?!" tanya Pak Anton mulai garang. Dia tidak suka dengan sikap Tony yang mengacuhkan dirinya. Dia berbalik dan melihat Tony menghentikan langkahnya. "Ini bukan pertama kalinya kamu bolos sekolah kan Ton? Jujur sama Papa."

__ADS_1


Tony menoleh. "Maaf Pa," hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Pak Anton mendengus kesal. Dia berjalan menghampiri Tony dan berhenti tepat di hadapannya.


"Selama ini Papa nggak pernah ngelarang kamu nongkrong, mabar. Tapi jangan pernah kamu melakukan itu dengan masih memakai seragam sekolah seperti ini!" Pak Anton menjentikkan kerah seragam Tony dan anak itu hanya menghindar sedikit. "Akhir-akhir ini kamu juga sering sekali pulang terlambat, kenapa? Kemana kamu?!"


Tony hanya bisa terdiam. Dia tidak tahu alasan apa yang tepat untuk dikatakan pada Ayahnya.


"Kenapa kamu bolos?! Jawab!!!" teriak Pak Anton lebih keras. Dia tidak bisa lagi menahan emosinya.


"Maaf Pa," Tony menunduk.


"Cuma itu?!" Pak Anton tersenyum sinis. "Apa itu berarti suatu hari nanti Papa bakal menyesal karena sudah mengambil keputusan untuk mengalihkan semua aset Papa pada kamu?"


Tony mendongak dan menatap wajah Pak Anton nanar. Dia tidak salah dengar kan Ayahnya berucap begitu?


"Kamu itu satu-satunya penerus Papa Ton," Pak Anton melanjutkan. "Mau jadi apa kamu kalau setiap hari yang ada di otak kamu cuma nonkrong, nongkrong, nongkrong dan mabar?!!"


Tony menarik nafas panjang. Dia memang menyadari kesalahannya hari ini, tapi merasa sedikit tidak terima kalau Papanya menyebutkan kalau di otaknya hanya ada itu semua. Namun dia merasa letih untuk mendebat ucapan Papanya. Jadi dia memilih untuk segera berlalu ke kamar meninggalkan Pak Anton.


"Papa belum selesai bicara Ton! Tony...!!" teriak Pak Anton sembari memutar tubuh, menatap Tony yang terus berjalan ke lantai dua tanpa mempedulikan dirinya. Pak Anton menggertakkan gigi menahan geram lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.


Tony tiba di kamar dan langsung berganti pakaian. Dia merasa lapar tapi tidak ingin keluar untuk makan malam. Untung saja dia masih memiliki beberapa snack dan kue kering yang dia simpan di laci meja di kamarnya.


Tony menyandarkan tubuhnya di ranjang sementara tangannya sibuk memencet-mencet layar ponsel. Dia ingin menelfon Selenia. Siapa tahu mereka bisa ngobrol sebentar dan membuat suasana hati Selenia sedikit lebih baik. Kalau ingat Selenia menangis seperti tadi, hati Tony begitu sakit.


"Kamu bawa kemana Selenia?!"


Tony kaget mendengar suara itu di ujung telfon. Bukan Selenia yang menjawab panggilannya tapi Adam. Dan dia baru sadar kalau malam ini Selenia memang keluar rumah dengan tangan kosong karena terburu-buru mengejar Adam.


"Kamu bawa kemana istri saya?! Jawab?!!" bentak Adam tidak sabar.


Tony tersenyum sinis. "Masih berani lo menyebut dia istri setelah apa yang lo lakuin?"


Tidak ada sahutan dan hanya terdengat nafas yang begitu memburu.


"Gue bener-bener nggak habis pikir ya Dam...."


"Diam kamu Ton. Semua yang kalian lihat itu salah. Saya hanya belum diberikan kesempatan bicara sama Selenia. Sekarang jawab pertanyaan saya, kamu bawa ke mana Selenia? Kamu jangan berani macam-macam sama dia..."


"Maksud lo apa? Lo pikir gue apa?!" sahut Tony tidak terima. "Gue nggak sebrengsek itu Dam. Dan Selenia sekarang sudah berada di tempat yang tepat!" tandasnya dan langsung memutuskan telefon.


...🌺🌺🌺...


"Halo! Ton... halo..!!" Adam masih berusaha berbicara dengan Tony yang sudah memutuskan perdebatan mereka.


Tempat yang tepat? Maksudnya?


Adam berjalan cepat meninggalkan kamar Selenia dan turun ke lantai bawah. Dia lalu menghampiri telefon rumah dan memencet tombol-tombol yang ada di pesawat telefon tersebut untuk menghubungi seseorang. Ya, dia akan menelfon nomor Pak Fendi. Tidak menutup kemungkinan Selenia ada di sana.


"Halo," terdengar sahutan datar.


"A-Ayah..." Adam terbata. Dia takut karena telah membuat anak kesayangan mertuanya itu menangis. "Apa... Selenia ada di sana?"


"Iya Dam," jawab Pak Fendi pelan. "Tadi dia datang ke sini di antar oleh temannya. Sebenarnya ada apa?"


"Ayah. Aku minta maaf kalau aku sudah membuat Selenia menangis. Tapi aku berani bersumpah sama Ayah, aku sama sekali nggak pernah...."


"Selenia sudah menceritakan semuanya Dam," sahut Pak Fendi memotong ucapan Adam. "...dan Ayah rasa, kalian berdua hanya perlu berbicara dari hati ke hati. Ayah percaya, kamu bukan laki-laki seperti itu. Jadi Ayah harap, jangan pernah kecewakan Selenia."


Air mata Adam menitik. Dia merasa lega karena mertuanya itu bisa mengerti. "Saya juga pengen berbicara dengan Selenia, Yah..."


"Lebih baik jangan sekarang. Selenia sudah tidur. Lagipula dia mungkin juga belum ingin berbicara sama kamu."


Adam menggigit bibirnya. Dia merasa sedih karena harus menunggu entah berapa lama lagi. "Baiklah Yah kalau begitu,"


Klik! Pak Fendi mematikan sambungan telefonnya. Adam menghempaskan diri di sofa, membenamkam wajah ke kedua telapak tangannya. Malam yang seharusnya menjadi malam yang indah karena Selenia sudah berjanji akan memberinya kesempatan untuk berbicara, seketika menjadi malam paling buruk karena ulahnya sendiri.


Malam ini Adam menikmati keheningan dengan penyesalan yang tak berujung.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2